Aula Kantor Wali Kota Sungai Penuh, Kamis pagi, 21 Mei 2026, menjadi tempat banyak kegelisahan ditumpahkan.
Soal jalan. Soal sampah. Soal kampus. Soal adat. Soal geopark. Soal anak muda. Soal masa depan Kerinci dan Sungai Penuh yang lama berada di balik bukit, diapit gunung, jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari pusat logistik, tapi dekat dengan harapan besar.
Pemerintah Provinsi Jambi melalui Tim Tenaga Ahli Gubernur atau TAG melanjutkan agenda Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) di Kota Sungai Penuh. Kegiatan ini digelar di Aula Kantor Wali Kota Sungai Penuh, mulai pukul 08.30 WIB sampai selesai, dengan notulis Dr. Fahmi Rasid.
Forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pembangunan antara Pemprov Jambi dengan pemerintah kabupaten/kota, terutama dalam merumuskan solusi strategis bagi kawasan Kerinci dan Sungai Penuh.
Tema besarnya tidak kecil, yakni penguatan pembangunan kawasan Kerinci dan Sungai Penuh.
Isinya lebih besar lagi. Mulai dari konektivitas wilayah, pariwisata, sumber daya manusia, lingkungan hidup, ekonomi lokal, adat, pendidikan, pemuda, olahraga, sampai komunikasi publik pemerintah.
Diskusi itu berlangsung dinamis. Unsur pemerintah daerah hadir. Akademisi hadir. Tokoh adat hadir. Organisasi masyarakat hadir. Pemuda hadir. Anggota DPRD Provinsi Jambi juga ikut memberi pandangan.
Satu hal terasa kuat dalam forum itu, Kerinci dan Sungai Penuh ingin lebih dekat.
Dekat ke Jambi. Dekat ke Padang. Dekat ke pusat ekonomi. Dekat ke pusat kebijakan. Dekat ke masa depan.

Syahrasaddin: Anggaran Boleh Terbatas, Kreativitas Jangan Ikut Diamputasi
Kegiatan dibuka dengan tiga sambutan utama. Dari unsur TAG Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Kerinci, dan Pemerintah Kota Sungai Penuh.
Ketua TAG Provinsi Jambi, Ir. H. Syahrasaddin, M.Si, membuka arah diskusi dengan isu besar, fiskal daerah.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini menghadapi tantangan besar dalam tata kelola pembangunan. Terutama setelah kondisi fiskal nasional ikut berdampak pada kemampuan keuangan daerah.
Syahrasaddin menyebut ada dua strategi besar yang kini harus dihadapi daerah.
Pertama, kebijakan efisiensi atau semacam “amputasi” anggaran secara desentralisasi dari pemerintah pusat.
Kedua, keharusan merevisi dokumen perencanaan pembangunan lima tahun ke depan agar program prioritas tetap berjalan efektif dan tepat sasaran.
"Anggaran memang bisa menipis. Tapi gagasan tak boleh ikut kempis," ujarnya.
Mantan Sekda Provinsi Jambi itu menegaskan, keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti membangun. Justru kondisi itu harus menjadi momentum bagi daerah untuk melahirkan kreativitas dan inovasi.
Menurutnya, daerah harus mampu menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara lebih kreatif dan berkelanjutan.
"Salah satu jalan yang perlu diperkuat adalah hilirisasi potensi lokal agar daerah memiliki kemandirian fiskal yang lebih kuat," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa DRR digelar sebagai wadah konsolidasi pemikiran strategis. Forum ini mempertemukan pemerintah provinsi, pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat pembangunan daerah.
Harapannya, forum ini tidak berhenti sebagai diskusi.
Tapi melahirkan gagasan konkret. Rekomendasi strategis. Sesuatu yang bisa diperjuangkan bersama ke Pemprov Jambi maupun pemerintah pusat.

Kerinci Bicara SDM Digital, Kesehatan, Infrastruktur dan Sampah
Dari Pemerintah Kabupaten Kerinci, sambutan disampaikan Dr. Yalnizar, Staf Ahli Bupati Kerinci Bidang Perekonomian dan Pembangunan.
Ia mengapresiasi pelaksanaan DRR di Kota Sungai Penuh. Menurutnya, forum ini strategis untuk menyerap aspirasi pembangunan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh.
Yalnizar menyampaikan beberapa isu penting.
Pertama, digitalisasi sumber daya manusia. Transformasi digital, katanya, menjadi tantangan sekaligus peluang. SDM Kerinci harus disiapkan agar mampu beradaptasi dengan teknologi dan ekonomi digital.
Kedua, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Pemerintah daerah terus berupaya memperluas akses layanan kesehatan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat, berkualitas, dan merata.
Ketiga, infrastruktur. Ini masih menjadi tantangan utama di Kerinci dan Sungai Penuh.
Apalagi dua daerah ini punya potensi wisata alam yang besar. Tanpa infrastruktur strategis, wisata hanya jadi cerita indah di brosur. Sulit menjadi mesin ekonomi.
Yalnizar juga menyinggung persoalan pengelolaan persampahan di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Masalah ini dinilai membutuhkan solusi terpadu dan dukungan anggaran memadai.
Ia berharap hasil DRR menjadi perhatian bersama untuk mempercepat pembangunan kawasan Kerinci dan Sungai Penuh.
Azhar Hamzah Usul Fly Over, Jalan Tembus Sungai Penuh-Tapan dan Kerinci-Bungo
Sambutan Pemerintah Kota Sungai Penuh disampaikan Wakil Wali Kota Azhar Hamzah.
Azhar menyampaikan bahwa Pemkot Sungai Penuh terus berupaya meningkatkan pembangunan melalui penguatan pelayanan dasar, terutama pendidikan dan kesehatan.
Di bidang kesehatan, salah satu fokus utama pemerintah daerah adalah penanganan stunting. Pemkot Sungai Penuh telah melahirkan inovasi Program 3S yang digagas Ketua TP PKK Kota Sungai Penuh, Ibu Sri Kartini Alfin, S.Kep.Ns.
Selain itu, Pemkot Sungai Penuh juga melakukan revitalisasi RSUD untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
Di bidang infrastruktur dan ekonomi, Pemkot Sungai Penuh terus melakukan penataan wajah kota, pembangunan pasar, optimalisasi lahan oplah, pengelolaan sungai, serta pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Simpang Tiga Rawang.
Namun, ada satu isu yang paling kuat disampaikan Azhar, konektivitas.
Ia meminta dukungan Pemprov Jambi di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi dari pemerintah pusat. Secara khusus, Azhar mengusulkan agar TAG Gubernur Jambi melakukan kajian pembangunan jalan layang atau fly over, jalan tembus Sungai Penuh-Tapan, serta Kerinci-Bungo.
Tujuannya sederhana, tapi besar: mempercepat konektivitas wilayah.
Menurut Azhar, jarak tempuh yang panjang menuju Kota Jambi maupun Sumatera Barat menyebabkan tingginya biaya transportasi dan menurunkan efisiensi mobilitas masyarakat.
Jalan yang panjang kadang bukan cuma soal kilometer.
Ia bisa menjadi jarak antara petani dan pasar. Antara anak muda dan kampus. Antara wisatawan dan destinasi. Antara daerah dan masa depannya.
Azhar berharap Pemprov Jambi dan DPRD Provinsi Jambi ikut memperjuangkan peningkatan konektivitas dan aksesibilitas Kerinci-Sungai Penuh. Setelah itu, ia secara resmi membuka kegiatan DRR.

Bapperida Kerinci Dorong Fly Over, Terowongan dan Jalan Tembus
Memasuki sesi diskusi, forum mulai hidup.
Kepala Bapperida Kabupaten Kerinci, Joni Zeber, S.H., M.H, menjadi salah satu peserta yang menyoroti isu konektivitas.
Ia mempertanyakan dan mendorong percepatan solusi akses wilayah Kerinci dan Sungai Penuh yang selama ini dianggap masih terisolasi akibat kondisi geografis pegunungan dan keterbatasan akses jalan.
Ada empat aspirasi utama yang ia sampaikan.
Pertama, perlunya kajian pembangunan fly over, terowongan, dan jalan tembus untuk mempercepat akses transportasi dari Kerinci menuju Kota Jambi maupun Padang.
Kedua, pemerintah diminta serius mengatasi keterisolasian Kerinci dan Sungai Penuh. Kondisi ini berdampak langsung pada lambatnya pertumbuhan ekonomi, distribusi barang, biaya logistik, serta pengembangan pariwisata.
Ketiga, ia mempertanyakan kemungkinan pembangunan akses jalan yang melintasi kawasan TNKS atau Taman Nasional Kerinci Seblat, tentu dengan memperhatikan regulasi dan lingkungan hidup.
Keempat, ia mendorong perhatian pemerintah terhadap pengembangan Geopark Kerinci agar dapat berkembang menjadi kawasan geopark dengan pengakuan nasional maupun internasional.
Pesan besarnya jelas, konektivitas Kerinci harus naik kelas menjadi agenda strategis pembangunan provinsi dan nasional.
DLH Kerinci Minta TPST, Evaluasi TPA Regional
Dari sektor lingkungan hidup, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kerinci Neneng Susanti, S.Hut., M.Si menyampaikan persoalan sampah.
Sampah di kawasan wisata bukan perkara kecil.
Ia bisa mengganggu wajah kota. Merusak citra pariwisata. Mencederai kawasan konservasi. Dan pada akhirnya menjadi beban generasi.
Neneng menyoroti pengelolaan sampah di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Ia berharap sistem TPA Regional yang selama ini dianggap kurang efektif dapat dievaluasi, bahkan ditiadakan apabila tidak memberikan solusi optimal bagi daerah.
Ia juga meminta dukungan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat untuk pembangunan TPST atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kabupaten Kerinci.
Selain itu, ia mempertanyakan langkah konkret pemerintah dalam mendukung sistem pengelolaan sampah modern dan ramah lingkungan.
Neneng ingin pengelolaan lingkungan hidup menjadi prioritas. Apalagi Kerinci merupakan kawasan wisata sekaligus kawasan konservasi yang harus dijaga kebersihannya.
Pembangunan, dalam pandangannya, harus berjalan bersama keberlanjutan lingkungan.

LAM Kerinci Minta Pengakuan Masyarakat Hukum Adat
Dari unsur adat, Sekjen LAM Kabupaten Kerinci Sarwandi membawa isu yang tidak kalah penting, penguatan adat dan budaya.
Ia menyampaikan perlunya pengakuan resmi terhadap masyarakat hukum adat di Kabupaten Kerinci sebagai bagian dari perlindungan identitas budaya masyarakat.
Sarwandi juga berharap ada dukungan anggaran pemerintah untuk memperkuat kelembagaan adat dan kegiatan pelestarian budaya Kerinci.
Ia mendorong agar pendidikan muatan lokal tentang adat dan budaya Kerinci dimasukkan lebih serius dalam kurikulum pendidikan daerah.
Kekhawatirannya jelas: nilai budaya dan pengetahuan adat mulai luntur di kalangan generasi muda akibat perkembangan zaman dan globalisasi.
Pembangunan, katanya, tak boleh hanya berbicara tentang jalan dan ekonomi.
Ia juga harus menjaga akar.
Sebab daerah yang kehilangan adatnya, pelan-pelan bisa kehilangan wajahnya sendiri.
Pemuda Pelopor: Jangan Biarkan Pembangunan Kerinci Berjalan Lambat
Suara generasi muda disampaikan Giffari Halika, Pemuda Pelopor Kota Sungai Penuh.
Giffari menyampaikan banyak aspirasi. Nadanya muda. Tapi substansinya serius.
Ia mempertanyakan sejauh mana keseriusan Pemprov Jambi dalam merealisasikan pembangunan jalan layang, jalan tembus, dan peningkatan konektivitas wilayah Kerinci-Sungai Penuh.
Ia juga mempertanyakan tindak lanjut janji pembangunan Jalan Renah Pemetik yang sebelumnya telah disampaikan Gubernur Jambi.
Selain itu, Giffari menyoroti kondisi jalan evakuasi yang masih rusak dan membutuhkan perhatian segera.
Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar kepada generasi muda melalui pembangunan pendidikan, fasilitas, dan ruang pengembangan kreativitas.
Giffari juga mempertanyakan kemungkinan hadirnya Universitas Jambi (UNJA) di Kerinci yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Dengan begitu, masyarakat tidak harus keluar daerah untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas.
Ia juga mendorong budaya Kerinci dan Sungai Penuh dikembangkan sebagai identitas daerah sekaligus kekuatan pariwisata.
Satu lagi yang ia singgung, Bukit Khayangan.
Kawasan ini diklaim masuk TNKS sehingga membutuhkan kejelasan regulasi agar tetap dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan.
Secara umum, Giffari membawa harapan besar generasi muda: pembangunan Kerinci dan Sungai Penuh jangan berjalan lambat.
Mereka butuh akses. Butuh pendidikan. Butuh ekonomi. Butuh masa depan.

Ridwansyah: Daerah Harus Menjemput Program Pusat
Menanggapi berbagai aspirasi itu, Dr. H. Muhammad Ridwansyah, S.E., M.Sc menekankan bahwa pembangunan daerah tidak bisa lagi dilakukan dengan cara biasa.
Harus inovatif. Harus punya visi jangka panjang.
Menurut Ridwansyah, gagasan pembangunan fly over, jalan tembus, maupun terowongan bukan sekadar proyek fisik. Itu adalah strategi besar untuk mengatasi keterisolasian Kerinci dan Sungai Penuh.
Keterisolasian, katanya, menjadi salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di wilayah tersebut.
Ia mendorong Ketua Bappeda Sungai Penuh dan Kerinci aktif berkoordinasi dengan Bappenas agar program strategis daerah dapat masuk prioritas nasional.
Ridwansyah juga mengingatkan keterbatasan APBD. Karena itu daerah perlu mencari alternatif pembiayaan. Salah satunya melalui skema KPBU atau Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha.
Skema ini dinilai dapat membuka peluang pendanaan proyek besar seperti fly over dan pengelolaan sampah modern.
Ia juga menegaskan bahwa Jalan Renah Pemetik sebenarnya sudah masuk dalam Perpres dan RPJMN, sehingga peluang realisasinya cukup besar jika terus diperjuangkan bersama.
Selain itu, Bandara Depati Parbo juga telah masuk perhatian pemerintah pusat.
Pesannya pendek, daerah jangan hanya menunggu.
Daerah harus menjemput.
Dr Agus: Geopark Butuh Kekompakan, Bukit Khayangan Bisa Dikembangkan
Dr. Agus, S.Sos., M.Hum memberi penekanan pada isu geopark.
Ia menjelaskan bahwa Geopark Kerinci sebelumnya sempat melibatkan empat kabupaten. Namun, karena pengelolaan dan koordinasi antarwilayah kurang solid, UNESCO akhirnya hanya menetapkan Geopark Merangin.
Ini menjadi pelajaran penting.
Potensi besar tidak cukup. Harus ada kekompakan. Harus ada sinergi. Harus ada tata kelola.
Dr. Agus menyatakan siap ikut berdiskusi dan memberikan kontribusi pemikiran demi kemajuan Geopark Sakti Alam Kerinci.
Menurutnya, langkah awal yang penting adalah penetapan warisan geologi terlebih dahulu. Itu menjadi dasar legal dan akademik dalam pengembangan geopark.
Ia juga menjelaskan bahwa Bukit Khayangan memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui konsep zona pemanfaatan pariwisata.
Artinya, wisata tetap bisa bergerak. Tapi harus terencana. Berbasis konservasi. Dan tetap menjaga keseimbangan alam.

Awin: Setiap ASN Adalah Corong Pemerintah
Dari sisi komunikasi publik, Muawwin, M.M menyoroti tantangan era digital.
Menurutnya, arus informasi digital berkembang sangat cepat. Di tengah arus itu, manipulasi fakta dan penyebaran informasi tidak benar sering terjadi.
Karena itu, pemerintah daerah harus membangun komunikasi publik yang baik dan terpercaya.
Ia menekankan bahwa OPD tidak boleh hanya bekerja secara administratif. OPD juga harus mampu menjadi juru bicara pemerintah dalam menjelaskan program pembangunan kepada masyarakat secara benar dan terbuka.
Ia bahkan menyebut bahwa setiap ASN saat ini adalah “corong pemerintah.”
Maksudnya bukan sekadar bicara.
Tapi menjelaskan. Meluruskan. Mencerahkan. Menjaga ruang publik agar tidak dikuasai hoaks dan informasi negatif.
Awin mendorong pemerintah daerah lebih serius membangun literasi digital dan komunikasi publik yang sehat. Sebab informasi yang buruk juga bisa menghambat pembangunan.
Kadang jalan tidak hanya macet karena aspal rusak.
Jalan pembangunan juga bisa macet karena informasi yang bengkok.
Suandi: Jangan Terus Jual Bahan Mentah
Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si., IPU membawa isu ekonomi lokal.
Ia menekankan bahwa tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, seluruh komoditas primer daerah seperti pertanian, perkebunan, dan hasil alam harus didorong menjadi lebih produktif dan memiliki nilai tambah.
Daerah tidak boleh terus bergantung pada penjualan bahan mentah.
Harus mulai memikirkan hilirisasi agar ekonomi masyarakat meningkat.
Suandi juga menyampaikan optimisme terkait peluang pendirian kampus UNJA di Kerinci maupun Sungai Penuh.
Menurutnya, peningkatan kualitas SDM dan penguatan ekonomi lokal harus berjalan beriringan. Kehadiran perguruan tinggi di daerah dapat menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang mendukung kemajuan Kerinci dan Sungai Penuh.

Haryadi: Daerah Bisa Dirikan Universitas Sendiri
Prof. Dr. Haryadi, S.E., M.MS menyampaikan pandangan bahwa daerah sebenarnya memiliki peluang mendirikan universitas sendiri yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Namun, ia juga membuka ruang kolaborasi dengan Universitas Jambi agar pengembangan pendidikan tinggi dapat berjalan lebih cepat dan realistis.
Selain itu, Haryadi menyampaikan bahwa persoalan Jalan Renah Pemetik akan diteruskan kepada Gubernur Jambi sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan konektivitas masyarakat.
Bagi Haryadi, pendidikan dan infrastruktur adalah dua fondasi utama kemajuan daerah.
Satu membuka pikiran. Satu membuka jalan.
Keduanya harus berjalan bersama.
Arpani: Adat Penting, Tapi Fiskal Harus Realistis
Drs. H. Arpani, M.Si menyoroti persoalan defisit anggaran yang sedang dihadapi banyak daerah.
Ia menjelaskan, keterbatasan fiskal membuat pemerintah harus lebih selektif dalam memberikan dukungan program. Termasuk kepada lembaga adat seperti LAM Provinsi Jambi.
Arpani mengingatkan bahwa penguatan adat dan budaya tetap penting. Namun realisasi dukungan anggaran sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
Karena itu, semua pihak diminta memahami kondisi fiskal pemerintah saat ini.
Pesannya realistis, kebutuhan pembangunan harus diseimbangkan dengan kemampuan anggaran daerah.
Tidak semua keinginan bisa langsung dibiayai. Tapi tidak berarti semuanya harus berhenti.

Sukendro: Pemuda Jangan Jadi Penonton Pembangunan
Prof. Dr. Drs. Sukendro, M.Jes., AIFO menyoroti peran pemuda dan olahraga.
Menurutnya, banyak potensi olahraga di Kerinci dan Sungai Penuh yang belum dikembangkan secara maksimal.
Pembinaan olahraga, katanya, tidak hanya berdampak pada prestasi. Lebih jauh, olahraga menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat harus memberi perhatian lebih terhadap pengembangan pemuda dan olahraga.
Sukendro juga menyatakan kesiapan untuk bersama-sama mencari dukungan dana ke pemerintah pusat demi pengembangan olahraga daerah.
Maksud utamanya jelas, pemuda jangan hanya menjadi penonton pembangunan.
Mereka harus menjadi bagian dari kemajuan daerah.
Mukhtar Latif: Anak-anak Harus Kenal Adat Sejak Dini
Prof. Dr. H. Mukhtar Latif, M.Pd memberi tekanan pada dunia pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Pendidikan juga harus memperkuat karakter dan identitas budaya daerah.
Anak-anak harus mengenal adat, budaya, sejarah, dan nilai lokal sejak dini. Tujuannya agar mereka tidak kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi.
Karena itu, pemerintah daerah diminta serius memasukkan nilai budaya lokal ke dalam kurikulum pendidikan sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda.
Ilmu membuat anak-anak mampu pergi jauh.
Adat membuat mereka tahu jalan pulang.
Johanes: Pariwisata Kerinci Bisa Dikembangkan Lewat MICE
Prof. Dr. Johanes, S.E., M.Si melihat peluang besar sektor pariwisata Kerinci dan Sungai Penuh.
Menurutnya, pariwisata daerah dapat dikembangkan melalui konsep MICE atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition.
Pariwisata tidak hanya soal keindahan alam. Tapi juga bagaimana menciptakan kegiatan berskala nasional maupun internasional yang mampu menarik kunjungan wisatawan.
Johanes menyebut tradisi budaya seperti Kenduri Sko dapat masuk dalam konsep tersebut sebagai daya tarik budaya yang unik dan bernilai tinggi.
Dengan begitu, pariwisata Kerinci-Sungai Penuh bisa dikembangkan secara modern dan terintegrasi, menggabungkan potensi alam, budaya, dan ekonomi kreatif.

Amrizal: APBD Rp3,8 Triliun Harus Tepat Sasaran
Anggota DPRD Provinsi Jambi Amrizal menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang baik dan pelibatan seluruh unsur masyarakat dalam pembangunan daerah.
Ia menyebut APBD Provinsi Jambi sebesar Rp3,8 triliun harus digunakan secara efektif dan tepat sasaran.
Amrizal juga menekankan pentingnya menegakkan adat dalam kehidupan masyarakat sebagai fondasi sosial pembangunan daerah.
Selain mengandalkan APBD, pemerintah menurutnya harus aktif menggali dukungan perusahaan melalui program CSR.
Terkait Jalan Renah Pemetik, Amrizal menyampaikan proyek tersebut sudah mulai dikerjakan. Namun ia mengingatkan, setiap pembangunan harus dipastikan terlebih dahulu kesiapan pendanaannya agar tidak berhenti di tengah jalan.
Pembangunan, bagi Amrizal, membutuhkan kolaborasi semua pihak: pemerintah, DPRD, masyarakat adat, dunia usaha, dan masyarakat luas.
Ini 10 Rekomendasi Strategis untuk Gubernur Jambi
Dari forum DRR tersebut, lahir 10 rekomendasi strategis kepada Gubernur Jambi.
Pertama, percepatan kajian dan perencanaan konektivitas wilayah.
Pemprov Jambi diharapkan mendorong percepatan kajian teknis dan akademik terkait pembangunan jalan tembus, fly over, maupun terowongan yang menghubungkan Kerinci, Sungai Penuh, Jambi, dan Sumatera Barat.
Tujuannya untuk mengurangi keterisolasian wilayah serta meningkatkan konektivitas ekonomi dan pariwisata.
Usulan yang mengemuka adalah kajian pembangunan jalan layang atau fly over Sungai Penuh-Tapan dan Kerinci-Bungo.
Kedua, penguatan koordinasi dengan pemerintah pusat.
Pemprov Jambi perlu memperkuat koordinasi dengan Kementerian PUPR, Bappenas, dan kementerian terkait agar program strategis seperti Jalan Renah Pemetik, pengembangan Bandara Depati Parbo, serta infrastruktur kawasan Kerinci dapat menjadi prioritas nasional dan memperoleh dukungan pembiayaan pusat.
Ketiga, penyusunan blueprint pengembangan kawasan Kerinci-Sungai Penuh.
Blueprint ini harus terintegrasi. Isinya mencakup infrastruktur, pariwisata, pendidikan, lingkungan hidup, ekonomi kreatif, pertanian, dan budaya sebagai arah pembangunan jangka menengah dan panjang.
Keempat, penguatan pariwisata berbasis geopark dan budaya.
Pemprov Jambi diharapkan mendorong percepatan pengembangan Geopark Sakti Alam Kerinci, termasuk penguatan legalitas warisan geologi, pengembangan destinasi wisata Bukit Khayangan, serta penguatan event budaya seperti Kenduri Sko sebagai bagian dari konsep pariwisata berbasis MICE.
Kelima, dukungan pengembangan pendidikan tinggi di Kerinci dan Sungai Penuh.
Pemprov Jambi diharapkan memfasilitasi pengembangan pendidikan tinggi, baik melalui pengembangan kampus UNJA maupun dukungan terhadap pembentukan perguruan tinggi lokal yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Keenam, penguatan pengelolaan lingkungan hidup dan persampahan.
Pemprov Jambi perlu mendukung sistem pengelolaan sampah modern melalui pendekatan TPST dan skema pembiayaan inovatif, termasuk peluang KPBU, guna menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat di Kerinci dan Sungai Penuh.
Ketujuh, penguatan peran pemuda dan olahraga.
Diperlukan perhatian serius terhadap pengembangan potensi pemuda dan olahraga melalui pembinaan berkelanjutan, penyediaan sarana olahraga, serta dukungan akses pendanaan dari pemerintah pusat maupun pihak swasta.
Kedelapan, penguatan adat dan muatan lokal pendidikan.
Pemprov Jambi diharapkan mendukung penguatan kelembagaan adat serta mendorong pengembangan kurikulum muatan lokal berbasis nilai budaya dan karakter daerah.
Kesembilan, optimalisasi komunikasi publik pemerintah.
Seluruh OPD diharapkan meningkatkan kapasitas komunikasi publik dan literasi digital agar informasi pembangunan tersampaikan secara baik, transparan, dan mampu menangkal penyebaran informasi tidak benar.
Kesepuluh, penguatan kolaborasi lintas pemerintah dan stakeholder.
Pemprov Jambi diharapkan terus memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, DPRD, akademisi, dunia usaha, lembaga adat, organisasi masyarakat, dan pemuda dalam mempercepat pembangunan Kerinci-Sungai Penuh secara berkelanjutan dan berkeadilan.
DRR TAG Gubernur Jambi di Kota Sungai Penuh berlangsung lancar, tertib, dinamis, dan penuh semangat kolaboratif.
Forum ini mempertemukan Pemprov Jambi, Pemkab Kerinci, Pemkot Sungai Penuh, DPRD Provinsi Jambi, akademisi, tokoh adat, organisasi masyarakat, pemuda, dan perangkat daerah untuk membahas isu pembangunan prioritas kawasan Kerinci dan Sungai Penuh.
Dari forum itu, muncul gagasan, kritik konstruktif, dan usulan strategis.
Isu utamanya jelas: konektivitas melalui jalan tembus, fly over, dan terowongan; pengembangan pariwisata berbasis geopark dan budaya; penguatan lingkungan dan pengelolaan sampah; penguatan adat dan muatan lokal pendidikan; peningkatan SDM; serta pengembangan ekonomi produktif dan kepemudaan.
Forum ini juga menegaskan bahwa tantangan pembangunan di tengah keterbatasan fiskal membutuhkan inovasi, sinergi lintas sektor, dan keberanian membangun pola kerja kolaboratif.
Hasil diskusi, aspirasi, dan rekomendasi itu akan menjadi bahan masukan strategis bagi Pemprov Jambi melalui TAG Gubernur dalam merumuskan arah kebijakan pembangunan yang lebih terintegrasi, inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
DRR ini juga memperlihatkan besarnya harapan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh terhadap percepatan pembangunan konektivitas.
Akses yang lebih baik diyakini akan membuka peluang ekonomi baru, memperkuat pariwisata, memperlancar distribusi hasil pertanian, meningkatkan investasi daerah, dan mempercepat pemerataan pembangunan di kawasan pegunungan Jambi bagian barat.
Namun pembangunan juga tidak boleh mencabut akar.
Adat, budaya, dan identitas lokal harus tetap menjadi kekuatan sosial. Bukan sekadar pelengkap acara. Bukan hanya pakaian seremoni. Tapi jiwa dari pembangunan itu sendiri.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar sinergi antara Pemprov Jambi, Pemkab Kerinci, Pemkot Sungai Penuh, DPRD, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat.
Tujuannya satu: mewujudkan kawasan Kerinci dan Sungai Penuh yang maju, terhubung, berdaya saing, berbudaya, dan sejahtera.
Kerinci dan Sungai Penuh memang jauh.
Tapi jauh bukan alasan untuk ditinggalkan.
Kadang, daerah yang paling jauh justru menyimpan harapan paling besar.(*)