Hj Ernawati Launching ISMI Peduli Anak Yatim di Kenali Besar, Minta Gerakan Tak Berhenti di Santunan

WIB
ist

Jambi - Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi mulai mengeksekusi salah satu program sosial yang selama ini dirancang.

Jumat (23/10/2026) siang, Ketua PW ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. meluncurkan Program ISMI Peduli Anak Yatim di Kelurahan Kenali Besar, Kota Jambi.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 14.00 WIB.

Tidak sekadar seremoni peluncuran.

Ernawati datang untuk bersilaturahmi langsung dengan masyarakat dan anak-anak yatim, sekaligus menyerahkan bantuan serta dukungan sosial.

Bagi Ernawati, program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata arah gerakan ISMI di Jambi.

Organisasi sarjana, katanya, tidak boleh hanya kuat dalam diskusi, struktur organisasi atau kegiatan intelektual.

Ilmu harus bertemu dengan kepedulian.

Dan salah satu kelompok yang ingin mendapat perhatian khusus adalah anak yatim.

"ISMI memang organisasi para sarjana. Tetapi ilmu tidak boleh membuat kita hanya pandai berbicara. Ilmu harus membuat kita semakin peka melihat orang di sekitar yang membutuhkan. Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah anak-anak yatim," kata Ernawati.

Dari Rencana Kini Mulai Dieksekusi

Program anak yatim sebelumnya memang sudah masuk dalam salah satu agenda sosial ISMI Provinsi Jambi.

Kini program itu mulai bergerak dari rencana menuju pelaksanaan.

Kenali Besar menjadi salah satu titik awal.

Ernawati mengatakan dirinya ingin program tersebut berjalan bertahap, terukur dan berkelanjutan.

Artinya, anak yatim tidak hanya ditemui ketika ada momentum tertentu.

Bukan hanya saat Ramadan.

Bukan pula hanya ketika ada peringatan hari besar Islam.

"Anak yatim membutuhkan perhatian sepanjang tahun. Kita tidak ingin datang sekali, menyerahkan bantuan, kemudian selesai. Saya ingin ISMI membangun pola pendampingan yang lebih panjang," ujar Ernawati.

Menurutnya, bantuan memang penting.

Tetapi ada kebutuhan yang jauh lebih besar.

Pendidikan.

Pembinaan karakter.

Lingkungan.

Dan masa depan.

"Kalau hari ini kita bisa membantu kebutuhan mereka, alhamdulillah. Tetapi kita juga harus memikirkan lima atau sepuluh tahun ke depan anak ini akan menjadi apa," katanya.

ISMI Ingin Anak Yatim Tetap Punya Cita-cita

Ernawati mengatakan kehilangan orang tua tidak boleh membuat seorang anak merasa kehilangan masa depan.

Ia ingin anak-anak yatim tetap memiliki cita-cita setinggi anak lainnya.

Mereka boleh ingin menjadi dokter.

Guru.

Ulama.

Pengusaha.

Akademisi.

Pejabat.

Atau profesi apa saja.

"Jangan pernah membuat anak yatim merasa bahwa karena kondisi keluarganya, mimpinya harus lebih kecil. Mereka punya hak yang sama untuk sekolah, punya cita-cita dan menjadi orang yang berhasil," kata Ernawati.

Menurutnya, masyarakat justru mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga agar keterbatasan ekonomi tidak memutus pendidikan seorang anak.

Di titik itulah ISMI ingin mengambil peran.

"Kalau ada anak yang punya semangat belajar tetapi terhambat karena keadaan, kita harus mencari jalan. Jangan biarkan cita-citanya berhenti hanya karena persoalan biaya," ujarnya.

Bukan Sekadar Kasih Amplop

Ernawati menegaskan konsep ISMI Peduli Anak Yatim tidak ingin dibangun hanya dengan pola santunan.

Santunan tetap dilakukan.

Tetapi programnya harus berkembang.

Menurutnya, terlalu mudah jika sebuah organisasi hanya datang, membagikan bantuan, berfoto kemudian meninggalkan lokasi.

"Memberi bantuan itu baik. Tetapi jangan kita merasa tugas selesai setelah amplop berpindah tangan. Pertanyaannya, setelah itu bagaimana sekolah anak ini? Bagaimana pembinaannya? Apakah ada yang mendampingi?" katanya.

Karena itu, Ernawati ingin pengurus ISMI mulai membangun data.

Anaknya siapa.

Usianya berapa.

Sekolah di mana.

Tinggal dengan siapa.

Bagaimana kondisi keluarganya.

Dan apa kebutuhan utamanya.

Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk menentukan bentuk intervensi yang paling tepat.

"Jangan semua anak kita perlakukan dengan program yang sama. Ada yang mungkin butuh biaya sekolah, ada yang perlu perlengkapan pendidikan, ada yang membutuhkan pembinaan. Kita harus tahu kebutuhan sebenarnya," ujarnya.

Pendidikan Jadi Fokus

Salah satu arah yang ingin diperkuat Ernawati adalah pendidikan.

Ia percaya bantuan paling panjang manfaatnya adalah membantu seseorang memiliki kemampuan untuk membangun kehidupannya sendiri.

Karena itu pendidikan anak yatim menjadi bagian penting dari gagasan ISMI.

"Kalau hari ini kita memberi makan, manfaatnya hari ini. Kalau kita membantu pendidikan anak sampai dia punya ilmu dan kemampuan, insyaallah manfaatnya bisa sepanjang hidup," kata Ernawati.

Ia berharap ke depan ISMI dapat membangun komunikasi dengan sekolah, pesantren, rumah tahfiz dan lembaga pendidikan lainnya.

Tujuannya membuka semakin banyak pintu bagi anak-anak yang membutuhkan.

"ISMI punya banyak sarjana dan punya jaringan. Jaringan itu harus kita gunakan untuk membuka akses," katanya.

Anak Yatim Jangan Terus Ditempatkan sebagai Objek Kasihan

Ada satu pendekatan yang ingin diubah Ernawati.

Ia tidak ingin anak yatim selalu tumbuh dalam label "orang yang harus dikasihani".

Menurutnya, kasih sayang harus diberikan tanpa merusak harga diri.

Bantu anak.

Tetapi sekaligus bangun keberaniannya.

"Saya tidak ingin anak-anak ini tumbuh dengan pikiran bahwa selamanya mereka harus menerima bantuan. Hari ini mungkin kita membantu mereka. Tetapi cita-cita saya, suatu hari justru mereka yang berdiri membantu orang lain," kata Ernawati.

Konsepnya sederhana.

Hari ini menerima.

Besok memberi.

Hari ini dibantu sekolah.

Suatu hari membuka sekolah.

Hari ini mendapat bantuan.

Kelak menjadi orang yang membiayai pendidikan anak lain.

"Kalau kita berhasil membuat siklus seperti itu, berarti bantuan kita tidak berhenti pada satu generasi," ujarnya.

Rasulullah Juga Seorang Yatim

Ernawati juga mengaitkan perhatian kepada anak yatim dengan perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah kehilangan ayah bahkan sebelum dilahirkan.

Kemudian ibunya wafat ketika Nabi masih kecil.

Namun keadaan tersebut tidak menghentikan perjalanan hidupnya.

"Rasulullah SAW sendiri tumbuh sebagai seorang yatim. Karena itu jangan pernah mengatakan kepada seorang anak yatim bahwa hidupnya tidak punya masa depan. Justru kita harus membesarkan hatinya," kata Ernawati.

Menurutnya, perhatian terhadap anak yatim mempunyai posisi penting dalam ajaran Islam.

Karena itu gerakan sosial ISMI juga ingin menjaga fondasi spiritual tersebut.

"Kita organisasi sarjana, tetapi jangan kehilangan hati. Kecerdasan harus berjalan bersama kasih sayang," katanya.

Kenali Besar Jadi Titik Silaturahmi

Kegiatan di Kenali Besar juga dikemas sebagai ruang silaturahmi.

Ernawati bertemu masyarakat.

Berinteraksi dengan anak-anak.

Mendengar kondisi mereka.

Menurutnya, pertemuan langsung sangat penting sebelum sebuah organisasi menentukan program.

Data memang dibutuhkan.

Tetapi angka tidak selalu mampu menceritakan kondisi manusia secara utuh.

"Kadang kita baru benar-benar memahami setelah duduk langsung dengan masyarakat. Mendengar ceritanya. Melihat anaknya. Dari sana kita tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan," kata Ernawati.

Karena itu ia meminta pengurus ISMI tidak terlalu banyak bekerja hanya dari belakang meja.

Turun.

Datang.

Dengar.

Kemudian cari solusi.

"Itulah fungsi organisasi kalau ingin benar-benar hidup di tengah masyarakat," ujarnya.

ISMI Bergerak dari Sosial hingga Keagamaan

Peluncuran ISMI Peduli Anak Yatim menjadi bagian dari agenda sosial dan keagamaan yang sedang diperkuat organisasi.

Ernawati sebelumnya telah mendorong sejumlah fokus program.

Selain anak yatim, ada pendidikan Al-Qur'an melalui rumah tahfiz.

Pembinaan dan pemakmuran masjid.

Pemberdayaan UMKM.

Serta penguatan nilai budaya Melayu.

Ia ingin setiap bidang memiliki program yang bisa dilihat dan dirasakan.

"Jangan semua bidang hanya punya nama ketua dan sekretaris. Harus ada pekerjaannya," katanya.

Khusus program anak yatim, Ernawati berharap seluruh pengurus daerah dapat bergerak dengan pola yang sama.

Data disiapkan.

Kebutuhan dipetakan.

Kemudian program dijalankan secara bertahap.

"Kita mulai dari apa yang mampu dilakukan. Jangan menunggu punya uang miliaran baru bergerak. Kalau bisa membantu satu anak hari ini, mulai dari satu anak," ujarnya.

Sarjana Harus Turun

Ernawati kembali mengingatkan identitas ISMI sebagai organisasi sarjana.

Menurutnya, gelar akademik membawa tanggung jawab sosial.

Seorang sarjana seharusnya lebih mampu membaca persoalan.

Lebih mampu mencari solusi.

Dan mempunyai jaringan yang lebih luas untuk membantu.

"Kalau kita punya ilmu tetapi tidak pernah turun melihat masyarakat, ilmu itu kehilangan sebagian manfaatnya," kata Ernawati.

Ia ingin pengurus ISMI menggunakan kompetensi masing-masing.

Sarjana pendidikan membantu persoalan pendidikan.

Sarjana ekonomi membantu pemberdayaan keluarga.

Praktisi hukum bisa membantu persoalan legal.

Tenaga kesehatan dapat terlibat dalam aspek kesehatan anak.

Pengusaha membuka jaringan ekonomi.

"Jadi bukan hanya uang yang bisa diberikan. Ilmu, waktu dan jaringan juga bisa disedekahkan," katanya.

Peduli Anak Yatim Jadi Gerakan, Bukan Acara

Satu pesan yang paling ditekankan Ernawati dalam peluncuran itu adalah keberlanjutan.

Ia tidak ingin kegiatan Jumat siang berakhir sebagai dokumentasi sebuah acara.

Nama program sudah diluncurkan.

Sekarang pekerjaan sesungguhnya dimulai.

"Saya ingin ISMI Peduli Anak Yatim menjadi gerakan, bukan acara. Kalau hanya acara, selesai sore ini. Kalau menjadi gerakan, maka setelah kita pulang masih ada pekerjaan yang terus berjalan," kata Ernawati.

Ia berharap suatu saat masyarakat bisa melihat hasilnya bukan dari jumlah bantuan yang dibagikan.

Tetapi dari perjalanan anak-anak yang dibantu.

Ada yang berhasil sekolah.

Ada yang menjadi hafiz.

Ada yang masuk perguruan tinggi.

Ada yang membangun usaha.

Dan kemudian kembali membantu orang lain.

"Itulah keberhasilan sebenarnya," katanya.

Jumat Siang di Kenali Besar

Jumat, 23 Oktober 2026, akhirnya menjadi titik awal bagi program tersebut.

Di Kenali Besar, ISMI Provinsi Jambi meluncurkan gerakan peduli anak yatim.

Ada bantuan sosial.

Ada silaturahmi.

Ada anak-anak.

Ada masyarakat.

Namun Ernawati ingin ada sesuatu yang jauh lebih panjang daripada acara beberapa jam.

Kesempatan.

Kesempatan untuk anak tetap sekolah.

Kesempatan punya masa depan.

Dan kesempatan agar keadaan hari ini tidak menentukan seluruh hidup mereka.

"Kalau suatu hari ada anak yang hari ini kita bantu kemudian tumbuh menjadi orang sukses, berilmu, berakhlak dan kembali membantu orang lain, bagi saya itulah investasi yang paling indah," kata Ernawati.(*)

BeritaSatu Network