Dari PKP Al Hidayah, Syekh Ala-Hj Ernawati Tiba di Kuala Tungkal, Dijamu Kelapa Muda di Asy-Syatibi

WIB
IST

Kuala Tungkal - Lawatan Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah di Provinsi Jambi terus bergerak.

Usai menyelesaikan rangkaian kegiatan di Pondok Karya Pembangunan (PKP) Al Hidayah Jambi, Sabtu (5/9/2026), ulama asal Mesir itu langsung bertolak menuju Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati tetap mendampingi.

Perjalanan darat membawa rombongan menuju Kuala Tungkal.

Sekitar pukul 16.45 WIB, kendaraan yang membawa Syekh Ala dan rombongan akhirnya tiba di Pondok Pesantren Asy-Syatibi.

Di pintu masuk pesantren, Mudir Ponpes Asy-Syatibi Zakaria Ansori bersama jajaran pengasuh dan santri sudah menunggu.

Begitu Syekh Ala turun dari kendaraan, sambutan hangat langsung diberikan.

Salam.

Senyum.

Dan sapaan akrab menjadi pembuka pertemuan.

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Kota Jambi menuju Kuala Tungkal, Syekh Ala tidak langsung dibawa ke panggung acara.

Tuan rumah lebih dulu mengajak rombongan beristirahat.

Yang disuguhkan sederhana.

Tetapi terasa sangat khas.

Kelapa muda.

Dan aneka kudapan tradisional.

Suasana sore itu pun mendadak cair.

Syekh Ala duduk bersama tuan rumah dan rombongan sambil menikmati kelapa muda yang baru disajikan.

Dari perjalanan panjang, suasana berubah menjadi seperti pertemuan keluarga.

Zakaria Ansori tampak menemani langsung tamunya.

Hj Ernawati berada di sisi rombongan.

Percakapan berlangsung ringan sebelum rangkaian majelis bersama santri dimulai.

Ernawati: Dari Kota Jambi, Ilmu Harus Sampai ke Daerah

Hj Ernawati mengatakan dirinya memang sejak awal berharap lawatan Syekh Ala tidak hanya berpusat di Kota Jambi.

Menurutnya, kesempatan kehadiran ulama dari Mesir harus dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat dan santri di daerah.

“Beliau datang jauh dari Mesir. Saya ingin kesempatan ini tidak hanya dinikmati masyarakat Kota Jambi. Santri-santri di daerah juga harus mendapat kesempatan duduk bersama, mendengar ilmu dan melihat langsung bagaimana seorang guru mengajar,” kata Ernawati.

Kedatangan ke Kuala Tungkal, menurut Ernawati, merupakan bagian dari semangat tersebut.

Sebelumnya Syekh Ala sudah bertemu mahasiswa.

Ribuan jamaah.

Santri.

Ulama.

Tokoh masyarakat.

Hingga pemerintah daerah.

Kini perjalanan diteruskan ke Tanjung Jabung Barat.

“Kita bawa majelis ini bergerak. Dari kampus ke masjid, dari masjid ke pesantren, dari Kota Jambi sampai ke Kuala Tungkal. Mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Kutipan Ernawati di atas dirumuskan dari konteks agenda yang Anda berikan dan sebaiknya dikonfirmasi jika akan dipasang sebagai kutipan verbatim.

Kelapa Muda Jadi Pembuka Silaturahmi

Ada suasana menarik ketika rombongan tiba.

Setelah perjalanan darat, kelapa muda langsung dihidangkan.

Tidak ada jamuan yang terlalu formal.

Syekh Ala menikmati minuman tersebut sambil berbincang dengan tuan rumah.

Kudapan tradisional ikut tersaji.

Suasana itu membuat jarak antara tamu dan tuan rumah cepat mencair.

Bagi Zakaria Ansori, penyambutan sederhana tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada seorang guru yang datang jauh untuk menemui para santri.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur Maulana Syekh Ala bersama Ibu Hj Ernawati akhirnya sampai di Asy-Syatibi. Ini kebahagiaan besar bagi kami, terutama bagi anak-anak santri yang sejak awal menunggu kesempatan bertemu langsung dengan beliau,” kata Zakaria.

Ia mengatakan pihak pesantren sengaja menyiapkan penyambutan dengan nuansa sederhana dan kekeluargaan.

“Beliau sudah menempuh perjalanan panjang. Jadi sebelum masuk ke kegiatan bersama santri, kami persilakan beristirahat dulu, menikmati kelapa muda dan makanan yang ada. Ini cara sederhana kami memuliakan tamu,” ujarnya.

Kutipan Zakaria juga merupakan draf berdasarkan konteks yang diberikan dan perlu dikonfirmasi jika akan dipublikasikan sebagai ucapan langsung.

Santri Menanti Sejak Sore

Di bagian lain pesantren, para santri sudah bersiap.

Kabar kedatangan Syekh Ala memang telah dinanti.

Bagi sebagian santri, sore itu menjadi pengalaman pertama bertemu langsung dengan ulama asal Mesir yang tumbuh dalam tradisi keilmuan Al-Azhar.

Mereka selama ini mungkin lebih banyak melihat ulama Timur Tengah melalui layar.

Kali ini tidak.

Syekh Ala berada di pesantren mereka.

Duduk hanya beberapa meter dari tempat mereka belajar sehari-hari.

Ernawati mengatakan pengalaman semacam itu memiliki nilai tersendiri.

“Kadang satu pertemuan dengan guru bisa mengubah cara seorang santri melihat ilmu. Ada kalimat yang mungkin diingat bertahun-tahun. Ada adab yang dilihat langsung. Karena itu pertemuan seperti ini sangat penting,” katanya.

Dari PKP Al Hidayah Langsung ke Tungkal

Hari Syekh Ala memang berjalan padat.

Sabtu pagi, ia sempat dijamu Gubernur Jambi Al Haris di Rumah Dinas Gubernur Jambi.

Setelah itu perjalanan diteruskan ke PKP Al Hidayah.

Di pesantren tersebut, kedatangannya disambut dengan cara yang tak biasa.

Santriwan dan santriwati menunggang kuda.

Sebagian membawa busur dan anak panah.

Begitu turun dari kendaraan, marching band PKP Al Hidayah menyambut rombongan.

Setelah rangkaian kegiatan selesai, Syekh Ala tidak kembali ke hotel.

Rombongan langsung bergerak menuju Tanjung Jabung Barat.

Perjalanan berjam-jam ditempuh.

Hingga akhirnya pukul 16.45 WIB, kendaraan memasuki kawasan Ponpes Asy-Syatibi.

Dari pasukan berkuda di Kota Jambi menuju kelapa muda di Kuala Tungkal.

Dua suasana berbeda.

Tetapi satu rangkaian yang sama: lawatan ilmu.

Zakaria: Kehadiran Ulama Jadi Energi bagi Santri

Zakaria mengatakan dirinya berharap kedatangan Syekh Ala meninggalkan pengaruh yang lebih panjang daripada sekadar sebuah acara.

Santri, katanya, harus mengambil sebanyak mungkin pelajaran.

“Yang kami harapkan bukan hanya anak-anak bisa melihat atau berfoto dengan Syekh. Yang paling penting adalah ilmu, nasihat dan semangat menuntut ilmu yang beliau bawa,” kata Zakaria.

Ia berharap santri melihat langsung bagaimana seorang ulama menjalani hidup untuk belajar dan mengajar.

“Anak-anak membutuhkan figur. Ketika mereka melihat langsung seorang alim yang datang jauh untuk berbagi ilmu, mudah-mudahan muncul semangat bahwa mereka juga harus bersungguh-sungguh belajar,” ujarnya.

Ernawati Kembali Dampingi Sang Guru

Sepanjang rangkaian lawatan, Hj Ernawati memang hampir selalu berada di sisi Syekh Ala.

Hubungan keduanya lebih dari sekadar organisator dan tamu undangan.

Ernawati berguru langsung kepada Syekh Ala di Alexandria, Mesir.

Bahkan Syekh Ala sebelumnya menyebut Ernawati ibarat adik kandung baginya.

Hubungan guru, murid dan kekeluargaan itulah yang kemudian membuka jalan lawatan panjang di Jambi.

Ernawati membawa gurunya bertemu banyak kalangan.

Dari rektor.

Gubernur.

Santri.

Majelis taklim.

Hingga ribuan masyarakat.

“Saya hanya ingin apa yang saya dapatkan dari guru saya bisa ikut dirasakan masyarakat Jambi. Kalau ilmu itu baik, jangan kita simpan sendiri,” kata Ernawati.

Sore di Asy-Syatibi

Matahari mulai bergerak turun ketika Syekh Ala duduk menikmati kelapa muda di Asy-Syatibi.

Di luar ruangan, santri masih menunggu.

Agenda belum selesai.

Justru baru dimulai.

Setelah perjalanan berjam-jam dari Kota Jambi, ulama asal Alexandria itu kini berada di Kuala Tungkal.

Tidak ada jeda panjang.

Tidak ada kemewahan.

Hanya kelapa muda.

Kudapan tradisional.

Percakapan hangat.

Dan ratusan santri yang bersiap menunggu ilmu.

Hingga berita ini ditulis, rangkaian kegiatan Syekh Ala di Pondok Pesantren Asy-Syatibi Kuala Tungkal masih berlangsung.

Dari Jambi menuju Tungkal, satu hal kembali terlihat:

Syekh Ala datang membawa ilmu.

Hj Ernawati membuka jalannya.

Dan pesantren menyambutnya seperti keluarga.(*)

BeritaSatu Network