Jambi - Kehadiran Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Provinsi Jambi membawa angin segar bagi pembangunan daerah. Dengan mengusung tema besar "Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban", Pengurus Wilayah (PW) ISMI Provinsi Jambi masa bakti 2026-2030 yang dipimpin oleh Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. telah resmi dilantik. Organisasi cendekiawan ini tidak sekadar hadir sebagai wadah kumpul-kumpul, melainkan telah merancang deretan aksi nyata di bidang sosial, pendidikan, pelestarian budaya, hingga kebangkitan ekonomi umat.
ISMI sejatinya bukanlah organisasi baru. Associate Prof. Dr. Yanhar Jamaludin, MAP, menjelaskan bahwa ISMI telah didirikan sejak 40 tahun lalu, tepatnya pada 10 Januari 1986. Organisasi ini digagas oleh lima cendekiawan Melayu, di antaranya Samad Zaino Arifin Ahmad dan Nazrin Majrul, dengan tujuan mengembangkan intelektualitas masyarakat Melayu Indonesia.
Meski berakar di Sumatera Utara, perkembangan ISMI di Jambi justru menuai pujian luar biasa dari pengurus pusat. Prof. Yanhar menyebut tingkat penerimaan masyarakat Jambi terhadap ISMI sangat luar biasa, bahkan menempati peringkat pertama dan mengalahkan gegap gempita persiapan pelantikan di Jakarta.
Sebelum resmi dibentuk, pembentukan ISMI Jambi juga telah melalui proses sowan dan diskusi mendalam dengan tokoh-tokoh adat dan masyarakat. Wakil Ketua ISMI Jambi, Prof. Dr. H. Syamsir, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa kepengurusan sempat berdiskusi dengan orang tua sekaligus tokoh Jambi, Datuk Drs. H. Hasan Basri Agus, guna meramu bagaimana ISMI bisa berkontribusi maksimal untuk pemerintah dan masyarakat Jambi.
Ketua Umum PW ISMI Jambi, Hj. Ernawati, menegaskan bahwa organisasi ini akan bergerak dengan konsep "Cinta" dan berlandaskan semboyan Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Dalam jangka pendek (6 bulan hingga 1 tahun pertama), ISMI Jambi akan tancap gas berfokus pada kesejahteraan anak yatim dan kaum dhuafa.
"Kita akan memetakan anak yatim dulu. Saya mendapat informasi sementara ada sekitar 3.400 anak yatim yang akan kita petakan di setiap kabupaten/kota untuk kita support pendidikannya," tegas Ernawati. Dalam waktu dekat, ISMI juga berencana turun langsung ke 8 titik panti asuhan.
Tak hanya itu, program bedah rumah juga menjadi sorotan. Dari data sekitar 13.000 rumah yang tidak layak huni di Jambi, ISMI menargetkan untuk membedah 200 rumah yang kondisinya paling krusial. Menariknya, terkait pendanaan yang besar untuk program-program ini, Ernawati menyebut hal itu bukan hambatan karena pihaknya telah mengalokasikan 50 persen dana khusus dari perusahaan yang diperuntukkan bagi umat.
Merespons maraknya generasi muda Jambi yang lebih suka nongkrong di kafe setiap malam, ISMI Jambi menyiapkan strategi "jemput bola" dengan menghidupkan kembali fungsi masjid.
"Kami membuat sekitar 50 sampel masjid untuk dijadikan pusat kegiatan selama 24 jam. Dari sebelum subuh sampai kembali subuh lagi, ada seperti pesantren yang hadir di tengah masyarakat," jelas Ernawati. Untuk mewujudkan ini, ISMI berkolaborasi dengan sarjana lulusan UIN dan alumni pesantren untuk menjadi narasumber kajian subuh, fikih, hingga pembacaan Yasin.
Di sektor pelestarian budaya, ISMI Jambi menyadari pentingnya adaptasi digital. Untuk memperkenalkan sejarah raja-raja Jambi, adat istiadat, dan tata akhlak kepada generasi muda, ISMI akan menggandeng sarjana IT. Kisah sejarah akan dibuat dalam bentuk komik untuk anak-anak, sementara untuk orang dewasa akan dikemas dalam format digital yang modern agar tidak membosankan.
Visi ISMI Jambi juga merambah ke sektor wirausaha (entrepreneurship). Ernawati memimpikan produk lokal Jambi memiliki daya saing global dengan pengemasan (packaging) yang berstandar internasional.
"Saya di Saudi itu selalu mendapat kiriman dengan packaging bagus seperti rendang dari Riau. Saya merindukan itu juga hadir dari Jambi. Ada rendang Jambi, ada tempoyak Jambi yang sudah di-packaging bagus dan bisa dijual di luar negeri," ungkapnya.
Satu poin yang sangat ditekankan oleh Ernawati adalah inklusivitas ISMI. Ia tidak ingin organisasi ini terkotak-kotak oleh garis keturunan semata.
"Saya tidak ingin ada yang menganggap Melayu itu hanya orang Jambi asli. Semua orang yang ada di Jambi, baik keturunan Jawa, Batak, Bugis, tapi sudah hidup dari orang tuanya di sini, itu dinamakan juga orang Melayu. Kita minum di air yang sama, tumbuh dan makan di tanah yang sama, wajiblah bagi kita memikirkan kebaikan untuk Jambi," tegasnya dengan penuh semangat.
Semangat kolaborasi ini rupanya sudah dibuktikan bahkan sebelum pengurus ISMI Jambi dilantik. Pada bulan Ramadan lalu, ISMI Jambi sukses membagikan lebih kurang 1.000 paket bantuan sosial berbuka puasa selama sebulan penuh hasil kolaborasi dengan camat dan lurah setempat.
Sebagai penutup, Prof. Yanhar mengingatkan kembali core value ISMI secara nasional melalui akronim PATEN.
"ISMI itu punya semboyan motivasi disingkat PATEN: Pedomani Al-Qur'an Hadis, Tegakkan Energi Nasionalisme," pungkasnya, menandai optimisme besar bagi kebangkitan SDM dan peradaban Jambi di tangan para sarjana yang peduli.(*)
Sumber : TVRI