Jawab Framing Negatif Pendidikan, Pemprov Jambi Buktikan Dumisake Telah Selamatkan 21 Ribu Siswa, Ini Fakta BPS Sebenarnya!

WIB
ist

Jambi - Framing negatif ihwal 49 ribu remaja putus sekolah hingga dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan sebesar Rp 21 miliar tengah ditembakkan ke Pemerintah Provinsi Jambi. Meluruskan asumsi dan framing negatif itu, Pemprov Jambi pun buka suara meluruskan narasi dan membeberkan data sebenarnya.

Ketua Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Syahrasaddin, menegaskan bahwa kritik publik terhadap kinerja pemerintah adalah hal yang positif. Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut berpijak pada data yang utuh dan akurat, bukan sekadar simplifikasi yang menyesatkan.

"Membangun pendidikan Jambi tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika atau perang narasi di media massa," kata Syahrasaddin.

Berikut adalah deretan fakta dan klarifikasi lengkap dari Pemprov Jambi:

1. Fakta BPS: Beda 'Putus Sekolah' dan 'Tidak Sekolah Lagi'

Menjawab riuhnya publikasi Statistik Pendidikan BPS (Susenas Maret 2024) soal 49.277 remaja usia 16-18 tahun yang dinarasikan putus sekolah, Syahrasaddin memberi catatan khusus. Menurutnya, BPS membagi status sekolah menjadi tiga, yakni Masih Sekolah, Belum Pernah Sekolah, dan Tidak Sekolah Lagi.

Angka 49.277 anak tersebut masuk dalam kategori 'belum pernah sekolah' dan 'tidak sekolah lagi', bukan semuanya drop-out di tengah jalan.

Faktanya, banyak dari mereka yang sudah lulus wajib belajar 9 tahun (SMP/sederajat), namun memilih tak lanjut ke SMA. Alasannya beragam, mulai dari kendala jarak geografis ke sekolah, tuntutan ekonomi, hingga terbatasnya daya tampung sekolah di pelosok.

Meski penamaan 'putus sekolah' dinilai kurang tepat secara metodologis, ia mengakui puluhan ribu remaja di luar bangku sekolah ini tetap menjadi tantangan besar bagi peningkatan Angka Partisipasi Pendidikan di Jambi.

2. Duduk Perkara Korupsi DAK Fisik Rp 21 Miliar

Terkait kasus dugaan korupsi yang tengah diusut Polda Jambi, Syahrasaddin meminta agar publik melihat proporsi anggarannya secara utuh agar tak muncul persepsi seluruh dana pendidikan Jambi dirampok.

Kasus ini secara spesifik menyasar DAK Fisik bidang SMK, dengan total pagu anggaran sekitar Rp 121 miliar hingga Rp 122 miliar. Dari proyek pengadaan itulah, aparat menemukan estimasi kerugian negara sebesar Rp 21,89 miliar.

Ia menegaskan, APBD Jambi untuk sektor pendidikan secara keseluruhan jauh lebih besar karena wajib memenuhi mandatory spending minimal 20 persen. Meski begitu, Pemprov mendukung penuh kepolisian. "Langkah hukum harus didukung penuh demi good governance, sekaligus jadi alarm keras bahwa kebocoran anggaran merusak fasilitas belajar siswa," tegasnya.

3. Jurus Dumisake Selamatkan 21 Ribu Siswa

Di tengah polemik ini, program afirmatif pemerintah diklaim terus berjalan. Lewat program Pro-Jambi Cerdas pada pilar Dumisake (Dua Miliar Satu Kecamatan), Pemprov membidik siswa dari keluarga tidak mampu agar tak putus sekolah.

Data LAKIP Dinas Pendidikan Provinsi Jambi mencatat, sepanjang periode 2022 hingga 2025, program ini telah menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah dan stimulan biaya pendidikan kepada total 21.932 siswa di tingkat SMA, SMK, dan SLB. Program ini menjadi jaring pengaman (safety net) khusus untuk menekan angka putus sekolah akibat himpitan ekonomi.

4. 4 Langkah Solutif ke Depan

Untuk membenahi benang kusut pendidikan ini, Syahrasaddin membeberkan empat langkah taktis yang kini menjadi fokus Pemprov Jambi:

  • Sinkronisasi Data: Menyelaraskan data Susenas BPS dengan Dapodik dan DTKS Kemensos agar 49 ribu anak tersebut bisa dilacak by name by address.
  • Kejar Paket C: Memperkuat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk pendidikan non-formal bagi remaja yang sudah terlanjur bekerja atau menikah.
  • Kunci Celah Korupsi: Memperketat pengawasan proyek fisik lewat e-planning, e-budgeting, dan pelibatan komite sekolah.
  • Fokus Kualitas Guru: Penanganan pendidikan tak lagi sekadar urusan bangun gedung, tapi menggenjot kompetensi pedagogik guru dan adaptasi ekosistem digital.

"Kritik yang sehat adalah yang berbasis data akurat, mengenali capaian program yang sedang berjalan seperti Dumisake, sekaligus memberikan rekomendasi yang konstruktif demi masa depan generasi muda Jambi," tutupnya.(*)

BeritaSatu Network