Oleh: Muhammad Ridwansyah
(Ekonom FEB Universitas Jambi/Ketua Harian Tenaga Ahli Gubernur Jambi)
Pernyataan bahwa ekonomi Jambi menjadi yang terendah di Sumatera patut mendapat perhatian serius. Ini bukan angka yang bisa diabaikan. Namun, membaca ekonomi daerah tidak cukup hanya dengan melihat satu angka pertumbuhan, kemudian menarik kesimpulan bahwa seluruh arah pembangunan telah gagal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 5 November 2026 menunjukkan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan III tumbuh 3,91 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini memang menempatkan Jambi pada posisi terendah di antara sepuluh provinsi di Sumatera. Ini adalah “alarm”. Tetapi alarm seharusnya membangunkan kesadaran untuk memperbaiki keadaan. Kata orang bijak “jangan mudah menjatuhkan vonis” ketika data dan informasi belum lengkap. MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi
Membaca capaian secara utuh
Data resmi BPS yang dapat diverifikasi menunjukkan ekonomi Jambi sepanjang 2025 tumbuh 4,93 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 4,50 persen. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp349,66 triliun, dengan PDRB per kapita Rp92,79 juta. Dari sisi produksi, transportasi dan pergudangan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, 8,88 persen; dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 5,75 persen. Capaian ini bukan alasan untuk berpuas diri, tetapi merupakan fakta bahwa ekonomi Jambi memiliki sektor-sektor yang bergerak dan sumber pertumbuhan yang dapat diperkuat. MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi
Pada triwulan I 2026, ekonomi Jambi tumbuh 4,33 persen secara tahunan. Memasuki triwulan II 2026, pertumbuhannya tercatat 4,15 persen. Dua angka tersebut memperlihatkan perlambatan bertahap pada paruh pertama 2026. Karena itu, angka pertumbuhan triwulan III 2026 sebesar 3,91 persen yang beredar dalam naskah awal perlu dicocokkan terlebih dahulu dengan Berita Resmi Statistik BPS sebelum dipakai sebagai fakta publik. Dalam penulisan opini, kehati-hatian terhadap sumber justru memperkuat pesan. MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi
Ada pula indikator kesejahteraan dan daya tahan ekonomi yang patut dicatat. IPM Jambi pada 2025 mencapai 75,13, pada 2026 tercatat 75,87, menurut BPS ini berada dalam kategori “tinggi”. Peningkatan ini penting karena menunjukkan bahwa pembangunan manusia tetap mengalami kemajuan di tengah dinamika dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, kinerja pembangunan tidak sepenuhnya tercermin dari fluktuasi PDRB dalam jangka pendek. MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi
Persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 6,67 persen, dengan jumlah penduduk miskin 253,73 ribu orang. Gini Ratio pada Maret 2026 sebesar 0,305. Nilai Tukar Petani pada September 2026 mencapai 196,13, sedangkan Nilai Tukar Usaha Pertanian sebesar 200,04. Pada Agustus 2026, nilai ekspor asal Jambi tercatat US$198,04 juta. Angka-angka ini menunjukkan capaian pada pembangunan manusia, pengurangan kemiskinan, pemerataan relatif, daya tukar petani, dan kinerja perdagangan. MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi MR_Artikel_Ekonomi_Jambi_Revisi
Pekerjaan rumahnya adalah transformasi struktural
Tantangan mendasar Jambi bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan memperkuat kualitas pertumbuhan. Struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas primer membuat daerah rentan terhadap gejolak harga, produktivitas, cuaca, dan permintaan global. Potensi sawit, karet, pertambangan, pertanian, perikanan, serta energi harus lebih banyak diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam daerah.
Karena itu, agenda transformasi perlu bergerak pada hilirisasi sawit dan karet, penguatan industri pengolahan, perbaikan konektivitas dan logistik, peningkatan keterampilan tenaga kerja, digitalisasi UMKM, ekonomi hijau, energi terbarukan, serta ekonomi sirkular. Setiap agenda harus diterjemahkan menjadi proyek yang jelas: siapa penanggung jawabnya, dari mana pembiayaannya, berapa investasi yang masuk, berapa pekerjaan produktif tercipta, dan berapa nilai tambah yang dinikmati masyarakat Jambi.
Dalam ruang fiskal yang terbatas, APBD perlu diarahkan sebagai pengungkit, bukan satu-satunya sumber pembiayaan. Kerja sama pemerintah dan badan usaha, pembiayaan campuran, investasi swasta, dan pembiayaan iklim dapat dipertimbangkan sesuai kelayakan, pembagian risiko, manfaat publik, serta tata kelola. Ukuran keberhasilan program pun harus bergeser dari sekadar serapan anggaran menuju hasil yang dirasakan masyarakat.
Di sinilah seloko adat Melayu Jambi menemukan relevansinya: “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul.” Pekerjaan besar membenahi ekonomi Jambi tidak mungkin ditanggung pemerintah sendiri. Pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, perguruan tinggi, perbankan, komunitas, dan masyarakat perlu berbagi peran. Kritik dari siapa pun—termasuk kritik mengenai posisi pertumbuhan Jambi—layak menjadi bahan evaluasi. Pada saat yang sama, prestasi yang terukur juga patut diakui agar diskusi publik tidak kehilangan proporsi.
Kita tidak sedang mencari siapa yang paling benar atau siapa yang paling salah. Kita sedang mencari cara agar kekayaan sumber daya Jambi menghasilkan produktivitas, pekerjaan yang layak, pendapatan yang lebih baik, dan lingkungan yang terjaga. Untuk itu, pemerintah perlu membuka data capaian dan kekurangan secara berkala, sementara para pengkritik dan pemangku kepentingan perlu ikut menawarkan jalan perbaikan.
Ekonomi Jambi memang menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Namun, melihat capaian secara jujur bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan; sebaliknya, mengakui kekurangan juga tidak berarti meniadakan kemajuan yang nyata. Mari menyatukan ikhtiar, dan mengubah kritik menjadi tenaga untuk membangun Jambi yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Di tengah perbincangan mengenai perlambatan ekonomi Jambi, ada baiknya kita kembali pada satu kearifan Melayu Jambi: “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat.” Air menjadi bulat karena pembuluh, kata menjadi bulat karena mufakat. Ini mengajarkan bahwa persoalan bersama lebih jernih bila dibicarakan dengan kepala dingin, data yang terang, dan niat mencari jalan keluar. Kritik tidak perlu dibungkam; tetapi kesimpulan juga tidak boleh tergesa-gesa.