Masih Langka! Guru Besar Ilmu Politik Murni di Jambi, Prof Jafar Ahmad Masuk Deretan Teratas

WIB
ist

Jambi - Profesor atau guru besar di bidang Ilmu Politik ternyata masih menjadi “barang langka” di Provinsi Jambi.

Penelusuran terhadap latar pendidikan, bidang jabatan akademik, nomenklatur kepakaran hingga rekam riset menunjukkan adanya perbedaan cukup tegas antara profesor Ilmu Politik murni dengan profesor yang berada pada rumpun politik Islam, hukum tata negara, pemerintahan maupun kebijakan publik.

Jika pembedahan dilakukan secara ontologis dan nomenklatur akademik secara ketat, nama Prof. Dr. H. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si. berada di deretan teratas.

Rektor IAIN Kerinci itu menjadi figur satu-satunya yang saat ini merepresentasikan Guru Besar dalam ranting keilmuan Ilmu Politik murni di Provinsi Jambi.

Jalur akademiknya nyaris lurus.

Doktor Ilmu Politik. Meneliti politik. Mengajar di rumpun politik. Hingga akhirnya menyandang jabatan Profesor pada ranting kepakaran Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Jafar Ahmad, Jalur Ilmu Politiknya Linear

Jafar Ahmad merupakan putra Kerinci.

Ia lahir di Tanjung Pauh Mudik, Kabupaten Kerinci, 21 Januari 1978.

Saat ini Jafar menjabat sebagai Rektor IAIN Kerinci periode 2025-2029.

Karier akademiknya mencapai puncak baru setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI menetapkannya sebagai profesor melalui Keputusan Menteri Nomor 19604/M/KPT.KP/2026.

Jabatan akademik tersebut berlaku terhitung mulai 1 Agustus 2026.

Yang membuat posisi Jafar menarik adalah nomenklatur kepakarannya.

Dalam keputusan tersebut Jafar ditetapkan sebagai Profesor pada ranting ilmu atau kepakaran Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Bukan Hukum Tata Negara.

Bukan Administrasi Publik.

Bukan pula Fiqh Siyasah.

Ada kata Ilmu Politik secara terang dalam ranting kepakarannya.

Sebelumnya, Jafar dinyatakan lulus uji kompetensi kenaikan jabatan akademik profesor melalui sertifikat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tertanggal 22 Juli 2026.

Jika ditarik jauh ke belakang, jalur keilmuannya memang sudah mengarah ke sana.

Jafar menyelesaikan pendidikan doktoral pada Program Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) pada 2018.

Disertasinya membedah fenomena local strongman atau orang kuat lokal dalam politik Jambi.

Ia meneliti peran mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dalam proses membangun, mendapatkan dan mempertahankan pengaruh politik.

Objek kajiannya masuk ke jantung ilmu politik: kekuasaan, elite, patronase, jaringan politik dan relasi antara aktor dengan struktur kekuasaan.

Sejumlah karya Jafar setelah itu juga bergerak pada jalur serupa.

Mulai dari politik lokal, elite daerah, dinamika etnis Melayu Jambi dalam arena politik hingga kekuatan orang kuat lokal.

Salah satu kajiannya membahas Dynamics of Jambi Malay Ethnic Group in the Political Arena.

Karena itu, bila dibedah secara disiplin keilmuan, perjalanan Jafar bisa disebut sangat linear.

S3 Ilmu Politik UI → penelitian relasi kuasa dan patronase politik → pengajaran rumpun politik → Profesor Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Jalur itu yang membuat posisi Jafar menjadi berbeda.

Ilmu Politik Murni dan Politik Islam, Apa Bedanya?

Di Jambi sebenarnya ada nama lain yang jauh lebih dahulu mencapai jenjang guru besar dan memiliki reputasi kuat dalam kajian politik.

Dia adalah Prof. Dr. H. Su'aidi Asy'ari, M.A., Ph.D.

Su'aidi merupakan akademisi senior UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan pernah menduduki jabatan Rektor UIN STS Jambi.

Ia juga merupakan salah satu intelektual Jambi dengan latar akademik internasional.

Su'aidi menyelesaikan pendidikan Ph.D di University of Melbourne, Australia, pada 2007.

Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemikiran Politik Islam pada 2018.

Profil resmi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN STS Jambi juga mencantumkan keahliannya pada bidang Ilmu Politik dan Studi Islam.

Karena itulah Su'aidi tetap merupakan salah satu profesor paling penting dalam kajian politik di Jambi.

Namun terdapat distingsi keilmuan jika dibandingkan dengan Jafar Ahmad.

Kepakaran Su'aidi secara formal berada pada rumpun Pemikiran Politik Islam dan Studi Islam.

Analisis politiknya banyak bergerak pada persinggungan antara agama dan politik.

Tema-temanya antara lain demokrasi, Islamisme, gerakan Tarbiyah, Muhammadiyah, identitas Muslim, perubahan sosial serta perkembangan gerakan politik Islam.

Dengan kata lain, pintu masuk Su'aidi terhadap politik banyak menggunakan perspektif agama, sosiologi agama dan pemikiran Islam.

Sedangkan Jafar lebih banyak berangkat dari disiplin Ilmu Politik umum.

Ia membedah relasi kekuasaan, elite, patronase, orang kuat lokal, kontestasi dan struktur politik.

Di sinilah letak perbedaannya.

Sama-sama bicara politik.

Tetapi “rumah akademiknya” berbeda.

Jafar Jadi Langka

Perbedaan rumpun keilmuan tersebut membuat pencapaian Jafar Ahmad menjadi cukup istimewa.

Sebab dalam penelusuran terhadap sejumlah perguruan tinggi di Provinsi Jambi, belum ditemukan banyak guru besar yang secara nomenklatur jabatan profesornya benar-benar mencantumkan Ilmu Politik sebagai ranting kepakaran utama.

Guru besar yang bersinggungan dengan negara dan kekuasaan memang ada.

Ada yang berada di rumpun Hukum Tata Negara.

Ada yang berkutat pada Hukum Administrasi Negara.

Ada pula profesor yang menggeluti Fiqh Siyasah, Administrasi Publik, pemerintahan maupun kebijakan publik.

Semua mempunyai irisan dengan politik.

Namun secara disiplin akademik tidak semuanya dapat disebut Profesor Ilmu Politik murni.

Karena itu, berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan, Jafar Ahmad menempati posisi yang sangat menonjol.

Ia bukan hanya profesor yang tertarik membahas politik.

Jabatan akademiknya sendiri memang berada pada ranting Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Kehadirannya sekaligus mengisi ruang yang selama ini terlihat kosong dalam lanskap akademik Provinsi Jambi.

Terutama jika dibandingkan dengan kampus-kampus umum di daerah ini yang belum banyak melahirkan profesor dengan nomenklatur Ilmu Politik secara langsung.

Dua Profesor, Dua Mazhab Keilmuan

Meski demikian, keberadaan Jafar Ahmad tidak mengurangi posisi penting Su'aidi Asy'ari.

Justru keduanya memperlihatkan dua wajah pengembangan kajian politik di Jambi.

Prof. Jafar Ahmad merepresentasikan jalur Ilmu Politik umum atau politik murni, dengan basis kajian kekuasaan, elite dan politik lokal.

Sedangkan Prof. Su'aidi Asy'ari merepresentasikan jalur Pemikiran Politik Islam, dengan kajian kuat mengenai agama, demokrasi dan gerakan politik Islam.

Menariknya, keduanya merupakan putra Jambi.

Jafar berasal dari Kerinci.

Su'aidi berasal dari Sungai Manau, Kabupaten Merangin.

Dan keduanya berkarier di perguruan tinggi keagamaan negeri di Provinsi Jambi.

Jafar di IAIN Kerinci.

Su'aidi di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Dua profesor.

Sama-sama mengkaji politik.

Tetapi lahir dari mazhab keilmuan berbeda.

Dan jika ukurannya benar-benar dipersempit pada nomenklatur Ilmu Politik murni, maka berdasarkan data yang berhasil ditelusuri hingga Agustus 2026, nama Prof. Dr. H. Jafar Ahmad menjadi figur yang berada pada deretan paling atas.

Keberadaannya membuat satu hal semakin terang.

Guru Besar Ilmu Politik murni di Jambi masih sangat langka.

Bahkan, sejauh data akademik yang ditemukan dalam penelusuran ini, kehadiran Jafar Ahmad menjadi salah satu tonggak penting munculnya profesor yang secara formal berakar langsung dari disiplin Ilmu Politik di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.(*)

BeritaSatu Network