Ramai Dikaitkan dengan Pilgub Jambi, Hj Ernawati: Ini Misi Sosial, Saya Tidak Sedang Blusukan Politik

WIB
ist

Jambi — Aktivitas Hj Ernawati dalam beberapa waktu terakhir semakin menyita perhatian. Bersama Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI), ia bergerak dari satu kabupaten ke kabupaten lain, mendatangi desa, pesantren, masjid, rumah tahfiz hingga panti asuhan.

Ernawati juga menemui tokoh agama, menyambangi anak yatim, membantu masyarakat kurang mampu serta menawarkan sejumlah gagasan pengembangan ekonomi daerah. Pergerakan yang semakin masif itu kemudian memunculkan spekulasi politik.

Ada yang menilai aktivitas tersebut mulai menyerupai blusukan seorang calon kepala daerah. Bahkan, nama Ernawati mulai dikaitkan dengan kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi mendatang.

Namun, Ernawati membantah keras penilaian tersebut. Ia menegaskan seluruh kegiatannya bersama ISMI merupakan bagian dari program sosial, bukan persiapan untuk memasuki gelanggang politik.

“Saya tidak sedang melakukan blusukan politik. ISMI telah membentuk kepengurusan di sejumlah kabupaten dan kota. Ketika pengurus daerah mengadakan kegiatan dan mengundang, tentu saya datang,” kata Ernawati dalam wawancara di program Ngopi Pahit Jambi TV, pekan lalu.

Menurutnya, kunjungan ke berbagai daerah merupakan tindak lanjut hasil rapat kerja ISMI. Dalam rapat tersebut, pengurus kabupaten dan kota menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temukan di tengah masyarakat.

Persoalan itu mulai dari narkoba, judi dan judi online, pinjaman online, geng motor hingga kondisi anak yatim dan masyarakat dhuafa yang belum tersentuh bantuan secara memadai.

Dari pemetaan tersebut, ISMI kemudian menyusun sejumlah program. Pendampingan anak yatim ditempatkan sebagai salah satu agenda utama. ISMI juga memberikan perhatian terhadap masyarakat dhuafa, rumah tahfiz, pesantren, masjid dan pelayanan kesehatan dasar.

Dua Kebiasaan Setiap Turun ke Daerah

Ernawati mengaku mempunyai dua kebiasaan ketika mengunjungi suatu daerah. Pertama, berziarah dan bersilaturahmi dengan tokoh agama serta tokoh masyarakat.

Kebiasaan itu, menurutnya, tidak hanya dilakukan ketika berada di Jambi. Hal serupa juga dilakukannya saat berkunjung ke daerah lain maupun ketika berada di luar negeri.

Kebiasaan kedua adalah mencari anak yatim dan masyarakat dhuafa yang membutuhkan bantuan.

“Di mana pun saya berada, ada dua kebiasaan yang selalu saya lakukan. Pertama, saya berziarah dan bersilaturahmi. Kedua, saya mencari anak yatim dan masyarakat dhuafa yang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Saat mengunjungi Muaro Jambi, misalnya, Ernawati mengaku menemukan banyak warga lanjut usia yang mengeluhkan sakit pinggang dan kaki. Sebagian warga menduga keluhan itu disebabkan asam urat, tetapi belum pernah menjalani pemeriksaan medis.

Temuan tersebut membuat Ernawati meminta pengurus ISMI membawa pelayanan pemeriksaan kesehatan sederhana setiap kali turun ke tengah masyarakat. Pemeriksaan dapat berupa pengecekan gula darah dan asam urat.

Jika ditemukan gangguan kesehatan tertentu, warga dapat diarahkan memperoleh penanganan lebih lanjut melalui dinas kesehatan, puskesmas maupun tenaga medis.

Meski demikian, Ernawati mengakui ISMI tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat seorang diri. Organisasi itu, katanya, hanya dapat menjadi penghubung antara masyarakat, pemerintah, tenaga kesehatan, pengusaha dan pihak-pihak yang mempunyai sumber daya.

“Saya bukan Wonder Woman yang mampu menangani semua masalah seorang diri. Harus ada kolaborasi,” tegasnya.

Terkejut Melihat Kemiskinan di Kampung Sendiri

Aktivitas turun ke desa-desa juga mengubah pandangan Ernawati mengenai kondisi masyarakat Jambi. Ia mengaku selama hampir 15 tahun tidak banyak berada di Jambi maupun Indonesia karena lebih sering tinggal di Makkah.

Selama berada di luar negeri, perhatian sosialnya lebih banyak diarahkan kepada masyarakat di Mesir dan Palestina. Ia mengira Indonesia telah berkembang dan sebagian besar masyarakatnya hidup relatif sejahtera.

Pandangan itu berubah setelah ia melihat langsung kondisi masyarakat di sejumlah daerah di Jambi. Ernawati mengaku menemukan orang tua yang sakit tetapi belum pernah diperiksa, anak yatim tanpa pendampingan serta keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

“Saya tidak menyangka kondisinya seperti itu. Ada orang tua yang sakit tetapi tidak pernah diperiksa. Ada anak yatim yang hidup tanpa pendampingan. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar,” katanya.

Pengalaman tersebut, menurut Ernawati, membuatnya semakin memahami kebutuhan masyarakat di kampung halamannya. Ia kemudian berupaya menjadikan jaringan ISMI sebagai instrumen untuk mendata dan menghubungkan warga yang membutuhkan dengan pihak yang dapat membantu.

Cari 500 Anak Yatim yang Paling Membutuhkan

Salah satu program yang disiapkan ISMI adalah pendataan anak yatim. Lima kabupaten yang kepengurusan ISMI-nya telah terbentuk diminta menyerahkan data masing-masing 100 anak.

Dengan demikian, sebanyak 500 anak yatim akan didata pada tahap awal. Namun, Ernawati menegaskan program tersebut bukan ditujukan kepada semua anak yang kehilangan ayah.

ISMI akan memprioritaskan anak yang benar-benar berada dalam kemiskinan berat, kehilangan pelindung dan tidak memperoleh pendampingan yang memadai. Ernawati menyebut kelompok tersebut sebagai “yatim ekstrem”.

“Bukan sekadar anak yang telah kehilangan ayah. Kami mencari anak yang benar-benar membutuhkan bantuan. Kami menyebutnya sebagai yatim ekstrem,” ujarnya.

Sebagai contoh, seorang anak kehilangan ayah, sementara ibunya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anak tersebut kemudian diasuh oleh nenek yang sudah tua dan tidak lagi mampu memberikan pendampingan maksimal.

Anak dengan keadaan seperti itu akan ditempatkan sebagai penerima prioritas. Sementara anak yatim yang masih mempunyai keluarga mampu diharapkan tetap memperoleh dukungan dari lingkungan keluarganya.

Data calon penerima bantuan juga direncanakan dicocokkan dengan data Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Langkah itu dilakukan untuk menghindari bantuan ganda kepada anak yang sama, sedangkan anak lain belum tersentuh.

“Jangan sampai anak yang telah dibantu Baznas kembali menerima bantuan dari ISMI, sementara anak lain tidak tersentuh. Kami harus berbagi data agar program tidak tumpang tindih,” jelas Ernawati.

Anak yatim usia MTs, SMP dan SMA direncanakan dititipkan ke pesantren. ISMI akan menjajaki kerja sama dengan Pesantren Darul Tauhid, Darul Arifin, PKP Al-Hidayah serta sejumlah pesantren di kabupaten dan kota.

Biaya pendidikan mereka akan ditanggung melalui program yang dipersiapkan. Sementara untuk anak-anak yang masih kecil, ISMI mempertimbangkan mendirikan tempat pengasuhan khusus.

Pengalaman Pribadi di Balik Perhatian kepada Anak Yatim

Perhatian Ernawati terhadap anak yatim tidak hanya didasarkan pada pertimbangan sosial dan keagamaan. Program tersebut juga berangkat dari pengalaman pribadinya.

Ernawati kehilangan suami ketika anak-anaknya masih kecil. Anak bungsunya ketika itu baru berusia sekitar dua setengah tahun. Anak-anak lainnya berusia sekitar lima tahun, enam setengah tahun dan sembilan tahun.

Belum sampai dua tahun setelah suaminya meninggal, adik Ernawati beserta pasangannya juga meninggal dunia. Anak adiknya yang saat itu berusia sekitar tiga tahun kemudian ikut tinggal bersamanya.

“Ketika saya berbicara tentang anak yatim, sebenarnya saya sedang berbicara tentang bagian dari kehidupan saya sendiri,” tuturnya.

Meski keluarganya masih mempunyai kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ernawati mengatakan kehilangan seorang ayah tetap menimbulkan kehampaan bagi anak-anak.

Ia kemudian harus menjalankan dua peran sekaligus. Pada satu waktu menjadi ibu yang lembut, tetapi pada waktu lain harus menjadi figur ayah yang kuat dan memberikan perlindungan.

“Saya tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi penakut. Karena itu, saya harus menjalankan dua peran. Pada saat tertentu saya menjadi ibu yang lembut, tetapi pada waktu lain saya harus berdiri sebagai seorang ayah yang kuat dan berani,” katanya.

Pengalaman itu membuat Ernawati ingin membantu anak-anak yatim dan para ibu yang harus membesarkan anak seorang diri.

“Sebelum hidup saya berakhir, saya ingin membantu sebanyak mungkin anak yatim. Jangan sampai anak-anak dan ibu mereka menjalani kesedihan yang sama seperti yang pernah saya alami,” ujarnya.

Bukan Hanya Anak Yatim

Selain mendata anak yatim, ISMI menyiapkan pembinaan 330 rumah tahfiz di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi. Setiap kabupaten dan kota diminta mengusulkan 30 rumah tahfiz pada tahap awal.

Rumah tahfiz itu dirancang tidak hanya menjadi tempat membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ernawati ingin anak-anak juga memperoleh pendidikan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

ISMI juga menggagas masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid, menurutnya, tidak seharusnya hanya dibuka menjelang salat berjemaah lalu kembali sepi setelah ibadah selesai.

“Masjid merupakan pusat peradaban pertama. Karena itu, masjid tidak boleh hanya dibuka ketika waktu salat lalu kembali sepi,” katanya.

Masjid diharapkan mempunyai program berkelanjutan bagi anak-anak, remaja dan masyarakat sekitar. Kegiatannya dapat berupa pembelajaran Al-Qur’an, tafsir, selawat, pendidikan anak, pengajian ibu-ibu, aktivitas sosial hingga pengembangan keterampilan.

Sarjana agama lulusan UIN juga diusulkan terlibat sebagai tenaga pendamping. Mereka dapat membantu menyusun kurikulum kegiatan masjid dan memperoleh honor yang layak.

Buka-bukaan Sumber Pembiayaan

Program anak yatim, rumah tahfiz, masjid, pelayanan kesehatan dan umrah gratis tentu membutuhkan biaya besar. Ernawati mengatakan sebagian pembiayaannya bersumber dari hasil usaha yang dijalankannya di Makkah.

Menurut Ernawati, pada awal merintis perusahaan, hasil usaha dibagi menjadi tiga bagian. Sebanyak 20 persen dialokasikan untuk bagian yang ia sebut “saham Allah”, 10 persen “saham Rasulullah”, sedangkan 70 persen digunakan untuk perusahaan dan keluarga.

Bagian sosial itu digunakan untuk membantu anak yatim, pesantren, pembangunan masjid serta penyediaan makanan bagi masyarakat di Makkah.

Seiring perkembangan usaha, porsi dana sosial disebut terus meningkat. Pada 2025, pembagiannya diklaim mencapai 50 persen untuk umat dan 50 persen untuk perusahaan serta keluarga.

“Dana yang telah dialokasikan untuk umat tidak lagi saya anggap sebagai uang pribadi. Saya hanya mempunyai tugas menyalurkannya kepada orang yang berhak,” katanya.

Ia mencontohkan, jika perusahaan memperoleh hasil Rp30 miliar, maka Rp15 miliar akan dialokasikan untuk umat. Namun, Ernawati menegaskan angka tersebut hanya contoh penghitungan, bukan pengumuman mengenai laba perusahaannya.

Setelah memimpin ISMI Jambi, ia menilai penyaluran dana sosial dapat dilakukan lebih terorganisasi. Pengurus ISMI di kabupaten dan kota dapat membantu memeriksa kondisi calon penerima agar bantuan tidak salah sasaran.

SPBU Disebut Jadi Sumber Ekonomi ISMI

Selain dana sosial dari hasil usaha di Saudi, Ernawati menyebut telah menitipkan sumber ekonomi untuk menopang kegiatan ISMI. Salah satunya berupa SPBU atau pom bensin yang baru dibeli.

Keuntungan usaha tersebut direncanakan untuk membiayai kegiatan organisasi dan membantu anak yatim. Namun, dalam wawancara itu belum dijelaskan lokasi SPBU, nilai pembelian, kepemilikan badan usaha dan skema pembagian keuntungannya.

“Salah satunya adalah SPBU atau pom bensin yang baru dibeli. Hasilnya akan digunakan untuk menghidupkan organisasi dan membantu anak yatim,” ujar Ernawati.

ISMI juga sedang menjajaki pengembangan air minum dari Kerinci dan produk madu asal Muaro Jambi. Keuntungan dari kegiatan ekonomi itu direncanakan kembali kepada masyarakat melalui pembiayaan program sosial.

Tetap Dikaitkan dengan Pilgub

Besarnya cakupan program tersebut membuat spekulasi politik tidak sepenuhnya mereda. Aktivitas sosial, kunjungan ke daerah, pembentukan jaringan organisasi serta pertemuan dengan berbagai tokoh dinilai sebagian pihak dapat menjadi modal sosial dan politik.

Ernawati tetap membantah tengah membangun kendaraan menuju Pilgub Jambi. Ia mengatakan berdomisili di Makkah dan tidak mempunyai rencana menetap lama di Jambi.

Menurutnya, seseorang yang ingin serius memasuki politik daerah harus tinggal dan terus bergerak di Jambi. Sementara kegiatan usaha dan kehidupannya masih berpusat di Makkah.

“Saya berdomisili di Makkah dan tidak mempunyai keinginan tinggal lama di Jambi. Untuk masuk politik, seseorang harus menetap dan terus bergerak di daerah,” katanya.

Ia mengaku datang ke Jambi untuk berbagi pengalaman, membantu masyarakat serta mempertemukan pemerintah dengan pengusaha dan orang-orang kaya yang dapat berkontribusi bagi kampung halaman.

Perhatian Ernawati sebelumnya lebih banyak diarahkan kepada masyarakat Bogor karena kartu tanda penduduk dan tempat tinggalnya berada di sana. Ia kemudian diingatkan mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus atau HBA agar tidak melupakan masyarakat di tanah kelahirannya.

“Pak HBA kemudian mengingatkan agar saya tidak hanya membantu masyarakat di luar Jambi. Jambi adalah kampung halaman saya. Dari situlah saya mulai memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat Jambi,” ujarnya.

Sebut Kursi Kepala Daerah “Panas”

Ernawati juga menggambarkan jabatan kepala daerah sebagai kursi yang penuh tekanan. Seorang kepala daerah, menurutnya, dapat tetap mendapat serangan meskipun merasa telah bekerja untuk masyarakat.

“Menjadi kepala daerah seperti duduk di kursi yang panas. Salah dihujat, benar pun masih dapat disalahkan,” tuturnya.

Ia mengatakan pengabdian tidak harus dilakukan melalui jabatan politik. Berada di luar pemerintahan justru dinilai memberikan keleluasaan untuk membantu masyarakat menggunakan dana pribadi.

Pemerintah, kata dia, terikat aturan, perencanaan dan dokumen anggaran. Ketika terjadi keadaan darurat, pemerintah tidak selalu dapat mengeluarkan bantuan apabila kebutuhannya tidak tercantum dalam anggaran.

Sebaliknya, masyarakat dan pengusaha dapat mengambil tindakan lebih cepat menggunakan dana sendiri.

“Tidak semua bentuk pengabdian harus dilakukan dari kursi pemerintahan. Ketika berada di luar pemerintahan, kita justru lebih bebas membantu menggunakan dana sendiri,” katanya.

Ernawati menegaskan dirinya tetap dapat membantu masyarakat Jambi tanpa menjadi gubernur, bupati maupun pejabat pemerintahan.

“Saya tetap dapat membantu Jambi tanpa menduduki jabatan politik,” tegasnya.

Biarkan Masyarakat Menilai

Menanggapi spekulasi yang terus mengaitkan namanya dengan Pilgub Jambi, Ernawati mengatakan tidak dapat mengendalikan penilaian setiap orang. Ia memilih berfokus menjalankan program yang telah disusun.

“Yang dapat saya atur adalah pikiran saya, langkah saya dan fokus saya untuk umat. Saya tidak dapat mengatur apa yang ingin dipikirkan orang tentang diri saya,” ujarnya.

Ia mempersilakan masyarakat memberikan penilaian, termasuk menganggap kegiatan tersebut berkaitan dengan kepentingan politik. Namun, Ernawati mengingatkan agar spekulasi tidak berkembang menjadi tuduhan tanpa dasar atau fitnah.

“Walaupun dijelaskan berkali-kali, orang tetap mempunyai kebebasan memberikan penilaian. Biarkan mereka berpikir,” katanya.

“Tetapi ketika pendapat telah berubah menjadi fitnah dan bersentuhan dengan hukum, orang yang menyebarkannya harus berhati-hati serta siap menerima konsekuensi,” sambungnya.

Ernawati menegaskan akan tetap melanjutkan program sosial meskipun berbagai penafsiran politik bermunculan.

“Saya tidak dapat mengendalikan pikiran orang. Saya hanya akan melanjutkan langkah dan program yang telah disiapkan,” pungkasnya.(*)

BeritaSatu Network