ISMI Jambi dan Misi Baru Sarjana Melayu, Dorong Nilainya Masuk ke Pendidikan dan Kebijakan

WIB
IST

JAMBI — Apakah Melayu cukup dikenang lewat seremoni?

Cukupkah Melayu hanya hadir dalam pakaian adat, pantun, prosesi, dan panggung-panggung kebudayaan?

Pertanyaan itu mulai menguat dua hari menjelang pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi periode 2026–2030.

Pelantikan ISMI Jambi dijadwalkan berlangsung Jumat, 19 Juni 2026, di Rumah Dinas Gubernur Jambi.

Namun sebelum pelantikan itu digelar, satu gagasan mulai didorong ke ruang publik, yakni Melayu tidak boleh berhenti sebagai hiasan panggung.

Melayu harus hidup dalam cara berpikir.

Cara memimpin.

Cara mendidik.

Cara membangun daerah.

Dan cara sarjana Melayu mengambil peran nyata di tengah masyarakat.

ISMI Jambi ingin menempatkan Melayu bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai gerakan intelektual.

Bukan hanya soal masa lalu.

Tetapi soal masa depan.

Bukan hanya soal adat.

Tetapi juga soal pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi lokal, perempuan, anak muda, literasi digital, kampus, desa, birokrasi, dan kebijakan publik.

Selama ini, Melayu kerap tampil kuat saat acara adat.

Balairung penuh.

Pakaian adat dikenakan.

Pantun dibacakan.

Gelar disebutkan.

Tetapi setelah panggung selesai, nilai Melayu sering kembali sunyi.

Nilai kesantunan, musyawarah, adab, tanggung jawab, penghormatan kepada ilmu, dan kepedulian sosial belum selalu hadir kuat dalam kebijakan, pendidikan, dan kehidupan publik.

Di celah itulah ISMI Jambi ingin mengambil peran.

Organisasi ini ingin menjadi rumah bagi sarjana Melayu lintas profesi.

Ada akademisi.

Ada birokrat.

Ada pengusaha.

Ada tokoh adat.

Ada ulama.

Ada profesional.

Ada perempuan pemimpin.

Ada anak muda terdidik.

Mereka dipertemukan oleh satu agenda: membawa nilai Melayu masuk ke ruang kerja nyata.

Bukan hanya dibicarakan.

Tetapi diterjemahkan menjadi program.

Bukan hanya dikenang.

Tetapi dipakai untuk menjawab tantangan zaman.

Pendidikan Karakter Melayu

Salah satu isu yang bisa menjadi perhatian ISMI Jambi adalah pendidikan berbasis karakter Melayu.

Melayu memiliki kekayaan nilai yang kuat.

Ada adab kepada guru.

Ada penghormatan kepada orang tua.

Ada tradisi bermusyawarah.

Ada kebiasaan bertutur santun.

Ada semangat gotong royong.

Ada kedekatan dengan nilai Islam.

Nilai-nilai itu bisa menjadi fondasi pendidikan karakter di tengah tantangan generasi muda hari ini.

Ketua MUI Provinsi Jambi, Dr. H. Umar Yusuf, M.A., menilai kehadiran ISMI Jambi bisa memperkuat hubungan antara ilmu, adat, dan nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Melayu tidak dapat dipisahkan dari adab dan syara’.

“Kalau sarjana Melayu hadir dengan ilmu dan adab, maka ia akan menjadi kekuatan besar bagi daerah. Melayu tidak cukup dirayakan secara simbolik, tetapi harus menjadi cara hidup yang membimbing masyarakat,” ujar Dr. Umar Yusuf.

Ia menilai, salah satu tantangan hari ini adalah bagaimana menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai agama.

Di sinilah, kata dia, sarjana Melayu harus hadir sebagai teladan.

Bukan hanya pandai berbicara tentang adat.

Tetapi juga mampu menunjukkan akhlak, kepedulian, dan kontribusi.

“ISMI bisa menjadi jembatan antara ulama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Kalau ini bergerak bersama, maka Melayu akan menjadi kekuatan moral dalam pembangunan Jambi,” katanya.

Perempuan Melayu dan Kepemimpinan Sosial

Isu lain yang penting adalah peran perempuan Melayu dalam kepemimpinan sosial.

Di Jambi, perempuan tidak hanya menjadi penjaga keluarga.

Perempuan juga hadir sebagai pendidik, pengusaha, aktivis sosial, akademisi, birokrat, dan penggerak masyarakat.

Kepemimpinan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., sebagai Ketua ISMI Jambi periode 2026–2030 menjadi simbol penting bahwa perempuan Melayu memiliki ruang strategis dalam gerakan intelektual dan sosial.

Ernawati dikenal sebagai tokoh perempuan Melayu yang bergerak dalam berbagai bidang.

Ia memiliki pengalaman birokrasi, dunia usaha, termasuk travel umrah, serta tengah menyiapkan ikhtiar sosial-keagamaan melalui rencana pembangunan pondok pesantren di kawasan Pinang Merah.

Kehadiran Ernawati di pucuk kepemimpinan ISMI Jambi memperlihatkan bahwa gerakan sarjana Melayu tidak hanya berwajah akademik, tetapi juga sosial, ekonomi, dan keumatan.

Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Dr. Jamilah, menilai kepemimpinan perempuan Melayu dalam organisasi seperti ISMI memiliki makna yang penting.

Menurutnya, perempuan Melayu punya peran besar dalam membentuk karakter keluarga dan masyarakat.

“Perempuan Melayu tidak hanya menjaga tradisi di rumah. Ia juga bisa menjadi pemimpin gagasan, penggerak pendidikan, dan penjaga nilai dalam ruang publik,” ujar Dr. Jamilah.

Ia berharap ISMI Jambi memberi ruang luas bagi perempuan dan generasi muda untuk terlibat dalam program-program organisasi.

Terutama pada isu pendidikan, literasi, pendampingan keluarga, penguatan ekonomi perempuan, dan pembinaan anak muda.

“Kalau ISMI ingin hidup, maka ia harus dekat dengan masyarakat. Dekat dengan ibu-ibu, anak muda, kampus, sekolah, dan komunitas. Di situlah nilai Melayu bisa bergerak,” katanya.

Dari Kampus ke Kampung

ISMI Jambi juga diharapkan tidak berjarak dengan masyarakat.

Sarjana Melayu tidak boleh hanya berada di ruang seminar.

Tidak cukup hanya menulis makalah.

Tidak cukup hanya hadir dalam acara resmi.

Sarjana Melayu harus turun dari kampus ke kampung.

Masuk ke desa.

Masuk ke sekolah.

Masuk ke ruang UMKM.

Masuk ke komunitas anak muda.

Masuk ke ruang diskusi kebijakan daerah.

Sebab banyak persoalan masyarakat membutuhkan sentuhan ilmu.

Pendidikan anak.

Kemiskinan.

Ekonomi keluarga.

Digitalisasi UMKM.

Penguatan adat.

Literasi keagamaan.

Lingkungan.

Kepemimpinan pemuda.

Dan kualitas pelayanan publik.

Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, menilai ISMI Jambi bisa menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan masyarakat.

Menurutnya, kekuatan sarjana tidak boleh berhenti pada gelar akademik.

Gelar harus berubah menjadi manfaat.

“Sarjana Melayu harus mampu menjelaskan masalah masyarakat dengan ilmu, lalu membantu mencari jalan keluarnya dengan adab. Itulah kekuatan intelektual Melayu,” ujar Dr. Jafar Ahmad.

Ia menilai, Jambi memiliki kekayaan budaya yang besar.

Namun kekayaan itu harus terus diperbarui agar tidak hanya menjadi cerita sejarah.

Budaya Melayu harus masuk ke dalam riset, kurikulum, literasi publik, ekonomi kreatif, kebijakan daerah, dan pembinaan generasi muda.

“Melayu akan tetap hidup kalau ia hadir dalam kerja nyata. Kampus bisa menjadi pusat ilmu, tetapi manfaatnya harus sampai ke kampung,” katanya.

Adat di Tengah Masyarakat Digital

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah dunia digital.

Anak muda hari ini hidup di media sosial.

Mereka belajar dari layar.

Mereka berinteraksi lewat platform digital.

Mereka mengenal dunia melalui konten.

Jika nilai Melayu tidak masuk ke ruang digital, maka generasi muda akan semakin jauh dari akar budayanya.

Karena itu, ISMI Jambi memiliki peluang besar mendorong kebudayaan Melayu dalam format yang lebih segar.

Melalui literasi digital.

Konten edukatif.

Podcast kebudayaan.

Kelas adat untuk anak muda.

Diskusi publik.

Riset populer.

Publikasi tokoh Melayu.

Arsip digital.

Dan penguatan narasi Melayu di media sosial.

Melayu tidak harus kehilangan wibawa ketika masuk dunia digital.

Justru dunia digital bisa menjadi ruang baru untuk memperkenalkan adab, sejarah, bahasa, seni, dan pemikiran Melayu kepada generasi muda.

Di sinilah sarjana Melayu perlu bekerja.

Menerjemahkan nilai lama ke bahasa baru.

Menyambungkan warisan dengan masa depan.

Sebagai organisasi sarjana, ISMI Jambi juga memiliki peluang masuk ke ruang kebijakan publik.

Bukan untuk menjadi organisasi politik praktis.

Tetapi sebagai ruang gagasan.

ISMI bisa memberi masukan kepada pemerintah daerah dalam isu pendidikan, kebudayaan, ekonomi masyarakat, penguatan SDM, perlindungan perempuan dan anak, literasi digital, serta pelestarian adat.

Dalam konteks Jambi, pembangunan daerah membutuhkan lebih dari sekadar anggaran.

Daerah juga membutuhkan gagasan.

Kajian.

Rekomendasi.

Forum ilmiah.

Data.

Dan jembatan komunikasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, adat, ulama, dan dunia usaha.

ISMI Jambi bisa mengambil peran itu.

Menjadi ruang pertemuan gagasan.

Tempat sarjana Melayu membaca persoalan daerah.

Lalu menyumbangkan pemikiran yang bisa dipakai untuk kepentingan publik.

Pelantikan ISMI Jambi pada 19 Juni 2026 tentu menjadi momentum penting.

Namun pelantikan tidak boleh berhenti sebagai seremoni.

Tidak boleh hanya menjadi panggung sambutan.

Tidak boleh hanya menjadi foto bersama.

Pelantikan harus melahirkan agenda.

Agenda pendidikan.

Agenda literasi.

Agenda perempuan Melayu.

Agenda anak muda.

Agenda ekonomi lokal.

Agenda riset kebudayaan.

Agenda penguatan adat di era digital.

Agenda kontribusi sarjana Melayu untuk desa, kampus, birokrasi, dan masyarakat.

ISMI Jambi akan diuji setelah pelantikan.

Bukan oleh meriahnya acara.

Tetapi oleh program yang berjalan.

Bukan oleh banyaknya tamu.

Tetapi oleh manfaat yang sampai ke masyarakat.

Bukan oleh gelar para pengurus.

Tetapi oleh karya yang ditinggalkan.

Karena itu, dua hari menjelang pelantikan, gagasan yang perlu ditegaskan adalah sederhana: Melayu harus naik kelas.

Dari simbol ke substansi.

Dari seremoni ke kontribusi.

Dari adat ke ruang ilmu.

Dari panggung ke kebijakan publik.

Dan dari gelar sarjana ke kerja nyata untuk masyarakat.

Jika itu bisa dilakukan, ISMI Jambi tidak hanya menjadi organisasi baru dalam daftar kelembagaan.

Ia bisa menjadi gerakan intelektual Melayu yang hidup.

Berakar pada adat.

Berjalan dengan ilmu.

Dan bergerak untuk masa depan Jambi.(*)

BeritaSatu Network