Pipa Gila dari Kerinci

WIB
Ist

(Jalan Tol Air untuk Menyelamatkan Jambi dari Krisis Air Bersih di Masa Depan)

Bayangkan sebuah pipa induk besar.

Mulainya dari Kerinci.

Air dari kawasan pegunungan Kerinci, sistem Danau Kerinci dan Batang Merangin dikumpulkan. Diolah. Lalu dialirkan melalui pipa transmisi regional.

Turun ke Merangin.

Terus bergerak menuju kawasan Sarolangun, Bungo, Tebo, Batanghari, Kota Jambi. Lalu berakhir jauh di hilir, yakni Tanjung Jabung Barat.

Ratusan kilometer.

Gila?

Mungkin.

Mahal?

Sudah pasti.

Mustahil?

Nah. Belum tentu.

Justru gagasan yang terdengar terlalu besar itulah yang mungkin perlu mulai dibicarakan Provinsi Jambi hari ini. Bukan setelah krisis air bersih datang. Bukan ketika keran warga sudah tidak mengalir. Bukan ketika air Sungai Batanghari membutuhkan biaya semakin mahal untuk diolah.

Kita sedang berbicara mengenai ketahanan air Jambi 30, 50 bahkan 100 tahun mendatang.

Namanya bisa dibuat keren. Misalnya "Jambi Regional Water Security Backbone".

Atau lebih mudah lagi "Jalan Tol Air Jambi".

Semua Telur di Keranjang Sungai

Ada angka yang membuat saya cukup tercengang.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, dalam Ringkasan Eksekutif Statistik Air Bersih Provinsi Jambi 2020–2024 yang diterbitkan Desember 2025, mencatat 95,41 persen air baku yang diolah perusahaan air minum di Provinsi Jambi pada 2024 berasal dari sungai.

Air tanah hanya 2,78 persen.

Mata air 1,18 persen.

Danau?

Hanya 0,63 persen.

BPS juga menyatakan Sungai Batanghari menjadi tulang punggung penyediaan air bersih di Jambi dan merupakan kontributor terbesar air permukaan yang digunakan PDAM.

Jadi perlu diluruskan satu hal.

Bukan berarti 95 persen masyarakat Jambi minum langsung dari Batanghari.

Tidak.

Data rumah tangga justru menunjukkan sumber air minum utama masyarakat Jambi tahun 2024 masih didominasi sumur terlindung/tidak terlindung sebesar 37,19 persen dan air kemasan atau isi ulang 30,45 persen. Air leding baru 9,59 persen.

Tetapi dari sisi sistem produksi perusahaan air minum, ketergantungannya terhadap sungai luar biasa tinggi.

95,41 persen.

Bayangkan sebuah perusahaan menaruh 95 persen bahan bakunya pada satu jenis sumber.

Kalau sumber itu terganggu?

Pusing.

Kalau kualitasnya turun?

Lebih pusing lagi.

Kalau debitnya berfluktuasi?

Tambah pusing.

Inilah persoalan ketahanan air Jambi.

Bukan karena besok pagi Batanghari mendadak hilang.

Tetapi karena kita terlalu tergantung pada sungai.

Batanghari Belum Mati

Jangan pula kita menzalimi Batanghari.

Sungai ini belum mati.

Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi menunjukkan Indeks Kualitas Air Sungai Batanghari pada 2024 justru membaik menjadi 55,58, dari 46,06 pada 2023. Kategorinya “cukup baik”.

Tetapi angka 55,58 itu masih di bawah target KLHK ketika itu sebesar 61,39.

Lebih penting lagi, DLH menyatakan hasil pemantauan kualitas air Batanghari menghadapi persoalan terhadap standar air minum. DLH mengidentifikasi tekanan dari limbah domestik, industri, pertanian, penambangan pasir dan batu, serta penambangan emas tanpa izin atau PETI.

BPS bahkan menulis persoalan itu dengan cukup gamblang.

Kerusakan DAS, limbah dan PETI serta menurunnya kualitas air sungai memperberat penyediaan air baku di Jambi. BPS juga menyinggung secara khusus Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur: karakter rawa gambut dan pengaruh pasang-surut membuat masyarakat di wilayah tersebut lebih sulit mendapatkan air bersih yang layak.

Karena itu solusinya bukan tinggalkan Batanghari.

Bukan.

Yang harus dilakukan adalah jangan lagi menggantungkan masa depan air Jambi hanya kepada Batanghari.

Itu beda sekali.

Batanghari tetap digunakan.

Batanghari tetap direstorasi.

Pencemarannya harus dihentikan.

PETI harus diberantas.

Limbah industri harus dikontrol.

IPAL harus bekerja.

DAS harus diperbaiki.

Tetapi pada saat yang sama, Jambi harus mempunyai sumber kedua, ketiga dan keempat.

Seperti pesawat.

Mesin satu hidup.

Mesin kedua juga harus tersedia.

Jangan baru mencari mesin cadangan ketika pesawat sedang jatuh.

Lihatlah ke Barat

Di sebelah barat Jambi berdiri Bukit Barisan.

Di sana ada Kerinci.

Daerah yang selama ini lebih banyak kita bicarakan karena Gunung Kerinci, kebun teh, kopi, kayu manis, Danau Kerinci dan pariwisata.

Barangkali sudah waktunya Kerinci juga dibicarakan dalam perspektif lain. Yakni bank air Provinsi Jambi.

Bukan bank air yang boleh dikuras.

Justru bank air yang harus dijaga.

Kajian Universitas Jambi mengenai penyelamatan ekosistem Danau Kerinci menggambarkan sistem hidrologi kawasan tersebut cukup menarik. Banyak sungai dan mata air berasal dari kawasan pegunungan dan hutan di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, kemudian mengalir menuju kawasan budidaya dan Danau Kerinci.

Yang lebih menarik lagi, Sungai Batang Merangin merupakan outlet Danau Kerinci. Air yang keluar dari Danau Kerinci melalui sistem Batang Merangin bahkan telah dimanfaatkan untuk PDAM dan pembangkitan listrik.

Maka muncul pertanyaan.

Mengapa tidak kita kaji air tersebut sebagai sumber strategis air baku regional?

Bukan hanya untuk Kerinci.

Bukan hanya Sungai Penuh.

Tetapi untuk sebagian besar Jambi.

Empat Keran Kerinci

Konsepnya tidak harus mengambil air dari satu tempat.

Justru jangan.

Buat Kerinci Water Source Cluster.

Ada empat sumber yang dapat masuk keranjang kajian.

Pertama, Batang Merangin.

Secara hidrologis ini menarik karena merupakan saluran keluar sistem Danau Kerinci. Sungai inilah yang menurut kajian Universitas Jambi membawa air keluar dari danau menuju sistem DAS Merangin yang selanjutnya merupakan bagian DAS Batanghari.

Kedua, Danau Kerinci.

Danau ini dapat dipelajari sebagai strategic balancing reservoir. Tetapi pengambilan langsung dari badan danau tidak boleh otomatis dianggap pilihan terbaik.

Bisa jadi justru lebih aman mengambil air dari sistem outlet-nya.

Bisa pula kombinasi.

Biarkan hidrolog yang memutuskan.

Bukan politisi.

Bukan wartawan.

Bukan pula tulisan ini.

Ketiga, mata air dan sungai pegunungan Kerinci.

Inilah potensi yang selama ini belum dipetakan secara menyeluruh. Perlu sensus mata air untuk cek koordinatnya, elevasinya, debit musim hujan, debit musim kering, kualitas air, daerah imbuhan dan status kawasannya.

Lalu dikumpulkan secara sistematis.

Tidak semuanya harus masuk pipa besar.

Sebagian bisa menjadi pemasok zona.

Sebagian menjadi cadangan.

Sebagian jangan disentuh sama sekali.

Keempat, Danau Gunung Tujuh.

Nah, yang ini harus ekstra hati-hati.

Danau Gunung Tujuh bukan sekadar genangan air di atas gunung. UNESCO menyebutnya sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara dan menempatkannya sebagai salah satu elemen bernilai luar biasa dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, yang mencakup Taman Nasional Kerinci Seblat. Kawasan itu mempunyai status konservasi sangat tinggi.

Karena itu saya justru menyarankan masukkan Gunung Tujuh dalam kajian sumber, tetapi jangan sejak awal menetapkannya sebagai intake.

Studi ilmiah boleh saja menghasilkan kesimpulan “Air Gunung Tujuh jangan diambil.”

Bagus.

Itu juga hasil studi.

Bahkan mungkin fungsi terbaik Gunung Tujuh adalah reservoir ekologis, penjaga sistem air Kerinci, bukan keran raksasa yang harus dibuka.

Ketahanan air yang benar bukan hanya soal mengambil air.

Tetapi juga tahu air mana yang tidak boleh diambil.

Danau Kerinci Juga Tidak Boleh Diperlakukan seperti Galon

Ada peringatan lain.

Pada 2026, KKI Warsi melaporkan perubahan luas muka air Danau Kerinci sekitar 70 hektare dari sekitar 4.516 hektare pada April 2025 menjadi sekitar 4.445 hektare pada Februari 2026.

Warsi mengaitkannya dengan ketidakseimbangan tata air, kondisi daerah resapan serta fluktuasi hidrologis.

Ini bukan alasan membatalkan gagasan.

Justru alasan agar gagasannya dibuat benar.

Jangan datang membawa alat berat lebih dahulu.

Datanglah membawa alat ukur.

Ukur debit.

Ukur curah hujan.

Ukur groundwater recharge.

Ukur kebutuhan masyarakat Kerinci.

Hitung kebutuhan pertanian.

Hitung kebutuhan ekologi.

Hitung kebutuhan PLTA.

Hitung environmental flow.

Hitung Q90 dan Q95—berapa debit yang masih tersedia pada kondisi kering.

Setelah itu baru bicara berapa liter per detik yang boleh dikirim keluar Kerinci.

Sebab jangan sampai demi menyelamatkan air Kota Jambi, kita malah menciptakan krisis air di Kerinci.

Itu namanya bukan ketahanan air.

Itu memindahkan masalah.

Bukan Pipa Backbone

Sekarang masuk ke ide besarnya.

Saya membayangkan sistemnya bukan sebuah pipa yang berjalan seperti bus antarkota. Dari Kerinci, lalu Merangin, lalu Sarolangun, lalu Bungo, lalu Tebo, lalu Batanghari, Kota Jambi dan berakhir di Tanjung Jabung Barat.

Teknik tidak bekerja mengikuti urutan nama kabupaten.

Kontur tidak kenal administrasi.

Gravitasi juga tidak punya KTP.

Karena itu secara teknis jaringan dapat berupa satu backbone besar dengan beberapa cabang regional.

Pusatnya berada di Kerinci Water Source Cluster.

Dari sana dibangun intake terpilih.

Kemudian instalasi pengolahan.

Setelah itu air masuk ke pipa transmisi utama.

Masuk Merangin.

Di titik tertentu dibuat balancing reservoir.

Lalu offtake.

Sebagian air masuk sistem Perumda/PDAM Merangin.

Backbone berjalan lagi.

Dari simpul tertentu jaringan dapat bercabang menuju Sarolangun, Bungo dan Tebo sesuai hasil optimasi topografi.

Dari sistem tengah, backbone menuju Batanghari.

Kemudian metropolitan Kota Jambi.

Terakhir: wilayah pesisir Tanjung Jabung Barat yang persoalan air bakunya memang lebih pelik.

Di setiap daerah tidak perlu pipa Kerinci masuk sampai dapur masyarakat.

Tidak.

Pipa raksasa cukup membawa air minum curah atau air baku regional sampai titik serah.

Dari titik itu Perumda air minum kabupaten/kota mendistribusikannya melalui jaringan masing-masing.

Persis seperti jalan tol.

Jalan tol tidak perlu masuk sampai halaman rumah.

“Mana Mungkin Membuat Pipa Sepanjang Itu?”

Pertanyaan itu pasti muncul.

Bagus.

Kita lihat Jawa Timur.

SPAM Umbulan membawa air dari Mata Air Umbulan di Kabupaten Pasuruan melalui pipa transmisi sekitar 93 kilometer. Kapasitas desainnya 4.000 liter per detik dan sistem tersebut dirancang melayani lima daerah: Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya dan Gresik.

Target manfaatnya sekitar 1,3 juta orang. Proyek itu menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha atau KPBU.

93 kilometer.

Pipa air.

Lintas daerah.

Sudah dibangun.

Berarti konsep regional bukan barang aneh.

Lihat pula SPAM Regional Jatiluhur I.

Kapasitasnya mencapai 4.750 liter per detik dan melayani Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi serta DKI Jakarta. Sistem itu diproyeksikan melayani sekitar 380.000 sambungan rumah atau sekitar 1,9 juta jiwa. SPAM Jatiluhur I mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2024.

Jaringan distribusi utama air curahnya sekitar 37,84 kilometer, dilengkapi reservoir, stasiun pompa dan sistem SCADA.

Ada pula proyek Karian–Serpong.

Dokumen Asian Development Bank mencatat proyek tersebut mencakup instalasi pengolahan berkapasitas sekitar 4.600 liter per detik dan pipa transmisi sekitar 20 kilometer menuju wilayah pelayanan Jakarta dan sekitarnya.

Jadi Indonesia sudah mengenal konsep sumber air besar, instalasi besar, pipa besar, lintas wilayah, dan jutaan penerima manfaat.

Jambi hanya belum memikirkannya dalam skala Jambi.

Argentina: Hampir 500 Kilometer

Pergilah jauh ke Argentina.

Bukan benar-benar pergi.

Lihat datanya saja.

Pemerintah Provinsi Córdoba mencatat proyek Acueducto Interprovincial Santa Fe–Córdoba dirancang pada tahap awal dengan 144 kilometer pipa induk dan 345 kilometer jaringan cabang.

Kalau dijumlahkan?

489 kilometer.

Nyaris 500 kilometer.

Angka itu penting.

Sangat penting.

Karena perkiraan kasar jalur water backbone dari Kerinci menuju Merangin, kemudian bercabang dan bergerak ke kawasan Sarolangun, Bungo, Tebo, Batanghari, Kota Jambi hingga Tanjung Jabung Barat juga bisa berada di kisaran sekitar 500 kilometer—tentu angka Jambi masih harus ditentukan melalui survei trase dan studi kelayakan.

Artinya, ketika orang mengatakan “Pipa air 500 kilometer? Mana mungkin?”

Kita sudah punya jawabannya.

Argentina merencanakan sistem yang skalanya hampir sama.

Pemerintah Córdoba menyebut tahap tersebut terdiri dari 144 km jaringan utama dan 345 km cabang yang menghubungkan sistem pengambilan air, instalasi pengolahan dan daerah-daerah pelayanan.

Yang membuat contoh ini semakin relevan adalah siapa yang masuk membiayainya.

Saudi Fund for Development.

Pada November 2023, SFD menandatangani perjanjian pinjaman pembangunan sebesar USD 100 juta untuk membantu membiayai Interprovincial Aqueduct Santa Fe–Córdoba Project, khususnya Phase 1 Block B–C.

SFD menyatakan proyek tersebut dikembangkan dari Coronda menuju San Francisco dan ditujukan untuk memberikan akses air aman kepada lebih dari 410.000 penduduk di Provinsi Santa Fe dan Córdoba. Argentina sekaligus menjadi negara penerima manfaat SFD ke-93.

Pada perkembangan berikutnya, Pemerintah Santa Fe mencatat bahwa pembangunan Blok B dan C memang menggunakan pinjaman Saudi Fund for Development.

Blok B mencakup sekitar 20,4 km pipa utama ditambah lebih dari 44 km jaringan cabang. Blok C menambahkan sekitar 17,7 km jaringan utama berikut sejumlah jaringan cabang dan pusat distribusi. Ketika Blok A, B dan C terbangun, jaringan yang sudah tercakup akan melampaui 110 kilometer, sementara pembangunan terus diarahkan menuju sistem antardaerah yang lebih luas.

Jadi jangan lihat angka 20 kilometer.

Jangan pula 40 kilometer.

Lihat master system-nya.

144 km backbone.

345 km cabang.

Hampir 500 km jaringan.

Inilah pembanding yang jauh lebih relevan untuk Jambi.

Mauritania Juga Melakukannya

Masih kurang?

Lihat Mauritania.

Saudi Fund for Development memberikan hibah pembangunan sekitar USD 100 juta untuk proyek air Kiffa. Ini hibah murni loh. Tidak ada pengembalian.

Jaringan air yang dikembangkan mencapai sekitar 250 kilometer dan menjangkau sekitar 90 desa. Saudi Fund juga ikut membiayai proyek jaringan distribusi air Nouakchott dengan jaringan pipa sekitar 208 kilometer yang melayani lebih dari 20.000 rumah.

Pada pengembangan lainnya di Mauritania, Saudi Press Agency melaporkan proyek penyediaan air yang didukung SFD mencakup pipa lebih dari 250 kilometer dan ditujukan memberi akses air kepada lebih dari 500.000 penerima manfaat.

Artinya apa?

Saudi Fund bukan lembaga yang asing terhadap proyek air lintas wilayah.

Mereka memahami pipa.

Mereka memahami reservoir.

Mereka memahami instalasi air.

Mereka memahami proyek yang manfaat ekonominya tidak hanya dihitung dari uang yang kembali ke kas proyek.

Mereka memahami social impact.

Itulah yang penting bagi Jambi.

Arab Saudi Sendiri Sedang Membangun 587 Kilometer

Ada pembanding lain yang bahkan lebih menarik.

Kali ini bukan proyek bantuan Saudi Fund ke negara lain.

Ini pembangunan di Arab Saudi sendiri.

Pada 2025, proyek Jubail–Buraydah Independent Water Transmission Pipeline mencapai financial close.

Berapa panjangnya?

587 kilometer.

Lebih panjang dari perkiraan awal pipa regional Jambi.

Proyek senilai sekitar USD 2,2 miliar itu akan membawa air minum dari Jubail di Eastern Province menuju Buraydah di wilayah Qassim.

Kapasitas transmisinya sekitar 650.000 meter kubik per hari dan dirancang memperkuat ketahanan air bagi lebih dari dua juta penduduk.

Model bisnisnya menggunakan skema Build-Own-Operate-Transfer selama 35 tahun.

587 kilometer.

Bukan pipa minyak.

Bukan gas.

Air.

Ini membuat diskusi mengenai pipa Kerinci sekitar 500 kilometer berubah sama sekali.

Persoalannya bukan lagi “Apakah secara prinsip manusia mampu mengalirkan air melalui pipa sejauh 500 kilometer?”

Jawabannya sudah jelas.

Mampu.

Pertanyaan sebenarnya adalah Apakah Jambi mempunyai sumber air yang cukup?

Apakah trase 500 kilometer itu ekonomis?

Berapa energi yang dibutuhkan?

Seberapa besar bagian jalur yang dapat menggunakan gravitasi?

Berapa diameter pipanya?

Di mana reservoir dan pumping station ditempatkan?

Berapa biaya satu meter kubik ketika air sampai di setiap offtake?

Nah.

Itulah yang harus dijawab melalui studi kelayakan.

Bukan dengan tertawa ketika mendengar gagasannya. Saya pertegas lagi. STUDI KELAYAKAN.

Lima Ratus Kilometer Bukan Lagi Angka Gila

Sekarang kita punya tiga pembanding.

Argentina. 489 kilometer jaringan induk dan cabang dalam desain sistem Santa Fe–Córdoba, dengan SFD ikut membiayai fase penting proyek tersebut sebesar USD 100 juta.

Mauritania. SFD mendukung sistem air dengan jaringan sekitar 250 kilometer, ditambah pengalaman pada jaringan Nouakchott sekitar 208 kilometer.

Arab Saudi, sedang mengembangkan pipa transmisi air minum 587 kilometer dari Jubail menuju Buraydah.

Lalu Jambi?

Kita sedang membicarakan kemungkinan jaringan sekitar 500 kilometer.

Tiba-tiba angkanya tidak terlihat terlalu menakutkan.

Bahkan Argentina memberikan pembanding hampir satu banding satu.

489 kilometer versus sekitar 500 kilometer.

Lebih menarik lagi, salah satu lembaga pembiayaan yang masuk ke proyek Argentina adalah lembaga yang sekarang layak kita dekati Saudi Fund for Development.

Jadi jika kelak Pemerintah Provinsi Jambi datang ke Riyadh membawa proposal Jambi Regional Water Security Backbone, pembicaraannya tidak dimulai dari nol.

Kita tidak menawarkan kepada SFD jenis proyek yang asing bagi mereka.

Mereka pernah masuk ke proyek aqueduct Argentina.

Mereka membiayai proyek air Mauritania.

Kerajaan Arab Saudi sendiri memahami betul investasi jaringan transmisi air ratusan kilometer.

Maka pertanyaan untuk Jambi bukan lagi “Bisa atau tidak?”

Pertanyaannya naik kelas “Bagaimana membuatnya layak?”

Itulah beda antara mimpi dan perencanaan.

Mimpi hanya menggambar pipa dari Kerinci ke Kuala Tungkal.

Perencanaan menghitung debit, elevasi, tekanan, diameter pipa, energi, reservoir, biaya, dampak lingkungan dan berapa juta manusia yang akan mendapatkan manfaat.

Lima ratus kilometer memang panjang.

Tetapi dunia sudah membuktikan air bisa berjalan sejauh itu.

Sekarang tinggal Jambi membuktikan apakah air Kerinci memang layak diajak berjalan. Dan yang lebih membahagiakan lagi, SFD sudah berkantor di Jakarta. Network ke sana juga sudah ada. Tinggal ada kemauan dan keberanian saja mengantar studi kelayakan ke mereka.

Libya: Ketika Air Berjalan 3.500 Kilometer

Masih terdengar gila?

Baik.

Sekarang lihat Libya.

Negara ini punya persoalan yang jauh lebih ekstrem daripada Jambi.

Sebagian besar wilayahnya gurun. Air permukaan sangat terbatas. Tetapi jauh di bawah Sahara tersimpan cadangan air tanah purba dalam Nubian Sandstone Aquifer System.

Air ini bukan air kemarin sore.

International Atomic Energy Agency atau IAEA menyebut Nubian Sandstone Aquifer sebagai salah satu sistem akuifer tertua dan terbesar di dunia. Sistem itu membentang di bawah Libya, Mesir, Chad dan Sudan.

Airnya disebut fossil groundwater.

Air purba.

IAEA menjelaskan cadangan tersebut bukan bagian aktif dari siklus hidrologi sekarang sehingga pada dasarnya tidak dapat diperbarui dalam skala waktu manusia. Sekali diambil, cadangannya berkurang.

Lalu apa yang dilakukan Libya?

Mereka membangun sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Great Man-Made River.

Sungai buatan raksasa.

Bukan sungai dalam arti menggali kanal terbuka dari selatan ke utara.

Air diangkat dari sumur-sumur dalam di Sahara.

Lalu dimasukkan ke jaringan pipa raksasa.

Dikirim menuju pusat-pusat penduduk di bagian utara Libya.

Jauh.

Sangat jauh.

UNESCO mencatat jaringan pipa Great Man-Made River membentang dengan total sekitar 3.500 kilometer.

Tiga ribu lima ratus kilometer.

Baca lagi.

3.500 km.

Itu sekitar tujuh kali perkiraan kasar jaringan water backbone Jambi yang sedang kita bicarakan.

Jambi kira-kira 500 kilometer.

Libya sekitar 3.500 kilometer.

Maka jika seseorang mengatakan:

“Mana mungkin air dialirkan melalui pipa sejauh 500 kilometer?”

Tunjukkan Libya.

Selesai.

Lebih dari Seribu Sumur

Skalanya juga tidak main-main.

Sistem Great Man-Made River dikembangkan menggunakan air dari akuifer Sahara melalui lebih dari seribu sumur dalam dan jaringan transmisi bawah tanah menuju kota serta kawasan pertanian di Libya.

Sumber IAEA menegaskan bahwa proyek tersebut memang memanfaatkan Nubian Sandstone Aquifer System untuk memasok kebutuhan air tawar Libya, termasuk menuju Tripoli.

Artinya dunia telah mengenal proyek air yang persoalannya bukan lagi puluhan kilometer.

Bukan pula ratusan.

Tetapi ribuan kilometer.

Maka dari perspektif rekayasa, pertanyaan mengenai pipa regional Jambi harus digeser.

Bukan lagi “Apakah manusia bisa membangun pipa air 500 kilometer?”

Itu sudah terjawab.

Bisa.

Pertanyaannya adalah “Apakah 500 kilometer merupakan pilihan paling efisien untuk Jambi?”

Nah.

Itu baru pertanyaan serius.

Jangan Salah Meniru Libya

Tetapi ada bagian lain dari Libya yang justru menjadi pelajaran penting bagi Jambi.

Jangan meniru semuanya.

Sumber air Libya adalah fossil groundwater.

IAEA mengingatkan air tersebut pada dasarnya merupakan sumber yang tidak terbarukan dalam skala waktu manusia. Ia terbentuk dari kondisi iklim masa lalu dan tidak memperoleh pengisian kembali seperti sistem air permukaan yang aktif sekarang.

Jambi berbeda.

Kerinci memiliki sistem pegunungan, daerah tangkapan hujan, sungai, danau dan mata air yang berada dalam siklus hidrologi aktif.

Karena itu pelajaran dari Libya bukan ambil air sebanyak-banyaknya.

Bukan.

Pelajarannya adalah jangan takut kepada skala rekayasa.

Kalau sebuah negara gurun dapat membangun sistem pipa sekitar 3.500 kilometer untuk membawa air dari Sahara menuju kota-kotanya, maka gagasan menguji jaringan sekitar 500 kilometer dari kawasan hulu Jambi menuju kawasan tengah dan hilir sama sekali tidak pantas ditertawakan.

Yang harus dilakukan adalah menghitungnya. Buat studi kelayakan.

Bukan Soal Panjang

Bahkan setelah melihat Libya, saya tetap tidak ingin mengatakan “Kalau Libya bisa 3.500 kilometer, Jambi pasti bisa 500 kilometer.”

Itu terlalu gampang.

Teknik tidak bekerja seperti itu.

Setiap wilayah berbeda.

Sumber air berbeda.

Kontur berbeda.

Diameter pipa berbeda.

Tekanan berbeda.

Kebutuhan energi berbeda.

Geologi berbeda.

Kawasan lindung berbeda.

Biaya tanah berbeda.

Yang Libya buktikan hanyalah satu hal penting panjang 500 kilometer, sendirian, bukan alasan ilmiah untuk menyatakan proyek Jambi mustahil.

Untuk menolaknya diperlukan alasan yang lebih serius.

Misalnya debit tidak cukup.

Biaya terlalu tinggi.

Energi terlalu besar.

Dampak ekologinya tidak dapat diterima.

Harga air per meter kubik menjadi terlalu mahal.

Ada alternatif lain yang lebih ekonomis.

Nah.

Kalau hasil studi menyatakan demikian, kita terima.

Tetapi mengatakan “Tidak mungkin karena pipanya terlalu panjang,”, itu tidak cukup lagi.

Libya sudah membangun sekitar 3.500 kilometer.

Argentina merencanakan jaringan sekitar 489 kilometer.

Saudi sendiri mengembangkan transmisi sekitar 587 kilometer.

Teknologi sudah menjawab soal jarak.

Sekarang ilmu pengetahuan harus menjawab soal kelayakan Jambi.

Justru Kerinci Harus Lebih Berkelanjutan

Libya juga memberikan satu pelajaran yang mungkin lebih mahal daripada pipanya.

Sumber air harus dijaga.

IAEA menyebut air purba Nubian Sandstone sebagai cadangan yang tidak dapat diperbarui secara praktis. Itu berarti eksploitasi selalu mempunyai batas.

Jambi jangan mengulang persoalan tersebut.

Kalau kelak Jambi Water Backbone dibangun, jumlah air yang keluar dari Kerinci harus mengikuti safe yield.

Bukan kebutuhan politik.

Bukan target proyek.

Bukan keinginan kontraktor.

Tetapi kemampuan alam.

Hujan masuk berapa.

Air kembali mengisi sistem berapa.

Kebutuhan ekologis berapa.

Kebutuhan masyarakat Kerinci berapa.

Pertanian berapa.

PLTA berapa.

Barulah sisanya dihitung sebagai potensi untuk sistem regional.

Dengan demikian Kerinci tidak diperlakukan sebagai tangki.

Kerinci diperlakukan sebagai ekosistem penghasil air.

Itulah perbedaan besar antara eksploitasi air dan ketahanan air.

Angka yang Membuat Kita Berpikir Ulang

Sekarang mari melihat angka itu untuk terakhir kalinya.

3.500 kilometer.

Libya.

587 kilometer.

Arab Saudi.

489 kilometer.

Argentina.

±500 kilometer.

Gagasan awal Jambi.

Masih terasa gila?

Boleh.

Proyek besar memang sering terdengar gila sebelum dihitung.

Tetapi setelah melihat apa yang telah dilakukan dunia, persoalan Jambi sesungguhnya bukan lagi keberanian membayangkan pipa sepanjang 500 kilometer.

Persoalan kita adalah apakah pemerintah mau menyediakan uang untuk melakukan kajian yang serius.

Karena antara mimpi dan proyek ada satu jembatan.

Namanya feasibility study.

Libya mengajarkan dunia bahwa air dapat berjalan ribuan kilometer.

Argentina menunjukkan jaringan hampir 500 kilometer dapat dirancang sebagai sistem regional.

Saudi Fund menunjukkan lembaga pembangunan internasional bersedia masuk membiayai infrastruktur air lintas wilayah.

Maka Jambi setidaknya berhak melakukan satu hal menghitung mimpinya sendiri.

Lalu Mengapa Jambi Tidak?

Pertama karena mahal.

Kedua karena rumit.

Ketiga karena lintas kabupaten.

Keempat karena butuh waktu lama.

Kelima karena manfaat politiknya belum tentu selesai dalam satu periode gubernur.

Nah.

Barangkali justru itu masalahnya.

Air adalah proyek 50 tahun.

Politik kita lima tahunan.

Air tidak tahu Pilkada.

Air juga tidak peduli siapa gubernurnya.

Anak yang lahir di Kota Jambi tahun 2026 masih membutuhkan air pada tahun 2076.

Karena itu pembangunan sistem air tidak boleh dihitung dengan umur jabatan.

Air untuk Orang Miskin

Coba bayangkan dampaknya kalau sistem ini benar-benar bekerja.

Desa yang selama ini kesulitan air mendapat kepastian pasokan.

Rumah sakit tidak lagi terlalu cemas menghadapi gangguan sumber air.

Sekolah mempunyai sanitasi lebih baik.

Usaha kecil mendapatkan air yang lebih stabil.

Hotel, restoran, pasar dan industri memiliki kepastian pelayanan.

Masyarakat tidak terus menerus membangun sumur sendiri.

Pemerintah mempunyai cadangan ketika satu sumber mengalami pencemaran.

Dan keluarga mempunyai peluang lebih besar mendapatkan air perpipaan yang aman dengan biaya terjangkau.

BPS sendiri menempatkan air bersih sebagai kebutuhan dasar yang berdampak langsung terhadap kesehatan, produktivitas ekonomi dan kualitas hidup.

Maka social return proyek air tidak cukup dihitung dari berapa rupiah tagihan PDAM.

Ada manfaat yang tidak masuk rekening PDAM.

Kesehatan.

Produktivitas.

Investasi.

Pendidikan.

Sanitasi.

Ketahanan terhadap bencana.

Kepercayaan investor.

Dan kualitas hidup.

Itulah mengapa proyek air selalu terlihat mahal kalau dihitung hanya dari tarif per meter kubik.

Kerinci Harus Dapat Untung

Ada satu syarat.

Ini penting.

Jangan sampai air Kerinci dibawa ke Kota Jambi, tetapi masyarakat Kerinci hanya kebagian pipa lewat.

Tidak boleh.

Kerinci adalah penjaga hulunya.

Maka harus dirancang mekanisme jasa lingkungan air.

Sebagian nilai ekonomi dari air regional harus kembali untuk melindungi hutan, merehabilitasi DAS, menjaga mata air, membayar kegiatan konservasi desa, memulihkan sempadan sungai, dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat penjaga kawasan hulu.

Mungkin kita bisa menyebutnya Kerinci Water Conservation Fund.

Semakin banyak air yang dinikmati hilir, semakin kuat pula uang yang kembali menjaga hulu.

Dengan demikian Kota Jambi tidak “membeli air” Kerinci.

Kota Jambi membayar agar ekosistem yang menghasilkan air itu tetap hidup.

Ini jauh lebih adil.

Jangan Buka Empat Keran Sekaligus

Pipa regional bukan berarti seluruh sumber Kerinci harus disedot.

Tidak.

Sistem yang baik justru mengatur sumber secara bergantian.

Saat debit Batang Merangin mencukupi, gunakan sesuai alokasi aman.

Mata air mengisi zona tertentu.

Reservoir bekerja sebagai penyeimbang.

Danau Kerinci menjadi salah satu instrumen cadangan setelah safe yield-nya diketahui.

Danau Gunung Tujuh bahkan bisa ditetapkan sebagai cadangan ekologis yang tidak dieksploitasi.

Itulah multi-source water system.

Filosofinya sederhana.

Jangan memindahkan ketergantungan dari Batanghari ke Danau Kerinci.

Kalau hari ini 95 persen bergantung pada sungai, jangan besok dibuat 95 persen bergantung pada Kerinci.

Itu hanya mengganti nama masalah.

Gubernur Tidak Perlu Membeli Pipa Besok

Yang diperlukan sekarang bukan tender.

Jangan.

Belum waktunya.

Yang pertama harus dibeli adalah ilmu pengetahuan.

Gubernur Jambi dapat membentuk, misalnya Jambi Water Security Task Force.

Isinya Bappeda, Dinas PUPR, DLH, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI, TAG, pemerintah kabupaten/kota, Perumda air minum, perguruan tinggi, ahli hidrologi, ahli lingkungan, ahli perpipaan, ahli pembiayaan dan masyarakat daerah sumber air.

DPRD?

Justru DPRD harus masuk sejak awal.

Karena proyek seperti ini akan melintasi beberapa periode pemerintahan.

Jangan sampai gubernur berikutnya mencabut pipa gubernur sebelumnya.

Konyol.

Kerjakan 10 Hal Dulu

Sebelum satu batang pipa pun dibeli, lakukan sepuluh pekerjaan.

Pertama, susun Jambi Water Balance sampai 2050–2075.

Berapa kebutuhan air Kerinci, Merangin, Sarolangun, Bungo, Tebo, Batanghari, Kota Jambi dan Tanjung Jabung Barat.

Bukan berdasarkan jumlah penduduk hari ini.

Berdasarkan proyeksi penduduk, industri, rumah sakit, kawasan ekonomi, pertanian dan pertumbuhan kota.

Kedua, ukur seluruh calon sumber minimal satu siklus hidrologi yang memadai.

Batang Merangin.

Danau Kerinci.

Mata air.

Sungai-sungai pegunungan.

Danau Gunung Tujuh bila secara konservasi memang layak masuk tahap kajian.

Ketiga, hitung debit andalan.

Jangan pakai debit musim hujan.

Semua sungai terlihat kaya ketika hujan.

Yang dibutuhkan justru angka ketika kemarau panjang.

Keempat, periksa kualitas air.

Merkuri.

Logam berat.

TSS.

BOD.

COD.

Pestisida.

Bakteriologis.

Semua.

Kelima, lakukan pemodelan GIS dan topografi.

Cari lintasan pipa terbaik.

Bukan berdasarkan batas administratif.

Berdasarkan elevasi, kontur, geologi, kawasan lindung, jalan, sungai dan biaya pembebasan tanah.

Keenam, manfaatkan gravitasi sebanyak mungkin.

Kerinci tinggi.

Hilir rendah.

Tetapi jangan langsung bersorak.

Tekanan air akibat perbedaan elevasi yang terlalu besar juga harus dikelola dengan break pressure tank, reservoir dan sistem pengatur tekanan.

Ketujuh, hitung kebutuhan energi.

Di mana air bisa turun sendiri.

Di mana harus dipompa.

Di mana bahkan mungkin dipasang sistem energy recovery.

Kedelapan, bangun skenario.

Skenario A: hanya Batanghari.

Skenario B: Batanghari plus sumber lokal.

Skenario C: backbone Kerinci.

Skenario D: kombinasi semuanya.

Bandingkan life-cycle cost-nya 30 sampai 50 tahun.

Kesembilan, audit seluruh PDAM.

Mengapa kapasitas terpasang 4.686 liter per detik hanya efektif sekitar 3.020 liter per detik pada 2024?

Temukan jawabannya.

Kesepuluh, baru hitung uang.

Uangnya dari Mana?

Nah.

Ini pertanyaan yang selalu muncul setelah ide besar dilontarkan.

Pipa sekitar 500 kilometer.

Intake.

Instalasi pengolahan.

Reservoir.

Pumping station.

Sistem digital.

Konservasi hulu.

Uangnya dari mana?

Kalau seluruhnya dibebankan kepada APBD Provinsi Jambi?

Berat.

Bahkan mungkin tidak masuk akal.

Tetapi proyek sebesar ini memang tidak seharusnya diperlakukan sebagai proyek APBD biasa.

Ia harus dijadikan proyek strategis lintas pemerintahan dan lintas sumber pembiayaan.

Pemerintah pusat bisa masuk.

Pemerintah Provinsi Jambi masuk.

Kabupaten dan kota penerima manfaat ikut masuk.

KPBU bisa masuk.

Lembaga pembangunan internasional bisa masuk.

Dana iklim dan pembiayaan hijau bisa masuk.

Dan ada satu pintu yang menurut saya sangat layak diketuk serius Saudi Fund for Development — SFD.

Bukan tanpa alasan.

SFD adalah lembaga pembangunan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang memang membiayai infrastruktur dasar di negara-negara berkembang, termasuk sektor air dan ketahanan air.

Instrumen utamanya memang berupa pinjaman pembangunan lunak atau concessional development loans. Tetapi SFD juga mengelola hibah yang diberikan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk proyek pembangunan tertentu, terutama yang mempunyai dampak sosial besar.

Jadi jangan sempitkan peluang Jambi hanya menjadi “minta utang.”

Tidak.

Pendekatannya harus lebih cerdas.

Jambi dapat menawarkan proyek ini dalam beberapa lapisan pembiayaan.

Komponen pipa dan instalasi besar dapat ditawarkan melalui skema pembiayaan pembangunan jangka panjang.

Sedangkan studi teknis, konservasi kawasan sumber air, penguatan kapasitas kelembagaan, sistem air untuk masyarakat miskin atau komponen sosial tertentu dapat diperjuangkan melalui hibah maupun technical assistance.

Itu bukan teori.

Pada Januari 2026, Kerajaan Arab Saudi melalui Saudi Fund for Development menandatangani hibah USD 10 juta untuk mendukung penguatan sistem penyediaan air di Sudan.

Dana tersebut digunakan untuk rehabilitasi dan perluasan sistem air, termasuk sistem Sungai Nil di Khartoum, operasi berbasis tenaga surya, pembangunan kapasitas teknis dan penguatan ketahanan masyarakat terhadap tekanan iklim.

Berarti air memang berada di dalam radar mereka.

Lebih dari itu water security mempunyai nilai kemanusiaan yang sangat mudah dipahami.

Tidak perlu pidato panjang.

Air menyentuh semua orang.

Bayi.

Sekolah.

Rumah sakit.

Petani.

Orang miskin.

Industri.

Kota.

Desa.

Karena itu, kalau Pemerintah Provinsi Jambi ingin menawarkan proyek ini ke Saudi Fund for Development, jangan membawa proposal bernama “Pembangunan Pipa Air dari Kerinci.”

Terlalu teknis.

Terlalu sempit.

Bawalah, mungkin semacam "Jambi Regional Water Security and Human Development Program".

Pesannya berbeda.

Kita tidak sedang meminta Saudi membiayai pipa.

Kita menawarkan kerja sama untuk menjamin air bersih bagi satu generasi masyarakat Jambi.

Pipa Ini Mungkin Tidak Jadi

Saya juga harus menulis kemungkinan terburuk.

Setelah studi dilakukan, bisa saja hasilnya mengatakan Tidak layak.

Terlalu mahal.

Debit Kerinci tidak cukup.

Risiko ekologinya terlalu besar.

Energi pemompaan terlalu tinggi.

Lebih murah membangun beberapa reservoir lokal.

Atau lebih efektif memperbaiki Batanghari.

Tidak masalah.

Itulah gunanya studi.

Yang berbahaya justru bukan gagasan yang akhirnya ditolak.

Yang berbahaya adalah tidak pernah menguji gagasan sama sekali.

Tetapi Jambi Harus Mulai

Kita terlalu sering membangun ketika masalah sudah datang.

Banjir dulu.

Baru bicara drainase.

Macet dulu.

Baru pelebaran jalan.

Sampah menumpuk dulu.

Baru mencari TPA.

Jangan sampai air juga begitu.

BPS sudah memberi sinyal.

Pada satu sisi jumlah pelanggan terus naik. Pada sisi lain kapasitas efektif produksi turun dan ketergantungan sumber air baku kepada sungai mencapai 95,41 persen.

DLH juga sudah memberi sinyal.

Kualitas Batanghari memang membaik dibanding tahun sebelumnya, tetapi tekanan limbah domestik, industri, pertanian dan PETI tetap ada.

Kerinci pun memberi sinyal.

Air di hulunya bukan sumber tanpa batas. Danau Kerinci mengalami fluktuasi serius dan kawasan Gunung Tujuh merupakan lanskap konservasi bernilai dunia.

Semua sinyal itu kalau disatukan menghasilkan satu pesan Jambi membutuhkan strategi diversifikasi air.

Pipa induk Kerinci bisa menjadi salah satu jawabannya.

Bukan satu-satunya.

Tetapi pantas diuji.

Jalan Tol Air

Dahulu orang mungkin menertawakan jalan tol panjang.

Sekarang kita memakainya.

Dahulu jaringan listrik antardaerah juga membutuhkan investasi raksasa.

Sekarang listrik bergerak melewati kabupaten dan provinsi tanpa kita pikirkan lagi dari pembangkit mana elektronnya berasal.

Air suatu hari mungkin demikian.

Sumbernya dijaga di hulu.

Dibersihkan.

Dimasukkan ke jaringan regional.

Dikirim ke reservoir.

PDAM mengambil dari offtake.

Rumah tangga menerima.

Sistem digital memantau tekanan dan kualitas.

Hutan Kerinci mendapat dana konservasi.

Wilayah hilir memperoleh kepastian air.

Itulah Jambi Water Backbone.

Mungkin biayanya triliunan.

Mungkin pengerjaannya sepuluh tahun.

Mungkin lintasan akhirnya berbeda jauh dari garis yang kita gambar hari ini.

Tidak apa-apa.

Umbulan saja disebut pemerintah sebagai proyek yang telah diinisiasi sekitar empat dekade sebelum akhirnya benar-benar terbangun. Kini pipa transmisinya membentang 93 kilometer dan memasok lima kabupaten/kota.

Ada proyek yang terlalu besar untuk satu masa jabatan.

Tetapi tidak ada proyek yang terlalu besar untuk satu generasi.

Air adalah salah satunya.

Karena jalan masih bisa kita tunda.

Gedung masih bisa menunggu.

Lampu kota bahkan masih bisa dimatikan.

Tetapi air?

Cobalah hidup tiga hari tanpanya.

Barangkali setelah itu pipa dari Kerinci tidak terdengar terlalu gila lagi.

Justru yang mungkin lebih gila adalah mengetahui 95 persen bahan baku perusahaan air minum kita bergantung pada sungai—lalu tidak menyiapkan alternatif apa pun.

Sebelum keran itu kering.

Sebelum air terlalu mahal untuk dibersihkan.

Sebelum krisis mengetuk pintu.(*/Awin Sutan Mudo)

BeritaSatu Network