Menanti Pelantikan ISMI Jambi, Hj Ernawati Siapkan Rumah Besar Sarjana Melayu yang Terbuka dan Bergerak

WIB
IST

JAMBI — Sehari menjelang pelantikan, Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi mulai menata panggung besarnya.

Bukan hanya panggung acara.

Tetapi panggung gagasan.

Di bawah kepemimpinan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., organisasi sarjana Melayu ini ingin tampil bukan sebagai perkumpulan elitis. ISMI Jambi ingin menjadi rumah terbuka bagi para pemikir, pendidik, profesional, tokoh adat, birokrat, perempuan, anak muda, dan masyarakat yang ingin memberi kontribusi bagi Jambi.

Pelantikan Pengurus Wilayah ISMI Provinsi Jambi dijadwalkan berlangsung Jumat, 19 Juni 2026, di Rumah Dinas Gubernur Jambi.

Momentum ini menjadi penting.

Sebab ISMI Jambi ingin memperkenalkan diri sebagai organisasi yang tidak berhenti pada seremoni. Tidak hanya hadir saat pelantikan. Tidak sekadar mengumpulkan para sarjana dalam satu forum.

Lebih dari itu, ISMI Jambi ingin menjahit jaringan intelektual Melayu lintas disiplin.

Ada akademisi.

Ada tokoh adat.

Ada pendidik.

Ada birokrat.

Ada profesional.

Ada pelaku usaha.

Ada perempuan.

Ada anak muda.

Semua diharapkan bisa bertemu dalam satu ruang: ruang gagasan dan pengabdian.

Ernawati dan Fase Konsolidasi ISMI Jambi

Ketua ISMI Jambi, Hj. Ernawati, mengatakan pelantikan 19 Juni bukan titik akhir dari proses pembentukan organisasi.

Menurutnya, pelantikan justru menjadi awal tanggung jawab.

“Pelantikan ini bukan sekadar acara. Ini awal dari amanah. ISMI Jambi harus menjadi rumah besar yang terbuka bagi sarjana Melayu dari berbagai latar belakang untuk bersama-sama memberi manfaat bagi daerah,” ujar Ernawati.

Ernawati ingin ISMI Jambi hadir dengan wajah yang inklusif.

Tidak eksklusif.

Tidak berjarak.

Tidak hanya bicara di ruang formal.

Menurutnya, sarjana Melayu harus mampu turun ke tengah masyarakat, membaca persoalan daerah, lalu menawarkan gagasan dan kerja nyata.

Ia menyebut ISMI Jambi akan mendorong agenda yang dekat dengan kebutuhan publik. Mulai dari diskusi rutin, kajian Melayu, penguatan literasi adat dan budaya, pelatihan generasi muda, kolaborasi dengan kampus, hingga ruang-ruang pemberdayaan perempuan Melayu.

“Nilai Melayu itu luas. Ada adab, ilmu, musyawarah, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Nilai itu harus hidup dalam pendidikan, keluarga, masyarakat, dan kebijakan pembangunan,” katanya.

Bagi Ernawati, Melayu tidak cukup hanya dikenalkan melalui simbol.

Melayu harus hadir dalam perilaku.

Dalam cara memimpin.

Dalam cara mendidik.

Dalam cara berdialog.

Dan dalam cara membangun daerah.

ISMI Jambi ingin mengambil posisi sebagai jembatan.

Jembatan antara adat dan ilmu.

Antara kampus dan masyarakat.

Antara generasi tua dan anak muda.

Antara birokrasi dan gagasan publik.

Antara nilai Melayu dan tantangan zaman digital.

Karena itu, salah satu agenda awal yang disiapkan adalah membangun tradisi diskusi dan kajian. ISMI Jambi ingin mendorong forum rutin yang membahas isu pendidikan, kebudayaan, kepemimpinan perempuan, literasi generasi muda, ekonomi lokal, dan kebijakan daerah.

Forum semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai percakapan akademik.

Hasilnya harus bisa menjadi masukan.

Menjadi rekomendasi.

Menjadi bahan diskusi publik.

Dan jika memungkinkan, menjadi inspirasi kebijakan.

Ernawati menegaskan, ISMI Jambi tidak ingin hanya ramai di awal.

“Kami ingin ISMI bergerak. Setelah pelantikan, harus ada agenda. Harus ada kerja. Harus ada manfaat. Kita ingin sarjana Melayu hadir bukan hanya dengan gelar, tapi dengan karya,” ujarnya.

ISMI Kabupaten/Kota Turut Dikukuhkan

Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., selaku Ketua Dewan Pembina ISMI Provinsi Jambi, juga memberi penegasan bahwa konsolidasi ISMI tidak berhenti di tingkat provinsi. Bersama Ketua ISMI Provinsi Jambi, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., Al Haris telah memberikan mandat kepada sejumlah tokoh di kabupaten/kota untuk memimpin dan membentuk kepengurusan ISMI tingkat kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan sarjana Melayu agar gerakan ISMI tidak hanya terpusat di ibu kota provinsi, tetapi juga tumbuh hingga ke daerah.

Al Haris menyatakan para penerima mandat tersebut akan langsung dilantik dan dikukuhkan secara serentak bersama kepengurusan ISMI Provinsi Jambi pada Jumat, 19 Juni 2026. Dengan pelantikan serentak itu, ISMI Jambi diharapkan segera bergerak lebih luas, menjahit kekuatan sarjana Melayu dari provinsi hingga kabupaten/kota, serta membangun kolaborasi yang lebih dekat dengan masyarakat, pemerintah daerah, kampus, lembaga adat, perempuan, pemuda, dan berbagai profesi lainnya.

Panitia Pastikan Pelantikan Siap

Ketua Panitia Pelantikan ISMI Jambi, Prof. Dr. H. Syamsir, S.H., M.H., mengatakan persiapan pelantikan terus dimatangkan.

Menurutnya, panitia telah menyiapkan rangkaian acara agar pelantikan berjalan tertib, khidmat, dan mencerminkan marwah organisasi sarjana Melayu.

Prof. Syamsir menyebut pelantikan ini memiliki makna strategis bagi ISMI Jambi.

Bukan hanya karena akan mengukuhkan kepengurusan.

Tetapi juga karena menjadi momentum memperkenalkan arah organisasi kepada publik.

“Pelantikan ini harus menjadi deklarasi tanggung jawab. ISMI Jambi harus mampu menunjukkan bahwa sarjana Melayu punya peran dalam membangun daerah,” ujar Prof. Syamsir.

Ia berharap setelah pelantikan, ISMI Jambi segera menyusun program kerja yang terukur.

Menurutnya, ada banyak ruang yang bisa disentuh organisasi ini.

Di bidang pendidikan, ISMI bisa mendorong penguatan karakter dan literasi.

Di bidang budaya, ISMI bisa memperkuat kajian Melayu dan dokumentasi adat.

Di bidang kepemudaan, ISMI bisa membuat pelatihan kepemimpinan.

Di bidang kebijakan publik, ISMI bisa menjadi mitra gagasan bagi pemerintah daerah.

“Yang penting, ISMI jangan berhenti di acara. Harus ada kerja lanjutan. Harus ada kontribusi nyata,” katanya.

HBA Berharap ISMI Perkuat Adat dan Ilmu

Tokoh masyarakat Jambi sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, M.M., atau HBA, menyambut baik kehadiran ISMI Jambi.

Mantan Gubernur Jambi itu menilai sarjana Melayu memiliki peran penting dalam menjaga adat sekaligus membawa nilai Melayu masuk ke ruang ilmu pengetahuan dan pembangunan.

Menurut HBA, adat Melayu Jambi memiliki dasar nilai yang kuat.

Namun nilai itu harus terus dijaga, dipelajari, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman.

“ISMI Jambi kita harapkan menjadi kekuatan baru. Sarjana Melayu harus ikut menjaga adat, memperkuat ilmu, dan memberi contoh dalam kehidupan masyarakat,” ujar HBA.

HBA menilai, kehadiran ISMI dapat memperkaya ekosistem kelembagaan Melayu di Jambi.

LAM menjaga adat dan marwah.

Ulama menjaga nilai keagamaan.

Pemerintah menjalankan pembangunan.

Sementara ISMI dapat mengisi ruang gagasan, kajian, pendidikan, dan kontribusi intelektual.

“Kalau adat, ulama, pemerintah, akademisi, dan sarjana Melayu bisa bergerak bersama, Jambi akan punya kekuatan sosial yang besar,” katanya.

HBA juga berharap ISMI Jambi memberi perhatian pada generasi muda.

Menurutnya, tantangan Melayu hari ini bukan hanya menjaga tradisi lama, tetapi juga memastikan anak muda memahami akar budayanya.

Di era digital, nilai Melayu harus mampu masuk ke ruang baru. Termasuk media sosial, literasi digital, pendidikan karakter, dan komunitas anak muda.

Agenda Awal: Kajian, Literasi, dan Generasi Muda

ISMI Jambi mulai memetakan sejumlah agenda awal setelah pelantikan.

Pertama, diskusi rutin sarjana Melayu.

Forum ini dapat menjadi ruang bertukar pikiran antara akademisi, tokoh adat, birokrat, profesional, mahasiswa, dan pemuda.

Kedua, kajian Melayu dan kebijakan publik.

ISMI Jambi ingin mendorong kajian yang tidak hanya bicara sejarah, tetapi juga membaca kebutuhan daerah hari ini.

Mulai dari pendidikan, kebudayaan, ekonomi masyarakat, kepemimpinan perempuan, lingkungan sosial, hingga pembangunan daerah.

Ketiga, pelatihan generasi muda.

Anak muda Melayu perlu diberi ruang untuk belajar kepemimpinan, literasi budaya, komunikasi publik, dan pemanfaatan teknologi digital.

Keempat, kolaborasi kampus.

Kampus memiliki sumber ilmu. ISMI bisa menjadi jembatan agar ilmu tidak berhenti di ruang akademik, tetapi turun ke masyarakat.

Kelima, penguatan literasi adat dan budaya.

ISMI Jambi ingin mendorong agar nilai Melayu tidak hanya dihafal, tetapi dipahami dan dipraktikkan.(*)

BeritaSatu Network