Hangatnya HBA-Tuan Guru Sholahuddin Bersama Syekh Ala di Daaru Attauhid

WIB
Ist

Muaro Jambi - Ada sisi lain dari lawatan Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah ke Pondok Pesantren Daaru Attauhid, Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Jumat (4/9/2026) malam.

Bukan hanya ceramah.

Bukan pula sekadar pertemuan antara ulama asal Mesir dengan ratusan santri.

Di sela majelis ilmu itu, muncul suasana yang jauh lebih personal.

Hangat.

Akrab.

Nyaris seperti pertemuan sebuah keluarga besar yang lama tidak duduk bersama.

Di sana ada mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus atau HBA. Ada Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati. Ada pimpinan Pondok Pesantren Daaru Attauhid KH Sholahuddin Syargawi Al Qodiri. Dan tentu saja ada Syekh Ala, ulama asal Alexandria yang malam itu menjadi pusat perhatian para santri.

Empat tokoh itu terlihat cair.

Tidak kaku.

Percakapan sesekali diselingi senyum dan tawa.

Jarak antara pejabat, pengusaha, pimpinan pesantren dan ulama seperti lenyap ketika semuanya duduk dalam satu majelis.

HBA bahkan bukan orang baru bagi Syekh Ala.

Dalam ceramahnya, Syekh Ala sempat mengenang pertemuannya dengan HBA di Madinah.

Cerita itu langsung membuat suasana semakin dekat.

HBA dan Syekh Ala Ternyata Pernah Bertemu di Madinah

Syekh Ala melihat ke arah HBA dan menyebut keduanya pernah bertemu di Tanah Suci.

HBA tersenyum.

Para jamaah ikut memperhatikan.

Pertemuan kembali di Daaru Attauhid malam itu pun terasa seperti menyambung silaturahmi yang sebelumnya terjalin ribuan kilometer dari Jambi.

Bagi HBA, kehadiran Syekh Ala di Jambi menjadi momentum yang istimewa.

HBA bukan sosok asing dalam perjalanan politik dan pemerintahan Jambi. Ia pernah menjadi Gubernur Jambi dan juga menjalani dua periode pengabdian sebagai anggota DPR RI.

Namun malam itu, atribut jabatan seperti diletakkan di luar majelis.

Ia hadir sebagai jamaah.

Duduk mendengarkan seorang ulama.

"Alhamdulillah, saya sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan Syekh Ala. Kami pernah bertemu di Madinah. Sekarang Allah mempertemukan lagi di Jambi, bahkan di tengah para santri. Ini tentu silaturahmi yang sangat indah," kata HBA.

HBA mengatakan kedatangan ulama ke Jambi harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar.

"Beliau datang membawa ilmu, membawa nasihat dan membawa suasana kecintaan kepada Rasulullah SAW. Masyarakat dan terutama anak-anak santri harus mengambil kesempatan ini. Bertemu guru seperti ini tidak terjadi setiap hari," ujarnya.

HBA: Yang Besar Justru Terlihat Sederhana

Ada satu hal yang menurut HBA menarik dari Syekh Ala.

Kesederhanaannya.

Meskipun dikenal sebagai ulama dengan tradisi keilmuan Al-Azhar dan mempunyai banyak murid, Syekh Ala malam itu justru berjalan mengelilingi santri.

Mendekati mereka.

Mengajak bicara.

Bercanda.

Bahkan menggunakan bahasa Jambi.

"Sayo cinto Jambi," kata Syekh Ala.

Santri langsung bersorak.

HBA ikut tersenyum melihat suasana tersebut.

"Orang berilmu biasanya semakin tinggi ilmunya semakin sederhana. Itu yang kita lihat malam ini. Beliau tidak membuat jarak dengan santri. Datang, menyapa, berdialog. Ini juga pendidikan bagi kita semua," kata HBA.

Menurut HBA, karakter seperti itu sangat penting untuk diteladani generasi muda.

"Bukan hanya ilmunya yang kita ambil. Akhlaknya juga. Bagaimana menghormati orang, bagaimana menyayangi murid, bagaimana ilmu tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi," ujarnya.

Syekh Ala: Ernawati Seperti Adik Kandung Saya

Momen yang paling emosional muncul ketika Syekh Ala berbicara mengenai Hj Ernawati.

Ernawati bukan sekadar orang yang mengundangnya datang ke Jambi.

Ia merupakan murid Syekh Ala selama berada di Mesir.

Hubungan guru dan murid tersebut rupanya berkembang menjadi kedekatan kekeluargaan.

Di hadapan jamaah, Syekh Ala menyampaikan dalam bahasa Arab bahwa Ernawati baginya sudah seperti adik kandung.

"السيدة إرناواتي بمنزلة أختي الصغرى، وأنا أعتبرها من أهلي."

"Ibu Ernawati sudah seperti adik kandung saya. Saya menganggap beliau bagian dari keluarga saya."

Catatan jurnalistik: redaksi Arab di atas merupakan formulasi sesuai substansi pernyataan yang Anda sampaikan. Jika ada rekaman ucapan asli Syekh Ala, sebaiknya teks Arabnya dicocokkan kembali sebelum dipasang sebagai kutipan verbatim.

Pernyataan itu membuat hubungan Syekh Ala dan Ernawati terlihat berbeda.

Bukan hubungan formal antara penceramah dan pengundang.

Ada ikatan guru dan murid.

Ada rasa percaya.

Ada hubungan keluarga secara emosional.

Ernawati yang berada di dekat sang guru terlihat tersenyum.

Ernawati: Saya Merasa Punya Kakak di Mesir

Ernawati mengaku kedekatannya dengan Syekh Ala tumbuh melalui proses panjang belajar di Alexandria.

Ia datang sebagai murid.

Duduk di majelis.

Mengikuti pelajaran.

Mengikuti ziarah.

Belajar shalawat.

Dan melihat langsung kehidupan sang guru.

"Saya memang memanggil beliau guru. Tetapi dalam perjalanan waktu, saya merasa seperti punya kakak di Mesir. Beliau memperlakukan saya bukan sekadar murid. Ada perhatian, ada kasih sayang dan ada rasa kekeluargaan yang sangat kuat," kata Ernawati.

Ia mengaku terharu ketika Syekh Ala menyebut dirinya seperti adik kandung.

"Bagi saya itu penghormatan yang sangat besar. Bukan karena disebut dekat dengan seorang ulama, tetapi karena saya tahu bagaimana akhlak beliau kepada murid. Saya banyak belajar bukan hanya dari apa yang beliau ucapkan, tetapi dari bagaimana beliau hidup," ujarnya.

Dari Alexandria, Hubungan Itu Sampai ke Kumpeh

Ernawati kemudian menceritakan bagaimana hubungan tersebut bermula jauh dari Jambi.

Di Alexandria.

Di sanalah ia berguru.

Menurut Ernawati, Syekh Ala mengajar dengan cara yang tidak membuat murid merasa sedang dihakimi.

Tidak menggurui.

Tidak membangun jarak.

Tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk menunjukkan kehebatan diri.

"Beliau mengajarkan kita dengan kasih sayang. Kalau kita belum paham, dijelaskan lagi. Kalau kita belum mengerti, tidak dimarahi. Justru dibimbing. Dari situ tumbuh rasa cinta kepada ilmu," kata Ernawati.

Ia juga mengatakan Syekh Ala tidak pernah meminta bayaran untuk mengajar.

Bahkan dalam berbagai kesempatan justru sang guru banyak bersedekah kepada murid.

"Jadi ketika beliau datang ke Jambi, saya ingin masyarakat dan para santri melihat langsung sosok yang selama ini saya ceritakan. Bukan hanya mendengar ilmunya, tetapi melihat akhlaknya," ujarnya.

Tuan Guru Sholahuddin Jadi Tuan Rumah yang Menyatukan Semuanya

Di antara kehangatan itu ada sosok lain yang tidak kalah penting.

Pimpinan Pondok Pesantren Daaru Attauhid, KH Sholahuddin Syargawi Al Qodiri.

Ia menjadi tuan rumah yang mempertemukan semua tokoh tersebut dalam satu ruang pesantren.

KH Sholahuddin menyambut Syekh Ala dan Ernawati sejak rombongan tiba sekitar pukul 17.00 WIB.

Kehangatan terlihat sejak awal.

Salam.

Pelukan.

Percakapan.

Hingga kemudian semuanya masuk ke majelis bersama para santri.

Bagi Tuan Guru Sholahuddin, kedatangan Syekh Ala bukan sekadar kehormatan bagi pesantren.

Ia melihatnya sebagai kesempatan pendidikan bagi para santri.

"Alhamdulillah, ini nikmat bagi Daaru Attauhid. Anak-anak kita bisa duduk langsung dengan seorang alim, mendengar nasihat dan melihat bagaimana akhlak seorang guru," kata KH Sholahuddin.

Ia juga menyambut baik kedekatan yang terbangun antara Syekh Ala, Ernawati dan para tokoh Jambi.

"Silaturahmi seperti ini harus terus dijaga. Dari silaturahmi lahir ilmu, lahir kerja sama, bahkan bisa lahir banyak kebaikan untuk umat," ujarnya.

Empat Tokoh, Satu Majelis

Malam itu menjadi menarik karena masing-masing datang dari dunia berbeda.

HBA membawa perjalanan panjang di pemerintahan dan politik. Pernah menjadi Gubernur Jambi dan dua periode menjadi anggota DPR RI.

Ernawati membawa pengalaman dunia usaha, organisasi dan jaringan internasionalnya melalui ISMI serta Bintang Global Grup.

KH Sholahuddin berdiri di dunia pesantren dan pendidikan santri.

Sementara Syekh Ala membawa tradisi keilmuan dari Alexandria, Mesir.

Empat dunia itu bertemu.

Bukan di hotel.

Bukan di gedung pemerintahan.

Bukan dalam rapat resmi.

Tetapi di pesantren.

Di antara santri.

Dalam majelis ilmu.

HBA menilai pertemuan seperti itu memiliki makna besar.

"Kalau ulama, umara, pengusaha, akademisi dan pesantren bisa duduk bersama dengan hati yang sama untuk umat, insyaallah banyak hal besar bisa dilakukan," kata HBA.

Ketika Syekh Ala Berjalan ke Tengah Santri

Kehangatan itu semakin terasa saat Syekh Ala meninggalkan posisi duduknya.

Ia berjalan masuk ke tengah santri.

Ratusan anak mengikuti setiap geraknya.

Ia menyapa.

Bertanya.

Berdialog dengan salah seorang santri.

Lalu berbicara mengenai Imam Syafi'i.

Tentang bagaimana Imam Syafi'i menghafal Al-Qur'an sejak sangat muda.

Tentang bagaimana kesungguhan dalam ilmu membuatnya mendapat izin berfatwa pada usia yang masih belia.

HBA, Ernawati dan KH Sholahuddin menyaksikan gaya pengajaran itu dari dekat.

Tidak kaku.

Tetapi pesannya kuat.

Ketika suasana terlalu serius, Syekh Ala kembali bercanda.

Lalu bahasa Jambi muncul.

"Sayo cinto Jambi."

Pecah lagi.

Santri bersorak.

“Semua Orang Jambi Keluarga Saya”

Syekh Ala kemudian menambah satu kalimat yang seolah menjadi benang merah suasana malam itu.

"Semua orang Jambi adalah keluarga saya."

Kalimat tersebut mendapat sambutan hangat.

Dan malam itu memang terasa seperti pertemuan keluarga.

HBA punya cerita pertemuan di Madinah.

Ernawati disebut seperti adik kandung.

KH Sholahuddin menyambut sebagai tuan rumah.

Santri diperlakukan seperti murid yang sudah lama dikenal.

Tak terasa ada jarak Alexandria-Kumpeh.

Ernawati: Jaringan Ini Harus Jadi Manfaat untuk Umat

Ernawati mengatakan kedekatan personal seperti itu tidak ingin ia simpan hanya untuk dirinya.

Justru karena mempunyai hubungan dengan guru-guru di Mesir, ia ingin jaringan tersebut dibuka untuk masyarakat Jambi.

"Kalau saya punya guru yang baik, saya ingin masyarakat Jambi juga mengenalnya. Kalau saya punya jaringan yang bisa membuka akses santri belajar ke Mesir, kita gunakan. Jangan sampai jaringan hanya menjadi kebanggaan pribadi," kata Ernawati.

Itulah alasan ia juga membuka peluang dauroh bagi keluarga besar Daaru Attauhid ke Mesir.

Hari ini Syekh Ala datang dari Alexandria ke Kumpeh.

Besok, kata Ernawati, bukan tidak mungkin santri Daaru Attauhid justru belajar langsung ke Alexandria.

"Ini yang ingin kita bangun. Hubungan jangan berhenti pada kunjungan satu malam. Harus ada keberlanjutan. Ilmu, pendidikan, dauroh, pertukaran pengalaman, semua bisa kita kembangkan," katanya.

HBA: Pertemuan Ini Jangan Berhenti Malam Ini

HBA menyampaikan pesan senada.

Ia berharap kedatangan Syekh Ala menghasilkan hubungan jangka panjang.

"Pertemuan ini jangan selesai ketika beliau pulang. Kalau ada hubungan pendidikan, hubungan pesantren dan hubungan keilmuan yang bisa diteruskan, itu akan jauh lebih berharga," ujar HBA.

Menurutnya, Jambi membutuhkan semakin banyak akses kepada jaringan pendidikan Islam internasional.

"Anak-anak kita punya potensi. Tinggal bagaimana pintu-pintu ilmu dibuka. Kalau Ibu Ernawati mempunyai jaringan ke Mesir dan Syekh Ala membuka pintunya, ini harus dimanfaatkan dengan baik," katanya.

Hangatnya Malam di Daaru Attauhid

Malam semakin larut.

Namun suasana di Daaru Attauhid tidak cepat dingin.

Ada ceramah.

Ada zikir.

Ada cerita Madinah.

Ada kisah Alexandria.

Ada percakapan.

Ada tawa.

Ada bahasa Arab.

Ada bahasa Jambi.

Dan ada hubungan yang malam itu terasa melampaui jabatan.

HBA bukan lagi mantan gubernur.

Ernawati bukan sekadar Ketua ISMI.

KH Sholahuddin bukan sekadar pimpinan pesantren.

Syekh Ala pun tidak lagi terasa seperti ulama yang datang dari negeri jauh.

Mereka terlihat seperti sahabat dan keluarga yang dipertemukan oleh satu hal:

ilmu dan cinta kepada Rasulullah SAW.

Kalimat Syekh Ala mungkin paling mampu menggambarkan malam itu.

"Ibu Ernawati sudah seperti adik kandung saya."

Lalu ia memperluasnya lagi:

"Semua orang Jambi adalah keluarga saya."

Dari Daaru Attauhid, sebuah lawatan ulama akhirnya meninggalkan sesuatu yang lebih dari ceramah.

Kedekatan.

Keakraban.

Dan sebuah jembatan antara Jambi dengan Alexandria yang malam itu terasa semakin dekat.

BeritaSatu Network