Kerinci - Nama Athalla Kawan Medikal berada di urutan teratas dalam data pengadaan barang Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci tahun anggaran 2026. Penyedia tersebut tercatat menangani satu paket bahan reagen sanitarian senilai Rp1.221.470.640.
Nilainya setara 18,57 persen dari keseluruhan transaksi dalam berkas yang ditelaah, yakni Rp6.578.506.512. Data itu memuat 68 transaksi, 49 nama penyedia, dan 13 kode Rencana Umum Pengadaan (RUP).
Besarnya paket reagen tersebut membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apa saja barang yang dibeli, berapa jumlahnya, dan ke mana barang itu disalurkan?
Berkas yang tersedia baru memperlihatkan nama paket, penyedia, nilai, sumber dana, dan status pengadaan. Rincian jenis reagen, volume, harga satuan, serta fasilitas penerimanya tidak tercantum. Karena itu, kewajaran harga dan kesesuaian pembelian dengan kebutuhan layanan kesehatan belum bisa dinilai dari angka total saja.
Seluruh transaksi dalam data menggunakan E-Katalog Versi 6.0 melalui metode e-purchasing, dengan jenis pengadaan barang. Angka Rp6,58 miliar tersebut merupakan akumulasi nilai transaksi yang tercatat, bukan bukti bahwa seluruh uangnya sudah dibayarkan ataupun gambaran seluruh anggaran Dinkes Kerinci.
Paket Athalla Kawan Medikal tercatat dengan RUP 66315094 dan nama Pengadaan Bahan Reagen Sanitarian. Statusnya ON PROCESS, dengan tahapan pengadaan Kontrak.
Nilai produk dalam negeri (PDN) dan usaha mikro dan kecil (UMK) pada transaksi itu sama-sama tercatat Rp1.221.470.640. Keduanya merupakan kategori pencatatan pada transaksi yang sama sehingga tidak dijumlahkan menjadi nilai belanja baru.
Setelah Athalla Kawan Medikal, akumulasi nilai terbesar tercatat pada Bernofarm sebesar Rp617.042.562 dari empat transaksi. Berikutnya Umedika Fawwaz Gemilang sebesar Rp590.336.850, Amoul Medical Indonesia Rp412.920.000, dan Wirakencana Sugihindah Sehati Rp396.658.500.
Lima nama tersebut mencatat total Rp3.238.428.552 atau sekitar 49,23 persen dari nilai pengadaan dalam berkas.
Namun, persoalan yang perlu ditelusuri tidak berhenti pada siapa menerima paket terbesar. Status penyelesaian, rincian barang, serta dokumen serah terima juga menentukan apakah pengadaan tersebut sudah menghasilkan manfaat bagi layanan kesehatan.
Sebanyak 64 transaksi senilai Rp5.446.255.942 masih tercatat berstatus ON PROCESS pada tahapan Kontrak. Nilainya mencapai 82,79 persen dari total transaksi.
Empat transaksi lainnya, dengan nilai gabungan Rp1.132.250.570, berlabel PAYMENT OUTSIDE SYSTEM dan berada pada tahapan Serah Terima.
Keempatnya masuk dalam kelompok Belanja Modal Alat Kesehatan Umum Lainnya, dengan rincian:
| Penyedia | Nilai transaksi |
|---|---|
| Umedika Fawwaz Gemilang | Rp590.336.850 |
| Amoul Medical Indonesia | Rp412.920.000 |
| Anagata Mahardhika Cipta | Rp68.942.720 |
| Asiera Multindo Jaya | Rp60.051.000 |
| Total | Rp1.132.250.570 |
Label pembayaran di luar sistem perlu dibaca secara tepat. INAPROC menyediakan mekanisme pengajuan pembayaran di luar sistem yang antara lain mengharuskan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) mengisi tanggal pembayaran dan mengunggah bukti pembayaran kepada penyedia. Dengan demikian, keberadaan label tersebut sendiri tidak membuktikan adanya pembayaran ilegal.
INAPROC juga memiliki kebijakan penetapan pesanan sebagai diselesaikan di luar sistem ketika invoice lebih dari 30 hari tidak ditindaklanjuti ke tahap pembayaran. Berkas pengadaan Kerinci ini tidak menjelaskan mekanisme mana yang melatarbelakangi status keempat transaksi tersebut.
Untuk memastikannya, diperlukan riwayat pesanan, invoice, berita acara serah terima, dan bukti pembayaran masing-masing transaksi.
Hal serupa berlaku terhadap 64 transaksi pada tahapan kontrak. Berkas ini tidak memuat tanggal kontrak, batas pengiriman, ataupun waktu pembaruan status. Karena itu, status tersebut belum cukup untuk menyatakan barang terlambat datang, pekerjaan terbengkalai, atau pembayaran tertahan.
Di luar pembelian obat dan alat kesehatan, terdapat pula pengadaan perlengkapan kantor dengan nilai gabungan Rp770.867.250, sekitar 11,72 persen dari total transaksi.
Komponennya meliputi mebel, komputer, alat penyimpan perlengkapan kantor, meja kerja pejabat, dan alat pendingin.
Dua transaksi yang sumber dananya tercatat APBD Perubahan atau APBDP seluruhnya berada pada kelompok kebutuhan kantor. Pertama, belanja modal mebel senilai Rp396.658.500 pada Wirakencana Sugihindah Sehati. Kedua, belanja personal computer sebesar Rp121.944.600 pada Kerinci Tangguh Sinergi.
Total keduanya mencapai Rp518.603.100. Kedua transaksi tersebut juga masih berstatus ON PROCESS pada tahapan Kontrak.
Data ini belum menunjukkan jumlah komputer, spesifikasi perangkat, jenis mebel, maupun ruangan penerimanya. Rincian itu diperlukan untuk menilai kebutuhan dan harga barang yang dibeli.
Selain mebel dari APBDP, terdapat belanja modal mebel dari APBD senilai Rp74.414.400 pada penyedia bernama Neneng Susanti.
Dengan demikian, dua kelompok mebel tersebut mencatat nilai gabungan Rp471.072.900. Keduanya memiliki kode RUP dan penyedia berbeda. Kesamaan nama belanja belum membuktikan pembelian barang yang sama atau penganggaran ganda.
Neneng Susanti sendiri tercatat dalam tiga transaksi senilai Rp209.806.650. Selain mebel, transaksi lainnya berupa alat penyimpan perlengkapan kantor senilai Rp76.506.750 dan meja kerja pejabat Rp58.885.500.
Adapun pengadaan alat pendingin senilai Rp42.457.500 tercatat pada Siulak Jaya Abadi.
Secara keseluruhan, sumber dana APBD mencakup 66 transaksi senilai Rp6.059.903.412, sedangkan APBDP mencakup dua transaksi senilai Rp518.603.100.
Jika dikelompokkan berdasarkan kode RUP, pembelian obat PKD menjadi kelompok terbesar. Nilainya mencapai Rp2.001.722.134, tersebar dalam 33 transaksi pada 24 nama penyedia.
Di bawahnya terdapat Belanja Modal Alat Kesehatan Umum Lainnya senilai Rp1.637.145.170 dalam enam transaksi, kemudian bahan reagen sanitarian sebesar Rp1.221.470.640 dalam satu transaksi.
Ketiga kelompok tersebut menyerap 73,88 persen dari seluruh nilai yang tercatat.
Berikut rincian seluruh kelompok pengadaan dalam berkas:
| Kode RUP | Nama paket | Jumlah transaksi | Total nilai |
|---|---|---|---|
| 66635908 | Pengadaan Obat PKD (DAK NON FISIK) | 33 | Rp2.001.722.134 |
| 65928248 | Belanja Modal Alat Kesehatan Umum Lainnya | 6 | Rp1.637.145.170 |
| 66315094 | Pengadaan Bahan Reagen Sanitarian | 1 | Rp1.221.470.640 |
| 66636054 | Pengadaan BMHP PKD (DAK NON FISIK) | 9 | Rp452.021.748 |
| 68115576 | Belanja Modal Mebel — APBDP | 1 | Rp396.658.500 |
| 66636184 | Pengadaan BHMP Gula Darah (DAK NON FISIK) | 1 | Rp249.084.000 |
| 65929838 | Belanja Obat-Obatan-Obat | 3 | Rp201.397.479 |
| 68115532 | Belanja Personal Computer | 1 | Rp121.944.600 |
| 65927440 | Belanja Modal Alat Penyimpan Perlengkapan Kantor | 1 | Rp76.506.750 |
| 65927441 | Belanja Modal Mebel — APBD | 1 | Rp74.414.400 |
| 65927446 | Belanja Modal Meja Kerja Pejabat | 1 | Rp58.885.500 |
| 65929835 | Belanja Bahan-Bahan Kimia | 9 | Rp44.798.091 |
| 65927442 | Belanja Modal Alat Pendingin | 1 | Rp42.457.500 |
| Total | 68 | Rp6.578.506.512 |
Penulisan “BHMP” pada paket gula darah mengikuti nama dalam data. Paket tersebut tercatat pada Mitra Artha Pandulang senilai Rp249.084.000.
Tiga kelompok paket yang namanya memuat keterangan “DAK NON FISIK”—obat PKD, BMHP PKD, dan BHMP gula darah—memiliki nilai gabungan Rp2.702.827.882. Pada kolom sumber dana, ketiganya tercatat sebagai APBD. Berkas tidak menyediakan rincian lebih lanjut mengenai klasifikasi sumber pendanaan tersebut.
Catatan lain muncul pada kolom produk dalam negeri. Total nilai PDN mencapai Rp5.987.986.512, atau 91,02 persen dari seluruh nilai transaksi.
Selisih sebesar Rp590.520.000 berasal dari dua transaksi alat kesehatan yang nilai PDN-nya tercatat nol, yakni Amoul Medical Indonesia sebesar Rp412.920.000 dan Labindo Sentra Saintific Rp177.600.000.
Angka nol itu perlu dicocokkan dengan informasi produk dan dokumen pengadaannya. Data yang tersedia belum cukup untuk memastikan asal barang ataupun menyimpulkan bahwa keduanya merupakan produk impor.
Persentase nilai PDN tersebut juga tidak sama dengan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) suatu produk.
Sementara itu, nilai UMK tercatat Rp2.896.526.367, sekitar 44,03 persen dari total transaksi. Nilai UMK positif muncul pada 21 transaksi yang mencakup 13 nama penyedia.
Paket reagen Athalla Kawan Medikal sendiri menyumbang sekitar 42,17 persen dari seluruh nilai UMK dalam berkas. Adapun seluruh transaksi dalam kelompok obat PKD senilai Rp2.001.722.134 tercatat memiliki nilai UMK nol.
Angka-angka tersebut menggambarkan komposisi pencatatan dalam berkas ini. Penilaian terhadap kebijakan belanja UMK secara keseluruhan tetap membutuhkan cakupan anggaran dan data pengadaan yang lebih lengkap.
Untuk melihat persebaran nilai pengadaan, berikut seluruh nama penyedia beserta jumlah transaksi dan akumulasinya. Pengelompokan dilakukan berdasarkan nama yang tercantum dalam data:
| Nama penyedia | Transaksi | Total nilai |
|---|---|---|
| ATHALLA KAWAN MEDIKAL | 1 | Rp1.221.470.640 |
| BERNOFARM | 4 | Rp617.042.562 |
| UMEDIKA FAWWAZ GEMILANG | 1 | Rp590.336.850 |
| AMOUL MEDICAL INDONESIA | 1 | Rp412.920.000 |
| WIRAKENCANA SUGIHINDAH SEHATI | 1 | Rp396.658.500 |
| ASIERA MULTINDO JAYA | 2 | Rp387.345.600 |
| MITRA ARTHA PANDULANG | 1 | Rp249.084.000 |
| SATORIA ANEKA INDUSTRI | 2 | Rp248.934.594 |
| NENENG SUSANTI | 3 | Rp209.806.650 |
| DEXA MEDICA | 2 | Rp204.540.255 |
| GLOBAL DISPOMEDIKA | 1 | Rp194.327.700 |
| LABINDO SENTRA SAINTIFIC | 1 | Rp177.600.000 |
| ERLANGGA EDI LABORATORIES | 1 | Rp175.292.865 |
| SIGRA DUTA MEDIKAL | 5 | Rp164.862.034 |
| MERSIFARMA TIRMAKU MERCUSANA | 2 | Rp143.387.203 |
| KERINCI TANGGUH SINERGI | 1 | Rp121.944.600 |
| SOLAS LANGGENG SEJAHTERA | 1 | Rp117.660.000 |
| MEDI KHARISMA INTERNATIONAL | 1 | Rp98.806.650 |
| IFARS PHARMACEUTICAL LABORATORIES | 3 | Rp80.595.990 |
| ANAGATA MAHARDHIKA CIPTA | 1 | Rp68.942.720 |
| NOVAPHARIN | 1 | Rp64.380.000 |
| TRIFA RAYA LABORATORIES | 1 | Rp51.781.500 |
| MEPROFARM | 1 | Rp50.064.330 |
| TEMPO SCAN PACIFIC | 1 | Rp47.059.560 |
| AOMA PRIMA MEDIKA | 2 | Rp46.778.730 |
| PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT. BIO FARMA DISINGKAT PT. BIO FARMA (PERSERO) | 2 | Rp43.317.750 |
| SIULAK JAYA ABADI | 1 | Rp42.457.500 |
| TRIMAN | 1 | Rp37.395.900 |
| SAMPHARINDO PERDANA | 1 | Rp34.132.500 |
| INFION | 1 | Rp33.300.000 |
| INDO MEDIKA | 1 | Rp32.399.568 |
| PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT KIMIA FARMA | 1 | Rp29.886.750 |
| IMFARMIND FARMASI INDUSTRI | 1 | Rp27.381.480 |
| PT Enseval Putera Megatrading cabang JAMBI | 1 | Rp27.317.100 |
| GLOBAL MULTI PHARMALAB | 2 | Rp27.099.540 |
| DUTA KAISAR PHARMACY | 1 | Rp22.615.000 |
| GRAHA FARMA | 1 | Rp16.644.450 |
| SINARAYA NUGRAHA AHMADARIS MEDIKA | 1 | Rp10.434.000 |
| MUKTI REJO ABADI | 1 | Rp10.117.872 |
| BIO AXION HEALTHINDO | 1 | Rp8.658.000 |
| SINERGI PERSADA MEDICA | 1 | Rp6.560.100 |
| SERENITY INDONESIA | 1 | Rp6.037.019 |
| LUCAS DJAJA | 1 | Rp5.149.112 |
| HOLI PHARMA | 2 | Rp4.709.730 |
| MENARA MEDIKA PRATAMA | 1 | Rp3.163.500 |
| INDONESIA FARMA | 1 | Rp2.913.750 |
| YARINDO FARMATAMA | 1 | Rp2.747.250 |
| ASIA MEDIKA NUSANTARA | 1 | Rp1.987.233 |
| MULAWARMAN KESADA MEDICALINDO | 1 | Rp457.875 |
| Total | 68 | Rp6.578.506.512 |
Sigra Duta Medikal menjadi nama dengan transaksi terbanyak, yakni lima transaksi senilai Rp164.862.034. Athalla Kawan Medikal memiliki nilai terbesar meski hanya tercatat dalam satu transaksi.
Pada Asiera Multindo Jaya, total Rp387.345.600 terdiri atas transaksi Rp327.294.600 berstatus ON PROCESS pada tahapan Kontrak, serta Rp60.051.000 berstatus PAYMENT OUTSIDE SYSTEM pada tahapan Serah Terima.
Perbedaan tersebut memperlihatkan pentingnya membaca setiap transaksi secara terpisah. Akumulasi nilai suatu penyedia tidak otomatis menunjukkan seluruh barangnya sudah diterima atau seluruh tagihannya telah dibayar.
Berkas ini belum dilengkapi keterangan Dinkes Kerinci maupun para penyedia tentang rincian kebutuhan, harga satuan, penyaluran barang, dan perkembangan penyelesaian pesanan. Tidak tersedia pula pagu atau HPS untuk membandingkan nilai transaksi dengan perkiraan harga.
Dokumen-dokumen itulah yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan publik: apakah reagen Rp1,22 miliar sudah tersedia di fasilitas yang membutuhkan, bagaimana pemanfaatan alat kesehatan, dan apa dasar kebutuhan belanja perlengkapan kantor Rp770,87 juta.
Bagi masyarakat yang datang berobat, hasil pengadaan pada akhirnya perlu terlihat dalam ketersediaan obat, kesiapan alat, dan pelayanan yang berjalan. Data transaksi membuka pintu untuk memeriksa hal tersebut, tetapi pembuktiannya tetap membutuhkan dokumen pengadaan dan kondisi barang di lapangan.(*)