Opini
Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan: Dialog Saintifik ataukah Tempelan Stiker ‘Islam’? #1
oleh :
Ahmad Zainul Hamdi
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan
Rasanya, sudah banyak tulisan yang membicarakan masalah status keilmuan, baik dari sisi ontologis, epistemologis, maupun aksiologis, dilihat dari kacamata Islam. Di tengah tarik-ulur antara kelompok islamisasi ilmu pengetahuan dan kelompok yang membiarkan ilmu untuk memenuhi “kodratnya” sendiri, tiba-tiba kita mendapati isu ini menghangat kembali.
Sungai Penuh: Ketika Kualitas Manusia Melampaui Kapasitas Ekonomi
Oleh :
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Pakar Ekonomi | Guru Besar dan Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi, TAG Jambi
Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki paradoks pembangunan seperti Kota Sungai Penuh. Kota ini mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 78,89, tingkat kemiskinan hanya 3,23 persen, pengangguran terbuka nyaris nol, dan ketimpangan pendapatan relatif rendah.
Dari Komoditas Menuju Nilai Tambah di Pesisir Timur Jambi
Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP
Akademisi UIN STS Jambi
Akselerasi pertumbuhan berkualitas tidak dapat dimaknai sekadar sebagai percepatan angka ekonomi tahunan. Pertumbuhan yang berkualitas harus mampu memperkuat kapasitas manusia, memperluas produktivitas ekonomi, menciptakan nilai tambah industri, serta memperkuat ketahanan fiskal daerah secara berkelanjutan.
PANCASILA: RIWAYATMU DULU, KINI DAN AKAN DATANG
(Diagnosa Pancaslla di tengah gerakan Revolusi Mental Pendidikan Indonesia)
Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru Besar UIN STS Jambi, Tenaga Ahli Gubernur Jambi)
A. SEJARAH 1 JUNI 1945 VS KEKINIAN
1 Juni 1945 Sukarno merenung 5 jam di Ende. 1 Juni 2025, 80 tahun kemudian, bangsa ini merayakan dengan upacara 5 menit. Kontras ini menjadi simbol krisis makna. Pancasila lahir dari renungan, tetapi hidup di ruang publik sebagai hafalan.