JAMBI - Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tak berhenti pada seremoni, pengibaran bendera atau mengenang perjuangan para pendiri bangsa.
Bagi Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, kemerdekaan juga harus diterjemahkan menjadi kerja nyata, peningkatan kualitas manusia dan keberanian mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
Ketua Pengurus Wilayah ISMI Provinsi Jambi, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pdi., mendorong kaum intelektual Melayu, khususnya jajaran pengurus dan kader ISMI, untuk tidak menjadi penonton dalam perjalanan pembangunan Jambi.
Sarjana, menurut semangat perjuangan ISMI yang dibawanya, harus hadir di tengah masyarakat dengan gagasan, ilmu, karya dan pengabdian.
Pesan itu sejalan dengan pidato Ernawati ketika dilantik memimpin PW ISMI Provinsi Jambi periode 2026-2030 pada Juni lalu. Ia menegaskan kemajuan tidak cukup hanya dibangun dengan kecerdasan akademik.
“Ilmu harus melahirkan kebijaksanaan. Kecerdasan harus berjalan bersama akhlak. Kemajuan juga harus tetap berpijak pada nilai agama dan budaya,” kata Ernawati.
Dalam konteks 81 tahun Indonesia merdeka, pesan tersebut menjadi relevan.
Sebab tantangan kemerdekaan hari ini sudah berubah.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan, tantangan generasi sekarang adalah bagaimana memenangkan persaingan sumber daya manusia, menciptakan lapangan pekerjaan, membangun ekonomi daerah, mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga lingkungan, serta memastikan kemajuan tidak meninggalkan identitas budaya.
Jambi Bergerak, Tapi Pekerjaan Belum Selesai
Provinsi Jambi sebenarnya menunjukkan sejumlah perkembangan positif.
BPS mencatat perekonomian Jambi sepanjang 2025 tumbuh 4,93 persen, lebih cepat dibanding pertumbuhan 2024 sebesar 4,50 persen. Nilai PDRB Jambi pada 2025 mencapai Rp349,66 triliun dengan PDRB per kapita Rp92,79 juta.
Memasuki 2026, ekonomi Jambi pada triwulan I tetap tumbuh 4,33 persen secara year-on-year, dengan PDRB harga berlaku mencapai Rp88,80 triliun.
Indikator pembangunan manusia juga bergerak.
IPM Provinsi Jambi pada 2025 mencapai 75,13, naik dari 74,36 pada tahun sebelumnya.
Angka kemiskinan pada September 2025 turun menjadi 6,89 persen, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 tercatat 3,99 persen, turun 0,50 poin persentase dibanding Februari 2025.
Data itu menunjukkan ada kemajuan.
Tetapi bagi organisasi intelektual seperti ISMI, angka tersebut tidak boleh membuat masyarakat cepat berpuas diri.
Pertumbuhan ekonomi harus semakin terasa menjadi pekerjaan.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang kompetitif.
"UMKM harus naik kelas," ujarnya.
Sarjana harus melahirkan inovasi. Dan pembangunan harus semakin mampu memperkecil jarak antara pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat.
Di ruang seperti inilah ISMI dapat mengambil peran.
Sarjana Melayu Jangan Hanya Berhimpun
ISMI Provinsi Jambi baru memasuki periode kepengurusan 2026-2030. Ernawati resmi dilantik sebagai Ketua Wilayah pada 19 Juni 2026 bersama jajaran pengurus di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi.
Organisasi ini membawa semangat agar sarjana Melayu tidak berhenti menjadi komunitas yang bertemu dalam kegiatan seremonial.
ISMI harus menjadi rumah gagasan.
Tempat bertemunya akademisi, birokrat, pengusaha, profesional, tokoh agama, pekerja sosial, anak muda dan berbagai disiplin keilmuan untuk memikirkan kebutuhan daerah.
Sebab pembangunan Jambi tidak mungkin hanya dikerjakan pemerintah.
Kampus tidak bisa bekerja sendiri.
Dunia usaha tidak bisa berjalan sendiri.
Begitu pula organisasi masyarakat.
Kemajuan membutuhkan kolaborasi.
Karena itu, momentum kemerdekaan dapat menjadi titik untuk mengonsolidasikan seluruh kader dan pengurus ISMI agar keahlian masing-masing digunakan menjawab persoalan konkret masyarakat.
Sarjana ekonomi dapat membantu pengembangan UMKM.
Sarjana pertanian dapat masuk ke persoalan produktivitas dan hilirisasi hasil perkebunan.
Sarjana pendidikan mengambil bagian meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sarjana teknologi mendorong digitalisasi.
Sarjana hukum menjaga tata kelola dan keadilan.
Begitu pula sarjana kesehatan, sosial, agama, teknik dan disiplin lainnya.
Semangatnya satu: ilmu harus kembali kepada masyarakat.
Jangan Kehilangan Jati Diri di Tengah Kemajuan
Ada dimensi lain yang terus ditekankan Ernawati, identitas Melayu.
Ketika dilantik, ia menegaskan ISMI ingin melahirkan generasi Melayu yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki karakter dan mampu menghadapi kompetisi global.
“ISMI ingin menghadirkan generasi Melayu yang berilmu, berkarakter, beradat, dan mampu bersaing secara global,” kata Ernawati.
Menurut dia, kemajuan dan kebudayaan tidak harus dipertentangkan.
Justru budaya dapat tumbuh menjadi modal sosial sekaligus kekuatan ekonomi.
Ernawati sebelumnya juga mendorong batik Jambi, produk UMKM Melayu serta kesenian dan kebudayaan Melayu untuk semakin dikenal luas.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga kekuatan masa depan,” katanya.
Pesan tersebut memiliki relevansi besar pada usia Indonesia yang telah mencapai 81 tahun.
Kemerdekaan seharusnya membuat masyarakat semakin percaya diri dengan identitasnya tanpa menutup diri terhadap kemajuan dunia.
Modern tanpa kehilangan akar.
Global tanpa kehilangan adat.
Maju dalam teknologi, tetapi tetap memiliki karakter.
Dari Kebudayaan Menjadi Kekuatan Ekonomi
ISMI juga melihat kebudayaan Melayu tidak semestinya berhenti sebagai simbol.
Batik Jambi, kuliner, kriya, seni pertunjukan, sejarah, tradisi, wisata budaya hingga produk kreatif dapat menjadi rantai ekonomi baru jika digarap dengan ilmu pengetahuan, teknologi, pemasaran dan kewirausahaan.
Pandangan ini menjadi semakin penting ketika struktur ekonomi daerah terus bergerak dan Jambi membutuhkan semakin banyak sumber pertumbuhan serta lapangan pekerjaan.
TPT Jambi memang turun menjadi 3,99 persen pada Februari 2026, tetapi jumlah penduduk bekerja tercatat sekitar 1,80 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 830 ribu orang atau 46,21 persen bekerja pada kegiatan formal.
Artinya, ruang pengembangan wirausaha, UMKM, industri kreatif dan ekonomi berbasis pengetahuan tetap sangat besar.
Di sinilah jaringan sarjana Melayu bisa masuk.
Bukan sekadar membuat seminar.
Tetapi mendampingi usaha.
Membuka jaringan pasar.
Mendorong digitalisasi.
Menciptakan produk.
Melakukan penelitian.
Menghubungkan kampus dengan dunia usaha.
Dan melahirkan gagasan pembangunan yang dapat digunakan pemerintah daerah.
Kemerdekaan Harus Melahirkan Kemandirian
Semangat 17 Agustus pada akhirnya bukan hanya persoalan mengenang masa lalu.
Ia juga berbicara mengenai arah masa depan.
Kemerdekaan politik harus diteruskan menjadi kemandirian ekonomi.
Kemerdekaan harus memberi ruang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Petani harus semakin produktif.
UMKM semakin kuat.
Perempuan memperoleh ruang untuk berkarya.
Anak muda mendapatkan pekerjaan dan kesempatan berusaha.
Desa berkembang.
Kebudayaan terpelihara.
Dan masyarakat menikmati hasil pembangunan secara lebih merata.
Bagi ISMI, jalan menuju cita-cita itu salah satunya melalui ilmu pengetahuan.
Karena seorang sarjana pada akhirnya tidak diukur hanya dari gelar yang melekat di belakang namanya.
Tetapi dari seberapa besar ilmunya memberi manfaat.
Itulah spirit yang dibawa Ernawati ketika menegaskan bahwa ilmu harus melahirkan kebijaksanaan dan kemajuan harus tetap berpijak pada agama serta budaya.
Ernawati Dorong Kader ISMI Hadir dalam Pembangunan
Momentum 81 tahun Indonesia merdeka sekaligus menjadi ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar ISMI Jambi.
Pengurus dan kader ISMI memiliki latar belakang keilmuan dan profesi yang beragam.
Modal intelektual tersebut harus dikonsolidasikan menjadi kekuatan pembangunan.
ISMI dapat mengambil posisi sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis pemerintah.
Mendukung kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Memberikan gagasan ketika terdapat persoalan.
Melakukan kajian ketika daerah membutuhkan jalan keluar.
Mengembangkan ekonomi masyarakat.
Menjaga adat dan kebudayaan.
Serta menjadi penghubung antara dunia ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Semangat itu sejalan dengan landasan perjuangan ISMI yang disampaikan Ernawati, yakni memadukan ilmu, iman, akhlak dan kehidupan bermasyarakat serta berpegang pada falsafah Melayu “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.”
Karena itu, peringatan kemerdekaan bukan momentum untuk berhenti pada ucapan.
Ia adalah panggilan untuk bekerja.
Bagi pemerintah, bekerja menghadirkan pelayanan dan pembangunan terbaik.
Bagi dunia usaha, menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
Bagi masyarakat, menjaga persatuan.
Dan bagi kaum sarjana, kemerdekaan adalah panggilan menggunakan ilmu untuk mencerdaskan, memberdayakan dan membangun.
Dari Jambi, ISMI ingin mengambil bagian dalam pekerjaan besar itu.
Membangun daerah.
Menjaga Melayu.
Menguatkan Indonesia.
Dan memastikan bahwa setelah 81 tahun merdeka, generasi hari ini tidak hanya mewarisi kemerdekaan, tetapi juga memberikan sesuatu yang lebih baik kepada generasi berikutnya. (*)