MX Asia Bupati Kerinci 2026 Heboh di Medsos, Hadiah Motor Juara Umum Diprotes Pembalap

WIB
IST

Kerinci – Ajang Motocross MX Asia Bupati Kerinci Cup 2026 resmi berakhir pada Minggu, 31 Mei 2026, di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci.

Event balap garuk tanah itu sempat diklaim berlangsung meriah. Sirkuit ramai. Penonton tumpah. Pembalap datang. Sponsor tampil. Panggung penyerahan hadiah pun dibuat megah.

Tapi setelah bendera finis dikibarkan, cerita lain justru meledak di media sosial.

Bukan soal siapa yang tercepat di lintasan. Bukan pula soal debu sirkuit atau kerasnya persaingan pembalap.

Yang ramai dibahas justru soal hadiah.

Sejumlah tangkapan layar komentar Facebook dan TikTok menunjukkan kekecewaan netizen dan peserta terhadap hadiah yang diterima pemenang. Hadiah motor untuk juara umum diduga tidak sesuai dengan ekspektasi, bahkan disebut tidak sesuai brosur.

Narasi yang paling banyak beredar: hadiah dalam brosur disebut Aerox, namun yang diterima disebut Jupiter MX second. Bahkan ada komentar yang menyebut motor itu tidak layak pakai.

Belum ada keterangan resmi dari panitia terkait polemik hadiah ini.

Namun di ruang digital, isu itu telanjur bergerak cepat. Seperti motor lepas kopling di tikungan tanah basah: liar, keras, dan sulit dihentikan.

Salah satu komentar yang banyak memantik perhatian ditulis akun Reza Dwi Winata. Ia menyinggung perjuangan pembalap yang disebut tidak sebanding dengan hadiah yang diterima.

“PERJUANGAN DI BAYAR DENGAN KEKECEWAAN. HADIAH GAK SESUAI JUARA UMUM KERINCI MOTOR JUPITER MX SECOND GAK LAYAK,” tulisnya dalam komentar yang terlihat pada tangkapan layar.

Dalam komentar itu, Reza juga menandai sejumlah akun, di antaranya Ahmad Apdul Soleh, Nurul Anisa, Wringgo Ariandi, Ceceng Wrtt, Adib Lendra, Artiko Irvan Arifki, Hendri, serta beberapa nama lain.

Komentar itu kemudian mendapat balasan dari akun Ahmad Apdul Soleh.

“Bener boss ngk sesuai brosur dengan perkataan. Enek ivent enak nonton orak resiko,” tulis Ahmad Apdul Soleh.

Dalam komentar lain, akun yang sama juga menulis:

“ASIA MX TAPI MLESET SEMUA.”

Komentar-komentar itu membuat isu hadiah semakin panas. Publik menangkap ada jarak antara promosi event, ekspektasi peserta, dan hadiah yang diterima di lapangan.

“Wes Rak Masok Berjuang Sampai Jatuh Bangun demi Motor”

Komentar pedas juga muncul dari akun Hendri.

Ia menulis dalam bahasa campuran Jawa/Jambi, menggambarkan perjuangan pembalap yang disebut sampai jatuh bangun demi mengejar hadiah motor.

“Wes rak masok berjuang smpek jatu bangun demi motor. Ternyata motor ngak layak pakai,” tulis Hendri.

Komentar itu keras. Bahkan ada kata kasar di bagian akhir yang menunjukkan kemarahan emosional.

Komentar lain datang dari akun Anto Krc. Ia menuding event tersebut tidak sesuai dengan promosi awal.

“Iya event nya tipu-tipu bos, dlm brosur nyo banyak pembalap dr Jawa ternyata cuma Atar SM Rizki HK doang, udah bayar tiket mahal,” tulisnya.

Dalam salah satu komentar yang beredar, warga menyebut penonton dikenakan tiket masuk hingga Rp150 ribu. Dengan harga tiket sebesar itu, publik tentu berharap event benar-benar sepadan, pembalap yang dijanjikan hadir, hadiah sesuai brosur, tata kelola rapi, dan pengalaman menonton yang memuaskan.

Namun sebagian netizen justru menilai event itu tidak sesuai ekspektasi. Salah satu komentar bahkan menyebut, dalam brosur disebut banyak pembalap dari Jawa, tetapi yang terlihat disebut tidak sebanyak yang dibayangkan. Keluhan ini memperluas polemik, dari hadiah pembalap, kini melebar ke ekspektasi penonton yang sudah membayar tiket mahal.

Komentar ini membuka sorotan lain. Bukan hanya hadiah. Tetapi juga soal promosi event dan ekspektasi penonton terhadap kehadiran pembalap dari luar daerah.

Jika tudingan itu benar, panitia perlu menjelaskan. Jika tidak benar, panitia juga perlu meluruskan.

Karena di era media sosial, diam sering dibaca sebagai mengiyakan.

Kehebohan tidak hanya terjadi di Facebook.

Di TikTok, sejumlah konten ikut mengangkat isu kekecewaan pembalap terhadap hadiah MX Asia Bupati Kerinci 2026.

Salah satu tangkapan TikTok dari akun Info Kito Kincay menampilkan teks:

“Pembalap kecewa dengan hadiah yang diberikan, diduga motor bekas. Ajang Asia MX Bupati Kerinci 2026 di Kayu Aro jadi sorotan. Minggu (31/5/2026).”

Video lain menampilkan narasi:

“Heboh Asia MX Bupati Kerinci 2026, hadiah diduga tak sesuai ekspektasi pembalap, Minggu (31/5/2026).”

Dalam tangkapan layar pencarian TikTok dengan kata kunci “kecewa mx asia kerinci”, terlihat beberapa konten terkait isu tersebut. Salah satunya menampilkan sosok pembalap dengan teks “M Athar sedikit kecewa di sirkuit Jambi Kerinci kejuaraan MX Asia”.

Ada pula video lain yang menampilkan seorang pembalap memegang papan hadiah bertuliskan:

“JUARA UMUM GTX OPEN 1 UNIT MOBIL GRANMAX”

Pada video berbeda, terlihat sejumlah pembalap berfoto dengan papan bertuliskan:

“JUARA UMUM GTX LOKAL KERINCI 1 UNIT MOTOR”

Namun justru dari hadiah motor itulah polemik muncul.

Di salah satu unggahan TikTok, terlihat komentar berbunyi:

“Rame juga hadiah motor nya kak di brosur aerox tapi yang di kasih Jupiter mx..”

Komentar itu menjadi inti polemik, publik menduga ada perbedaan antara hadiah yang dipromosikan dengan hadiah yang diberikan.

Berikut ringkasan data dari tangkapan layar yang beredar di media sosial:

NoTemuan di MedsosKeterangan
1Event berakhir Minggu, 31 Mei 2026MX Asia Bupati Kerinci 2026 digelar di Kayu Aro
2Hadiah juara umum lokalTerlihat papan: “Juara Umum GTX Lokal Kerinci 1 Unit Motor”
3Hadiah juara umum openTerlihat papan: “Juara Umum GTX Open 1 Unit Mobil Granmax”
4Isu utamaHadiah motor diduga tidak sesuai brosur/ekspektasi
5Narasi netizenBrosur disebut Aerox, hadiah disebut Jupiter MX second
6Komentar peserta/netizenMenyebut perjuangan dibayar kekecewaan
7Video TikTokBeberapa konten menyebut pembalap kecewa dan hadiah diduga motor bekas
8Status klarifikasiBelum ada keterangan resmi panitia dalam data yang diterima

MX Asia Bupati Kerinci 2026 bukan event kecil.

Dari tampilan panggung dan latar sponsor, terlihat ajang ini membawa nama besar MX Asia, Bupati Kerinci Cup 2026, dan berbagai sponsor yang terpampang di backdrop.

Artinya, event ini bukan hanya balapan biasa. Ia membawa wajah daerah.

Apalagi digelar di Kerinci, wilayah yang sedang terus mendorong pariwisata, olahraga, dan event berbasis komunitas.

Masalahnya, event sebesar itu juga punya risiko reputasi besar.

Jika peserta merasa kecewa, isu akan cepat melebar. Jika hadiah dipersepsikan tidak sesuai brosur, publik akan bertanya. Jika panitia lambat memberi penjelasan, netizen akan mengisi kekosongan informasi dengan tafsir sendiri.

Di sinilah pentingnya transparansi.

Event publik tidak cukup hanya ramai penonton. Ia juga harus rapi janji, rapi hadiah, rapi komunikasi, dan rapi pertanggungjawaban.

Sejumlah warga Kerinci menyayangkan munculnya polemik hadiah tersebut.

Seorang warga Kayu Aro, Padli, mengatakan event motocross sebenarnya bagus untuk daerah. Banyak orang datang. UMKM bergerak. Nama Kerinci ikut naik. Namun ia menilai panitia harus serius menjaga kepercayaan peserta.

“Event seperti ini bagus untuk Kerinci. Tapi kalau hadiah dipersoalkan, nama daerah ikut kena. Jangan sampai orang datang jauh-jauh, bayar tiket, bertanding, lalu pulang kecewa,” ujarnya.

Warga lainnya, Sapwan, menilai panitia seharusnya segera memberi klarifikasi.

“Kalau memang hadiahnya sesuai brosur, tunjukkan buktinya. Kalau ada perubahan, jelaskan kenapa. Jangan dibiarkan netizen ribut sendiri,” katanya.

Sementara seorang penonton yang hadir di sekitar lokasi menyebut isu hadiah membuat suasana setelah event terasa kurang enak.

“Balapannya seru. Penontonnya ramai. Tapi setelah itu yang viral malah soal hadiah. Sayang sekali. Harusnya event besar ditutup dengan bangga, bukan gaduh,” ujarnya.

Polemik hadiah ini tidak hanya menyangkut panitia.

Nama sponsor dan daerah juga bisa ikut terseret dalam persepsi publik.

Ketika sebuah event memakai nama Bupati Kerinci Cup, publik akan mengaitkannya dengan wajah pemerintah daerah. Ketika backdrop menampilkan sponsor besar, publik juga akan bertanya apakah sponsor mengetahui detail hadiah dan tata kelola event.

Namun polemik hadiah diduga bukan satu-satunya soal yang mengiringi event ini. Di balik gegap gempita MX Asia Bupati Kerinci Cup 2026, muncul pula sorotan lain yang tak kalah sensitif, dugaan penggunaan APBD dan kemungkinan keterkaitan Pokok Pikiran atau Pokir dewan dalam pembiayaan event tersebut.

Jika benar ada uang publik mengalir ke balik panggung event ini, maka pertanyaannya menjadi lebih besar.

Bukan lagi sekadar soal motor hadiah.

Tapi soal tata kelola anggaran. Soal transparansi. Soal siapa yang mengusulkan. Siapa yang menerima manfaat. Siapa pelaksana. Berapa nilai anggarannya. Dan apakah penggunaan dana publik itu benar-benar berdampak luas bagi masyarakat Kerinci.

Bagaimana kelanjutannya?

Simak terus penelusuran Jambi Link.(*)

BeritaSatu Network