Misteri 5 Penyedia Alat Peraga Disdikbud Batang Hari Rp7,6 Miliar, Dari Perusahaan 'Event' hingga Jejak Sorotan di Aceh

WIB
IST

BATANG HARI – Ada lima nama yang tiba-tiba menjadi penting di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Hari tahun anggaran 2026.

Namanya tidak sekeras kontraktor jalan. Tidak segarang proyek jembatan. Tapi nilainya tetap besar Rp7,646 miliar.

Metodenya bukan tender terbuka. Melainkan E-Purchasing melalui E-Katalog 6.0.

Lima penyedianya Teman Terbaik Indonesia, Graha Mulia Utama, Srikandi Bandhawa Jaya, Amanah, dan Sumber Rezeki Fajar.

Di data, semua terlihat rapi. Semua berstatus ON PROCESS. Semua menggunakan APBD. Semua barang disebut Produk Dalam Negeri. Tapi justru di situlah pertanyaan publik dimulai, barangnya untuk siapa, sekolah mana, spesifikasinya apa, harganya wajar atau tidak, dan mengapa penyedia-penyedia ini yang dipilih?

Sebab E-Katalog bukan berarti bebas tanya. E-Purchasing bukan berarti bebas sorot.

Data pengadaan menunjukkan, Disdikbud Batang Hari memiliki 5 paket E-Purchasing dengan total nilai Rp7.646.644.713. Dari total itu, 4 paket alat peraga menyedot Rp7.491.500.013 atau sekitar 97,97 persen. Satu paket lain bernilai Rp155.144.700 untuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan objek pemajuan lembaga adat.

PenyediaPaket di Batang HariNilai/Status
Srikandi Bandhawa JayaAlat Peraga Modul Percobaan FisikaRp2.862.000.015 / ON PROCESS
Teman Terbaik IndonesiaAlat Peraga Komprehensif dan Informatif SDRp2.099.999.998 / ON PROCESS
AmanahAlat Peraga IPBA Informatif SDRp1.472.000.009 / ON PROCESS
Graha Mulia UtamaAlat Peraga Komprehensif dan Informatif SMPRp1.057.499.991 / ON PROCESS
Sumber Rezeki FajarObjek Pemajuan Lembaga AdatRp155.144.700 / ON PROCESS

Tiga paket awal sudah terpantau sejak awal 2026, Srikandi Bandhawa Jaya Rp2,862 miliar, Teman Terbaik Indonesia Rp2,1 miliar, dan Amanah Rp1,472 miliar. Belakangan, paket Graha Mulia Utama dan Sumber Rezeki Fajar melengkapi daftar sehingga totalnya naik menjadi Rp7,64 miliar.

Awalnya, publik melihat tiga paket besar alat peraga. Nilainya sudah tembus Rp6,43 miliar. Semua melalui E-Katalog. Semua untuk belanja barang pendidikan. Lalu data bergerak. Muncul paket keempat untuk alat peraga SMP senilai Rp1,057 miliar. Setelah itu muncul paket kelima untuk objek pemajuan lembaga adat senilai Rp155 juta. Total akhirnya menjadi Rp7,646 miliar.

Paket terbesar dipegang Srikandi Bandhawa Jaya. Paketnya Pengadaan Alat Peraga Modul Percobaan Fisika. Kode RUP 65480317. Pagu Rp2,88 miliar. Nilai transaksi Rp2,862 miliar. Volume tercatat 36 unit/set. Jadwal pemilihan Februari–Maret 2026. Pelaksanaan kontrak Maret–Juni 2026. Pemanfaatan barang ditargetkan hingga Desember 2026.

Paket Amanah berisi Alat Peraga IPBA Informatif SD. Kode RUP 65472959. Pagu Rp1,481 miliar. Nilai transaksi Rp1,472 miliar. Volume tercatat 46 set. Barang yang disebut antara lain perangkat IPBA interaktif, model planetarium sistem gerigi, dan globe rasi bintang siang.

Paket Graha Mulia Utama untuk Alat Peraga Komprehensif dan Informatif SMP. Kode RUP 65484063. Pagu Rp1,065 miliar. Nilai transaksi Rp1,057 miliar. Volume tercatat 15 paket, meliputi alat IPA fisika permainan dan carta biologi informatif.

Teman Terbaik Indonesia: Nama Manis, Nilai Nyaris Rp2,1 Miliar

Paket Teman Terbaik Indonesia bernilai nyaris Rp2,1 miliar untuk Pengadaan Alat Peraga Komprehensif dan Informatif SD. Paket ini melalui E-Purchasing E-Katalog 6.0, sumber dana APBD, dan berstatus ON PROCESS. (JambiLINK.id)

Jejak terbuka perusahaan ini menarik. Dalam profil LinkedIn, PT Teman Terbaik Indonesia tercatat sebagai perusahaan konsultan dan jasa bisnis berbasis di Bandung, berdiri tahun 2018, dengan bidang administrasi, business support, event management, branding, construction, hingga business operations.

Dalam data IVENDO, Teman Terbaik Indonesia juga tercatat sebagai anggota asosiasi di Jawa Barat dengan kategori layanan event registration, venue management, conference organizer, exhibition organizer, dan meeting organizer.

Di katalog MbizMarket, Teman Terbaik Indonesia terlihat menjual beragam barang dan jasa, dari kursi besi, tempat sampah, kompor, hingga jasa KOL ads.

Artinya, profil terbukanya bukan semata perusahaan alat peraga pendidikan. Ia lebih luas. Sangat luas. Dari event sampai barang umum. Karena itu, Disdikbud Batang Hari perlu menjelaskan dasar pemilihan penyedia ini: apakah karena harga paling wajar, produk paling sesuai, atau ada pembanding katalog yang sudah dibuat PPK?

Sejauh penelusuran sumber terbuka, belum ditemukan informasi kredibel rekam jejak barang pendidikan yang spesifik.

Srikandi Bandhawa Jaya: Situs Klaim 15 Tahun, Data AHU Menunjukkan 2025

Nama kedua yang paling besar adalah Srikandi Bandhawa Jaya. Nilainya Rp2,862 miliar. Ia memegang paket modul percobaan fisika.

Situs resmi Srikandi Bandhawa Jaya menampilkan klaim besar, 15+ tahun pengalaman, 200+ proyek selesai, 50+ klien korporat, dan 500+ tenaga profesional. Layanan yang ditampilkan pun luas, dari konstruksi, infrastruktur, engineering, procurement, project management, teknologi, digitalisasi, pelatihan, hingga marketing dan branding.

Namun data perusahaan yang terhubung dengan Kementerian Hukum dan HAM melalui Companies House Indonesia mencatat PT Srikandi Bandhawa Jaya berdiri pada 6 Februari 2025, beralamat di Jl H. Kelik Blok D No. 37, Jakarta Barat, dan berstatus aktif.

Di sinilah pertanyaannya.

Kalau badan hukum berdiri Februari 2025, bagaimana narasi “15+ tahun pengalaman” itu dijelaskan? Apakah pengalaman itu milik para personelnya? Apakah ada perusahaan pendahulu? Apakah ada afiliasi lama? Atau sekadar bahasa promosi?

Belum tentu salah. Tapi wajib diklarifikasi.

Sebab proyek fisika Rp2,862 miliar bukan barang promosi. Itu uang daerah.

Graha Mulia Utama: Pernah Menang Alat Peraga Cianjur, Namanya Muncul di Sorotan Aceh

Graha Mulia Utama memegang paket alat peraga SMP senilai Rp1,057 miliar di Batang Hari.

Nama ini punya jejak di pengadaan alat peraga. Pada 2018, Graha Mulia Utama tercatat menang paket Pengadaan Alat Peraga IPA Kreatif Terbarukan untuk SD di Kabupaten Cianjur. Nilai penawarannya Rp6.791.772.000 dari pagu sekitar Rp6,968 miliar. Paket itu berada di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur.

Tapi nama Graha Mulia Utama juga muncul dalam sorotan lain.

Pada 2025, sejumlah media Aceh memberitakan desakan Transparansi Tender Indonesia (TTI) kepada Kejati Aceh untuk mengusut pengadaan alat peraga SMK bersumber dari DAK Fisik 2025. Total nilai yang disorot disebut sekitar Rp76 miliar dan melibatkan tujuh perusahaan, salah satunya Graha Mulia Utama. TTI menuding ada dugaan pelaksanaan sebelum juknis terbaru, proses yang terburu-buru, hingga isu cashback 20–25 persen.

Amanah: Nama Singkat, Jejak Terbuka Terbatas

Paket Amanah bernilai Rp1,472 miliar. Barangnya alat peraga IPBA informatif SD. Volumenya 46 set. Isinya berkaitan dengan ilmu pengetahuan bumi dan antariksa.

Namun, untuk profil penyedia “Amanah” yang spesifik mengerjakan paket Batang Hari ini, jejak terbuka sangat terbatas. Hasil penelusuran tidak menemukan profil perusahaan yang kuat, riwayat tender yang jelas, atau pemberitaan masalah hukum yang bisa dipastikan merujuk pada entitas yang sama.

Ini bukan berarti bermasalah.

Tapi untuk paket Rp1,472 miliar, minimnya jejak terbuka menjadi alasan PPK perlu membuka lebih banyak informasi: alamat penyedia, bentuk badan usaha, pengalaman sejenis, katalog produk, spesifikasi, harga pembanding, dan daftar sekolah penerima.

Dalam belanja publik, kata “Amanah” tidak cukup menjadi jaminan amanah.

Sumber Rezeki Fajar: Paket Kecil, Tapi Tetap Uang Publik

Nilai paket Sumber Rezeki Fajar paling kecil di antara lima penyedia: Rp155.144.700. Paketnya bukan alat peraga sekolah, melainkan Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan Objek Pemajuan Lembaga Adat. Kode RUP 66719621. Statusnya sama: ON PROCESS.

Jejak terbuka untuk nama “Sumber Rezeki Fajar” juga belum banyak ditemukan.

Karena itu, paket ini tetap perlu dibuka: barang apa yang dibeli, untuk lembaga adat mana, siapa penerima manfaat, apa bentuk pemanfaatannya, dan bagaimana ukuran keberhasilannya.

Nilainya mungkin kecil dibanding paket alat peraga. Tapi uang publik tidak mengenal kecil-besar. Semua harus bisa dipertanggungjawabkan.

Peta Rekam Jejak Singkat

PenyediaRekam jejak terbukaCatatan risiko
Teman Terbaik IndonesiaProfil bisnis/event/produk umum di BandungBelum tampak kuat jejak khusus alat peraga pendidikan
Srikandi Bandhawa JayaSitus klaim 15+ tahun, AHU menunjukkan berdiri 2025Perlu klarifikasi pengalaman dan portofolio
Graha Mulia UtamaPernah menang alat peraga Cianjur Rp6,79 MNamanya muncul dalam sorotan DAK Aceh 2025
AmanahData terbuka sangat terbatasPerlu buka profil, pengalaman, dan produk
Sumber Rezeki FajarData terbuka sangat terbatasPerlu buka detail barang dan penerima manfaat

E-Purchasing Bukan Jalan Pintas Tanpa Pengawasan

E-Purchasing melalui katalog elektronik memang sah dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Dalam ketentuan LKPP, pembelian melalui katalog elektronik dapat dilakukan melalui mekanisme seperti negosiasi harga, mini-kompetisi, dan competitive catalogue.

Masalahnya, publik sering hanya melihat hasil akhirnya: nama penyedia dan nilai transaksi.

Yang tidak terlihat adalah dapurnya.

Apakah PPK membandingkan harga produk sejenis? Apakah ada mini-kompetisi? Apakah negosiasi harga dilakukan serius? Apakah spesifikasi barang disusun berdasarkan kebutuhan sekolah atau menyesuaikan produk yang sudah ada di katalog?

Pertanyaan ini penting.

Karena alat peraga bukan sekadar barang pajangan di lemari sekolah.

Ia harus dipakai guru. Disentuh murid. Masuk kelas. Menghidupkan pelajaran.

Kalau hanya datang, difoto, lalu dikunci di ruang kepala sekolah, maka uang Rp7,49 miliar itu hanya berubah menjadi tumpukan dus.

Warga meminta Disdikbud Batang Hari membuka informasi sekolah penerima, jumlah unit, jenis barang, dan distribusi alat peraga. Wali murid juga berharap sekolah desa tidak hanya menjadi penonton, sementara barang bagus menumpuk di sekolah tertentu.

Kekhawatiran itu wajar.

Di banyak daerah, pengadaan alat pendidikan sering punya penyakit lama.

Barang datang. BAST diteken. Foto dikirim. Laporan selesai.

Tapi guru tidak dilatih. Barang tidak digunakan. Suku cadang tidak ada. Garansi tidak jelas. Akhirnya alat peraga menjadi monumen kecil di laboratorium sekolah.(*)

BeritaSatu Network