Jambi - Suasana Rumah Dinas Gubernur Jambi, Sabtu (5/9/2026), terasa berbeda.
Gubernur Jambi Al Haris menjamu ulama asal Mesir, Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah, yang tengah menjalani rangkaian lawatan dakwah dan silaturahmi di Provinsi Jambi.
Syekh Ala datang bersama Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd.
Turut hadir Rektor IAIN Kerinci Prof. Dr. Jafar Ahmad, Hj Hesnidar Haris, jajaran pengurus ISMI Provinsi Jambi serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.
Pertemuan berlangsung hangat.
Tidak terlalu formal.
Gubernur Al Haris menyambut Syekh Ala sebagai tamu istimewa, kemudian duduk bersama dalam suasana kekeluargaan.
Percakapan bergerak dari silaturahmi, pendidikan, dakwah hingga kehidupan masyarakat Jambi.
Di sela suasana santai itu, Syekh Ala kembali mengeluarkan kalimat yang beberapa hari terakhir cukup akrab di telinga jamaah.
“Sayo cinto Jambi.”
Kalimat berbahasa Jambi itu langsung membuat suasana mencair.
Ada senyum.
Ada tawa.

Dan ada kehangatan dari seorang ulama yang datang ribuan kilometer dari Alexandria, Mesir, tetapi dalam beberapa hari seperti sudah merasa dekat dengan masyarakat Jambi.
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya,” ujar Syekh Ala.
Catatan: redaksi kutipan Syekh Ala di atas disusun dari substansi pernyataan yang Anda berikan. Jika ada rekaman asli, sebaiknya dicocokkan kembali sebelum diterbitkan sebagai kutipan verbatim.
Syekh Ala Doakan Al Haris
Salah satu momen paling khidmat terjadi ketika Syekh Ala secara khusus mendoakan Gubernur Jambi Al Haris.
Suasana yang semula cair berubah tenang.
Syekh Ala memanjatkan doa dalam bahasa Arab.
Al Haris menyimak.
Jamaah dan tamu yang hadir ikut mengaminkan.
Doa itu antara lain berisi permohonan agar Al Haris diberikan kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan dan keberkahan dalam memimpin masyarakat Jambi.
Syekh Ala juga mendoakan Provinsi Jambi agar dijauhkan dari berbagai musibah dan diberi ketenteraman serta keberkahan.
Dalam terjemahan substansinya, Syekh Ala menyampaikan:
“Semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan dan keberkahan kepada Gubernur Jambi dalam menjalankan amanahnya. Semoga Allah menjaga Jambi, menjaga masyarakatnya, memberikan keamanan, kedamaian dan keberkahan.”

Syekh Ala juga menekankan bahwa kepemimpinan merupakan amanah.
Seorang pemimpin, menurut pesan yang disampaikannya, tidak hanya bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik, tetapi juga terhadap kemaslahatan masyarakat.
“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, mendengar masyarakatnya dan menggunakan kekuasaan untuk kebaikan,” kata Syekh Ala dalam terjemahan.
Jamuan Jadi Ruang Silaturahmi
Pertemuan di rumah dinas gubernur tidak dikemas seperti acara pemerintahan yang penuh protokoler.
Justru suasana kekeluargaan lebih terasa.
Al Haris berbincang langsung dengan Syekh Ala.
Hj Hesnidar Haris ikut mendampingi.
Hj Ernawati beberapa kali terlibat dalam percakapan.
Prof Jafar Ahmad juga ikut berdiskusi.
Bagi Syekh Ala, lawatan ke rumah dinas gubernur menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di Jambi.
Sebelumnya, ia telah mendatangi kampus.
Masjid.
Pesantren.
Bertemu mahasiswa.
Santri.
Ulama.
Tokoh masyarakat.
Hingga ribuan jamaah.

Kini giliran rumah dinas gubernur menjadi tempat silaturahmi.
Ernawati: Saya Ingin Syekh Bertemu Banyak Lapisan Masyarakat
Hj Ernawati mengatakan pertemuan Syekh Ala dengan Gubernur Jambi menjadi bagian penting dari rangkaian lawatan sang guru.
Menurut Ernawati, sejak awal dirinya tidak ingin Syekh Ala hanya hadir untuk satu acara lalu kembali.
Ia berharap setiap kesempatan digunakan untuk mempertemukan sang ulama dengan sebanyak mungkin lapisan masyarakat.
“Sejak awal saya memang ingin beliau tidak hanya ceramah di satu tempat. Kita ingin beliau bertemu masyarakat, santri, mahasiswa, ulama, tokoh daerah sampai pemerintah. Semakin banyak yang bertemu, semakin banyak pula ilmu dan keberkahan yang bisa dibagikan,” kata Ernawati.
Ia mengaku bahagia melihat Syekh Ala merasa nyaman selama berada di Jambi.
“Saya sangat senang ketika beliau beberapa kali mengatakan ‘Sayo cinto Jambi’. Itu bukan sekadar kalimat. Saya melihat sendiri bagaimana beliau menikmati pertemuan dengan masyarakat, menyapa santri, bercanda, mendoakan orang dan tidak pernah membuat jarak,” ujar Ernawati.
Menurutnya, itulah salah satu karakter Syekh Ala yang paling ia kenal selama berguru di Alexandria.
“Beliau punya ilmu luas, tetapi tidak pernah membuat orang merasa kecil. Beliau sangat hangat, sangat dekat dengan murid. Itu yang juga terlihat selama di Jambi,” katanya.
Dari Alexandria ke Rumah Dinas Gubernur
Kehadiran Syekh Ala di Jambi memang tidak lepas dari peran Ernawati.
Ketua ISMI Provinsi Jambi tersebut merupakan murid langsung Syekh Ala di Alexandria.
Dari hubungan guru dan murid itu kemudian lahir gagasan mendatangkan sang ulama ke Jambi.
Awalnya untuk berbagi ilmu.
Namun dalam perjalanan, lawatan berkembang menjadi silaturahmi yang jauh lebih luas.
Syekh Ala hadir di UIN STS Jambi untuk dialog pendidikan dan peradaban Islam.
Ia kemudian tampil di Masjid Agung Al-Falah di hadapan ribuan jamaah.
Selepas Ashar, ia memimpin zikir dan doa khusus meminta hujan untuk Jambi.
Perjalanan diteruskan ke Pondok Pesantren Daaru Attauhid di Kumpeh.
Di sana ia berjalan di antara ratusan santri, berdialog dan berbicara mengenai Imam Syafi’i, ilmu dan zikir.
Kini Syekh Ala duduk bersama Gubernur Jambi.
“Dari awal saya berharap lawatan ini meninggalkan sesuatu. Bukan hanya foto, bukan hanya acara. Harus ada ilmu, silaturahmi dan hubungan yang terus hidup setelah beliau pulang,” kata Ernawati.
Al Haris Dapat Doa Khusus
Ernawati mengatakan dirinya merasa terharu ketika Syekh Ala secara khusus mendoakan Al Haris.
Menurutnya, doa seorang guru dan ulama untuk pemimpin daerah memiliki makna tersendiri.
“Kita semua tentu mendoakan Pak Gubernur diberikan kesehatan, kekuatan dan kemampuan menjaga amanah. Saya bersyukur Syekh juga memberikan doa khusus kepada beliau dan untuk seluruh masyarakat Jambi,” katanya.
Ernawati mengatakan pertemuan ulama dan pemimpin seharusnya menghasilkan ruang saling mengingatkan.
Ulama membawa nilai.
Pemerintah membawa kebijakan.
Keduanya, kata Ernawati, bertemu pada kepentingan yang sama: masyarakat.
“Ulama mendoakan pemimpin dan memberikan nasihat. Pemimpin membuka ruang bagi agama, pendidikan dan kehidupan umat. Kalau hubungan ini baik, insyaallah masyarakat juga mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Prof Jafar Ahmad Ikut Hadir
Rektor IAIN Kerinci Prof Dr Jafar Ahmad ikut berada dalam pertemuan tersebut.
Kehadirannya melengkapi unsur dunia pendidikan yang mendampingi lawatan Syekh Ala.
Jafar sebelumnya juga terlibat dalam sejumlah kegiatan bersama ISMI Provinsi Jambi.
Ia menjadi salah satu tokoh yang ikut mengenalkan dan mendampingi berbagai agenda keilmuan serta keagamaan.
Pertemuan di rumah dinas gubernur akhirnya mempertemukan beberapa unsur sekaligus.
Pemerintah.
Ulama.
Akademisi.
Organisasi sarjana.
Dan keluarga.
Semuanya duduk dalam satu ruang.
“Sayo Cinto Jambi” Kembali Menggema
Kalimat “Sayo cinto Jambi” tampaknya menjadi salah satu ungkapan khas Syekh Ala selama lawatannya.
Sebelumnya, kalimat yang sama membuat ratusan santri Daaru Attauhid bersorak.
Kini ungkapan itu kembali muncul di rumah dinas gubernur.
Syekh Ala menyampaikannya dengan gaya santai.
“Sayo cinto Jambi.”
Senyum langsung muncul di wajah sejumlah orang yang hadir.
Syekh Ala lalu menambahkan bahwa masyarakat Jambi sudah dianggap sebagai keluarga.
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya. Saya bahagia berada di sini. Saya melihat cinta, keramahan dan penghormatan kepada ilmu,” kata Syekh Ala dalam terjemahan.
Ia berharap hubungan Jambi dengan para ulama dan lembaga pendidikan di Mesir dapat terus berkembang.
Tidak hanya sebatas satu kunjungan.
Ada peluang pendidikan.
Dauroh.
Pertukaran ilmu.
Dan silaturahmi ulama.
Ernawati: Hubungan Ini Jangan Berhenti Setelah Syekh Pulang
Ernawati mengatakan itulah agenda berikutnya yang perlu dijaga.
Kunjungan Syekh Ala tidak boleh selesai ketika pesawatnya meninggalkan Jambi.
“Kalau setelah beliau pulang kemudian semuanya selesai, sayang sekali. Kita ingin hubungan ini berkelanjutan. Santri bisa belajar ke Mesir, ulama bisa datang lagi ke Jambi, kampus bisa membuka komunikasi, pesantren juga bisa membangun jaringan,” kata Ernawati.
Ia menyebut ISMI siap ikut menjadi jembatan.
“Kita punya jaringan. Jaringan itu harus menjadi manfaat. Kalau ada akses pendidikan, kita buka. Kalau bisa mendatangkan guru, kita datangkan. Kalau bisa mengirim santri belajar, kita bantu jalannya,” ujarnya.
Dari Rumah Dinas, Silaturahmi Semakin Dekat
Jamuan di rumah dinas akhirnya tidak hanya menghasilkan foto pertemuan Gubernur Jambi dengan ulama Mesir.
Ada doa.
Ada percakapan.
Ada tawa.
Ada bahasa Arab.
Ada pula bahasa Jambi.
Syekh Ala yang beberapa hari terakhir berkeliling Jambi kembali menunjukkan gaya khasnya.
Hangat.
Tidak membangun jarak.
Dan mudah membuat suasana menjadi cair.
Al Haris menerima doa.
Hj Hesnidar Haris mendampingi.
Prof Jafar Ahmad ikut dalam silaturahmi.
Hj Ernawati kembali berada di samping gurunya.
Di tengah pertemuan itulah Syekh Ala sekali lagi mengucapkan kalimat yang sekarang seperti menjadi tanda cintanya selama berada di Jambi:
“Sayo cinto Jambi.”
Lalu ia menegaskan:
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya.”
Dari Alexandria ke Jambi, jaraknya memang ribuan kilometer.
Tetapi Sabtu pagi itu, di Rumah Dinas Gubernur Jambi, jarak tersebut terasa jauh lebih dekat.(*)
Galeri foto :