JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani sawit rakyat seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku industri pengolahan.
Posisi petani dinilai semakin strategis.
Sekitar 30 persen pasokan bahan baku industri pengolahan PalmCo disebut berasal langsung dari kebun petani rakyat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi kebutuhan penting, terlebih ketika permintaan CPO domestik untuk sektor energi diproyeksikan meningkat.
Dua Regional Raih Penghargaan
Komitmen kemitraan itu mendapat pengakuan melalui dua penghargaan yang diraih regional PalmCo pada akhir Agustus 2026.
PTPN IV Regional III di Riau memperoleh penghargaan Sustainable Partnership for Smallholder Empowerment dalam Tribun Pekanbaru Awards 2026.
Sementara PTPN IV Regional V di Kalimantan Barat meraih penghargaan sebagai Pelopor Akselerasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dalam Tribun Pontianak Award 2026.
Dua penghargaan tersebut dinilai mencerminkan penguatan pola kemitraan PalmCo dengan petani sawit rakyat di daerah.
B50 Jadi Tantangan Baru
PalmCo melihat kebutuhan bahan baku sawit akan terus meningkat seiring rencana penguatan pemanfaatan biodiesel.
Dalam data yang disampaikan, penerapan campuran biodiesel 50 persen atau B50 diproyeksikan dapat meningkatkan penyerapan CPO domestik untuk sektor energi sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun.
Peningkatan kebutuhan tersebut membuat produktivitas kebun rakyat semakin penting.
Jatmiko menilai tambahan kebutuhan sektor energi tidak boleh sampai menekan pasokan untuk pangan dan industri lain.
Produktivitas Jangan Dikejar dengan Buka Lahan Baru
Menurut Jatmiko, kebutuhan pasokan tambahan sebaiknya dipenuhi melalui peningkatan produktivitas.
Bukan semata lewat ekspansi lahan.
Salah satu jalannya melalui peremajaan tanaman tua.
Cara lainnya adalah memperbaiki praktik budidaya.
Dengan pola itu, kebutuhan bahan baku dapat ditingkatkan tanpa mendorong pembukaan lahan baru.
PSR Jadi Instrumen Utama
PTPN IV PalmCo menjalankan sejumlah skema kemitraan dengan pekebun sawit rakyat.
Salah satunya melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada penggantian tanaman tua.
PalmCo juga mendorong pendampingan pengelolaan kebun.
Skemanya mencakup pengelolaan kebun bersama, penyediaan bibit unggul bersertifikat, kemitraan pembelian hasil panen, serta penguatan kelembagaan koperasi petani.
Sertifikasi Ikut Didorong
Pendampingan juga mencakup pemenuhan sertifikasi.
Petani mitra didorong memenuhi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Sertifikasi menjadi bagian penting karena pasar sawit semakin menuntut aspek legalitas, ketelusuran, dan keberlanjutan.
Artinya, petani tidak cukup hanya produktif.
Mereka juga harus makin tertib dari sisi tata kelola.
PalmCo Bertindak sebagai Offtaker
Dalam skema kemitraan, PalmCo juga berperan sebagai pembeli siaga atau offtaker hasil panen petani.
Penyerapan TBS dilakukan melalui mekanisme dan harga sesuai ketentuan yang berlaku.
Peran ini memberi kepastian pasar bagi petani.
Di sisi lain, perusahaan juga mendapatkan kontinuitas pasokan bahan baku.
Hubungan itu membuat kemitraan menjadi kepentingan bersama.
Petani Jadi Pilar Rantai Pasok
Jatmiko menegaskan petani sawit bukan aktor pinggiran dalam industri PalmCo.
Mereka menjadi bagian penting dari rantai pasok.
“Petani sawit adalah pilar utama industri ini. Sekitar 30 persen pasokan bahan baku pengolahan industri di PalmCo berasal langsung dari hasil kebun petani rakyat,” ujar Jatmiko.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa besar ketergantungan industri terhadap kebun rakyat.
Kebun Rakyat Harus Naik Kelas
PalmCo mendorong petani lebih profesional dalam mengelola kebun.
Mulai dari praktik budidaya.
Kelembagaan koperasi.
Kualitas TBS.
Hingga administrasi dan legalitas.
Pendekatan ini diharapkan membuat kebun rakyat lebih produktif sekaligus lebih siap menghadapi tuntutan industri yang semakin kompleks.
Kemitraan Hulu-Hilir Diperkuat
PalmCo juga mendorong integrasi antara kebun rakyat, koperasi, unit pembelian dan pabrik.
Tujuannya agar alur produksi lebih efisien.
Petani punya kepastian pasar.
Koperasi lebih kuat.
Unit pembelian lebih tertib.
Dan pabrik mendapat bahan baku berkualitas.
“Melalui hubungan yang makin erat, perusahaan dan petani diharapkan dapat terus saling menguatkan,” kata Jatmiko.
Menjaga Pasokan di Tengah Kenaikan Permintaan
Jatmiko menilai PSR memiliki fungsi ganda.
Di satu sisi meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Di sisi lain memperbaiki kualitas produksi.
Dengan begitu, petani tetap bisa menjadi bagian penting rantai pasok ketika kebutuhan CPO domestik meningkat, termasuk untuk sektor energi.
Dari Penghargaan ke Tantangan Produksi
Dua penghargaan yang diterima Regional III dan Regional V menjadi simbol capaian.
Namun pekerjaan berikutnya lebih berat.
Produktivitas harus naik.
Legalitas harus tertib.
Sertifikasi diperluas.
Dan pasokan petani harus tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan CPO.
Bagi PalmCo, kemitraan dengan petani bukan lagi sekadar program sosial. Ketika 30 persen bahan baku perusahaan berasal dari kebun rakyat, produktivitas dan keberlanjutan kebun petani menjadi bagian langsung dari masa depan industri sawit itu sendiri. (*)