JAMBI - Ada wajah berbeda di kawasan yang dulu dikenal sebagai eks lokalisasi Payo Sigadung atau Pucuk, RT 05, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Sabtu (22/8/2026).
Di tengah bekas bangunan, tumpukan bata merah, material kerikil dan alat berat yang bekerja di lokasi, sebuah masjid mulai dibangun.
Di tempat itulah Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M. dan Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. terlihat turun bersama menemui masyarakat.
Duet keduanya membawa dua pendekatan sekaligus.
Maulana mendorong perubahan wajah kawasan.
Ernawati masuk dengan dukungan pembangunan masjid, program keagamaan hingga hadiah umrah bagi warga.
Bukan hanya pejabat dan pengurus organisasi yang hadir. Emak-emak memenuhi kursi di bawah tenda. Warga berdiri mengelilingi lokasi pembangunan.
Ernawati tampil mencolok dengan busana panjang warna marun-magenta berhias bordir putih dan jilbab bermotif warna-warni. Ia beberapa kali memegang mikrofon dan berbicara langsung di hadapan warga.
Maulana berada tak jauh darinya dengan batik bernuansa merah-hitam dan peci hitam.
Istri Wali Kota Jambi yang juga Ketua TP PKK Kota Jambi, dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., ikut mendampingi. Kehadiran Nadiyah dalam kegiatan pembangunan Masjid Baitunnadiyah di Payo Sigadung juga tercatat dalam keterangan resmi Pemkot Jambi.

Ernawati Umumkan 3 Warga Berangkat Umrah
Di tengah pertemuan dengan warga, Ernawati membawa kejutan.
Ia mengumumkan tiga orang akan diberangkatkan umrah pada 3 September 2026.
Salah satunya adalah seorang ustaz yang selama ini menjadi guru mengaji sekaligus pernah menjadi imam di musala setempat sebelum musala tersebut dirobohkan dalam proses penataan kawasan.
Dua lainnya adalah Ibu Tia serta Wiwin, S.H., Ketua RT 05.
Bagi warga Payo Sigadung, pengumuman itu menjadi bagian yang paling menyedot perhatian.
Ernawati datang bukan sekadar menyampaikan pidato.
Ia membawa program langsung.
Dan yang disentuh pertama justru orang-orang yang selama ini hidup dan mengabdi di lingkungan tersebut.

1.000 Sak Semen untuk Masjid
Ernawati kemudian menyampaikan komitmen lain.
Seribu sak semen.
Bantuan tersebut disiapkan untuk pembangunan Masjid Baitunnadiyah, masjid yang kini mulai dibangun di kawasan eks Payo Sigadung.
“Sangat senang hati dan merasa bangga dengan kehadiran saya di sini, bisa ikut andil dalam membantu membangun rumah Allah SWT. Barang siapa yang membangun rumah Allah di dunia maka akan dibangun baginya rumah di surga. Maka ibu membantu pembangunan masjid tersebut sebanyak 1.000 sak semen,” kata Ernawati.
Keterangan yang dipublikasikan pada hari yang sama juga mencatat dukungan 1.000 sak semen dari ISMI Jambi untuk mempercepat pembangunan masjid tersebut.
Bagi Ernawati, bantuan itu bukan hanya urusan fisik bangunan.
Masjid harus hidup setelah selesai.
Harus ada pengajian.
Ada aktivitas anak-anak.
Ada majelis taklim.
Ada salawat.
Dan ada kegiatan yang membuat masyarakat sekitar menjadi bagian utama dari perubahan kawasan.

Masjid Jadi Pintu Masuk Ubah Wajah Eks Lokalisasi
Maulana memang sejak awal mempunyai desain lebih besar terhadap Payo Sigadung.
Pada Maret 2026, Maulana sudah datang ke RT 05 Rawasari dan menyampaikan rencana mengubah kawasan itu menjadi kawasan yang memiliki tempat ibadah, pusat UMKM serta fasilitas olahraga.
“Ke depan kawasan ini akan kita bangun secara menyeluruh. Baznas akan masuk, pendekatannya harus holistik, sehingga kawasan ini insya Allah menjadi kawasan yang berkembang dan produktif,” kata Maulana saat meninjau kawasan tersebut pada Maret lalu.
Kini rencana itu mulai masuk tahap pembangunan.
Pemkot Jambi menyebut Masjid Baitunnadiyah dirancang bukan semata sebagai tempat salat, tetapi menjadi titik awal aktivitas pendidikan, pembinaan keagamaan, kegiatan sosial hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Maulana bahkan menyebut pembangunan masjid sebagai bagian dari pembangunan peradaban.
“Masjid ini bukan hanya untuk tempat ibadah, tetapi juga bagian dari upaya kita membangun peradaban umat. Kita ingin menghadirkan wajah baru kawasan ini agar menjadi kawasan yang memberikan manfaat dan memiliki nilai positif bagi masyarakat,” kata Maulana.
Di titik itulah agenda Maulana bertemu dengan gerakan sosial Ernawati.
Pemkot menata kawasannya.
ISMI masuk menghidupkan aktivitas umatnya.

Duet Maulana-Ernawati
Suasana di lokasi menggambarkan kolaborasi itu.
Maulana berbicara mengenai transformasi kawasan.
Ernawati berdiri di hadapan emak-emak membicarakan masjid, salawat, yatim, dhuafa hingga umrah.
Keduanya sama-sama masuk melalui pendekatan sosial dan keagamaan.
Bagi Ernawati, kunjungan ke Payo Sigadung juga semakin memperlihatkan corak kepemimpinannya di ISMI Jambi.
Ia ingin organisasi sarjana itu tidak hanya muncul dalam forum resmi, seminar atau rapat.
ISMI harus terlihat ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Di Payo Sigadung, bentuknya sangat konkret:
1.000 sak semen dan tiga warga diberangkatkan umrah.
Emak-emak Ditantang Lomba Salawat, Hadiahnya Umrah
Bahkan setelah masjid selesai, Ernawati sudah menyiapkan gagasan berikutnya.
Ia mengajak ibu-ibu majelis taklim dan para pencinta salawat di kawasan tersebut membuat lomba salawat.
Hadiahnya bukan sekadar piala.
Pemenangnya akan diberangkatkan umrah.
“Mengajak para ibu-ibu majelis taklim, para pencinta salawat, mengadakan acara lomba salawat. Setelah masjid ini berjalan, maka pemenang lomba tersebut akan diumrahkan,” kata Ernawati.
Gagasan yang sama juga disampaikan Ernawati dalam pemberitaan kegiatan tersebut. Ia meminta warga, khususnya ibu-ibu dan pengurus lingkungan, mengisi masjid dengan aktivitas pendidikan dan keagamaan setelah bangunan selesai.
Jadi masjid tidak ingin hanya selesai secara fisik.
Bangunannya berdiri.
Tetapi jamaahnya juga harus hidup.

Ernawati: Jangan Lupakan Dhuafa dan Anak Yatim
Ada pesan lain yang berulang kali dibawa Ernawati.
Masyarakat yang memiliki kemampuan diminta melihat ke kanan dan kiri.
Masih ada anak yatim.
Ada kaum dhuafa.
Ada fakir miskin.
Menurut Ernawati, kelompok inilah yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Ia mengajak seluruh orang yang hadir untuk ikut memperhatikan warga yang membutuhkan.
Pesan itu membuat kunjungannya ke kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung memiliki makna berbeda.
Ernawati tidak datang untuk menghakimi sejarah kawasan.
Ia justru berbicara tentang apa yang bisa dibangun untuk masa depannya.
Rumah ibadah.
Pendidikan agama.
Majelis taklim.
Salawat.
Kepedulian sosial.
Hingga kesempatan berangkat ke Tanah Suci.
Maulana Ingin Stigma Lama Hilang
Bagi Maulana, Payo Sigadung memang sedang diarahkan memasuki babak baru.
Pemkot Jambi menyebut penataan kawasan dilakukan untuk secara bertahap meninggalkan stigma negatif masa lalu dan membentuk lingkungan yang lebih religius, produktif dan bermartabat.
Upaya itu tidak hanya melalui masjid.
Sebelumnya program rumah layak huni juga sudah masuk ke RT 05 Payo Sigadung. Salah satunya menyasar rumah Sutirah atau Mak Gambreng melalui kolaborasi Pemkot Jambi, Polresta dan Baznas Kota Jambi.
Artinya, pendekatan yang digunakan bukan sekadar mengganti nama atau citra kawasan.
Ada pembangunan fisik.
Ada perbaikan rumah.
Ada tempat ibadah.
Ada rencana kegiatan ekonomi.
Dan kini ada tambahan kekuatan dari jaringan sosial ISMI.
Ernawati Masuk dari Jalur yang Berbeda
Jika Maulana masuk dengan instrumen pemerintahan, Ernawati datang melalui jalur masyarakat.
Ia membawa organisasi.
Mendekati emak-emak.
Menyapa warga.
Membantu material pembangunan.
Menawarkan program keagamaan.
Dan memberikan kesempatan umrah.
Pola itulah yang mulai membentuk citra kepemimpinan Ernawati sebagai Ketua ISMI Jambi: figur organisasi yang ingin lebih banyak terlihat melalui aksi sosial langsung dibandingkan sekadar aktivitas seremonial.
Payo Sigadung menjadi salah satu panggung paling konkret.
Di bawah tenda sederhana dan di tengah kawasan yang sedang dibongkar serta dibangun kembali, Ernawati menyampaikan pesannya kepada warga.
Bangun masjid.
Hidupkan pengajian.
Perbanyak salawat.
Dan jangan melupakan mereka yang kekurangan.
Maulana pun membawa pesan senada dari sisi pemerintahan: kawasan lama itu harus mempunyai wajah baru.
Dari eks lokalisasi menuju kawasan yang lebih religius dan produktif.
Dari stigma menuju pemberdayaan.
Dan pada Sabtu itu, duet Maulana-Ernawati terlihat berada di titik yang sama: membangun Payo Sigadung bukan hanya dengan beton dan semen, tetapi juga dengan aktivitas umat dan perhatian kepada masyarakatnya. (*)