oleh :
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS
Pidato pemimpin bang besar Ir. Soekarno yang berjudul “Let a New Asia and a New Africa be Born”, bukan sekadar pengantar sebuah forum diplomatik, melainkan pernyataan geopolitik yang melampaui zamannya. Disampaikan di Gedung Merdeka, pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (KTT Asia–Afrika atau KAA), sebuah pertemuan negara-negara Asia dan Afrika yang sebagian besar baru saja merdeka, yang berlangsung pada tanggal 18–24 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Kala itu, dua puluh sembilan negara yang berpartisipasi mewakili total populasi 1,5 miliar orang, 54 persen dari populasi dunia.
Maka menjadi jelaslah bahwa pidato Bung Karno itu menjadi titik balik kesadaran bagi bangsa-bangsa yang lama berada di pinggiran sejarah dunia. Ia mengandung keberanian untuk menantang struktur global yang timpang dan menegaskan, bahwa dunia tidak seharusnya terus didefinisikan oleh segelintir kekuatan besar. Dalam gema kata-kata Bung Karno, tersirat keyakinan bahwa Asia dan Afrika bukan sekadar wilayah geografis, melainkan kekuatan politik dan moral yang sedang mencari bentuknya.
Apa yang disampaikan presiden pertama RI Ir. Soekarno pada 1955 itu tidak berhenti pada kritik terhadap kolonialisme dalam bentuk klasik. Ia mengingatkan bahwa kolonialisme dapat berubah rupa —dari penguasaan wilayah menjadi dominasi ekonomi, dari kontrol militer menjadi hegemoni pengetahuan. Dalam lanskap Perang Dingin, peringatan ini menjadi kritik terhadap dua kutub kekuatan yang sama-sama berpotensi menciptakan ketergantungan baru.
Namun, lebih dari itu, pidato tersebut menawarkan cara pandang yang tetap relevan hingga kini. Dunia kontemporer memang tidak lagi terbelah secara ideologis seperti dahulu. Tetapi justru bergerak dalam ketidakpastian yang lebih kompleks: rivalitas kekuatan besar, fragmentasi ekonomi global, serta perebutan pengaruh di ruang-ruang strategis seperti teknologi, energi, dan jalur perdagangan.
Dalam situasi global yang cair dan sering kali tidak terprediksi, semangat KAA kembali menemukan relevansinya. Ketika negara-negara besar saling berkompetisi untuk memperluas pengaruh, negara-negara berkembang kerap ditempatkan dalam posisi dilematis: mengikuti arus atau mempertahankan otonomi. Di sinilah makna solidaritas Asia-Afrika menjadi penting. Seruan untuk melahirkan Asia dan Afrika baru bukan sekadar retorika, melainkan strategi geopolitik untuk membangun posisi tawar kolektif.
Maka Konferensi Asia-Afrika 1955 pun hingga kini relevan, di mana ia sekaligus memperlihatkan bagaimana solidaritas tersebut dapat diwujudkan dalam forum konkret. Konferensi ini menjadi simbol kebangkitan Global South. Di bawah koordinasi Indonesia, forum ini merumuskan agenda bersama yang menolak kolonialisme dan mendorong kerja sama lintas kawasan. Yang menarik, agenda ini tidak dibangun di atas konfrontasi, melainkan pada upaya mencari jalan tengah di tengah polarisasi global.
Puncak dari proses tersebut adalah lahirnya Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang hingga kini tetap menjadi rujukan normatif dalam hubungan internasional. Prinsip-prinsip seperti penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, serta penyelesaian sengketa secara damai menawarkan alternatif terhadap praktik kekuasaan yang sering kali bersifat koersif. Dalam konteks Perserikatan Bangsa-Bangsa, nilai-nilai ini sejalan dengan norma internasional, tetapi memiliki keunikan karena lahir dari pengalaman historis negara-negara yang pernah mengalami penjajahan.
Dengan demikian, Dasasila Bandung tidak hanya bersifat universal, tetapi juga kontekstual. Tambahan pula hari-hari ini semakin jelas realitas global diwarnai oleh konflik berkepanjangan, intervensi sepihak, serta meningkatnya ketegangan antarnegara. Dalam banyak kasus, prinsip non-intervensi dilanggar, kedaulatan negara diabaikan, dan penyelesaian damai sering kali digantikan oleh pendekatan kekuatan.
Dalam konteks Indonesia, posisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Sebagai negara dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia tidak hanya dituntut untuk menjaga kedaulatan nasional, tetapi juga memainkan peran sebagai penyeimbang dalam percaturan global. Warisan nilai-nilai KAA memberikan fondasi normatif bagi Indonesia untuk tidak terjebak dalam logika blok kekuatan, melainkan mengedepankan diplomasi yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Relevansi Dasasila Bandung dalam geopolitik Indonesia masa kini juga terlihat dalam upaya memperkuat solidaritas regional dan antarnegara berkembang. Inisiatif kerja sama Selatan-Selatan, penguatan peran dalam organisasi multilateral, serta keterlibatan aktif dalam isu-isu global seperti keamanan maritim menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar menjadi objek dari dinamika global, tetapi juga subjek yang berkontribusi dalam membentuk arah tatanan dunia.
Maka membaca ulang Dasasila Bandung di tengah realitas geopolitik hari ini bukanlah sekadar nostalgia historis, melainkan kebutuhan strategis. Dunia yang semakin terfragmentasi membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok, lebih banyak kerja sama daripada konfrontasi. Indonesia, dengan pengalaman historis dan posisi geopolitiknya, memiliki peluang untuk menjadi penghubung di antara kepentingan yang saling berseberangan.
Dalam peran itulah, semangat Dasali Bandung menemukan makna barunya—sebagai panduan untuk merawat perdamaian, menjaga keseimbangan, dan memastikan bahwa tatanan global tetap berpijak pada prinsip kesetaraan dan penghormatan antarbangsa. Dari sinilah KAA adalah refleksi tentang bagaimana bangsa-bangsa dapat merumuskan jalan mereka sendiri di tengah tekanan global. Ia mengajarkan bahwa kedaulatan tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan, tetapi juga melalui solidaritas dan prinsip.
Dalam dunia yang semakin tidak menentu, nilai-nilai yang lahir dari KAA dan terwujud dalam Dasasila Bandung –tetap menjadi kompas moral yang relevan. Bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai pijakan untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan, sekaligus memastikan bahwa tatanan dunia yang lebih adil tetap menjadi tujuan bersama umat manusia. Agar bangsa Indonesia memperingati hari bersejarah untuk Indonesia Raya.
*Penulis adalah adalah Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan