Kadis Perhubungan Bilang 'Sudah Dilebur', Data E-Katalog Buktikan Paket Rp 988 Juta dan 3,9 M Yutaka Trans Fabio Masih Aktif dan Terpisah

WIB
IST

Kota Jambi - Pernyataan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jambi, Amran, yang mengklaim bahwa paket anggaran senilai Rp 988 juta "tidak ada" karena sudah dilebur ke dalam paket jumbo Rp 3,9 miliar, kini menuai sorotan tajam.

Klarifikasi itu justru bertolak belakang dengan fakta data yang terpampang dalam sistem transparansi pengadaan.

Berdasarkan data, terlihat jelas adanya dua baris transaksi terpisah yang sama-sama berstatus aktif atau ON PROCESS.

Fakta data ini mematahkan klaim bahwa paket tersebut sudah disatukan. Lihat data di bawah:

E-Katalog Dinas Perhubungan Kota Jambi

Dalam tangkapan data sistem pengadaan tersebut, tercatat secara gamblang:

  1. Paket untuk penyedia YUTAKA TRANS FABIO dengan nilai Rp 988.761.600. Status paket tertulis jelas ON PROCESS.
  2. Paket untuk penyedia yang sama, YUTAKA TRANS FABIO, dengan nilai Rp 3.926.361.600. Status paket juga tertulis ON PROCESS.

Jika benar paket Rp 988 juta tersebut sudah "dilebur" atau ditambahkan ke paket Rp 3,9 miliar seperti klaim Kadishub, seharusnya status paket Rp 988 juta tersebut adalah Cancelled (Dibatalkan) atau tidak muncul lagi sebagai paket aktif yang berdiri sendiri.

Namun, fakta bahwa keduanya berstatus On Process secara bersamaan memunculkan dugaan adanya anggaran ganda.

Kejanggalan ini semakin memperkuat sorotan terhadap dominasi YUTAKA TRANS FABIO.

Perusahaan ini tercatat sebagai penyedia tunggal untuk kedua paket bernilai miliaran tersebut.

Sementara itu, di baris ketiga, penyedia lain yakni ALIH DAYA SEJAHTERA hanya mendapatkan paket dengan nilai jauh lebih kecil, yakni Rp 304.200.000.

Publik mendesak Inspektorat Daerah untuk segera turun tangan memverifikasi anomali data ini.

Jika sistem mencatat kedua paket tersebut On Process, maka secara administrasi negara berpotensi membayar tagihan untuk kedua paket tersebut (Total: Rp 3,9 M + Rp 988 Juta = Rp 4,9 Miliar).

Hal ini sangat kontradiktif dengan ucapan Kadishub yang bersikukuh anggaran yang tersedia "hanya Rp 3,9 Miliar".

Lantas, apa wujud nyata dari uang rakyat Rp 3,9 miliar yang dikelola Yutaka Trans Fabio tersebut?

Amran menjelaskan, anggaran itu digunakan untuk biaya jasa layanan angkutan bus listrik bernama "Trans Bahagia".

Outputnya pun terbilang minimalis:

  • Hanya untuk 2 unit Bus Sedang Listrik dan 2 Unit Bus Kecil Listrik.
  • Melayani trayek 16 rit per hari.
  • Durasi layanan 270 hari.

Menjawab keraguan soal potensi benturan kepentingan (conflict of interest) akibat dominasi Yutaka, Amran berdalih bahwa penunjukan ini murni karena kualifikasi.

"Penyedia Yutaka Trans Fabio adalah Operator Angkutan Umum yang memiliki pengalaman di berbagai daerah," ujarnya.

Ia juga berlindung di balik mekanisme E-Katalog.

"Pemilihan E-Katalog memungkinkan kami mengelola pengadaan secara lebih efisien, transparan, dan akuntabel sehingga tidak ada benturan kepentingan," tambah Amran.

Meski demikian, dengan nilai paket yang fantastis dan jumlah armada yang terbatas, serta misteri paket Rp 988 juta yang "diklaim hilang" namun tercatat di sistem, proyek "Trans Bahagia" ini tampaknya akan terus menjadi sorotan panas di Kota Jambi.

Hingga berita ini diturunkan, status kedua paket jumbo milik Yutaka Trans Fabio tersebut masih terpantau berjalan beriringan di sistem E-Katalog.(*)

BeritaSatu Network