JAMBI - Suasana di Pondok Pesantren PKP Al Hidayah, Kota Jambi, Sabtu (5/9/2026), berubah emosional ketika Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., berdiri di hadapan para santri.
Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi itu tidak datang sebagai orang asing.
Ia pulang ke tempat yang menyimpan sebagian perjalanan hidupnya.
Puluhan tahun lalu, Ernawati pernah menjadi santri di pesantren tersebut.
Ia mengenal masa-masa sederhana di pondok.
Susah.
Senang.
Belajar.
Berjalan kaki.
Hidup dengan fasilitas yang jauh berbeda dengan hari ini.
Di hadapan para santri, Ernawati mengajak mereka melihat bahwa kesulitan selama mondok bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Justru dari situlah mental dibentuk.
“Dulu Saya Juga Mondok di Sini”
Ernawati mengenang kembali hari-harinya sebagai santri PKP Al Hidayah.
Ia mengatakan perjalanan hidupnya hari ini tidak bisa dipisahkan dari pendidikan dan pengalaman yang pernah didapat selama mondok.
“Anak-anak semua, dulu saya juga seperti kalian. Saya pernah mondok di tempat ini. Saya tahu bagaimana susah dan senangnya hidup di pesantren. Ada masa kita capek, ada masa rindu rumah, tetapi justru dari tempat seperti inilah mental dan masa depan kita dibentuk.”
Ernawati mengatakan pengalaman hidup di pesantren mengajarkannya banyak hal.
Bukan hanya ilmu agama.
Tetapi kesabaran.
Kemandirian.
Kedisiplinan.
Dan kemampuan bertahan menghadapi keadaan.
Kenang Masa Sulit di Pondok
Di tengah pidatonya, Ernawati juga mengingat kembali kondisi pesantren pada masa dirinya menjadi santri.
Fasilitas ketika itu tentu tidak seperti sekarang.
Namun keterbatasan tidak membuat proses belajar berhenti.
Ia justru menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
“Kalau hari ini kalian merasa mondok itu berat, percayalah, semua proses itu akan kalian rindukan suatu hari nanti. Saya pernah merasakan susahnya. Tapi sekarang ketika saya kembali ke sini, justru tempat inilah yang membuat saya terharu. Banyak pelajaran hidup saya dimulai dari pondok ini.”
Ernawati meminta santri tidak melihat kehidupan pesantren hanya dari kesulitan hari ini.
Menurutnya, mereka perlu melihat lebih jauh.
Apa yang sedang dibangun dari proses tersebut.
Dari Nostalgia ke Mimpi Besar
Pidato Ernawati kemudian bergerak dari kenangan masa lalu menuju masa depan.
Ia ingin para guru dan santri PKP Al Hidayah mendapat pengalaman belajar yang lebih luas.
Salah satu gagasan yang ia sampaikan adalah membuka kesempatan dauroh ke Alexandria, Mesir.
Bukan hanya untuk guru.
Santri juga diharapkan nantinya memperoleh kesempatan yang sama.
“Saya punya keinginan, guru-guru kita di PKP Al Hidayah ini nanti bisa kita ajak dauroh ke Alexandria, Mesir. Belajar, melihat langsung tradisi keilmuan di sana, kemudian pulang membawa ilmu untuk anak-anak kita.”
Tak berhenti di situ.
Ernawati juga ingin mimpi tersebut menjangkau para santri.
“Dan saya tidak ingin hanya gurunya. Anak-anak santri juga harus punya mimpi sampai ke Mesir. Jangan merasa karena kita belajar di Jambi, cita-cita kita hanya sampai di Jambi. Dari pondok ini kalian harus berani bermimpi sampai ke Al-Azhar, Alexandria, bahkan ke mana pun ilmu membawa kalian.”
Santri Diminta Jangan Minder
Ernawati menekankan bahwa santri dari daerah tidak boleh merasa kecil.
Menurutnya, pesantren justru memberi fondasi yang kuat.
Santri memiliki bekal agama.
Disiplin.
Adab.
Dan lingkungan pendidikan yang membentuk karakter.
Bekal tersebut harus dipadukan dengan kemampuan akademik, bahasa, teknologi dan wawasan internasional.
“Jangan pernah minder menjadi anak pondok. Saya pernah menjadi santri di sini. Yang menentukan masa depan bukan dari mana kalian memulai, tetapi seberapa sungguh-sungguh kalian belajar dan seberapa besar keberanian kalian memperjuangkan cita-cita.”
Alexandria Bukan Sekadar Perjalanan
Gagasan dauroh ke Mesir menurut Ernawati tidak dimaksudkan sekadar sebagai perjalanan ke luar negeri.
Yang paling penting adalah pengalaman keilmuan.
Guru mendapat wawasan baru.
Santri melihat cakrawala pendidikan Islam yang lebih luas.
Kemudian pengalaman itu dibawa kembali untuk memperkuat pesantren.
“Kalau kita pergi ke Mesir hanya untuk berfoto, tidak ada artinya. Kita ingin pergi membawa niat belajar. Pulangnya harus membawa ilmu, jaringan, semangat baru dan sesuatu yang bisa kita berikan kembali kepada pesantren.”
Pulang dengan Rasa Syukur
Bagi Ernawati, kembali ke PKP Al Hidayah membawa perasaan yang berbeda.
Ia datang bukan sekadar sebagai tamu.
Ada kenangan pribadi di setiap sudut pesantren.
Tempat itu pernah menjadi rumahnya.
Tempat belajar.
Tempat menangis.
Sekaligus tempat bermimpi.
“Hari ini saya berdiri di sini dengan rasa syukur. Puluhan tahun lalu saya adalah santri yang menjalani hari-hari sederhana di pesantren ini. Saya tidak pernah tahu perjalanan hidup akan membawa saya ke mana. Karena itu saya ingin mengatakan kepada anak-anak semua: jangan pernah meremehkan proses yang sedang kalian jalani hari ini.”
Ingin Membalas Kebaikan Pesantren
Ernawati mengatakan setiap orang punya cara untuk kembali kepada tempat yang pernah membesarkannya.
Bagi dirinya, kepulangan ke PKP Al Hidayah bukan hanya nostalgia.
Ia ingin ada sesuatu yang ditinggalkan.
Program.
Jaringan.
Kesempatan.
Dan jalan bagi generasi berikutnya.
“Saya tidak ingin pulang ke sini hanya untuk mengenang masa lalu. Kalau Allah memberi kita kemampuan dan jaringan, harus ada yang kita kembalikan kepada tempat yang pernah mendidik kita. Insyaallah kita pikirkan bersama bagaimana guru dan santri PKP Al Hidayah mendapatkan kesempatan belajar lebih jauh.”
Pidato itu akhirnya mempertemukan dua masa.
Masa lalu seorang santri bernama Ernawati.
Dan masa depan ratusan santri yang kini duduk mendengarkannya.
Dulu ia mondok di PKP Al Hidayah dengan segala keterbatasannya. Kini ia kembali membawa satu pesan: kesulitan bukan alasan untuk mengecilkan mimpi—bahkan jika mimpi itu harus dibawa sejauh Alexandria, Mesir. (*)