Nakes Ribut Honor, RSUD Abundjani Anggarkan Ventilator Rp1 Miliar, Listrik Rp1,07 Miliar, hingga Limbah B3 Rp540 Juta

WIB
IST

Merangin – Kisruh honor dan gaji tenaga kesehatan di RSUD Kolonel Abundjani Bangko membuka satu pertanyaan besar.

Sebenarnya, seperti apa postur anggaran rumah sakit itu pada 2026?

Apakah anggarannya sudah menjawab kebutuhan riil rumah sakit? Apakah sudah menyentuh fasilitas pelayanan? Apakah ada porsi untuk peningkatan SDM dan kesejahteraan tenaga kesehatan? Atau anggarannya masih berjalan di jalur lama, alat dibeli, gedung dibangun, tapi manusia yang menggerakkan layanan tetap tertinggal?

Berdasarkan data RUP tahun anggaran 2026, RSUD Kolonel Abundjani Bangko memiliki sedikitnya 25 paket pengadaan dengan total nilai Rp5.219.628.500.

Seluruh paket berada pada instansi Kabupaten Merangin, satuan kerja RSUD Kolonel Abundjani - 1.02.0.00.0.00.02.0029.

Dari total itu, dana terbesar berasal dari BLUD, yakni Rp4.169.628.500. Sementara dari APBD hanya Rp1.050.000.000.

Inilah titik paradoksnya.

Di satu sisi, RSUD Kolonel Abundjani sedang disorot karena krisis honor dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Di sisi lain, postur pengadaan 2026 justru didominasi belanja alat kesehatan, instalasi listrik, limbah B3, dan pembangunan fisik.

Tidak tampak satu pun paket yang secara eksplisit menyebut pelatihan tenaga kesehatan, peningkatan kapasitas SDM, sertifikasi operator alat, pembayaran honor nakes, atau program kesejahteraan pegawai.

Jika dilihat dari sumber dana, komposisinya sebagai berikut:

Sumber DanaJumlah PaketTotal Nilai
BLUD22 paketRp4.169.628.500
APBD3 paketRp1.050.000.000
Total25 paketRp5.219.628.500

Dari sisi metode pengadaan, mayoritas paket memakai E-Purchasing.

Metode PengadaanJumlah PaketTotal Nilai
E-Purchasing19 paketRp3.507.128.500
Pengadaan Langsung5 paketRp712.500.000
Tender1 paketRp1.000.000.000
Total25 paketRp5.219.628.500

Sementara dari sisi jenis pengadaan, belanja paling besar berada pada kategori Barang.

Jenis PengadaanJumlah PaketTotal Nilai
Barang20 paketRp3.092.971.250
Jasa Lainnya2 paketRp1.076.657.250
Pekerjaan Konstruksi1 paketRp1.000.000.000
Jasa Konsultansi2 paketRp50.000.000
Total25 paketRp5.219.628.500

Jika dilihat berdasarkan fungsi belanja, postur anggaran RSUD Kolonel Abundjani 2026 terbagi ke tiga kelompok besar.

Pertama, alat kesehatan dan alat pendukung layanan klinis. Totalnya sekitar Rp2.433.814.000 atau 46,63 persen dari total pengadaan.

Kelompok ini mencakup ventilator, patient monitor, syringe pump, infus pump, tabung oksigen, regulator oksigen, stetoskop, blood bank refrigerator, dan alat medis lainnya.

Kedua, fasilitas, utilitas, dan infrastruktur rumah sakit. Totalnya sekitar Rp2.223.314.500 atau 42,59 persen.

Kelompok ini mencakup pembangunan bangunan kesehatan, dua paket penambahan instalasi/jaringan listrik, outlet gas medis, jasa konsultansi perencanaan, dan jasa konsultansi pengawasan.

Ketiga, pengelolaan sampah dan limbah. Totalnya Rp562.500.000 atau 10,78 persen.

Kelompok ini mencakup pengangkutan sampah TPA dan pengolahan serta pengangkutan limbah B3.

Berikut rekapnya:

Kelompok BelanjaTotal NilaiPersentase
Alat kesehatan dan pendukung klinisRp2.433.814.00046,63%
Fasilitas, utilitas, dan infrastrukturRp2.223.314.50042,59%
Sampah dan limbahRp562.500.00010,78%
TotalRp5.219.628.500100%

Dari komposisi ini, terlihat bahwa anggaran RSUD Kolonel Abundjani 2026 lebih banyak diarahkan untuk alat, fasilitas, utilitas, dan kewajiban operasional teknis.

Secara kebutuhan rumah sakit, sebagian belanja itu relevan.

Ventilator dibutuhkan. Patient monitor dibutuhkan. Limbah B3 wajib dikelola. Instalasi listrik penting. Bangunan kesehatan bisa memperluas layanan.

Namun secara konteks krisis, postur ini belum sepenuhnya menjawab masalah paling panas yang sedang bergolak di internal rumah sakit, yakni SDM dan kesejahteraan tenaga kesehatan.

Paket terbesar adalah Ventilator Dewasa dengan Kode RUP 65823227.

Nilainya Rp1.005.000.000.

Sumber dananya BLUD. Cara pengadaan Penyedia. Metodenya E-Purchasing. Jenis pengadaannya Barang.

Paket terbesar kedua adalah Pembangunan Bangunan Kesehatan dengan Kode RUP 64415928 senilai Rp1.000.000.000. Sumber dananya APBD. Metodenya Tender. Jenis pengadaannya Pekerjaan Konstruksi.

Paket terbesar ketiga adalah Patient Monitor Dewasa dengan Kode RUP 65823512 senilai Rp680.400.000.

Berikut lima paket terbesar:

NoNama PaketKode RUPSumber DanaMetodeJenisNilai
1Ventilator Dewasa65823227BLUDE-PurchasingBarangRp1.005.000.000
2Pembangunan Bangunan Kesehatan64415928APBDTenderPekerjaan KonstruksiRp1.000.000.000
3Patient Monitor Dewasa65823512BLUDE-PurchasingBarangRp680.400.000
4Belanja Jasa Pengolahan dan Pengangkutan Sampah Limbah B365824551BLUDPengadaan LangsungJasa LainnyaRp540.000.000
5Belanja Penambahan Instalasi/jaringan Listrik66626126BLUDE-PurchasingJasa LainnyaRp536.657.250

Lima paket terbesar ini mencapai Rp3.762.057.250.

Artinya, sekitar 72,08 persen dari total nilai 25 paket terserap hanya pada lima paket.

Berikut seluruh data pengadaan RSUD Kolonel Abundjani Bangko tahun anggaran 2026:

NoNama PaketKode RUPSumber DanaMetode PengadaanJenis PengadaanProduk Dalam NegeriTotal Nilai
1Alat Kedokteran dan Alat Kesehatan lainnya65819974BLUDE-PurchasingBarangYaRp79.900.000
2Elektro Terapi65821064BLUDE-PurchasingBarangYaRp6.800.000
3Belanja Outlet Gas Medis65823965BLUDPengadaan LangsungBarangYaRp100.000.000
4Belanja Penambahan Instalasi/jaringan Listrik66626126BLUDE-PurchasingJasa LainnyaYaRp536.657.250
5Jasa Konsultansi Perencanaan64415930APBDPengadaan LangsungJasa KonsultansiYaRp30.000.000
6Patient Monitor Infant65823329BLUDE-PurchasingBarangYaRp97.200.000
7Table Top Sentrifuge Tabung Reaksi65820866BLUDE-PurchasingBarangYaRp15.000.000
8Stetoscope (Bayi/Anak)65822603BLUDE-PurchasingBarangYaRp6.000.000
9Tiang Infus65823755BLUDE-PurchasingBarangYaRp24.000.000
10Jasa Konsultansi Pengawasan64415929APBDPengadaan LangsungJasa KonsultansiYaRp20.000.000
11Blood Bank Refrigerator65820442BLUDE-PurchasingBarangYaRp130.000.000
12Tabung Oxigen Besar 6M3 New65821277BLUDE-PurchasingBarangYaRp52.900.000
13Infus Pump65823069BLUDE-PurchasingBarangYaRp33.500.000
14Ventilator Dewasa65823227BLUDE-PurchasingBarangYaRp1.005.000.000
15Stetoscope (Dewasa)65822433BLUDE-PurchasingBarangYaRp9.000.000
16Belanja Jasa Pengangkutan Sampah TPA65824319BLUDPengadaan LangsungBarangYaRp22.500.000
17Patient Monitor Dewasa65823512BLUDE-PurchasingBarangYaRp680.400.000
18Syrenge Pump65822978BLUDE-PurchasingBarangYaRp264.000.000
19Washing Trolly65822754BLUDE-PurchasingBarangYaRp10.000.000
20Regulator Oxygen65823654BLUDE-PurchasingBarangYaRp7.714.000
21Donor Tube Stripper (tang hand sealer)65820701BLUDE-PurchasingBarangYaRp10.000.000
22Pembangunan Bangunan Kesehatan64415928APBDTenderPekerjaan KonstruksiYaRp1.000.000.000
23Belanja Penambahan Instalasi/jaringan Listrik66626154BLUDE-PurchasingBarangYaRp536.657.250
24Belanja Jasa Pengolahan dan Pengangkutan Sampah Limbah B365824551BLUDPengadaan LangsungJasa LainnyaYaRp540.000.000
25Sponge Coper Elektroterapi65822240BLUDE-PurchasingBarangYaRp2.400.000
TotalRp5.219.628.500

Jika dilihat dari kebutuhan fasilitas rumah sakit, sebagian besar paket memang punya relevansi.

Ventilator Dewasa senilai Rp1,005 miliar jelas penting untuk pasien kritis. Patient Monitor Dewasa Rp680,4 juta dan Patient Monitor Infant Rp97,2 juta juga penting untuk pemantauan pasien. Blood Bank Refrigerator Rp130 juta penting untuk penyimpanan darah. Infus Pump dan Syringe Pump penting untuk terapi medis presisi. Tabung oksigen, regulator oxygen, outlet gas medis, dan stetoskop juga merupakan kebutuhan dasar pelayanan klinis.

Artinya, tidak semua anggaran bisa disebut mubazir.

Banyak yang memang dibutuhkan rumah sakit.

Namun persoalannya bukan hanya apakah barang itu penting.

Persoalannya adalah apakah postur anggaran ini menjawab kebutuhan paling riil RSUD Kolonel Abundjani saat ini.

Kebutuhan riil rumah sakit bukan hanya alat. Ada tiga kebutuhan besar yang harus berjalan bersama.

Pertama, alat dan fasilitas.

Kedua, operasional dan likuiditas.

Ketiga, SDM dan kesejahteraan tenaga kesehatan.

Dalam data 2026 ini, belanja alat dan fasilitas terlihat jelas. Belanja pengelolaan limbah juga terlihat. Belanja listrik dan bangunan terlihat.

Namun belanja SDM tidak tampak secara eksplisit.

Di sinilah letak ketimpangannya.

RSUD Kolonel Abundjani bisa saja punya ventilator baru. Bisa punya patient monitor. Bisa punya bangunan tambahan. Bisa punya instalasi listrik baru.

Tapi jika tenaga kesehatan masih dihantui ketidakpastian honor, fasilitas itu tidak akan bekerja maksimal.

Ada satu hal yang patut disorot.

Paket Belanja Penambahan Instalasi/jaringan Listrik muncul dua kali.

Pertama, dengan Kode RUP 66626126, sumber dana BLUD, metode E-Purchasing, jenis pengadaan Jasa Lainnya, nilai Rp536.657.250.

Kedua, dengan Kode RUP 66626154, sumber dana BLUD, metode E-Purchasing, jenis pengadaan Barang, nilai Rp536.657.250.

Namanya sama. Nilainya sama. Sumber dananya sama. Metodenya sama. Tapi jenis pengadaannya berbeda.

Total dua paket ini mencapai Rp1.073.314.500.

Ini harus dijelaskan.

Apakah satu paket untuk jasa pemasangan dan satu paket untuk material? Apakah untuk lokasi berbeda? Apakah untuk gedung berbeda? Apakah terkait alat medis baru? Atau ada kesalahan input?

Pertanyaan ini penting karena belanja listrik memang bisa sangat relevan untuk rumah sakit. Terutama jika rumah sakit ingin mengoperasikan alat berat seperti ventilator, CT Scan, Cath Lab, MOT, atau fasilitas intensif lain.

Tapi relevansi itu harus dibuktikan dengan rincian ruang lingkup.

Dalam pengadaan publik, nama paket yang sama dan nilai yang sama selalu layak mendapat lampu sorot.

Paket Belanja Jasa Pengolahan dan Pengangkutan Sampah Limbah B3 bernilai Rp540.000.000.

Belanja ini penting. Rumah sakit menghasilkan limbah berbahaya. Jarum suntik, bahan infeksius, cairan medis, sisa laboratorium, dan limbah berisiko tidak boleh dikelola sembarangan.

Namun karena nilainya besar dan metodenya Pengadaan Langsung, publik perlu tahu lebih rinci.

Berapa volume limbah B3 yang dihasilkan RSUD? Berapa kali pengangkutan? Siapa penyedianya? Apakah penyedia memiliki izin lengkap? Ke mana limbah dibawa? Bagaimana bukti manifest limbahnya? Apakah ada audit pengelolaan?

Jika tidak dibuka, belanja limbah B3 bisa menjadi ruang gelap baru.

Bukan karena limbah B3 tidak penting.

Justru karena penting, pengawasannya harus ketat.

Paket Pembangunan Bangunan Kesehatan senilai Rp1.000.000.000 bersumber dari APBD dan menggunakan metode tender.

Belanja fisik seperti ini bisa berdampak positif jika bangunan yang dibangun menjawab kebutuhan pelayanan.

Misalnya ruang rawat, ruang layanan baru, instalasi penunjang, atau fasilitas yang memang selama ini kurang.

Namun dalam konteks RSUD Kolonel Abundjani yang sedang mengalami krisis honor, utang, dan ketidakstabilan SDM, proyek fisik juga harus ditanya, apakah ini kebutuhan paling mendesak?

Sejumlah warga Merangin meminta postur anggaran RSUD Kolonel Abundjani tidak hanya dilihat dari besarnya nilai pengadaan, tetapi dari dampaknya terhadap layanan.

Seorang warga Bangko, Rusdi, mengatakan masyarakat tentu mendukung pembelian alat kesehatan sepanjang benar-benar dipakai untuk pasien.

“Ventilator, monitor pasien, alat oksigen itu penting. Tapi jangan sampai alat dibeli, nakes tetap menjerit soal honor. Kalau orang yang mengoperasikan alat tidak sejahtera, pelayanan tetap terganggu,” ujarnya.

Warga lainnya, Ampra, menilai RSUD harus lebih berani membuka rincian anggaran kepada publik.

“Kalau listrik sampai dua paket nilainya sama, jelaskan. Kalau limbah B3 Rp540 juta, jelaskan volumenya. Kalau ventilator Rp1 miliar, jelaskan berapa unit dan siapa operatornya. Masyarakat tidak anti pembangunan, tapi jangan disuruh percaya begitu saja,” katanya.

Seorang keluarga pasien, Rusdi, mengatakan pengalaman warga berhadapan dengan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh alat.

“Pasien itu butuh dokter, perawat, obat, pelayanan cepat, dan sikap ramah. Alat canggih bagus, tapi kalau petugasnya kurang, capek, atau gajinya bermasalah, yang kena tetap pasien,” ujarnya.

Sementara warga lain mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terjebak pada pembangunan yang terlihat megah.

“Jangan hanya bangga beli alat dan bangun gedung. Yang penting layanan hidup. Kalau nakes mogok lagi, ventilator Rp1 miliar itu tidak bisa melayani sendiri,” katanya.

Apakah Rp5,21 Miliar Cukup untuk Satu Tahun?

Jika hanya membaca daftar pengadaan, angka Rp5.219.628.500 terlihat besar.

Tapi untuk ukuran rumah sakit daerah yang sedang menanggung krisis operasional, angka itu sebenarnya tidak besar.

Apalagi RSUD Kolonel Abundjani Bangko bukan sekadar puskesmas besar. Ia rumah sakit rujukan daerah. Melayani pasien umum. Pasien BPJS. Pasien gawat darurat. Pasien rawat inap. Pasien rujukan. Bahkan menjadi tumpuan layanan kesehatan bagi masyarakat Merangin dan wilayah sekitar.

Dengan beban seperti itu, anggaran pengadaan Rp5,21 miliar untuk satu tahun hanya cukup untuk menutup sebagian kebutuhan teknis. Bukan menyelesaikan keseluruhan masalah rumah sakit.

Angka itu bisa membeli alat. Bisa membayar sebagian jasa. Bisa memperbaiki instalasi listrik. Bisa mengelola limbah. Bisa membangun satu bangunan kesehatan.

Tapi angka itu tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit utama RSUD jika tidak disertai pembenahan keuangan, SDM, dan dukungan APBD yang lebih kuat.

Sebab luka RSUD Kolonel Abundjani bukan hanya kekurangan alat.

Lukanya ada di likuiditas. Di utang. Di klaim BPJS. Di honor tenaga kesehatan. Di beban pegawai. Di manajemen. Di kepercayaan publik.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Kolonel Abundjani, dr. Irwan Kurniawan, membeberkan alasan di balik tersendatnya pembayaran gaji para nakes tersebut. Usut punya usut, ada kendala komunikasi administrasi terkait landasan hukum penggunaan anggaran.

"Selama ini, kita tidak tahu ada surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan pada akhir tahun 2025 yang lalu. Di perjanjian tersebut sudah jelas dan terang benderang jika pegawai P3K PW bisa dibayarkan dengan menggunakan anggaran BLUD RSUD itu sendiri," ungkap dr. Irwan kepada awak media.

Setelah surat 'kunci' pencairan tersebut akhirnya dikantongi oleh manajemen, Irwan langsung menginstruksikan agar hak para nakes segera diselesaikan. "Nah, sekarang kita sudah mendapatkan surat perjanjian tersebut, dan mulai hari ini kita akan mencairkan gaji P3K PW yang tertunda tersebut," tegasnya.

Meski dipastikan cair, dr. Irwan mengingatkan bahwa pembayaran gaji P3K PW ini tidak bisa dilakukan secara serentak layaknya gaji reguler, melainkan tunduk pada regulasi keuangan rumah sakit. Hal ini lantaran kas RSUD tidak selalu dalam kondisi surplus setiap bulannya.

"Perlu diketahui pembayaran gaji P3K PW tersebut berdasarkan dengan klaiman BPJS. Kalau untuk bulan Januari sudah dibayarkan oleh pihak rumah sakit, dan yang belum dibayar pada bulan Februari sampai Mei, hal tersebut akan segera dibayar sesuai dengan klaiman BPJS," jelasnya.

Selain membawa kabar baik soal pencairan gaji, dr. Irwan Kurniawan yang juga menjabat secara definitif sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merangin ini menyampaikan 'curhatan' kepada Bupati. Ia secara terbuka meminta agar Bupati segera menunjuk Direktur RSUD Abundjani yang baru dan definitif.

Bukan karena merasa angkat tangan atau tidak mampu, Irwan menyadari bahwa rangkap jabatan memikul dua instansi kesehatan sekaligus akan berdampak buruk pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.

"Bukannya saya tidak mampu menjadi Plt di RSUD Abundjani Bangko, karena di RSUD tersebut sifatnya pelayanan. Memang harus ada Direktur yang siap siaga untuk melayani hal tersebut," pungkas dr. Irwan.(*)

BeritaSatu Network