Tiba di Makkah, Jamaah LAM Jambi Bersama Nailah Hairat Langsung Umroh hingga Subuh

WIB
Ist

MAKKAH - Malam itu, perjalanan panjang dari Jambi akhirnya bermuara di depan Baitullah. Rombongan umroh Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi bersama Nailah Hairat tiba di Makkah dan langsung menunaikan rangkaian ibadah umroh hingga selesai menjelang subuh.

Tak banyak waktu digunakan untuk beristirahat. Setelah mengambil miqat di Jeddah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Ihram masih melekat, talbiyah terus dilantunkan, sementara tujuan berikutnya sudah menanti: Masjidil Haram.

Di sanalah perjalanan fisik berubah menjadi perjalanan batin.

Malam Pertama Langsung ke Baitullah

Begitu tiba di Kota Suci, para jamaah bersiap menjalani tawaf mengelilingi Ka'bah. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan sai antara Bukit Safa dan Marwah, lalu ditutup dengan tahalul.

Malam semakin larut. Tubuh tentu menyimpan lelah setelah perjalanan panjang, tetapi suasana ibadah membuat jamaah tetap bertahan hingga rangkaian umroh selesai saat subuh.

Di sekitar Ka'bah, jamaah membawa doa masing-masing. Ada doa untuk keluarga. Orang tua. Anak-anak. Kampung halaman. Hingga harapan-harapan yang mungkin selama ini hanya disimpan dalam hati.

Bagi rombongan LAM Jambi, kesempatan berdiri di hadapan Baitullah menjadi salah satu momen paling personal dalam perjalanan bersama Nailah Hairat tersebut.

Syahrasaddin: Nikmat yang Sangat Besar

Ketua rombongan Syahrasaddin mengungkapkan rasa syukur setelah seluruh jamaah menyelesaikan umroh pertama mereka.

“Alhamdulillah, kami bersama rombongan Nailah Hairat telah sampai di Makkah dan menyelesaikan ibadah umroh hingga subuh. Bisa datang ke Tanah Suci, beribadah bersama, ini nikmat yang sangat besar. Mohon doa agar seluruh jemaah selalu diberikan kesehatan dan kekuatan,” ujar Syahrasaddin.

Menurutnya, perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya perkara berpindah dari satu kota ke kota lain. Ada tanggung jawab untuk saling menjaga selama jauh dari keluarga di Jambi.

“Kita jauh dari kampung halaman. Karena itu, sesama jemaah harus saling menjaga dan saling membantu. Semoga perjalanan ini mempererat persaudaraan kita,” tuturnya.

Umroh Juga Menjadi Ruang Merawat Kebersamaan

Nuansa kebersamaan memang terasa sejak perjalanan dimulai. Jamaah datang dari latar belakang berbeda, namun berada dalam satu rombongan dan menjalani rangkaian ibadah dengan tujuan yang sama.

Di Tanah Suci, perbedaan jabatan maupun latar belakang seakan luruh. Semua mengenakan pakaian ihram dan melangkah dalam rangkaian ibadah yang sama.

Ada yang membantu jamaah lanjut usia. Ada yang saling menunggu ketika rombongan terpisah. Ada pula yang mengingatkan satu sama lain agar tetap menjaga kondisi fisik setelah perjalanan panjang.

Bagi rombongan LAM Jambi, kebersamaan itu menjadi bagian yang ingin terus dijaga hingga seluruh rangkaian perjalanan selesai.

Bari Azed: Kesempatan Menata Hati

Prof Bari Azed memaknai perjalanan umroh sebagai kesempatan untuk melihat kembali diri sendiri.

Tanah Suci, menurutnya, bukan hanya tempat memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum untuk membawa perubahan ketika kembali ke kehidupan sehari-hari.

“Di sini kita punya kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah, memperbanyak doa, dan melihat kembali diri kita sendiri. Mudah-mudahan yang kita bawa pulang nanti adalah hati yang lebih tenang, rasa syukur yang lebih besar, dan kepedulian kepada sesama,” kata Bari Azed.

Pesan tersebut terasa sejalan dengan suasana malam pertama rombongan di Makkah. Di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara, setiap orang memiliki ruang personal untuk berdoa dan berkontemplasi.

Arvani Bawa Doa untuk Keluarga

Rasa syukur juga disampaikan Arvani, salah seorang jamaah umroh Nailah Hairat.

Baginya, kesempatan tiba di Makkah menjadi momen untuk membawa nama keluarga dan orang-orang terdekat dalam doa.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai di sini bersama Nailah Hairat. Rasanya sangat bersyukur. Saya ingin mendoakan keluarga, orang tua, dan semoga kami semua diberikan kesehatan untuk terus beribadah selama di Tanah Suci,” ujar Arvani.

Bagi banyak jamaah, doa untuk keluarga memang menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari perjalanan umroh.

Mereka datang sendiri atau bersama rombongan, tetapi membawa banyak nama dalam hati.

Menginap di Hotel Al Safwah

Selama berada di Makkah, rombongan Nailah Hairat menginap di Hotel Al Safwah.

Hotel tersebut menjadi tempat jamaah beristirahat di sela aktivitas ibadah selama berada di Kota Suci.

Setelah menyelesaikan umroh hingga subuh, jamaah memiliki waktu untuk memulihkan kondisi sebelum melanjutkan agenda ibadah berikutnya.

Kondisi fisik menjadi perhatian karena rangkaian umroh membutuhkan stamina, terutama setelah perjalanan dari Indonesia menuju Arab Saudi.

Perjalanan di Makkah Baru Dimulai

Subuh menandai berakhirnya umroh pertama rombongan.

Namun perjalanan spiritual mereka di Makkah baru saja dimulai.

Masih ada hari-hari berikutnya untuk kembali ke Masjidil Haram, memperbanyak salat, membaca Al-Qur'an, berzikir dan memanjatkan doa.

Bagi sebagian jamaah, mungkin ini adalah kali pertama mata mereka melihat Ka'bah secara langsung.

Sesuatu yang sebelumnya hanya terlihat melalui layar telepon atau televisi kini benar-benar berdiri di hadapan mereka.

Dan di tengah suasana itulah, rombongan LAM Jambi bersama Nailah Hairat mengawali hari-hari mereka di Kota Suci: dengan tawaf, sai, doa, rasa syukur, dan subuh yang menutup umroh pertama mereka di Makkah. (*)

BeritaSatu Network