Produksi Kentang Kerinci Capai 131 Ribu Ton, Tetapi Tantangan Petani Belum Berakhir: Besar Produksi, Bagaimana dengan Kesejahteraan?

WIB
Ist

KERINCI, JAMBI – Kabupaten Kerinci memiliki posisi penting dalam sektor pertanian hortikultura di Provinsi Jambi. Kentang menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan Kayu Aro, Kayu Aro Barat, Gunung Tujuh, dan Gunung Kerinci.

Besarnya potensi tersebut tercermin dalam data Statistik Pertanian Hortikultura yang dipublikasikan Kementerian Pertanian pada Januari 2026. Produksi kentang Kabupaten Kerinci sepanjang 2025 tercatat mencapai 131.387 ton dengan luas panen 7.212 hektare.

Produktivitasnya juga mengalami peningkatan dari 16,7 ton per hektare pada 2024 menjadi 18,2 ton per hektare pada 2025. Kenaikan sebesar 8,76 persen ini menunjukkan perkembangan positif dari sisi produksi.

Angka tersebut merupakan capaian yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan pertanian tidak seharusnya hanya dilihat dari besarnya jumlah hasil panen.

Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah peningkatan produksi tersebut sudah sebanding dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani?

Sebab, produksi yang tinggi belum otomatis menjamin keuntungan yang tinggi pula. Petani tetap harus menghadapi biaya benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, pengolahan lahan, hingga biaya distribusi.

Belum lagi risiko perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, dan fluktuasi harga ketika panen berlangsung.

Dalam situasi tertentu, peningkatan produksi bahkan dapat menjadi tantangan tersendiri apabila tidak diikuti kemampuan pasar menyerap hasil panen dengan harga yang menguntungkan.

Kementerian Pertanian melalui pemberitaan resminya pada 31 Januari 2026 telah menyoroti pentingnya perluasan akses pasar dan penguatan hilirisasi kentang Kerinci.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Radium Halis, dalam keterangan yang dimuat Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa pemerintah daerah berupaya memperluas akses pasar antardaerah untuk menjaga harga petani tetap menguntungkan.

Selain itu, pengembangan planlet kentang di Balai Benih Induk Kentang Kayu Aro juga diarahkan untuk menghasilkan benih kentang kelas G0 bagi petani penangkar.

Langkah tersebut penting karena pembangunan pertanian membutuhkan penguatan dari hulu hingga hilir. Ketersediaan benih berkualitas harus berjalan beriringan dengan pendampingan budidaya, kepastian pasar, serta pengolahan hasil pertanian.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci menunjukkan luas panen kentang pada 2025 mencapai 7.212 hektare. Angka ini menegaskan besarnya aktivitas ekonomi yang bergantung pada komoditas tersebut.

Karena itu, evaluasi kebijakan pertanian perlu lebih jauh memperhatikan kondisi petani sebagai pelaku utama produksi.

Pemerintah daerah perlu membuka informasi mengenai perkembangan harga kentang di tingkat petani, biaya produksi, akses terhadap pupuk dan benih, serta efektivitas bantuan pertanian yang telah disalurkan.

Perlu pula diperkuat kelembagaan kelompok tani, kemitraan pemasaran, fasilitas penyimpanan, dan pengembangan industri pengolahan agar petani tidak selalu bergantung pada penjualan hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

Hilirisasi bukan sekadar istilah pembangunan. Hilirisasi harus mampu memberikan nilai tambah yang dapat dirasakan oleh petani, bukan hanya pelaku usaha di rantai distribusi berikutnya.

Kerinci telah menunjukkan kemampuan menghasilkan kentang dalam jumlah besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan produksi tersebut benar-benar berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat tani.

Jangan sampai daerah hanya bangga dengan angka produksi, sementara persoalan harga, biaya usaha tani, dan kepastian pasar belum memperoleh jawaban yang memadai.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pertanian bukan semata-mata ketika hasil panen semakin banyak. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika petani mampu memperoleh keuntungan yang layak, kehidupannya semakin sejahtera, dan generasi muda tetap melihat pertanian sebagai masa depan yang menjanjikan. (moynafi)

BeritaSatu Network