Mencari Titik Tengah Antara Ikhtiar dan Tawakal: Refleksi Perjalanan Hidup Rasulullah

WIB
Ist

Oleh: Zuandanu Pramana*

Ada kalanya dalam hidup kita berada di fase penuh kebingungan, pesimis menghadapi ketidakpastian masa depan, dan kehilangan arah dalam menentukan langkah. Kendati begitu, sebagai manusia yang memang diciptakan lemah, seperti firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 28, berada di titik tersebut bukanlah hal yang tabu.

Sebagian besar anak muda pernah mengalami fase yang dalam istilah psikologi dikenal dengan quarter life crisis, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami krisis emosional, kebingungan, dan krisis identitas. Fase ini biasanya terjadi saat transisi dari remaja ke dunia dewasa yang menuntut kemandirian dalam hal karier, hubungan percintaan, dan keuangan.

Quarter life crisis adalah pintu gerbang menuju titik balik hidup seseorang: makin terjerembab ke dasar atau justru menjadi momentum untuk bangkit dan naik ke tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Melewati fase ini membutuhkan kesabaran dan ketenangan.

Saat menjalani hidup dalam kondisi yang berat, hendaknya kita sebagai umat Islam selalu berpegang pada Al-Qur'an sebagai salah satu pedoman. Di antara pokok kandungan isinya adalah kisah atau sejarah sebagai suatu pengajaran, seperti yang terdapat pada penutup Surah Yusuf: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

Kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Qur'an memiliki maksud dan tujuan yang jelas, yaitu sebagai pengajaran. Mengapa demikian? Karena salah satu sunnatullah—hukum atau ketetapan Allah yang mengatur alam semesta dan kehidupan manusia—adalah sejarah yang terus berulang.

Dalam Surah Ali Imran ayat 137, Allah berfirman, “Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah). Karena itu, berjalanlah kamu ke segenap penjuru bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Allah mengabarkan bahwa sebelum generasi sekarang telah berlalu berbagai sunnatullah yang pola ketetapan-Nya berulang dalam perjalanan sejarah manusia. Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah nasib kaum-kaum yang mendustakan para rasul.

Sejarah mencatat pola yang serupa pada berbagai peradaban: kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkan oleh banjir besar, Fir'aun yang ditenggelamkan di laut pada masa Nabi Musa, serta berbagai umat lain yang menolak kebenaran hingga akhirnya menerima konsekuensi dari pilihan mereka. Semua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa hukum Allah dalam sejarah berjalan secara konsisten dan tidak berubah.

Di antara kalimat tentang berlakunya sunnatullah dan kesudahan orang yang mendustakan rasul, Al-Qur'an menyisipkan sebuah perintah yang sangat penting, yaitu, “Berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah.” Perintah ini tidak berhenti pada aktivitas berjalan dalam arti fisik semata, melainkan mengandung dorongan untuk mencari, meneliti, dan mengkaji jejak-jejak sejarah.

Setelah proses pencarian itu dilakukan, manusia diperintahkan untuk memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Dengan demikian, Al-Qur'an mengajarkan bahwa pemahaman terhadap sunnatullah tidak diperoleh melalui asumsi, melainkan melalui pengamatan yang jujur terhadap fakta-fakta sejarah dan realitas kehidupan.

Pada dasarnya, Al-Qur'an memang firman Allah yang isinya tidak bisa diubah-ubah. Namun, penafsiran suatu ayat tidak selalu kaku dan absolut. Pakar tafsir asal Indonesia, M. Quraish Shihab, mengatakan bahwa Al-Qur'an dapat ditafsirkan dengan pendekatan semantik agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara utuh dan relevan dengan tuntutan zaman.

Dalam Surah Ali Imran ayat 137, secara kontekstual Allah memberi tahu bahwa sejarah memiliki pola yang berulang dan dalam pergulatannya selalu punya kemiripan. Lalu, dengan pendekatan semantik, tafsirnya dapat memiliki makna yang jauh lebih luas, tidak sebatas orang-orang yang mendustakan rasul. Karena sejarah terus berulang dalam bentuk yang beda-beda, jika dahulu ada raja-raja yang zalim, sekarang pun banyak ditemukan pemimpin-pemimpin yang zalim. Di sinilah pentingnya perintah untuk berjalan ke seluruh penjuru dan memperhatikan.

Dalam penutup Surah Yusuf disampaikan bahwa pada kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Qur'an terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Karena ayat ini merupakan penutup Surah Yusuf, maka jika kembali pada isi dan cerita di dalamnya, Allah ingin menegaskan di penghujung cerita mengenai pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Nabi Yusuf, salah satunya tentang kesabaran dalam menghadapi ujian yang begitu berat serta proses panjang menuju terwujudnya mimpi.

Al-Qur'an mengatakan bahwa sejarah berulang dan meminta manusia untuk memperhatikan agar dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah masa lalu. Karena sejarah berulang, kesulitan yang dihadapi generasi pada era sekarang telah dilalui oleh generasi sebelumnya. Meskipun berbeda situasi dan kondisi, pada dasarnya mereka pernah sama-sama merasakan fase sulit. Oleh karena itu, kita diminta untuk memperhatikan agar dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana menghadapi fase sulit dan apa yang harus dilakukan untuk keluar serta bangkit dari fase tersebut.

Sebelum lebih jauh, saya ingin kembali lagi pada quarter life crisis. Pada fase ini, manusia akan mengalami kecemasan berlebih dan penurunan kepercayaan diri yang dapat memicu stres. Kita ambil satu contoh penyebab, misalnya soal ketidakjelasan karier dan kehidupan di masa depan.

Dalam perspektif spiritual Islam, kondisi ini sering kali terjadi ketika manusia terlalu menaruh harapan pada hal-hal yang berada di luar kendalinya. Akibatnya, ia menjadi terbebani oleh sesuatu yang sejatinya merupakan bagian dari ketetapan Allah.

Tugas kita adalah menjalankan tanggung jawab atau berikhtiar dengan sebaik mungkin, karena pada akhirnya hasil sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Sebab, sejatinya manusia hanyalah hamba, dan milik Allah lah kehidupan di dunia dan akhirat.

“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? Tidak, milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS. An-Najm: 24–25).

Kendati begitu, bukan berarti bahwa manusia tidak boleh memiliki harapan dan cita-cita. Sebagai makhluk yang dititipi nafsu atau keinginan, wajar jika manusia selama hidup mengerahkan daya dan upayanya untuk mengejar sesuatu. Namun, hal itu menjadi persoalan manakala kecintaan terhadap sesuatu tersebut berlebihan sehingga membuatnya lupa akan batasan.

Saat menginginkan sesuatu, manusia dianjurkan untuk berikhtiar, baik dengan upaya sendiri maupun dengan campur tangan Allah melalui doa yang dipanjatkan. Akan tetapi, ikhtiar bukan berarti ujungnya adalah keberhasilan. Ketetapan takdir sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Itulah sebabnya ujung dari ikhtiar bukanlah jaminan keberhasilan. Bersamaan dengan perintah berikhtiar, Allah juga memerintahkan manusia untuk bertawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada-Nya setelah semua upaya dilakukan secara maksimal.

Dalam kasus melewati fase quarter life crisis, terlalu menitikberatkan pada ikhtiar tanpa menyiapkan diri untuk bertawakal akan membuat manusia patah dengan lebih sakit pada akhirnya. Sebaliknya pula, terlalu menitikberatkan pada kesiapan bertawakal akan melemahkan ikhtiar sehingga membuatnya mungkin kalah sebelum mengeluarkan usaha maksimal atau memperoleh hasil yang lebih rendah daripada yang seharusnya bisa diraih.

Karena bagaimanapun juga, satu ketetapan pasti dalam hidup yang tidak dapat diubah saat ini adalah kematian. Adapun rezeki, jodoh, dan karier masih dapat berubah melalui ikhtiar, doa, serta pertolongan Allah menurut keyakinan saya.

Maka, jika kita menarik satu garis lurus, dengan titik awal di sebelah kiri sebagai ikhtiar dan titik akhir di sebelah kanan sebagai tawakal, kita perlu berdiri di titik paling tengah dari garis tersebut agar memperoleh hasil yang setidaknya paling melegakan. Lalu, di manakah titik tengah antara ikhtiar dan tawakal itu? Kisah Rasulullah mungkin dapat membawa kita pada titik tengah yang dimaksud.

Menemukan Titik Tengah dalam Perjalanan Rasulullah

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab ayat 21).

Melihat kembali perjalanan hidup Rasulullah melalui berbagai literatur yang ada sama seperti menyusun kepingan puzzle yang ketika utuh akan membentuk sebuah pedoman dalam menjalani kehidupan. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada ayat di atas.

Meski berstatus sebagai manusia paling mulia di sisi Allah, Nabi Muhammad tetaplah seorang manusia. Ada kalanya beliau merasakan kesedihan saat menghadapi ujian yang berat. Pun juga demikian, beliau pernah merasakan ketakutan, kebimbangan, dan kecemasan. Tentu bukan dalam bentuk yang sama seperti yang kita alami hari ini, tetapi perasaan-perasaan tersebut benar-benar pernah hadir dalam perjalanan hidup beliau.

Kecemasan dan ketakutan yang pernah dirasakan Rasulullah memiliki tingkatan yang berbeda dengan yang kita rasakan saat menghadapi ketidakpastian masa depan. Beban yang beliau pikul jauh lebih besar daripada persoalan yang kita hadapi saat ini. Namun, dengan melihat bagaimana Rasulullah menyikapi berbagai ujian tersebut, setidaknya ada pelajaran yang bisa kita ambil dan terapkan.

Ketakutan Rasulullah yang umum kita ketahui adalah saat pertama kali menerima wahyu di Gua Hira, sehingga beliau harus pulang ke rumah dalam keadaan menggigil hebat dan diselimuti oleh Khadijah. Bukan semata-mata karena pertama kali didatangi Malaikat Jibril, tetapi ketakutan tersebut hadir karena beban tanggung jawab yang akan dipikul serta kesiapan menghadapi transisi besar dari seorang manusia biasa menjadi nabi yang membawa risalah.

Menghadapi transisi besar dalam hidup memang tidak mudah, karena manusia harus mengubah total setiap sendi kehidupannya yang lama dan menggantikannya dengan yang baru. Pertanyaannya, saat kita berada dalam fase transisi kelak, mana yang akan kita pilih? Meninggalkan zona nyaman atau mengambil segala risiko pahit yang akan ditemui di depan?

Selain ketakutan, Rasulullah juga pernah mengalami kesedihan dan kebingungan yang teramat sangat. Hal ini terjadi pada masa ketidakpastian saat menunggu turunnya wahyu kedua. Banyak pendapat mengenai lama jeda turunnya wahyu, tetapi yang jelas, selama masa itu Rasulullah merasa sedih dan bingung.

Dikisahkan dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, saat wahyu terputus, Nabi Muhammad menjadi sedih dan berkali-kali berlari ke gunung serta ingin menjatuhkan diri ke jurang. Namun, setiap beliau sampai ke puncak untuk menjatuhkan diri, Malaikat Jibril menampakkan diri dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah!” Motivasi dari Jibril ini memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah beliau ke rumah dalam keadaan tenang. Namun, saat wahyu tak kunjung turun, beliau mengulangi perbuatannya dan Jibril kembali menampakkan wujudnya dengan mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.

Sedikit yang ingin saya ambil dari turunnya wahyu pertama dan kedua, serta dari perasaan takut dan kebingungan yang dirasakan Rasulullah kala itu. Tidak berlebihan jika kita merasa perlu mendapat dukungan dan penguat dari orang terdekat saat berada dalam fase sedih dan kebingungan. Paling tidak, penguat tersebut akan menghadirkan keyakinan yang membantu kita bertahan dan berjalan perlahan melewati semuanya.

Sejak awal, Rasulullah sudah menyiapkan strategi dakwah yang matang sebagai bentuk ikhtiar maksimal. Sampai tiga tahun pertama kenabian, dakwah dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Yang berdampak pada hadirnya para As-Sabiqun Al-Awwalun. Ibnu Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari empat puluh orang. Ikhtiar dengan metode ini dilakukan sampai turun perintah untuk menampakkan dakwah.

Saat beralih ke dakwah secara terang-terangan, ujian dan tantangan semakin nyata dan berat. Mulai dari olok-olok dan penghinaan hingga penyiksaan terhadap para pemeluk Islam. Penyiksaan ini begitu berat sampai-sampai Yasir bin Amir dan Sumayyah binti Khayyat wafat karena menolak meninggalkan Islam.

Sementara itu, Rasulullah sendiri mendapat perlindungan dari Abu Thalib sehingga kaum kafir Quraisy belum mampu melakukan banyak hal buruk. Namun, hal itu tidak berlangsung selamanya. Dengan berjalannya waktu mereka makin menekan Abu Thalib dan semakin berani terhadap Rasulullah. Sampai datang masanya Abu Thalib mulai cemas dan mengkhawatirkan kondisi Rasulullah. Abu Thalib pun memperingatkan beliau, yang dijawab dengan keteguhan hati untuk tetap melanjutkan dakwah.

Dari titik ini tampak bagaimana keteguhan hati Rasulullah dalam berikhtiar menyebarkan dakwah, serta kemantapan jiwa untuk menerima segala konsekuensi yang akan datang di ujungnya dengan bertawakal atau menyerahkan urusan tersebut kepada Allah. Pascaperingatan itu, Rasulullah tidak hanya mendapat cemoohan dan hinaan, tetapi juga perbuatan jahat yang langsung menyasar fisik.

Di tengah kondisi yang semakin pelik dan tekanan yang semakin kuat, seberkas cahaya menyinari dakwah Islam dan menghangatkan para sahabat dengan masuknya pemuda gagah berani, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang kemudian disusul tiga hari setelahnya oleh Umar bin Khattab. Peristiwa ini menjadi momentum yang baik bagi perjalanan dakwah Rasulullah.

Dari sedikit kisah ini, mulai dari ketakutan, kebingungan, hingga semacam perasaan frustrasi yang menyelimuti Rasulullah sampai ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung, sampai dengan perjalanan berat memulai dakwah dengan berbagai tekanan yang mengancam nyawa, ada satu hal menarik yang ingin saya tarik sebagai titik tengah dari ikhtiar dan tawakal yang diterapkan dalam proses perjalanan itu.

Saat turun wahyu pertama dan Rasulullah menggigil karena takut dan cemas, sehingga beliau merasa khawatir dengan keadaan dirinya sendiri, Khadijah hadir untuk memberikan penguatan dan menghadirkan keyakinan di dalam diri Rasulullah.

Di fase kegamangan menunggu turunnya wahyu kedua hingga beliau merasa sedih dan kebingungan, sampai-sampai berulang kali ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung, Jibril hadir untuk memberi penguatan dan keyakinan.

Khadijah memberi Rasulullah keyakinan bahwa yang diterimanya adalah benar wahyu dari Allah, bukan sebuah kesesatan, sehingga menghilangkan keraguan terhadap dirinya dan menghadirkan keyakinan. Begitu pula dengan Jibril yang berkata, “Sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah.” Ini adalah awal fondasi penting yang harus dimiliki sebelum melangkah lebih jauh. Jibril menguatkan keyakinan dalam diri Rasulullah yang sebelumnya sudah dihadirkan dengan bantuan Khadijah.

Keyakinan menjadi satu hal yang menarik bagi saya. Dengan keyakinan ini, Rasulullah mulai menapaki pijakan yang lebih kuat dalam berdakwah, meskipun itu harus dilalui dengan langkah yang perlahan. Bahkan saat dakwah semakin berat dengan tekanan terhadap Abu Thalib yang semakin kuat dan ancaman yang semakin nyata kepada Rasulullah serta para pengikutnya, dengan keyakinan itu beliau tetap melangkah sampai seberkas cahaya bernama Hamzah dan Umar masuk menyertai perjuangan.

Bagi saya, keyakinan menjadi titik tengah antara ikhtiar dan tawakal. Maka, saat perintah untuk menampakkan dakwah itu turun kepada Rasulullah, dengan keyakinan yang dimiliki, beliau sanggup menghadapi segala macam risiko yang akan datang. Keyakinan tidak hadir secara spontan. Keyakinan hadir melalui proses hingga akhirnya bisa semakin kokoh.

Dimulai dari Khadijah yang menghadirkan keyakinan bahwa orang yang memiliki akhlak baik seperti beliau tidak mungkin disesatkan dan benar telah menerima wahyu. Lalu Allah menguji keyakinan itu dengan menjeda turunnya wahyu kedua untuk menguji serta membangun keyakinan yang lebih kokoh lagi. Kemudian, dengan hadirnya Jibril yang terus mengatakan bahwa beliau benar-benar utusan Allah, maka saat keyakinan itu semakin kokoh, Allah akhirnya menurunkan wahyu kedua kepada Rasulullah.

Setelah itu, wahyu datang secara berturut-turut dan tidak lagi terjeda dalam jangka waktu yang lama. Hal ini makin mengokohkan keyakinan Rasulullah sehingga saat perintah untuk menampakkan dakwah itu turun, beliau segera melaksanakannya dan tetap menjalankannya meski mendapat tantangan yang berat. Salah satunya karena keyakinan: keyakinan bahwa beliau benar menerima wahyu, keyakinan bahwa beliau benar utusan Allah, dan keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan beliau yang telah dipilih untuk menerima wahyu dan menjadi utusan-Nya.

Hal tersebut membuat Rasulullah terus berjalan, berikhtiar memperjuangkan dakwah dengan keyakinan bahwa pada ujungnya urusan itu akan kembali kepada Allah. Rasulullah berada di titik tengah bernama keyakinan.

Maka, sebagai suri teladan, hendaknya kita juga mengambil pelajaran dari apa yang kita dapatkan. Dalam menjalani kehidupan saat sedang berada dalam fase berat, menghadirkan keyakinan itu penting, lalu memperkokoh dan menjaganya jauh lebih penting.

Dengan keyakinan, kita bisa terus melangkah ke depan. Dengan keyakinan yang berada di tengah garis ikhtiar dan tawakal, kita akan merasa lebih lega. Karena dengan keyakinan, kita percaya bahwa nanti pada ujungnya, hasil apa pun yang diterima adalah yang terbaik. Sebab, kita yakin sudah berikhtiar semaksimal mungkin dan yakin pula bahwa ketika urusan itu dikembalikan kepada Allah, maka itulah sebaik-baiknya takdir.

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Catatan:

Ada perbedaan pandangan ulama mengenai terputusnya wahyu dan respons Rasulullah yang ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung.

Ulama tafsir dan pakar sirah seperti Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi menegaskan bahwa kejadian tersebut menunjukkan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad serta besarnya rasa takut dan kerinduan beliau kepada Allah. Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa wahyu hanyalah halusinasi. Sebab, jika itu adalah karangan beliau sendiri, tentu beliau tidak akan merasa cemas dan gelisah saat wahyu tidak turun.

Sebaliknya, M. Quraish Shihab tidak sependapat dengan hadis riwayat Imam Bukhari tersebut, yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sangat sedih ketika wahyu terhenti sehingga membuatnya berniat untuk bunuh diri. Setidaknya ada dua alasan ketidaksepakatan yang dikemukakan terhadap hadis tersebut.

Pertama, riwayat tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa masa terhentinya wahyu berlangsung sangat lama. Padahal, terdapat riwayat lain yang menyebutkan bahwa wahyu terhenti hanya selama beberapa hari.

Kedua, Imam Bukhari tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan informasi dalam hadis tersebut.

Terlepas dari berbagai perdebatan yang ada, hendaknya kita mengambil hikmah dan pelajaran yang baik dari kisah-kisah tersebut.

Penulis merupakan lulusan Pendidikan Agama Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi angkatan 2019.

BeritaSatu Network