Danau Kerinci Surut Ekstrem, Warga Curiga Ulah Aktivitas Proyek Pembangkit Listrik

WIB
IST

Kerinci - Fenomena kekeringan parah yang melanda Danau Kerinci dan aliran sungai di sekitarnya terus menjadi sorotan publik. Kondisi debit air yang menyusut drastis ini dinilai tidak lazim dan berbeda jauh dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, sejumlah masyarakat menyebut bahwa sepanjang sejarah, Danau Kerinci belum pernah mengalami penyusutan air seekstrem saat ini. Spekulasi pun bermunculan, mengarah pada dugaan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian alamiah semata.

Seorang warga Desa Pulau Pandan berinisial ASL, menyuarakan kecurigaannya. Ia menduga kekeringan ini merupakan dampak langsung dari aktivitas operasional sebuah proyek pembangkit listrik yang beroperasi di wilayah tersebut.

"Ini bukan fenomena alam. Saya menduga kuat kekeringan ini disebabkan oleh pekerjaan proyek pembangkit listrik," tegas ASL kepada wartawan.

Menurut ASL, penyusutan air mulai terjadi secara signifikan sejak adanya aktivitas penggalian atau pengerukan dasar sungai di kawasan jembatan pintu air yang dikelola pihak perusahaan di Desa Pulau Pandan.

Selain itu, mekanisme pelepasan air bendungan di wilayah Bedeng Lima, Kecamatan Batang Merangin, juga disorot. Aktivitas ini diduga memperparah kondisi debit air di wilayah hilir hingga menyebabkan kekeringan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

"Dasar sungai digali di sekitar pintu air, lalu ada mekanisme pelepasan air di bendungan. Akibatnya, air sungai menyusut sangat drastis," ungkapnya.

Dampak dari kondisi ini memukul telak sektor pertanian. Puluhan hektare sawah di Desa Karang Pandan dan sekitarnya terancam gagal tanam hingga gagal panen (puso). Hal ini disebabkan kincir air yang menjadi andalan irigasi tidak lagi dapat berputar karena sungai yang mengering.

Di tengah situasi sulit ini, ASL melontarkan kritik keras kepada Pemerintah Kabupaten Kerinci. Ia mempertanyakan slogan kampanye "Petani Pejuang" yang didengungkan pimpinan daerah, yang dinilai kontradiktif dengan realita di lapangan.

"Kami mempertanyakan makna slogan itu. Faktanya, sawah petani justru dibiarkan kering dan terancam puso," ujarnya kecewa.

Tak hanya itu, peran dinas-dinas terkait di lingkup Pemkab Kerinci juga dipertanyakan. Warga menilai dinas yang sebelumnya terlibat dalam mediasi dan sosialisasi antara warga dan pihak perusahaan, kini terkesan "tutup mata".

"Dinas-dinas yang dulu duduk bersama masyarakat saat sosialisasi harus bertanggung jawab. Jangan diam saja setelah kondisi seperti ini," tegas ASL.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi, baik dari pihak perusahaan pengembang maupun Pemerintah Kabupaten Kerinci terkait tudingan warga tersebut.

Masyarakat kini mendesak adanya keterbukaan data dan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan debit air yang dilakukan pihak ketiga. Pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah konkret menyelamatkan ekosistem Danau Kerinci dan nasib petani sebelum kerusakan lingkungan semakin meluas.(*)

Comments

Permalink

Air untuk AI tidak berdiri sendiri, ia butuh listrik besar seperti PLTU & PLTA, karena AI butuh sistem pendinginan untuk setiap kali kita mengakses AI dan mengelola data.
Nahh mungkin ini penyebabnya, semoga bisa di pahami khalayak ramai🙏

BeritaSatu Network