Menelusuri Rekam Jejak CV Graha Putra Konstruksi, Pemenang Tender Proyek Gedung Pemuda Batang Hari Rp 1,9 M yang Harganya 99,974 Persen HPS

WIB
ist

BATANGHARI – Namanya CV Graha Putra Konstruksi.

Alamatnya tercatat di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Muara Bulian, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

Nama perusahaan ini belakangan muncul dalam tender Rehabilitasi Ruang Terbuka Gedung Pemuda di Muara Bulian.

Nilainya tidak kecil.

Pagu proyek mencapai Rp1.991.085.900. Harga Perkiraan Sendiri atau HPS ditetapkan Rp1.960.000.000.

CV Graha Putra Konstruksi keluar sebagai pemenang dengan harga Rp1.959.490.404,81.

Tipis sekali bedanya dengan HPS.

Selisihnya hanya Rp509.595,19.

Kalau dipersentasekan, harga perusahaan tersebut mencapai sekitar 99,974 persen dari HPS.

Pertanyaannya kemudian bergeser.

Siapa sebenarnya CV Graha Putra Konstruksi?

Proyek apa saja yang pernah dikerjakannya?

Dan, pernahkah perusahaan ini bermasalah dalam mengerjakan proyek pemerintah?

JambiLink menelusuri jejak digital perusahaan tersebut melalui data pengadaan, pemberitaan, dokumen audit, daftar hitam pengadaan hingga basis data perkara yang dapat diakses secara terbuka.

Hasilnya menarik.

Jejak perusahaan ini di ruang publik tidak banyak.

Jejak yang Paling Terang: Gedung Pemuda

Satu proyek yang dapat ditelusuri dengan cukup jelas adalah Rehabilitasi Ruang Terbuka Gedung Pemuda di Muara Bulian tahun anggaran 2026.

Paket tersebut berada di bawah Dinas Pemuda dan Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Batanghari.

Sumber dananya berasal dari APBD 2026.

Tender dibuat pada 30 September 2026. Kode tender yang tercantum dalam data adalah 10172308000, sedangkan kode Rencana Umum Pengadaan atau RUP tercatat 65757599.

Metode pemilihannya tender pascakualifikasi satu file.

Evaluasinya menggunakan harga terendah sistem gugur.

Jenis kontraknya harga satuan.

Paket itu diperuntukkan bagi usaha berkualifikasi kecil dan tercatat tidak menggunakan reverse auction.

Sampai di sini terlihat biasa saja.

Yang membuatnya menarik justru angka-angka di tabel hasil tender.

Ada 10 perusahaan yang tercatat sebagai peserta.

Namun dari tabel yang tersedia untuk publik, hanya satu perusahaan yang menampilkan angka penawaran.

CV Graha Putra Konstruksi.

Sembilan peserta lainnya tidak menampilkan harga pada tabel tersebut.

Pesertanya adalah:

  1. CV Graha Putra Konstruksi
  2. CV Sarana Abadi Corporate (SAC)
  3. CV Sukses Bersama
  4. CV Amethyst
  5. CV Dita Kontraktor
  6. CV Athar Prima Mandiri
  7. CV Beringin Cipta Infrastruktur
  8. CV Hidayah Pangeran Cimpago
  9. CV Barometer Indo Perkasa
  10. CV Hafiz Jaya.

Apakah sembilan perusahaan itu hanya mendaftar tetapi tidak memasukkan penawaran?

Apakah ada yang memasukkan dokumen lalu gugur?

Atau ada alasan lain?

Data terbuka yang ditemukan belum menjawab pertanyaan tersebut.

Kolom harga yang kosong tidak otomatis berarti peserta tidak menawar. Untuk mengetahuinya secara presisi dibutuhkan berita acara pembukaan penawaran dan dokumen evaluasi Pokja.

Tiga Angka Sama Persis

Ada satu angka lagi yang menarik untuk dibaca.

Harga penawaran CV Graha Putra Konstruksi:

Rp1.959.490.404,81.

Harga setelah koreksi:

Rp1.959.490.404,81.

Harga negosiasi:

Rp1.959.490.404,81.

Sama.

Sampai angka di belakang koma.

Dengan demikian, berdasarkan tabel yang tersedia, tidak terlihat perubahan nilai antara penawaran awal, harga terkoreksi dan hasil negosiasi.

Tentu saja kesamaan angka itu bukan bukti adanya pelanggaran.

Negosiasi dalam pengadaan juga tidak selalu harus berujung pada penurunan harga jika memang tidak terdapat komponen yang wajib dikoreksi.

Tetapi dalam konteks transparansi, publik patut mengetahui apa yang berlangsung pada proses evaluasi dan negosiasi tersebut.

Apalagi harga akhirnya hanya berjarak sekitar setengah juta rupiah dari HPS Rp1,96 miliar.

Dari HPS, selisihnya cuma sekitar 0,026 persen.

Artinya, hampir seluruh HPS terserap oleh harga penawaran pemenang.

Sementara bila dibandingkan dengan pagu Rp1.991.085.900, selisihnya Rp31.595.495,19 atau sekitar 1,587 persen.

Pernah Ada Kejanggalan Tampilan Tahapan

Jejak tender tersebut juga sempat menyisakan satu persoalan administratif pada tampilan data.

Pada penelusuran tanggal 19 Oktober 2026, bagian tahapan tender masih menampilkan keterangan “Tidak Ada Jadwal”.

Padahal bagian lainnya sudah menunjukkan CV Graha Putra Konstruksi sebagai pemenang berikut harga negosiasinya.

Kemudian pada data yang diperiksa kembali menjelang 1 November 2026, tahapnya telah berubah menjadi “Penandatanganan Kontrak”.

Perubahan itu menunjukkan proses tender terus berjalan.

Namun tulisan “Tidak Ada Jadwal” yang sebelumnya muncul tidak dapat serta-merta diartikan bahwa tender berjalan tanpa jadwal.

Bisa saja persoalannya berada pada sinkronisasi tampilan data.

Yang dibutuhkan adalah penjelasan dari pengelola pengadaan.

Lalu Bagaimana Rekam Jejak Sebelumnya?

Ini bagian yang justru menarik.

Penelusuran nama “CV Graha Putra Konstruksi” bersama alamatnya di Muara Bulian tidak menghasilkan banyak arsip proyek yang dapat diverifikasi secara terbuka melalui mesin pencari.

Jejak digital perusahaan tersebut jauh lebih tipis dibandingkan sejumlah perusahaan konstruksi lain yang berkali-kali muncul dalam pemberitaan maupun indeks pengadaan pemerintah.

Dalam pencarian terbuka terhadap sumber-sumber BPK, LKPP, KPK dan basis data perkara pengadilan, hingga penelusuran ini dilakukan, belum ditemukan dokumen terindeks yang secara jelas menyatakan CV Graha Putra Konstruksi asal Muara Bulian:

  • masuk daftar hitam penyedia;
  • menjadi tersangka atau terdakwa perkara korupsi;
  • mengalami pemutusan kontrak karena wanprestasi;
  • terkena sanksi keterlambatan dalam proyek tertentu; atau
  • tercantum secara spesifik sebagai penyedia bermasalah dalam temuan audit BPK.

Ini penting ditegaskan.

Tidak ditemukannya dokumen dalam penelusuran terbuka bukan berarti dapat dipastikan perusahaan tersebut tidak pernah memiliki persoalan.

Sebaliknya, juga tidak boleh ditafsirkan seolah-olah perusahaan pernah bermasalah.

Data yang tersedia memang belum menunjukkan itu.

Ada Nama Sama di Basis Data Bisnis, Tapi Lokasinya Berbeda

Penelusuran juga menemukan nama CV Graha Putra Konstruksi dalam direktori bisnis Dun & Bradstreet.

Namun entri tersebut tercatat berkaitan dengan Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

Karena lokasi berbeda dengan perusahaan pemenang tender Batanghari yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, Muara Bulian, data tersebut tidak dapat begitu saja dianggap sebagai badan usaha yang sama.

Kesamaan nama perusahaan bisa terjadi.

Dalam penelusuran investigatif, penyamaan identitas tanpa NPWP, NIB, akta perusahaan atau identitas badan usaha lain justru berisiko menghasilkan kesimpulan keliru.

Karena itu data Lampung tersebut tidak digunakan sebagai rekam jejak CV Graha Putra Konstruksi Batanghari.

Justru Pengalaman Perusahaan Menjadi Pertanyaan

Dokumen tender Gedung Pemuda mensyaratkan peserta memiliki pengalaman pekerjaan konstruksi dalam empat tahun terakhir, baik sebagai kontraktor utama maupun subkontraktor.

Tetapi ada pengecualian.

Usaha kecil yang baru berdiri kurang dari tiga tahun dan belum memiliki pengalaman dapat mengikuti paket dengan nilai paling tinggi Rp2,5 miliar sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Pagu proyek Gedung Pemuda hanya Rp1,991 miliar.

Artinya, nilainya berada di bawah batas Rp2,5 miliar tersebut.

Masalahnya, data tender yang tersedia tidak memperlihatkan kapan CV Graha Putra Konstruksi berdiri dan pengalaman apa yang digunakan perusahaan saat proses kualifikasi.

Dari sinilah dokumen evaluasi kualifikasi menjadi penting.

Jika perusahaan menggunakan pengalaman pekerjaan sebelumnya, proyek apa?

Di instansi mana?

Berapa nilainya?

Kapan dikerjakan?

Bagaimana hasil pekerjaan tersebut?

Data terbuka yang ditemukan dalam penelusuran ini belum menjawabnya.

Proyek Hampir Rp2 Miliar, Publik Belum Bisa Melihat Detail Hasilnya

Ada pertanyaan lain yang bahkan lebih sederhana.

Apa sebenarnya yang akan dibangun?

Dokumen uraian singkat pekerjaan memang tersedia dalam paket tender tersebut.

Namun dari data yang dapat dibaca publik dalam penelusuran sebelumnya, belum tergambar secara rinci luas area yang direhabilitasi, volume pekerjaan, jenis material, fasilitas apa saja yang dibangun serta berapa lama waktu pelaksanaannya.

Padahal nilainya nyaris Rp2 miliar.

Uangnya berasal dari APBD.

Publik tentu berhak mengetahui apa yang akan mereka dapatkan dari uang itu.

Karena pada akhirnya yang harus dilihat bukan sekadar siapa pemenangnya.

Tetapi apa yang dibangun.

Berapa volumenya.

Bagaimana mutunya.

Dan apakah hasilnya sesuai kontrak.

Belum Ada Keterangan Perusahaan

Dari sumber terbuka yang ditemukan dalam penelusuran ini, belum terdapat keterangan atau komentar CV Graha Putra Konstruksi yang menjelaskan rekam jejak perusahaan, pengalaman proyek sebelumnya maupun proses tender Gedung Pemuda.

Belum ditemukan pula tanggapan Pokja maupun Dinas Pemuda dan Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Batanghari yang secara khusus menjelaskan mengapa hanya satu nilai penawaran terlihat pada tabel, bagaimana proses evaluasi berlangsung, serta apa yang terjadi pada sembilan peserta lainnya.

Karena itu beberapa pertanyaan masih terbuka.

Mengapa penawaran pemenang bisa berada pada angka 99,974 persen dari HPS?

Apa yang dibahas pada tahapan negosiasi sehingga harga penawaran, harga terkoreksi dan harga negosiasi sama persis?

Apa yang terjadi pada sembilan peserta lainnya?

Dan proyek apa yang menjadi pengalaman CV Graha Putra Konstruksi sehingga dinyatakan memenuhi kualifikasi?

Tidak satu pun pertanyaan itu dengan sendirinya membuktikan telah terjadi pelanggaran.

Namun dalam pengadaan menggunakan uang rakyat, pertanyaan semacam itu memang selayaknya mendapat jawaban.

Tender sudah bergerak menuju kontrak.

Setelah itu ujian yang sebenarnya bukan lagi terjadi di layar LPSE.

Ujiannya pindah ke lapangan.

Apakah volume pekerjaan sesuai?

Materialnya sesuai spesifikasi?

Selesai tepat waktu?

Dan apakah hampir Rp2 miliar uang daerah tersebut benar-benar berubah menjadi ruang publik yang sepadan bagi warga Muara Bulian?

Di sanalah rekam jejak sesungguhnya akan terlihat. (*)

BeritaSatu Network