Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Ekonomi Internasional
Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Tenaga Ahli Gubernur Jambi
Tidak ada daerah yang berkembang di ruang yang hampa. Setiap perubahan yang terjadi di belahan dunia lain, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya sendiri menuju daerah-daerah yang sebelumnya terasa jauh dari pusat peristiwa.
Kenaikan harga minyak di Timur Tengah memengaruhi ongkos angkut. Perlambatan ekonomi Tiongkok memengaruhi permintaan batu bara dan kelapa sawit. Perubahan kebijakan perdagangan di Amerika Serikat dan Uni Eropa ikut menentukan arah investasi.
Dunia yang semakin saling terhubung membuat batas geografis kehilangan banyak maknanya.
Perubahan seperti itulah yang sedang berlangsung saat ini. Persaingan ekonomi global tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam paling melimpah.
Nilai ekonomi bergeser menuju inovasi, teknologi, efisiensi, energi bersih, serta kemampuan membangun rantai nilai yang semakin panjang.
Laporan-laporan terbaru World Bank, IMF, dan OECD sama-sama menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada dekade mendatang akan semakin ditentukan oleh produktivitas dan kualitas institusi, bukan semata-mata oleh kekayaan sumber daya alam.
Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang relevan bagi setiap daerah, termasuk Jambi.
Arah pembangunan yang berhasil membawa daerah bertumbuh selama dua puluh tahun terakhir belum tentu cukup untuk menghadapi dua puluh tahun berikutnya.
Pertanyaan itu bukan muncul karena Jambi sedang mengalami kemunduran. Sebaliknya, pertanyaan tersebut lahir justru karena fondasi ekonomi yang telah dibangun selama ini perlu dipersiapkan menghadapi tantangan yang berbeda.
Gambaran ekonomi Jambi sesungguhnya memberikan alasan untuk optimistis.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi menunjukkan perekonomian daerah masih tumbuh positif, ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, konstruksi, dan berbagai aktivitas jasa.
Investasi terus bergerak, infrastruktur berkembang, konektivitas semakin baik, sementara berbagai program pembangunan mulai memperluas kapasitas ekonomi daerah.
Seluruh capaian tersebut merupakan modal yang sangat berharga untuk melangkah ke tahap pembangunan berikutnya.
Optimisme tersebut, bagaimanapun, perlu disertai dengan kemampuan membaca perubahan yang sedang berlangsung.
Pengalaman banyak negara memperlihatkan bahwa keberhasilan pada satu periode sering kali menimbulkan rasa nyaman yang membuat kebutuhan untuk berubah terasa kurang mendesak.
Padahal, dunia tidak pernah berhenti bergerak. Negara, provinsi, bahkan kabupaten yang mampu membaca perubahan lebih awal biasanya memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah lain.
Pelajaran tersebut tampak jelas dalam perjalanan ekonomi Asia.
Korea Selatan pada dekade 1970-an dikenal sebagai negara penghasil tekstil dan produk padat karya. Singapura pada awal kemerdekaannya mengandalkan perdagangan pelabuhan. Tiongkok memulai kebangkitan ekonomi melalui industri manufaktur berbiaya murah.
Tidak satu pun berhenti pada keunggulan awalnya. Seluruhnya terus mengubah struktur ekonomi seiring perubahan dunia. Kemampuan beradaptasi itulah yang kemudian menjadi sumber daya saing utama.
Arah perubahan global sekarang juga bergerak sangat cepat.
Transisi menuju energi rendah karbon mulai memengaruhi pola investasi. Digitalisasi mengubah cara perusahaan memproduksi dan memasarkan barang. Kecerdasan buatan meningkatkan efisiensi di hampir seluruh sektor ekonomi.
Persaingan antarwilayah tidak lagi hanya mengenai ketersediaan lahan atau sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia, kemudahan berusaha, kepastian regulasi, serta kemampuan menghadirkan inovasi.
Posisi Jambi dalam perubahan tersebut sesungguhnya cukup strategis.
Kekayaan sumber daya alam tetap menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah. Letak geografis yang berada di koridor ekonomi Sumatra memberikan keuntungan logistik. Infrastruktur yang terus berkembang membuka akses yang semakin luas.
Perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah memiliki kesempatan membangun kolaborasi yang lebih erat dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah Jambi memiliki potensi untuk berkembang. Jawaban atas pertanyaan itu sudah lama diketahui.
Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi tersebut diubah menjadi daya saing yang mampu bertahan ketika arah ekonomi dunia berubah.
Perubahan sudut pandang inilah yang akan menentukan posisi Jambi pada satu atau dua dekade mendatang.
Pembahasan mengenai arah tersebut menjadi semakin penting karena ukuran keberhasilan pembangunan juga sedang berubah.
Pertumbuhan ekonomi tetap diperlukan, tetapi pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Kualitas pertumbuhan, kemampuan menciptakan lapangan kerja yang produktif, peningkatan nilai tambah, pemerataan kesempatan, serta daya tahan menghadapi guncangan global kini menjadi ukuran yang tidak kalah penting.
Dari titik inilah diskusi mengenai masa depan Jambi perlu dimulai: bukan dari apa yang sudah dimiliki, melainkan dari ke mana arah pembangunan akan dibawa ketika dunia memasuki babak yang benar-benar baru.
Perubahan arah ekonomi dunia membawa konsekuensi yang tidak sederhana.
Keunggulan suatu daerah tidak lagi hanya diukur dari banyaknya sumber daya alam yang dimiliki, melainkan dari kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai tambah yang berkelanjutan.
Pergeseran inilah yang mulai membentuk peta persaingan baru antardaerah maupun antarnegara.
Laporan World Bank dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan jangka panjang semakin ditentukan oleh produktivitas, kualitas institusi, inovasi, dan kemampuan menciptakan ekosistem usaha yang sehat.
Gambaran serupa juga muncul dalam berbagai kajian OECD yang menempatkan kualitas sumber daya manusia, kemudahan berusaha, dan penguasaan teknologi sebagai penentu utama daya saing ekonomi.
Pesan yang muncul cukup jelas: kekayaan alam tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kemajuan.
Arah perubahan tersebut justru menghadirkan peluang bagi Jambi. Modal dasar pembangunan sesungguhnya telah tersedia.
Pertanian, perkebunan, pertambangan, perdagangan, dan jasa telah membentuk struktur ekonomi yang relatif kokoh. Infrastruktur terus berkembang, konektivitas antarwilayah semakin membaik, sementara investasi menunjukkan tren yang positif.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi memperlihatkan bahwa perekonomian daerah masih mampu tumbuh di tengah perlambatan ekonomi global.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa fondasi pembangunan telah dibangun dengan cukup baik.
Tahap pembangunan berikutnya memerlukan orientasi yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi tetap penting, tetapi kualitas pertumbuhan menjadi jauh lebih menentukan.
Nilai tambah yang tercipta di dalam daerah perlu terus diperbesar agar manfaat pembangunan semakin luas dirasakan oleh masyarakat.
Ukuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada besarnya investasi yang masuk, melainkan juga pada kemampuan investasi tersebut menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat dunia usaha lokal, dan memperluas basis ekonomi daerah.
Perhatian juga perlu diarahkan pada munculnya sektor-sektor ekonomi baru yang melengkapi kekuatan sektor unggulan.
Pertanian modern, industri pangan, jasa logistik, ekonomi digital, pariwisata berbasis budaya dan alam, industri kreatif, serta layanan kesehatan dan pendidikan memiliki peluang berkembang seiring meningkatnya kualitas infrastruktur dan konektivitas.
Kehadiran sektor-sektor tersebut bukan untuk menggantikan komoditas unggulan, melainkan memperkuat struktur ekonomi agar lebih seimbang dan lebih tahan menghadapi perubahan.
Perubahan pola pembangunan tersebut memerlukan dukungan sumber daya manusia yang adaptif.
Dunia usaha saat ini semakin membutuhkan tenaga kerja yang mampu menguasai teknologi, berinovasi, serta belajar secara berkelanjutan.
Perguruan tinggi, dunia pendidikan vokasi, pelaku usaha, dan pemerintah daerah memiliki ruang kolaborasi yang semakin luas untuk menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
Penguatan kualitas manusia pada akhirnya akan menjadi investasi yang menghasilkan manfaat jauh melampaui satu periode pembangunan.
Perhatian berikutnya berkaitan dengan iklim investasi. Persaingan menarik investasi kini tidak hanya terjadi antardaerah di Indonesia, tetapi juga dengan berbagai kawasan di Asia Tenggara.
Kemudahan perizinan, kepastian hukum, efisiensi birokrasi, kualitas infrastruktur, dan kepastian pasokan energi menjadi faktor yang semakin menentukan keputusan investor.
Keunggulan tersebut akan menjadi pembeda ketika banyak daerah menawarkan potensi sumber daya alam yang relatif serupa.
Posisi Jambi sesungguhnya memiliki nilai strategis dalam persaingan tersebut.
Letaknya berada pada jalur ekonomi Sumatra yang terus berkembang, didukung potensi perkebunan, pertambangan, serta kawasan pesisir yang membuka akses menuju perdagangan internasional.
Potensi tersebut akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila dihubungkan dengan penguatan kawasan industri, pengembangan pusat logistik, peningkatan konektivitas antarmoda, serta tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di berbagai kabupaten dan kota.
Seluruh agenda tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu membangun ekonomi daerah yang semakin tangguh menghadapi perubahan.
Dunia akan terus berubah. Harga komoditas akan terus bergerak mengikuti siklus global. Teknologi akan terus berkembang. Persaingan investasi akan semakin ketat.
Kemampuan beradaptasi menjadi faktor yang membedakan daerah yang hanya mengikuti perubahan dengan daerah yang mampu memanfaatkan perubahan sebagai peluang.
Keunggulan Jambi tidak terletak semata-mata pada kekayaan sumber daya alamnya, melainkan pada kemampuan mengelola modal tersebut menjadi sumber daya saing baru.
Arah pembangunan yang sedang ditempuh telah memberikan fondasi yang kuat. Tantangan berikutnya adalah mempercepat transformasi agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Perjalanan menuju tahap tersebut tentu tidak berlangsung dalam semalam. Setiap periode pembangunan memiliki tantangannya sendiri.
Masa ketika sumber daya alam menjadi penggerak utama telah memberikan banyak manfaat bagi Jambi. Masa yang sedang datang menuntut sesuatu yang lebih besar, yaitu kemampuan membangun ekonomi yang tetap tumbuh ketika dunia berubah.
Di situlah ukuran keberhasilan pembangunan pada dekade mendatang akan ditentukan. Bukan semata-mata oleh besarnya potensi yang dimiliki, melainkan oleh kecerdasan dalam mengubah potensi tersebut menjadi daya saing yang mampu bertahan melintasi setiap perubahan zaman.