Petani Pejuang” atau Pejuang Dibiarkan Berjuang Sendiri?

WIB
IST


Oleh: M. Moynafi

Slogan “Petani Pejuang” yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Kerinci terdengar heroik di baliho, pidato, dan media sosial. Namun di sawah-sawah Desa Karang Pandan dan wilayah sekitarnya, slogan itu justru terasa seperti ironi yang menyakitkan.

Hari ini, petani Karang Pandan tidak sedang berjuang melawan hama atau cuaca ekstrem. Mereka berjuang menghadapi keringnya sungai akibat aktivitas manusia, berjuang tanpa kepastian air, dan berjuang sendirian tanpa kehadiran negara yang seharusnya melindungi mereka.

Sungai yang mengalir dari Jembatan Panjang hingga Karang Kerinci kini menyusut drastis, bahkan membentuk pulau-pulau pasir di tengah alirannya. Kondisi ini bukan fenomena alam biasa. Masyarakat menyebut, kekeringan parah ini muncul pasca adanya pekerjaan dan penggalian di pintu air PLTA. Fakta ini seharusnya cukup untuk memicu alarm darurat pemerintah daerah.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: kincir air berhenti berputar, sawah mengering, dan petani terancam gagal tanam serta gagal panen, sementara pejabat sibuk merawat slogan.

Jika petani benar-benar dianggap pejuang, maka pertanyaannya sederhana: mengapa sumber kehidupan mereka—air—dibiarkan hilang tanpa perlindungan? Pejuang macam apa yang dipaksa bertarung tanpa senjata, tanpa logistik, dan tanpa komando?

Lebih ironis lagi, Dinas Pertanian Kabupaten Kerinci yang seharusnya berada di garis depan perlindungan petani justru terlihat absen dari krisis ini. Tidak ada langkah darurat yang jelas, tidak ada mitigasi cepat, tidak ada suara keras membela sawah rakyat yang terancam puso. Ketika air berhenti mengalir, fungsi dinas pun seolah ikut mengering.

Slogan “Petani Pejuang” akhirnya tak lebih dari komoditas politik—indah diucapkan, kosong di pelaksanaan. Sebab bagi petani Karang Pandan, perjuangan hari ini bukan soal semangat, melainkan soal hak dasar yang diabaikan.
Pemerintah daerah dan pengelola PLTA tak bisa terus berlindung di balik dalih pembangunan dan energi. Pembangunan yang mengorbankan sawah rakyat adalah pembangunan yang kehilangan nurani. Ketahanan pangan tidak dibangun dari pidato, melainkan dari air yang mengalir ke sawah.

Jika situasi ini terus dibiarkan, maka sejarah akan mencatat: di saat petani disebut pejuang, mereka justru ditinggalkan di medan perang bernama kebijakan yang abai.
Dan publik berhak bertanya: apakah slogan itu lahir untuk membela petani, atau sekadar meninabobokan mereka?(*)

BeritaSatu Network