Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
(Guru Besar Universitas Jambi, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)
Pada setiap peringatan Sumpah Pemuda, ingatan bangsa kembali kepada keberanian generasi muda tahun 1928. Di tengah perbedaan daerah, bahasa, dan latar belakang, para pemuda memilih untuk bersatu dalam satu cita-cita: Indonesia. Persatuan itu lahir dari keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik hanya dapat diperjuangkan melalui langkah bersama.
Hampir satu abad setelah peristiwa bersejarah tersebut, tantangan yang dihadapi tentu telah berubah. Indonesia telah merdeka dan Jambi terus membangun. Namun, perjuangan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat masih memerlukan kerja panjang. Di berbagai sudut daerah, masih terdapat anak muda yang memiliki kemampuan dan semangat, tetapi belum menemukan kesempatan untuk mengembangkan potensi.
Ada lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi masih berjuang mencari pekerjaan. Ada pemuda yang ingin memulai usaha, tetapi terbatas oleh modal, pengalaman, dan jaringan pemasaran. Ada pula anak muda di desa yang melihat potensi di sekelilingnya, tetapi belum mengetahui bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi sumber penghidupan.
Keadaan itu mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dihadirkan dalam upacara dan ungkapan kebanggaan. Semangat tersebut perlu diterjemahkan menjadi keberpihakan yang nyata. Persatuan perlu memberi kekuatan untuk menghadapi persoalan bersama, sedangkan pembangunan perlu membuka jalan agar generasi muda dapat mengambil bagian dalam kemajuan daerah.
Bagi Jambi, jalan menuju kemajuan sesungguhnya terbentang luas. Daerah ini memiliki lahan pertanian, perkebunan, sungai, kekayaan budaya, serta keindahan alam yang dapat dikembangkan. Di tengah kekayaan itu tumbuh generasi muda yang semakin akrab dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai cara baru dalam bekerja.
Akan tetapi, potensi tidak dengan sendirinya berubah menjadi kesejahteraan. Kekayaan alam memerlukan pengelolaan yang baik. Gagasan memerlukan ruang untuk diuji. Semangat memerlukan kesempatan agar dapat menghasilkan karya. Karena itu, tantangan Jambi bukan hanya menemukan sumber pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut membuka peluang bagi lebih banyak orang.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu penting. Melalui pertumbuhan, kegiatan usaha berkembang, penerimaan daerah meningkat, dan sumber daya pembangunan bertambah. Akan tetapi, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada besarnya angka pertumbuhan. Keberhasilan juga perlu dilihat dari terbukanya pekerjaan, meningkatnya pendapatan, dan semakin kuatnya kemampuan masyarakat untuk menjalani kehidupan yang layak.
Ketika ekonomi Jambi bertumbuh, pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah petani memperoleh nilai yang lebih baik dari hasil usahanya. Apakah pelaku UMKM memiliki pasar yang lebih luas? Apakah anak muda mendapatkan kesempatan kerja atau dukungan untuk membangun usaha? Pertanyaan tersebut penting agar pembangunan selalu dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dari sini, pendidikan memperoleh peran yang sangat menentukan. Sekolah dan perguruan tinggi perlu membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Pendidikan juga perlu mendekatkan peserta didik dengan kenyataan yang akan dihadapi setelah menyelesaikan studi. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari dapat menjadi bekal untuk memahami persoalan dan menciptakan solusi.
Hubungan antara pendidikan dan dunia kerja perlu diperkuat melalui magang yang bermutu, pelatihan keterampilan, penelitian terapan, serta kerja sama dengan dunia usaha. Mahasiswa pertanian, misalnya, dapat belajar bersama petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Mahasiswa ekonomi dapat membantu pelaku UMKM menyusun pembukuan, menghitung biaya, dan merencanakan pemasaran.
Kerja sama seperti itu memberi manfaat bagi kedua pihak. Mahasiswa memperoleh pengalaman dari persoalan nyata, sedangkan masyarakat mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam jangka panjang, hubungan yang erat antara kampus dan lingkungan sekitarnya dapat menumbuhkan lulusan yang lebih siap bekerja, berusaha, dan mengabdi.
Namun, kesempatan bagi pemuda tidak selalu harus hadir dalam bentuk lowongan pekerjaan. Di antara generasi muda terdapat calon pengusaha, pencipta produk, penggerak wisata, dan pelaku ekonomi kreatif. Semangat untuk membangun usaha perlu disambut dengan dukungan yang nyata, mulai dari pendampingan, kemudahan perizinan, akses pembiayaan, hingga bantuan untuk memperluas pasar.
Di berbagai desa di Jambi, peluang tersebut dapat ditemukan dari kehidupan sehari-hari. Hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Makanan khas dapat dikemas dengan lebih menarik. Keindahan alam dan budaya dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat setempat. Kesempatan seperti ini perlu dilihat sebagai jalan untuk membangun ekonomi dari kekuatan daerah sendiri.
Seorang pemuda yang mengolah kopi lokal, misalnya, dapat membantu meningkatkan nilai produk sebelum dipasarkan. Usaha tersebut dapat melibatkan petani sebagai pemasok, pekerja pengolahan, pembuat kemasan, dan penyedia jasa pengiriman. Ketika pasar berkembang, manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh pemilik usaha, tetapi juga dapat mengalir kepada masyarakat di sekitarnya.
Agar usaha seperti itu tumbuh, dukungan tidak dapat berhenti pada pemberian modal. Pelaku usaha memerlukan bahan baku yang terjaga, pengetahuan tentang mutu, jaringan pemasaran, dan kemampuan mengelola keuangan. Jalan yang baik serta jaringan internet yang memadai juga menjadi penting karena keduanya membantu mempertemukan produk daerah dengan konsumen.
Teknologi digital membuka peluang yang semakin luas. Melalui pemasaran digital, produk dari desa dapat dikenal oleh pembeli di luar daerah. Akan tetapi, penggunaan teknologi perlu disertai kemampuan menjaga kualitas dan kepercayaan. Pelanggan akan kembali ketika produk sesuai dengan harapan, pelayanan dilakukan dengan baik, dan pelaku usaha menepati janji.
Di samping membuka peluang baru, pembangunan perlu memastikan bahwa kesempatan dapat dijangkau secara lebih merata. Pemuda di kota maupun di desa membutuhkan akses terhadap pendidikan, pelatihan, informasi, dan pembiayaan. Perempuan muda serta penyandang disabilitas juga perlu memperoleh ruang untuk berkarya. Semakin luas kesempatan dibuka, semakin besar pula kekuatan yang dapat digerakkan untuk memajukan Jambi.
Upaya tersebut memerlukan kerja sama banyak pihak. Pemerintah dapat menyiapkan kebijakan dan pelayanan yang mendukung. Perguruan tinggi dapat menghadirkan pengetahuan serta pendampingan. Dunia usaha dapat membuka akses pasar dan pengalaman kerja. Perbankan, komunitas, media, dan masyarakat dapat membantu mempertemukan gagasan dengan kebutuhan yang nyata.
Kerja sama itu perlu diwujudkan dalam program yang berkesinambungan. Pelatihan sebaiknya tidak berhenti setelah peserta menerima sertifikat, tetapi dilanjutkan sampai keterampilan dapat digunakan. Program kewirausahaan perlu dinilai dari perkembangan usaha dan manfaat yang dihasilkan. Dengan cara itu, setiap dukungan memberi kesempatan bagi pemuda untuk benar-benar bertumbuh.
Dalam semangat membangun bersama, pemikiran Mohammad Hatta tentang pentingnya kebersamaan dalam ekonomi tetap relevan. Koperasi dan kemitraan dapat membantu petani, pelaku UMKM, dan pengusaha muda memperkuat posisi. Hubungan usaha yang adil memberi peluang agar nilai tambah tidak berhenti pada satu pihak, tetapi turut menguatkan masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi Jambi tidak cukup dicapai dengan menunggu. Masa depan perlu dijemput melalui pendidikan yang membekali, kebijakan yang membuka jalan, usaha yang berani berkembang, dan kerja sama yang memperluas manfaat pembangunan. Setiap langkah mungkin dimulai dari hal kecil, tetapi langkah yang dilakukan bersama dapat menumbuhkan harapan yang besar.
Bung Karno pernah mengingatkan besarnya kekuatan generasi muda: “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ungkapan itu menyimpan keyakinan bahwa pemuda yang memiliki semangat, pengetahuan, dan keberanian dapat menghadirkan perubahan.
Hari ini, Jambi membutuhkan pemuda yang berani bermimpi dan bersedia bekerja untuk mewujudkan mimpi tersebut. Pemuda yang terus belajar ketika keadaan berubah, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, dan tetap peduli kepada masyarakat ketika meraih keberhasilan.
Dari ladang dan perkebunan, ruang kelas dan laboratorium, pasar dan dunia usaha, hingga ruang digital yang terus berkembang, pemuda Jambi memiliki kesempatan untuk berkarya. Dari tempat-tempat itulah harapan dapat ditumbuhkan dan masa depan dapat dibangun bersama.
Mari nyalakan semangat Sumpah Pemuda: berani belajar, berani berkarya, dan berani membawa perubahan. Pemuda bergerak, Jambi bertumbuh, kesejahteraan meluas.-