Belanja Dinkes Kota Jambi Rp3,38 Miliar via E-Katalog, Standard Biosensor Pegang Rp 2,21 Miliar

WIB
ist

Kota Jambi - Belanja pengadaan Dinas Kesehatan Kota Jambi tahun 2026 hingga 7 September 2026 menarik dibedah.

Angkanya mencapai Rp3,38 miliar.

Semuanya dilakukan melalui E-Purchasing di E-Katalog Versi 6.0.

Namun ada satu angka yang langsung mencolok.

Dari total Rp3,38 miliar transaksi yang tercatat dalam data, STANDARD BIOSENSOR HEALTHCARE sendirian mengantongi transaksi senilai Rp2.212.819.643 untuk paket Belanja Obat-obatan Lainnya (DAK Non Fisik).

Artinya, satu transaksi kepada satu penyedia tersebut menyerap sekitar 65,46 persen dari keseluruhan nilai transaksi dalam data yang dianalisis Jambi Link.

Lebih dari separuh.

Jauh meninggalkan penyedia lainnya.

Paket obat-obatan itu berkode RUP 67129237, menggunakan sumber dana yang dalam data dicatat APBDP, berstatus ON PROCESS dan berada pada tahapan Kontrak. Nilai PDN-nya juga tercatat persis Rp2,212 miliar, sedangkan nilai UMK tercatat nol.

Lantas, ke mana saja Rp3,38 miliar belanja Dinkes Kota Jambi tersebut mengalir?

Berikut penelusuran Jambi Link.

106 Transaksi, Bukan 106 Paket Berbeda

Data realisasi yang dihimpun Jambi Link memuat 106 transaksi tahun anggaran 2026.

Namun angka 106 jangan dibaca sebagai 106 paket RUP yang berbeda.

Setelah kode RUP dicocokkan satu per satu, terdapat 25 kode RUP dalam data. Beberapa kode RUP muncul berulang dalam transaksi yang berbeda.

Seluruh 106 transaksi menggunakan metode E-Purchasing dan sumber transaksi E-Katalog Versi 6.0. Jenis pengadaannya terdiri dari barang dan jasa lainnya.

Total nilai transaksi mencapai tepat:

Rp3.380.252.139.

Dari angka itu, pengadaan berjenis barang mendominasi dengan 99 transaksi senilai sekitar Rp2,904 miliar.

Sedangkan tujuh transaksi jasa lainnya mencapai Rp475,35 juta.

Jadi tak ada tender dalam data realisasi ini.

Tak ada pengadaan langsung.

Semuanya lewat katalog elektronik.

Standard Biosensor Sendirian Rp2,21 Miliar

Posisi paling atas ditempati STANDARD BIOSENSOR HEALTHCARE.

Perusahaan tersebut hanya muncul satu kali.

Tapi sekali muncul, nilainya langsung Rp2.212.819.643.

Nama paketnya:

Belanja Obat-obatan Lainnya (DAK Non Fisik).

Statusnya masih ON PROCESS-Kontrak.

Nominal Rp2,21 miliar itu setara sekitar 65,46 persen dari total Rp3,38 miliar transaksi yang dianalisis.

Dengan kata lain, gabungan nilai 105 transaksi lainnya bahkan masih lebih kecil dibanding satu transaksi ini.

Tentu, besarnya nilai kepada satu penyedia tidak otomatis menunjukkan adanya persoalan.

Tetapi karena porsinya sangat dominan, dokumen yang menarik untuk dibuka berikutnya adalah jenis obat yang dibeli, jumlah unit, harga satuan katalog, merek, spesifikasi, kebutuhan fasilitas kesehatan serta perbandingan harga produk sejenis.

Di situlah kewajaran belanja bisa diuji dengan data.

Nomor Dua Alih Daya Sejahtera Rp295,75 Juta

Jauh di bawah Standard Biosensor, posisi kedua berdasarkan nilai adalah ALIH DAYA SEJAHTERA.

Penyedia ini mendapat transaksi Rp295.750.000.

Paketnya bernama Belanja Jasa yang Diberikan kepada Pihak Ketiga/Pihak Lain, kode RUP 66421321.

Metodenya E-Purchasing.

Statusnya ON PROCESS-Kontrak.

Nilai PDN dan nilai UMK sama-sama tercatat Rp295,75 juta.

Posisi berikutnya ditempati INSCIENPRO INSTRUMEN INDONESIA.

Nilainya Rp192.856.950 untuk paket Belanja Bahan-bahan Kimia (DAK Non Fisik).

Kode RUP 67130660.

Sumber dananya tercatat APBDP dan statusnya ON PROCESS-Kontrak.

Jika tiga penyedia terbesar digabungkan—Standard Biosensor Healthcare, Alih Daya Sejahtera dan Inscienpro Instrumen Indonesia—nilainya mencapai sekitar Rp2,701 miliar.

Itu setara hampir 80 persen dari seluruh transaksi dalam data.

Sako Teras Utama Rp128 Juta

Di bawah tiga nama itu ada SAKO TERAS UTAMA.

Penyedia tersebut memperoleh dua transaksi dengan total Rp128.247.180.

Rinciannya:

Belanja Alat/Bahan untuk Kegiatan Kantor-Kertas dan Cover senilai Rp79.296.180.

Kemudian Belanja Alat/Bahan untuk Kegiatan Kantor-Bahan Komputer senilai Rp48.951.000.

Menariknya, kode RUP belanja kertas dan cover, yakni 62129553, juga memiliki transaksi kepada penyedia lain.

Penyedia itu adalah WAHYUDI dengan nilai Rp45.188.100.

Jika seluruh transaksi pada kode RUP tersebut digabungkan, nilai belanja kertas dan cover mencapai Rp124.484.280.

Sabang Raya Hotel Rp114,8 Juta

Belanja kegiatan pertemuan juga muncul.

SABANG RAYA HOTEL tercatat menerima tiga transaksi dengan total Rp114,8 juta.

Dua transaksi masing-masing sebesar Rp36,4 juta untuk Biaya Paket Kegiatan Pertemuan/Rapat di Luar Kantor-Pertemuan Orientasi Pembinaan Posyandu Bidang Kesehatan bagi Tenaga Puskesmas (DAK Non Fisik)-KESMAS.

Total dua transaksi itu Rp72,8 juta.

Satu transaksi lainnya sebesar Rp42 juta untuk Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Dalam Kota-Koordinasi Implementasi Jejaring Layanan dan Program Gizi KIA Kespro (DAK Non Fisik).

Total kepada Sabang Raya Hotel:

Rp114.800.000.

Satu Penyedia Muncul 24 Kali

Kalau Standard Biosensor mendominasi secara nilai, ada nama lain yang menonjol dari frekuensi transaksi.

Namanya USAHA BERSAMA KULINER JELUTUNG.

Penyedia ini muncul sebanyak 24 kali dalam data.

Nilai gabungannya mencapai Rp90.995.000.

Transaksinya tersebar pada sejumlah belanja konsumsi, di antaranya makanan dan minuman rapat, nasi untuk PSC 119 serta konsumsi kegiatan kampanye dan penggerakan masyarakat untuk hidup sehat.

Salah satu pola terlihat pada kode RUP 67120188.

Nama paketnya panjang: Belanja Barang untuk Dijual/Diserahkan kepada Masyarakat-Belanja Makanan dan Minuman Rapat-Kampanye dan Penggerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (DAK Non Fisik)-KESMAS.

Dalam data, kode RUP tersebut muncul 11 kali dengan nilai masing-masing Rp4,815 juta.

Jika dijumlahkan, transaksi pada kode RUP itu mencapai Rp52.965.000. Statusnya beragam: ada yang ON PROCESS, PAYMENT OUTSIDE SYSTEM hingga satu transaksi ON ADDENDUM.

Kesamaan nilai dan pengulangan transaksi itu belum menjadi bukti pelanggaran.

Namun secara jurnalistik, ada pertanyaan yang layak dibuka: apakah transaksi tersebut mewakili pelaksanaan kegiatan yang berbeda, berapa volume konsumsinya, kapan masing-masing kegiatan digelar dan bagaimana harga satuannya.

QProduction Muncul 22 Kali

Nama lain yang berulang adalah QPRODUCTION.

Dalam data, penyedia ini muncul 22 transaksi dengan nilai total sekitar Rp68.854.077.

Transaksi tersebut terkonsentrasi pada dua kode RUP.

Pertama, belanja sewa peralatan studio audio untuk kegiatan kampanye dan penggerakan masyarakat hidup sehat.

Kode RUP 67120241.

Dalam data, transaksi ini muncul berulang dengan nilai umumnya Rp1.998.000.

Kedua, belanja sewa alat rumah tangga lainnya untuk kegiatan yang sama.

Kode RUP 67120222.

Transaksinya umumnya berada di kisaran Rp4.288.707, dengan satu transaksi Rp3.989.007.

Jika seluruh transaksi kode RUP 67120222 digabungkan, nilainya mencapai sekitar Rp46,876 juta.

Sedangkan kode RUP 67120241 sekitar Rp21,978 juta.

Wahyudi 14 Transaksi Rp74,38 Juta

WAHYUDI juga cukup sering muncul.

Totalnya 14 transaksi dengan nilai gabungan Rp74.381.100.

Paket terbesar adalah kertas dan cover sebesar Rp45.188.100.

Ada pula belanja perabotan kantor Rp13.133.520.

Selebihnya didominasi transaksi bahan cetak untuk kampanye dan penggerakan masyarakat hidup sehat.

Kode RUP 67120150 itu muncul berkali-kali, sebagian besar masing-masing bernilai Rp865.800.

Snack: Snova Muncul 16 Kali

Untuk belanja makanan dan minuman rapat berupa snack, SNOVA SENJA DWI PUTRI muncul sebanyak 16 transaksi.

Total nilainya Rp12.456.000.

Nilai per transaksinya bervariasi, mulai ratusan ribu hingga Rp2,16 juta.

Pada kode RUP yang sama, yakni 62130974, terdapat pula transaksi USAHA BERSAMA KULINER JELUTUNG senilai Rp4,5 juta.

Total keseluruhan transaksi untuk kode RUP belanja snack tersebut menjadi Rp16.956.000.

Ada Paket Meeting Rp42 Juta Lagi

Selain Sabang Raya Hotel, data memuat RAJATO MITRA SENTOSA HOTELINDO.

Penyedia tersebut mendapat dua transaksi bertajuk Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Dalam Kota (DAK Non Fisik).

Nilainya masing-masing Rp19,25 juta dan Rp22,75 juta.

Total:

Rp42 juta.

Keduanya tercatat bersumber dari APBDP, menggunakan E-Purchasing dan status PAYMENT OUTSIDE SYSTEM-Serah Terima.

Istilah PAYMENT OUTSIDE SYSTEM di sini merupakan status sebagaimana tertulis dalam data platform. Status itu sendiri tidak boleh diterjemahkan sebagai adanya pembayaran ilegal atau penyimpangan.

Ini Daftar 18 Penyedia dan Nilainya

Jika seluruh 106 transaksi dikelompokkan berdasarkan penyedia, hasilnya sebagai berikut:

  1. STANDARD BIOSENSOR HEALTHCARE — 1 transaksi — Rp2.212.819.643
  2. ALIH DAYA SEJAHTERA — 1 transaksi — Rp295.750.000
  3. INSCIENPRO INSTRUMEN INDONESIA — 1 transaksi — Rp192.856.950
  4. SAKO TERAS UTAMA — 2 transaksi — Rp128.247.180
  5. SABANG RAYA HOTEL — 3 transaksi — Rp114.800.000
  6. USAHA BERSAMA KULINER JELUTUNG — 24 transaksi — Rp90.995.000
  7. WAHYUDI — 14 transaksi — Rp74.381.100
  8. QPRODUCTION — 22 transaksi — Rp68.854.077
  9. APRIJON BURHANUDDIN — 2 transaksi — Rp45.830.790
  10. RAJATO MITRA SENTOSA HOTELINDO — 2 transaksi — Rp42.000.000
  11. SRI FITRI RIZKI — 1 transaksi — Rp32.400.000
  12. DINDA PUTRA — 1 transaksi — Rp32.400.000
  13. KHAIRUDDIN — 3 transaksi — Rp14.868.899
  14. CAHAYA MINANG KOTA BARU — 6 transaksi — Rp14.000.000
  15. SNOVA SENJA DWI PUTRI — 16 transaksi — Rp12.456.000
  16. ENAM PUTRA ARJUNA — 5 transaksi — Rp4.162.500
  17. FARHAN ALVITO ARFIN — 1 transaksi — Rp2.800.000
  18. LILY SUARNI — 1 transaksi — Rp630.000

Jumlah seluruhnya tetap Rp3.380.252.139. Data sumber memuat transaksi dari 18 nama penyedia tersebut sepanjang 106 baris realisasi.

APBDP Cuma 4 Transaksi, Nilainya Rp2,44 Miliar

Ada satu pola lain.

Dari 106 transaksi, sebanyak 102 transaksi tercatat menggunakan sumber dana APBD.

Nilainya sekitar Rp932,57 juta.

Sementara hanya empat transaksi menggunakan sumber dana yang ditulis APBDP dalam data.

Tapi empat transaksi ini nilainya justru mencapai sekitar:

Rp2.447.676.593.

Atau sekitar 72,41 persen dari seluruh nilai transaksi.

Penyebabnya terutama satu transaksi obat-obatan Rp2,212 miliar tadi.

Empat transaksi APBDP tersebut adalah belanja obat kepada Standard Biosensor Healthcare, bahan kimia kepada Inscienpro Instrumen Indonesia serta dua transaksi paket meeting kepada Rajato Mitra Sentosa Hotelindo.

Rp3,08 Miliar Masih Berstatus ON PROCESS

Jika dilihat dari status paket, nilai yang masih tercatat ON PROCESS-Kontrak mendominasi.

Ada 51 transaksi dengan nilai sekitar Rp3,084 miliar.

Kemudian 54 transaksi berstatus PAYMENT OUTSIDE SYSTEM-Serah Terima dengan nilai sekitar Rp290,88 juta.

Satu transaksi senilai Rp4,815 juta berstatus ON ADDENDUM-Kontrak.

Sekali lagi, istilah tersebut merupakan label status yang muncul dalam data sistem.

Porsi Besar, Transaksi Berulang: Dokumen Detail Jadi Kunci

Dari data ini, setidaknya ada dua sisi yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

Pertama, konsentrasi nilai.

Satu penyedia, Standard Biosensor Healthcare, mendapat satu transaksi Rp2,212 miliar—sekitar 65 persen dari keseluruhan nilai dalam data.

Kedua, frekuensi transaksi.

Usaha Bersama Kuliner Jelutung muncul 24 kali, QProduction 22 kali, Snova Senja Dwi Putri 16 kali, dan Wahyudi 14 kali.

Banyaknya transaksi kepada penyedia yang sama juga tidak otomatis berarti pengadaan dipecah atau melanggar aturan.

Data realisasi ini belum menunjukkan tanggal pemesanan secara lengkap, kuantitas barang, harga satuan, spesifikasi, jumlah peserta kegiatan ataupun alasan pemilihan produk/penyedia.

Karena itu kesimpulan tidak boleh melompat.

Tapi justru di situlah pintu penelusurannya.

Untuk belanja obat Rp2,21 miliar, misalnya: obat apa yang dibeli dan berapa harga satuannya?

Untuk puluhan transaksi konsumsi: kegiatan apa saja, berapa pesertanya dan berapa harga per porsi?

Untuk sewa peralatan yang muncul berulang: apakah berlangsung pada kegiatan dan tanggal berbeda?

Semua jawaban itu ada di dokumen transaksi dan kontrak.

Data sudah menunjukkan polanya.

Tinggal dibuka lebih dalam.(*)

BeritaSatu Network