Hj Ernawati Lantik Ardi, Maulana-Diza Jadi Mitra Strategis ISMI Kota Jambi

WIB
ist

JAMBI-Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi, Selasa (8/9/2026), bukan sekadar menjadi lokasi pelantikan organisasi.

Di tempat itu, Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. kembali menunjukkan satu pola gerakan yang belakangan terus ia bangun.

Menghubungkan orang.

Menghubungkan ilmu.

Menghubungkan pemerintah.

Lalu mencoba mempertemukan semuanya dalam satu ruang kolaborasi.

Siang itu, Ernawati berdiri di hadapan jajaran sarjana Melayu Kota Jambi untuk melantik Dr. H. Ardhi, S.P., M.Si. bersama seluruh pengurus ISMI Kota Jambi.

Di barisan tamu hadir Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M.

Wakil Wali Kota Jambi Diza Aljosha Hazrin juga hadir.

Istri Wali Kota Jambi ikut berada di lokasi.

Sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah Kota Jambi turut memenuhi aula.

Komposisinya menarik.

Ada pemerintah.

Ada akademisi.

Ada profesional.

Ada pengusaha.

Ada tokoh masyarakat.

Dan di tengah semuanya berdiri Ernawati sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi.

Pelantikan tersebut mengusung tema:

“Sarjana Melayu Untuk Jambi Bersinergi, Berinovasi, Berkontribusi Demi Terwujudnya Kota Jambi Bahagia.”

Bagi Ernawati, tema itu tidak boleh berakhir sebagai tulisan besar di backdrop.

Ia harus hidup setelah acara selesai.

“Kalau hari ini kita hanya dilantik, berfoto, kemudian pulang dan selesai, maka ISMI kehilangan maknanya. Sarjana harus punya gagasan, punya keberanian berkolaborasi dan yang paling penting, ilmunya harus dirasakan masyarakat,” kata Ernawati.

Ada pemandangan yang cukup kuat dalam pelantikan tersebut.

Ernawati berada dalam satu forum bersama dua pucuk pimpinan Pemerintah Kota Jambi.

Maulana sebagai wali kota.

Diza sebagai wakil wali kota.

Komunikasi terlihat cair.

Tidak ada kesan ISMI berdiri jauh dari pemerintah.

Sebaliknya, pelantikan itu justru seperti membuka pintu komunikasi antara organisasi sarjana dengan Pemerintah Kota Jambi.

Ernawati menilai hubungan seperti itulah yang harus dibangun.

Bukan hubungan untuk saling menguasai.

Bukan pula hubungan organisasi yang hanya muncul ketika butuh dukungan pemerintah.

Tetapi hubungan kemitraan.

“Kita membutuhkan pemerintah, pemerintah juga membutuhkan gagasan masyarakat. ISMI harus berada di tengah sebagai mitra intelektual. Kalau ada program pemerintah yang baik, kita dukung. Kalau ada persoalan yang membutuhkan pemikiran, sarjana harus berani memberi masukan dan solusi,” kata Ernawati.

Menurutnya, kedekatan komunikasi dengan Wali Kota Maulana dan Wakil Wali Kota Diza merupakan modal untuk membuka lebih banyak ruang kolaborasi.

Ernawati tidak ingin ISMI Kota Jambi menjadi organisasi yang hanya hidup di ruang sekretariat.

Ia ingin pengurus masuk ke persoalan kota.

Pendidikan.

UMKM.

Ekonomi.

Lingkungan.

Kesehatan.

Teknologi.

Budaya.

Pemuda.

Hingga kualitas sumber daya manusia.

“Pak Wali dan Pak Wakil punya visi membangun Kota Jambi. ISMI punya banyak sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Kalau dua kekuatan ini bertemu, kenapa tidak kita gunakan untuk membantu masyarakat?” ujarnya.

Maulana-Diza Jadi Simbol Dukungan

Kehadiran Maulana dan Diza dalam satu acara dinilai mempunyai arti tersendiri.

Keduanya adalah figur yang memegang kendali pemerintahan Kota Jambi.

Sementara ISMI membawa jaringan intelektual.

Di sinilah Ernawati melihat peluang.

Pemerintah memiliki kewenangan.

Sarjana memiliki pengetahuan.

Dunia usaha memiliki jaringan.

Masyarakat memiliki kebutuhan.

ISMI, kata Ernawati, harus mampu mempertemukan semuanya.

“Organisasi yang bagus bukan yang paling banyak rapatnya. Organisasi yang bagus adalah yang bisa menjadi jembatan. Ada orang punya ilmu, ada orang punya jaringan, ada pemerintah punya program, ada masyarakat punya masalah. ISMI harus mempertemukan itu,” katanya.

Pernyataan itu sejalan dengan pola gerakan Ernawati selama beberapa pekan terakhir.

Ia turun ke kampus.

Masuk pesantren.

Menemui anak yatim.

Membuka komunikasi dengan kepala daerah.

Mendorong penerbangan.

Berbicara ekonomi.

Membawa ulama internasional.

Dan kini memperkuat struktur ISMI di Kota Jambi.

Semuanya bergerak pada satu kata:

jaringan.

Ernawati: Jangan Jadikan ISMI Organisasi Elit

Dalam sambutannya, Ernawati juga mengingatkan pengurus yang baru dilantik agar tidak terjebak pada identitas “sarjana” sebagai status sosial.

Sarjana bukan kelas elit.

Sarjana justru memiliki tanggung jawab lebih besar.

“Jangan karena kita sarjana kemudian merasa lebih tinggi dari masyarakat. Justru semakin tinggi pendidikan, seharusnya semakin besar tanggung jawab kita untuk membantu orang lain,” kata Ernawati.

Ia meminta pengurus ISMI Kota Jambi keluar dari zona nyaman.

Jangan hanya membuat seminar.

Jangan hanya membuat diskusi.

Kegiatan intelektual tetap penting.

Namun setelah diskusi, harus ada sesuatu yang dikerjakan.

“Seminar perlu. Diskusi perlu. Tetapi setelah diskusi, apa? Kalau ada persoalan UMKM, bantu. Kalau ada persoalan pendidikan, kita cari solusi. Kalau ada anak muda butuh pendampingan, kita hadir. Jangan berhenti pada wacana,” ujarnya.

Ardhi Resmi Pegang Kendali ISMI Kota

Dalam pelantikan tersebut, Dr H Ardhi resmi menerima amanah sebagai Ketua ISMI Kota Jambi.

Ernawati memimpin langsung prosesi pelantikan.

Ikrar dibacakan.

Amanah diberikan.

Struktur organisasi resmi bergerak.

Ardhi mengatakan pelantikan bukan akhir.

Ia justru melihatnya sebagai titik dimulainya pekerjaan.

“Tema ini bagi kami bukan hanya slogan. Sarjana Melayu harus bersinergi, berinovasi dan berkontribusi. Ilmu yang kita miliki harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah,” kata Ardhi.

Ia melihat Kota Jambi memiliki sumber daya manusia yang sangat besar.

Akademisi ada.

Pengusaha ada.

Profesional ada.

Birokrat ada.

Tokoh masyarakat juga banyak.

Persoalannya, potensi itu sering berjalan sendiri-sendiri.

“Kita memiliki banyak sarjana dengan berbagai disiplin ilmu. Jangan sampai potensi itu berjalan sendiri-sendiri. ISMI harus menjadi ruang untuk menyatukan gagasan dan membangun kolaborasi,” ujar Ardhi.

Ernawati kemudian memberi pesan khusus kepada Ardhi.

Jangan menunggu terlalu lama.

Setelah pelantikan selesai, pengurus harus segera duduk menyusun prioritas.

Bukan puluhan program.

Cukup beberapa program.

Tetapi berjalan.

“Saya lebih suka lima program yang benar-benar dikerjakan daripada 50 program yang hanya bagus di atas kertas,” kata Ernawati.

Ia juga meminta Ardhi membuka pintu organisasi selebar-lebarnya.

ISMI tidak boleh eksklusif.

Generasi muda harus diberi ruang.

Perempuan harus dilibatkan.

Akademisi dan praktisi harus dipertemukan.

“Kadang akademisi punya teori, praktisi punya pengalaman. Kalau keduanya bertemu, hasilnya akan lebih kuat. Ini tugas ISMI,” ujarnya.

Kedekatan dengan Pemerintah Jangan Jadi Beban

Ernawati juga mengingatkan satu hal penting.

Hubungan baik dengan pemerintah jangan membuat organisasi kehilangan daya kritis.

Menurutnya, kemitraan tidak sama dengan ikut membenarkan semua kebijakan.

Sarjana tetap harus menggunakan ilmu.

Data.

Kajian.

Dan objektivitas.

“Kita dekat dengan pemerintah bukan untuk menjadi yes man. Kita dekat supaya komunikasi terbuka. Kalau ada yang bagus, kita dukung. Kalau ada yang perlu diperbaiki, kita sampaikan dengan cara yang santun dan ilmiah,” kata Ernawati.

Pernyataan itu menjadi penting karena pelantikan berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota.

Maulana hadir.

Diza hadir.

OPD hadir.

Namun Ernawati menegaskan ISMI tetap membawa identitas sebagai organisasi intelektual.

“Hubungan baik itu justru harus membuat kita lebih mudah memberikan masukan. Bukan sebaliknya,” katanya.

Ardhi: Kita Siap Dukung Kota Jambi Bahagia

Ardhi mengatakan ISMI Kota Jambi siap menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi Kota Jambi Bahagia.

Namun dukungan tersebut ingin diwujudkan melalui pendekatan berbasis keilmuan.

“Kita ingin ISMI hadir sebagai bagian dari solusi. Kalau ada persoalan di masyarakat, kita tidak hanya mengkritisi, tetapi ikut memberikan gagasan dan solusi berdasarkan keilmuan yang kita miliki,” kata Ardhi.

Ia menyebut sejumlah isu dapat menjadi ruang kontribusi.

Pendidikan.

Ekonomi.

Kesehatan.

Lingkungan.

Budaya.

Ketahanan pangan.

Teknologi.

Dan sumber daya manusia.

Menurut Ardhi, pembangunan kota semakin kompleks.

Karena itu cara menjawab persoalannya juga harus berubah.

“Sarjana harus mampu menjadi bagian dari perubahan. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus ikut menciptakan inovasi dan memberikan kontribusi nyata,” ujarnya.

Ernawati menaruh ekspektasi tinggi terhadap ISMI Kota Jambi.

Alasannya sederhana.

Kota Jambi adalah ibu kota provinsi.

Kampus banyak.

Profesional banyak.

Pengusaha banyak.

Birokrat banyak.

Organisasi masyarakat juga hidup.

Karena itu ISMI Kota memiliki sumber daya yang sangat besar.

“Kota Jambi harus menjadi salah satu etalase gerakan ISMI. Di sini sumber daya manusianya lengkap. Saya ingin ISMI Kota melahirkan banyak gagasan, banyak inovasi dan banyak kegiatan yang bisa menjadi contoh,” kata Ernawati.

Ia berharap ISMI Kota Jambi dapat menjadi laboratorium kolaborasi.

Jika berhasil, program tersebut dapat direplikasi di kabupaten lain.

Misalnya pendampingan UMKM.

Program remaja masjid.

Pemberdayaan anak muda.

Kajian strategis pembangunan.

Penguatan budaya Melayu.

Hingga program sosial.

“Kalau Kota Jambi punya program bagus, nanti kita bawa ke kabupaten. Kalau kabupaten punya inovasi bagus, kita bawa ke kota. ISMI harus menjadi jaringan yang saling belajar,” katanya.

Melayu Jangan Tinggal di Panggung Tari

Identitas Melayu juga mendapat perhatian.

Ernawati tidak ingin kata “Melayu” hanya muncul ketika ada pakaian adat atau tarian.

Menurutnya, Melayu adalah nilai.

Sopan santun.

Musyawarah.

Gotong royong.

Menghormati orang tua.

Dekat dengan agama.

Peduli terhadap lingkungan sosial.

“Melayu jangan hanya ada di panggung tari. Nilainya harus hidup. Anak muda kita boleh modern, boleh jago teknologi, boleh sekolah setinggi-tingginya, tetapi adab dan identitasnya jangan hilang,” kata Ernawati.

Ardhi menyampaikan pandangan serupa.

“Kita ingin sarjana Melayu tetap memiliki akar budaya yang kuat, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beradat, tetapi tetap inovatif,” katanya.

Dari Griya Mayang, Sinyal Kolaborasi Menguat

Pelantikan akhirnya tidak hanya menghasilkan struktur baru.

Ada sinyal lain yang lebih kuat.

ISMI Kota Jambi ingin bergerak dekat dengan Pemerintah Kota Jambi.

Ernawati membuka pintu.

Ardhi menerima amanah.

Maulana hadir.

Diza ikut berada dalam forum.

Kepala OPD menyaksikan.

Sebuah ekosistem kolaborasi mulai terlihat.

Tinggal satu pertanyaan:

apa yang terjadi setelah panggung dibongkar?

Ernawati mengingatkan itu dalam penutup sambutannya.

“Jangan sampai malam ini kita penuh semangat, besok selesai. Saya ingin setelah ini langsung bergerak. Bangun komunikasi dengan Pak Wali, Pak Wakil, kampus, pengusaha, masyarakat. Jangan tunggu masyarakat datang ke ISMI. Kita yang turun menemui mereka,” kata Ernawati.

Pelantikan memang hanya berlangsung beberapa jam.

Masa pengabdian jauh lebih panjang.

Dan bagi Ernawati, ukuran keberhasilan ISMI Kota Jambi bukan seberapa megah prosesi di Griya Mayang.

Tetapi seberapa banyak warga Kota Jambi yang suatu hari bisa mengatakan:

kehadiran para sarjana itu memang terasa manfaatnya.(*)

BeritaSatu Network