Kuala Tungkal - Usai beristirahat sejenak dan menikmati kelapa muda serta kudapan tradisional, Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah tak berlama-lama duduk.
Ulama asal Alexandria, Mesir, itu kemudian melipir ke masjid Pondok Pesantren Asy-Syatibi, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Sabtu (5/9/2026) sore.
Ratusan santri sudah menunggu.
Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati ikut hadir bersama jajaran pengurus ISMI.
Begitu Syekh Ala mengambil tempat, suasana yang semula tertib perlahan mencair.
Ia tidak langsung berbicara dengan nada berat.
Ada guyonan.
Ada pertanyaan kepada santri.
Ada senyum.
Sesekali ia melempar kalimat yang membuat ratusan santri tertawa.
Namun setelah tawa pecah, Syekh Ala tiba-tiba membawa mereka masuk ke pembicaraan serius.
Tentang ilmu.
Tentang Al-Qur'an.
Tentang masa muda.
Dan tentang bagaimana para penuntut ilmu pada generasi terdahulu rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan kenyamanan hidup demi mendapatkan satu pelajaran dari seorang guru.
Ceramah disampaikan dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia agar seluruh santri dapat memahami isi pesan yang disampaikan.
Santri Dibikin Tertawa
Syekh Ala mempunyai cara sendiri menghadapi santri.
Ia tidak membangun suasana seperti kuliah formal.
Beberapa kali ia melempar pertanyaan ringan.
Siapa yang hafal Al-Qur'an?
Siapa yang ingin menjadi ulama?
Siapa yang ingin belajar sampai Mesir?
Tangan-tangan mulai terangkat.
Syekh Ala tersenyum.
Kadang jawaban santri dibalas dengan guyonan.
Ruang masjid pun riuh.
Namun setelah itu nada ceramahnya kembali serius.
“Kalau kalian ingin menjadi orang berilmu, jangan hanya mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang ingin menjadi ulama. Tangan boleh cepat naik, tetapi setelah itu harus ada kesungguhan belajar,” ujar Syekh Ala melalui penerjemah.
Santri kembali tertawa.
Pesannya ringan.
Tetapi langsung mengenai sasaran.
Masa Muda Jangan Habis Tanpa Ilmu
Syekh Ala kemudian mengajak santri melihat sejarah para ulama dan penuntut ilmu pada masa lalu.
Ia mengatakan banyak ulama besar sudah dekat dengan Al-Qur'an sejak usia sangat muda.
Masa remaja mereka tidak dibiarkan berlalu tanpa arah.
Al-Qur'an dihafal.
Bahasa dipelajari.
Guru didatangi.
Kitab dibaca.
Dan waktu dijaga.
“Jangan mengatakan, ‘Saya masih muda, nanti saja saya serius belajar.’ Justru karena kalian masih muda, sekaranglah waktunya. Ingatan masih kuat, tenaga masih kuat dan perjalanan hidup masih panjang,” kata Syekh Ala.
Ia kemudian mengingatkan bahwa seorang hafiz tidak lahir hanya karena mempunyai suara bagus.
Ada pengulangan.
Ada disiplin.
Ada malam-malam panjang.
Ada ayat yang dibaca berkali-kali sampai menempel dalam ingatan.
“Orang yang menghafal Al-Qur'an bukan orang yang sekali membaca lalu langsung hafal. Ada yang mengulang sepuluh kali, dua puluh kali, seratus kali. Jangan malu mengulang. Yang harus kalian malu adalah kalau punya waktu tetapi tidak digunakan untuk belajar,” ujarnya.
Kisah Anak Muda Penghafal Al-Qur'an
Syekh Ala membawa santri pada cerita para ulama besar yang sejak kecil telah menempatkan Al-Qur'an sebagai pusat hidup mereka.
Ia menyinggung Imam Syafi'i sebagai salah satu contoh kesungguhan anak muda dalam ilmu.
Imam Syafi'i dikenal telah menghafal Al-Qur'an sejak usia sangat muda dan kemudian bergerak mendalami bahasa, hadis serta fiqih.
Bagi Syekh Ala, yang penting bukan sekadar mengagumi hasilnya.
Santri harus melihat prosesnya.
“Kalau kalian hanya berkata, ‘Masyaallah Imam Syafi'i hebat’, kemudian setelah itu tidur dan tidak belajar, apa manfaat cerita Imam Syafi'i bagi kalian?” kata Syekh Ala.
Santri kembali tertawa.
Syekh Ala kemudian melanjutkan.
“Kita membaca kisah orang-orang besar supaya kita malu kepada diri sendiri. Mereka masih muda tetapi waktunya penuh dengan ilmu. Kita juga muda, maka tanyakan kepada diri kita: waktu kita penuh dengan apa?”
Perjuangan Sahabat Mencari Ilmu
Pembicaraan kemudian bergerak ke generasi sahabat Rasulullah SAW.
Syekh Ala mengingatkan bahwa ilmu pada masa itu tidak diperoleh semudah sekarang.
Tidak ada telepon genggam.
Tidak ada mesin pencari.
Tidak ada video ceramah yang bisa diputar kapan saja.
Untuk mendapatkan satu hadis atau satu penjelasan, seseorang bisa berjalan jauh.
Datang ke rumah seorang guru.
Menunggu.
Bertanya.
Kemudian menghafal.
“Sekarang kalian mencari satu hadis cukup membuka telepon. Dulu para sahabat berjalan. Mereka menunggu guru. Mereka menahan lelah. Karena itu jangan sampai kemudahan yang Allah berikan hari ini justru membuat kita semakin malas,” ujar Syekh Ala.
Ia mengingatkan kisah Abdullah bin Abbas yang sejak muda mempunyai semangat luar biasa dalam menuntut ilmu.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Ibnu Abbas mendatangi para sahabat senior untuk belajar hadis.
Ia bahkan rela menunggu di depan rumah seorang sahabat hingga orang tersebut keluar.
“Bayangkan, seorang pemuda datang mencari ilmu dan menunggu. Tidak berkata, ‘Guru harus datang kepada saya.’ Tidak berkata, ‘Saya capek.’ Dia yang mendatangi ilmu,” kata Syekh Ala.
“Sekarang kalau guru terlambat lima menit, murid sudah bertanya: kapan selesai?” lanjutnya sambil tersenyum.
Santri kembali pecah tertawa.
Abu Hurairah dan Kesungguhan Menghafal
Syekh Ala juga membawa contoh Abu Hurairah.
Sahabat Nabi itu dikenal mempunyai perhatian sangat besar terhadap hadis Rasulullah SAW.
Ia banyak menyertai Nabi dan menggunakan waktunya untuk mendengar serta menghafal.
Syekh Ala menjelaskan bahwa kemampuan menghafal lahir dari kecintaan.
Jika seseorang mencintai sesuatu, ia akan menyediakan waktu.
“Kenapa Abu Hurairah mampu menjaga begitu banyak hadis? Karena hatinya bersama Rasulullah. Waktunya digunakan untuk mendengar. Kalau hati kalian cinta kepada ilmu, kalian akan mencari waktu untuk ilmu,” kata Syekh Ala.
Ia kemudian membuat perbandingan dengan kehidupan santri hari ini.
“Kalau telepon kalian hilang, mungkin satu pesantren ikut mencari,” katanya.
Santri tertawa keras.
“Tetapi kalau satu halaman hafalan hilang dari kepala, apakah kalian juga gelisah mencarinya?”
Tawa santri berubah menjadi senyum.
Pesannya sampai.
Ilmu Butuh Guru
Satu hal lain yang ditekankan Syekh Ala adalah pentingnya guru.
Menurutnya, kitab sangat penting.
Teknologi juga bisa membantu.
Namun penuntut ilmu tetap membutuhkan orang yang membimbing.
Guru bukan hanya menunjukkan isi buku.
Guru menunjukkan cara memahami.
Guru juga mengajarkan adab.
“Ilmu tidak cukup hanya dari tulisan. Ada hal yang kalian dapatkan dengan duduk di depan guru. Cara guru menjelaskan, cara guru bersikap, cara guru berbeda pendapat, semuanya adalah pendidikan,” ujar Syekh Ala.
Ia mengatakan penuntut ilmu tidak boleh malu bertanya.
Tidak memahami bukan aib.
Yang menjadi masalah adalah tidak memahami tetapi pura-pura tahu.
“Kalau tidak mengerti, tanyakan. Jangan takut guru menganggap kalian tidak pintar. Kita semua belajar karena awalnya tidak tahu,” katanya.
Zikir Jaga Hati Penuntut Ilmu
Seperti pada sejumlah ceramah sebelumnya di Jambi, Syekh Ala kembali menghubungkan ilmu dengan zikir.
Menurutnya, seorang penuntut ilmu harus menjaga hati.
Ilmu yang banyak tetapi tidak disertai ingat kepada Allah bisa melahirkan kesombongan.
Sebaliknya, zikir membuat seseorang sadar bahwa ilmu berasal dari Allah.
“Belajar dengan pikiran kalian, tetapi jangan tinggalkan hati. Lidah membaca kitab, hati berzikir kepada Allah,” ujar Syekh Ala.
Ia meminta santri membiasakan shalawat, istighfar dan zikir di tengah aktivitas belajar.
“Jangan merasa zikir mengurangi waktu belajar. Zikir menjaga hati kalian agar ilmu menjadi cahaya, bukan menjadi alasan untuk merasa lebih hebat dari orang lain,” katanya.
Ernawati Menyimak Sang Guru
Hj Ernawati duduk menyimak ceramah.
Pemandangan itu seperti mengulang suasana yang pernah ia alami di Alexandria.
Bedanya, kali ini bukan dirinya yang menjadi murid di hadapan Syekh Ala.
Ratusan santri Asy-Syatibi yang duduk di depan sang guru.
Ernawati mengatakan gaya mengajar seperti itulah yang selama ini membuatnya terkesan.
“Beliau bisa membuat orang tertawa, tetapi setelah tertawa kita tiba-tiba mendapat pelajaran yang sangat dalam. Murid tidak merasa ditekan. Tidak merasa digurui. Justru kita dibuat ingin belajar,” kata Ernawati.
Ia berharap santri benar-benar menyimpan pesan Syekh Ala.
“Jangan hanya senang karena hari ini bertemu ulama dari Mesir. Ambil ilmunya. Ambil semangat belajarnya. Kalau hari ini ada anak yang setelah pulang menjadi lebih rajin menghafal Al-Qur'an, lebih rajin belajar, itu jauh lebih berharga,” ujarnya.
Pesan untuk Santri Asy-Syatibi
Menjelang bagian akhir ceramah, Syekh Ala kembali mengingatkan santri untuk tidak meremehkan umur mereka.
Hari-hari di pesantren akan cepat berlalu.
Hari ini kelas satu.
Besok naik kelas.
Kemudian lulus.
Yang tersisa adalah apa yang benar-benar ditanam selama berada di pesantren.
“Jangan menunggu menjadi tua untuk menjadi orang baik. Jangan menunggu dewasa untuk serius belajar. Para ulama yang kalian baca kisahnya memulai ketika muda,” kata Syekh Ala.
Ia kemudian menyampaikan pesan yang sederhana tetapi tajam:
“Kalau kalian menjaga Al-Qur'an ketika muda, Al-Qur'an akan menjaga kehidupan kalian. Kalau kalian mencintai ilmu ketika muda, insyaallah ilmu akan mengangkat kalian ketika dewasa.”
Masjid pun kembali hening.
Tak lama kemudian Syekh Ala melempar guyonan lain.
Tawa kembali pecah.
Sore itu, ratusan santri Asy-Syatibi memang banyak tertawa.
Tetapi di antara tawa tersebut, Syekh Ala meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih serius:
para sahabat dan ulama terdahulu menghabiskan masa mudanya untuk mencari ilmu dan menjaga Al-Qur'an.
Lalu, untuk apa masa muda santri hari ini akan digunakan?