Bappeda, TAG dan Akademisi UNJA Godok Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi

WIB
ist

JAMBI — Pemerintah Provinsi Jambi mulai mematangkan penyusunan Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi.

Langkah itu dibahas dalam kegiatan Rabuan Discussion Series bertema Diskusi Akademik Transformasi Ekonomi Jambi yang digelar Bappeda Provinsi Jambi bersama Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi FEB Universitas Jambi.

Kegiatan berlangsung di Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi FEB Universitas Jambi, Telanaipura, Kota Jambi, Rabu (24/6/2026).

Diskusi ini digelar sebagai bagian dari pendekatan partisipatif dalam penyusunan arah transformasi ekonomi daerah.

Undangan kegiatan tersebut ditandatangani Kepala Bappeda Provinsi Jambi, Agus Sunaryo, melalui surat bernomor S-2492/Bappeda-1.2/VI/2026 tertanggal 22 Juni 2026.

Forum akademik ini menghadirkan unsur Bappeda Provinsi Jambi, Tenaga Ahli Gubernur Jambi, serta akademisi Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi.

Tema yang dibahas cukup strategis: Kerangka Percepatan Transformasi Ekonomi Provinsi Jambi: Urgensi, Grand Teori, dan Pelajaran dari Bali.

Industri Pengolahan Terus Turun

Dalam forum tersebut, salah satu isu utama yang mengemuka adalah struktur ekonomi Jambi yang belum banyak berubah.

Ekonomi Jambi masih bertumpu kuat pada sektor primer, terutama pertanian dan pertambangan.

Sementara sektor industri pengolahan justru menunjukkan tren penurunan.

Pada 2013, kontribusi sektor primer, yakni pertanian dan pertambangan, mencapai 52,5 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB Jambi.

Di tahun yang sama, kontribusi industri pengolahan masih berada di angka 11,4 persen.

Namun pada 2023, industri pengolahan turun menjadi 10 persen.

Sementara sektor primer masih mendominasi di angka 48,28 persen.

Tren penurunan itu berlanjut hingga 2025.

Kontribusi industri pengolahan kembali turun menjadi 9,73 persen.

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi ekonomi Jambi belum berjalan optimal.

Jambi masih banyak menghasilkan komoditas berbasis sumber daya alam.

Tetapi belum cukup kuat mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Dari SDA ke Nilai Tambah

Dalam diskusi tersebut, arah transformasi ekonomi Jambi didorong untuk bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis nilai tambah berkelanjutan.

Artinya, Jambi tidak cukup hanya menjual komoditas mentah.

Komoditas unggulan daerah harus diolah.

Diberi nilai tambah.

Dihubungkan dengan industri.

Dan diarahkan untuk memperkuat daya saing daerah.

Beberapa persoalan ikut dibahas.

Mulai dari rendahnya penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, pasar tenaga kerja yang belum efisien, hingga belum tersedianya kawasan industri yang kuat.

Kondisi ini berdampak pada terbatasnya penyerapan tenaga kerja formal, lambatnya pertumbuhan usaha formal, hingga potensi keluarnya modal dari daerah.

Selain itu, diskusi juga menyoroti dampak eksternal dari model ekonomi berbasis SDA yang tidak terkendali.

Di antaranya kerusakan hutan dan lahan, kerusakan wilayah sungai, kerusakan infrastruktur, hingga melemahnya fiskal daerah.

Karena itu, transformasi ekonomi dinilai bukan sekadar pilihan.

Tetapi kebutuhan mendesak.

Belajar dari Bali, tapi Jangan Meniru Mentah-mentah

Dalam forum tersebut, pengalaman transformasi ekonomi Bali juga menjadi salah satu bahan pembelajaran.

Bali dinilai memiliki dokumen transformasi ekonomi yang disusun secara sistematis, terutama setelah daerah tersebut terpukul pandemi COVID-19.

Bali menjalankan tahapan pemulihan ekonomi dan kemudian mendorong konsep ekonomi berkelanjutan.

Beberapa konsep yang dibahas antara lain Bali Pintar dan Sehat, Bali Produktif, Bali Hijau, Bali Terintegrasi, Bali Smart Island, dan Bali Kondusif.

Namun peserta diskusi juga memberi catatan penting.

Jambi tidak boleh meniru Bali secara mentah-mentah.

Sebab struktur ekonomi Jambi berbeda.

Bali sangat bergantung pada pariwisata.

Ketika pandemi datang, ekonomi Bali terpukul keras.

Pelajaran dari Bali justru harus dibaca secara kritis.

Jambi perlu mengambil cara berpikirnya: menyusun peta jalan, membangun strategi bertahap, memperkuat konektivitas, dan mengembangkan ekonomi berkelanjutan.

Tetapi Jambi tidak boleh hanya menggantungkan masa depannya pada satu sektor.

Termasuk pariwisata.

Hilirisasi Tujuh Komoditas Unggulan

Salah satu masukan penting dalam diskusi adalah perlunya fokus pada program hilirisasi komoditas unggulan.

Hilirisasi menjadi kunci agar ekonomi Jambi tidak berhenti pada produksi bahan mentah.

Komoditas seperti kelapa, pinang, karet, sawit, kopi, kayu manis, dan komoditas unggulan lain perlu diarahkan menjadi produk bernilai tambah.

Bukan hanya dijual dalam bentuk primer.

Tetapi diproses menjadi barang olahan yang memiliki harga lebih tinggi.

Dalam diskusi, muncul pula gagasan mengenai pusat pengolahan kelapa dan pinang, peningkatan mutu bokar, konsolidasi data komoditas, serta penguatan satu data komoditas daerah.

Langkah ini dinilai penting agar kebijakan hilirisasi tidak berjalan berdasarkan asumsi.

Tetapi berdasarkan data.

Di mana komoditas berada.

Berapa volumenya.

Siapa pelakunya.

Apa rantai pasoknya.

Apa industrinya.

Dan OPD mana yang harus bertanggung jawab.

Tujuh Arah Kebijakan

Diskusi akademik tersebut juga merumuskan sejumlah arah kebijakan besar.

Ada tujuh arah kebijakan prioritas yang perlu dioperasionalkan dalam penyusunan blueprint.

Pertama, pembangunan infrastruktur hijau.

Kedua, insentif fiskal.

Ketiga, kebijakan perdagangan.

Keempat, perbaikan iklim usaha.

Kelima, bantuan sosial.

Keenam, ekonomi sirkular.

Ketujuh, pengembangan sumber daya manusia.

Pengembangan SDM menjadi salah satu titik penting.

Sebab transformasi ekonomi tidak akan berjalan tanpa tenaga kerja yang siap.

Jambi membutuhkan pendidikan vokasi, penguatan keterampilan, ekosistem inovasi, penyiapan future work and skills, serta mitigasi terhadap perubahan dunia kerja akibat otomatisasi.

Blueprint Harus Berbasis Dokumen Perencanaan

Dalam forum tersebut, peserta juga menekankan bahwa blueprint tidak boleh berdiri sendiri.

Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi harus bersumber dan selaras dengan dokumen perencanaan daerah.

Mulai dari RPJP, RPJMD, RTRW, Green Growth Plan, hingga dokumen perencanaan kabupaten dan kota.

Sinkronisasi ini penting agar blueprint tidak hanya menjadi dokumen akademik.

Tetapi benar-benar bisa menjadi rencana aksi daerah.

Karena itu, salah satu masukan yang muncul adalah perlunya daftar program, kegiatan inti, lokasi, OPD penanggung jawab, mitra, output, outcome, hingga proyeksi sumber anggaran.

Dengan pendekatan tersebut, blueprint dapat menjadi petunjuk teknis atau rencana aksi daerah.

Bukan sekadar kumpulan gagasan besar.

Quick Wins Transformasi Ekonomi

Forum juga membahas perlunya langkah cepat atau quick wins.

Beberapa quick wins yang muncul dalam diskusi antara lain penyusunan satu data komoditas, peningkatan mutu bokar, pengembangan pusat pengolahan kelapa dan pinang, serta konsolidasi program lintas OPD.

Quick wins penting agar transformasi ekonomi tidak hanya berhenti pada konsep.

Masyarakat perlu melihat hasil awal.

Petani perlu merasakan nilai tambah.

Pelaku UMKM perlu mendapat akses pasar.

Investor perlu melihat kepastian arah.

Dan pemerintah daerah perlu memiliki program yang bisa segera dijalankan.

Visi Jambi Baru

Dari diskusi tersebut, muncul rumusan awal visi transformasi ekonomi Jambi.

Jambi diarahkan menjadi pusat ekonomi berbasis sumber daya bernilai tambah, hijau, inklusif, terhubung, dan berdaya saing di Sumatera.

Prinsip transformasi yang disepakati meliputi kebijakan berbasis bukti, bernilai tambah, berorientasi pasar, inklusif, berkelanjutan, berbasis wilayah, kolaboratif, dan adaptif.

Sasaran utamanya adalah peningkatan produktivitas, pertumbuhan industri pengolahan, diversifikasi ekspor, peningkatan pekerjaan formal, penurunan kemiskinan, peningkatan investasi berkualitas, serta penguatan Pendapatan Asli Daerah.

Tiga skenario juga mulai dibahas.

Yakni business as usual, transformasi moderat, dan transformasi akseleratif.

Skenario ini penting untuk membaca pilihan arah kebijakan Jambi ke depan.

Apakah hanya berjalan seperti biasa.

Berubah secara bertahap.

Atau melakukan percepatan besar dalam struktur ekonominya.

Draf Blueprint Ditargetkan Disusun

Dalam kesimpulan rapat, transformasi ekonomi Jambi dari sektor berbasis SDA menuju ekonomi berbasis nilai tambah berkelanjutan dinilai sebagai urgensi yang tidak dapat ditunda.

Penurunan kontribusi industri pengolahan menjadi salah satu alasan utama.

Forum juga menyepakati bahwa tujuh kebijakan prioritas perlu dioperasionalkan secara terkoordinasi antara Bappeda, OPD teknis, akademisi, dan pemangku kepentingan lain.

Penyusunan kerangka Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi perlu segera dilakukan dengan merujuk pada dokumen perencanaan daerah.

Sebagai tindak lanjut, draf Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi akan disusun berdasarkan hasil diskusi akademik.

Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi UNJA juga akan memberikan review dan masukan akademik terhadap draf tersebut.

Selain itu, kajian lebih lanjut mengenai adaptasi model transformasi Bali untuk konteks Jambi juga akan dilakukan oleh Tenaga Ahli Gubernur Jambi bersama Bappeda.

Jambi Harus Naik Kelas

Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi menjadi penting karena daerah ini memiliki banyak modal.

Jambi punya komoditas perkebunan.

Punya pertanian.

Punya pertambangan.

Punya posisi geografis strategis.

Punya peluang konektivitas.

Punya bonus demografi.

Dan punya potensi ekonomi hijau.

Namun semua modal itu belum cukup jika hanya berhenti sebagai bahan mentah.

Jambi harus naik kelas.

Dari penghasil komoditas menjadi pengolah komoditas.

Dari ekonomi primer menuju ekonomi bernilai tambah.

Dari pertumbuhan berbasis eksploitasi SDA menuju pertumbuhan hijau dan berkelanjutan.

Dari program sektoral menuju peta jalan yang terintegrasi.

Diskusi akademik ini menjadi langkah awal.

Belum final.

Tetapi penting.

Karena masa depan ekonomi Jambi tidak bisa hanya menunggu harga komoditas naik.

Jambi harus punya arah.

Punya peta jalan.

Punya keberanian untuk berubah.

Dan Blueprint Transformasi Ekonomi Jambi diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk perubahan itu.(*)

BeritaSatu Network