Profesor Robert Pape, pakar strategi militer yang telah menasihati Gedung Putih selama dua dekade, memberikan peringatan keras. AS disebut tengah terjebak dalam 'Perangkap Eskalasi' (Escalation Trap) yang bisa berujung pada perang darat besar-besaran dengan Iran.
Berikut adalah poin-poin ngeri dari analisis mendalam Profesor Pape:
1. Kehilangan Jejak 16 Bom Nuklear
Pape mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa meskipun serangan udara AS berhasil menghancurkan bangunan fisik di Iran, AS justru kehilangan jejak bahan nuklirnya.
"Mereka punya bahan untuk 16 bom nuklear, dan kita tidak tahu di mana bahan itu disembunyikan sekarang," tegas Pape.
2. Pemimpin Baru Iran Lebih 'Ganas'
Kematian pemimpin tertinggi Iran sebelumnya ternyata membawa konsekuensi fatal. Pemimpin baru yang menggantikannya dinilai jauh lebih agresif dan tidak terikat pada fatwa pelarangan senjata nuklear yang dibuat ayahnya. Hal ini membuat posisi tawar diplomatik AS semakin sulit.
3. Ramalan Perang Darat: Peluangnya 75%!
Pape membagi konflik ini dalam tiga tahap. Saat ini, dunia sedang menuju tahap ketiga: eskalasi horizontal dan serangan balik global. Pape meramalkan ada peluang sebesar 75% bagi Trump untuk mengirim pasukan darat (boots on the ground) guna mencari material nuklir yang disebar Iran.
4. 'Ulah' Rusia dan Keuntungan China
Rusia disebut ikut campur dengan memberikan intelijen target kepada Iran untuk menyerang kapal-kapal sekutu AS. Di sisi lain, China dianggap sangat diuntungkan.
"China senang jika kita terjebak dalam 'lubang' baru di Timur Tengah, karena mereka bisa fokus memacu ekonomi dan teknologi AI mereka tanpa gangguan," jelas Pape.
5. Ekonomi Dunia Terancam Goyang
Bukan hanya soal peluru, Iran mengincar titik lemah dunia, ekonomi. Strategi serangan drone ke pusat wisata seperti Dubai dan gangguan di Selat Hormuz bertujuan untuk menaikkan harga minyak dan menghancurkan sektor pariwisata negara-negara sekutu AS.
6. Ancaman dari Dalam AS Sendiri
Di akhir analisisnya, Pape mengingatkan bahwa musuh terbesar AS bukan hanya dari luar. Ia menyoroti 'normalisasi kekerasan politik' di dalam negeri AS yang semakin parah sebagai ancaman yang lebih eksistensial dibanding konflik luar negeri.
Pape menyarankan agar pemerintahan Trump segera mencari 'pintu keluar' (off-ramp) diplomatik sebelum AS benar-benar terseret ke dalam perang tanpa akhir (forever war) yang baru.(*)