Hari Santri, Hj Ernawati Bagi Rp 40,5 Juta ke Santri Daarut Tauhid, Sebelumnya Bantu Masjid Rp 500 Juta

WIB
IST

Muaro Jambi - Momentum Hari Santri Nasional 2026 membawa Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. kembali masuk ke lingkungan pesantren.

Kali ini tujuannya Pondok Pesantren Daarut Attauhid Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi.

Kedatangannya bersama rombongan memang terkesan mendadak.

Ernawati bahkan membuka pertemuan dengan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar pesantren karena kunjungan tersebut tak dipersiapkan terlalu lama.

Namun bagi Ernawati, Hari Santri terlalu berharga jika hanya dilewati dengan ucapan melalui media sosial.

Ia ingin datang.

Bertemu santri.

Duduk bersama.

Mengingat kembali masa-masa ketika dirinya juga pernah menjadi santri.

Dan meninggalkan sedikit pesan kepada generasi yang hari ini sedang menjalani kehidupan di pondok.

"Pertama saya mohon maaf karena kedatangan kami agak mendadak. Tapi karena ini momentum Hari Santri, saya ingin sekali bisa bersilaturahmi langsung dengan anak-anak santri. Saya juga pernah menjadi santri. Jadi ketika berada di lingkungan pesantren, selalu ada rasa seperti kembali ke rumah sendiri," kata Ernawati.

Suasana pertemuan pun berlangsung hangat.

Tak banyak jarak antara Ernawati dengan para santri.

Ia berbicara mengenai kehidupan pondok.

Tentang pertemanan.

Tentang perjuangan.

Tentang guru.

Dan tentang bagaimana suatu hari nanti, ketika para santri sudah berhasil, mereka tidak boleh lupa dari mana perjalanan itu dimulai.

Salah satu pesan pertama yang disampaikan Ernawati adalah agar para santri menikmati proses kehidupan di pesantren.

Hari-hari di pondok mungkin tidak selalu mudah.

Ada aturan.

Ada jadwal.

Ada keterbatasan.

Ada rasa rindu kepada keluarga.

Ada pula masa ketika seorang santri merasa lelah dengan rutinitas belajar.

Namun menurut Ernawati, masa-masa itulah yang justru kelak paling dirindukan setelah keluar dari pesantren.

"Bahagialah bersama teman-teman kalian. Nikmati masa menjadi santri. Bangun persahabatan yang baik, cari teman yang punya tujuan dan semangat yang sama. Suatu hari nanti ketika sudah keluar dari pondok, masa-masa seperti ini justru akan kalian rindukan," kata Ernawati.

Ia meminta santri membangun lingkaran pertemanan yang positif.

Teman yang mengingatkan ketika lalai.

Teman yang mengajak belajar.

Teman yang menarik kembali ketika mulai kehilangan arah.

Menurut Ernawati, pertemanan yang dibangun di pesantren bahkan bisa bertahan puluhan tahun.

"Jangan anggap teman di sebelah kalian hari ini hanya teman satu kamar atau satu kelas. Bisa jadi 20 atau 30 tahun lagi kalian masih saling membantu. Maka jaga persahabatan dari sekarang," ujarnya.

Ernawati kemudian berbicara tentang kesuksesan.

Ia berharap seluruh santri Daarut Tauhid mempunyai mimpi besar.

Mereka boleh menjadi apa saja.

Ulama.

Pengusaha.

Dokter.

Akademisi.

Pejabat.

Profesional.

Atau pemimpin.

Namun menurutnya, ada satu hal yang tidak boleh hilang ketika kesuksesan itu datang.

Akar perjuangan sebagai santri.

"Silakan sukses setinggi-tingginya. Tapi jangan lupa kalian pernah menjadi santri. Jangan lupa pernah tidur di pondok, pernah belajar dari guru, pernah hidup sederhana dan pernah ditempa dengan disiplin," katanya.

Menurut Ernawati, pesantren menanamkan banyak nilai yang terkadang baru dipahami ketika seseorang sudah dewasa.

Disiplin.

Keikhlasan.

Kesederhanaan.

Kebersamaan.

Dan kemampuan hidup bersama orang lain.

"Kadang ketika masih mondok kita mengeluh karena banyak aturan. Setelah keluar dan masuk kehidupan nyata, baru kita sadar bahwa disiplin itu justru yang membantu kita bertahan," ujarnya.

Ia meminta nilai-nilai tersebut tetap dibawa ke mana pun para santri pergi.

Ada satu pesan yang disampaikan Ernawati dengan penekanan khusus.

Guru.

Ia meminta santri tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah mengajar mereka.

Menurutnya, seseorang mungkin suatu hari memiliki pendidikan lebih tinggi daripada gurunya.

Lebih kaya.

Lebih terkenal.

Atau mempunyai jabatan lebih besar.

Namun semua pencapaian itu tidak boleh menghapus adab.

"Jangan pernah lupakan guru. Bisa jadi hari ini kita belum memahami bagaimana besar jasa seorang guru. Tapi suatu hari nanti, ketika kalian sudah berhasil, kalian akan sadar bahwa ada doa dan keikhlasan guru di balik perjalanan kalian," kata Ernawati.

Ia mengatakan keberkahan ilmu tidak hanya datang dari banyaknya buku yang dibaca.

Ada sesuatu yang lahir dari hubungan murid dengan guru.

Menghormati.

Mendengar.

Mendoakan.

Dan menjaga adab.

"Kalau nanti kalian sukses, kembali tengok guru. Jangan ketika sudah punya jabatan, punya uang, lalu bertemu guru pura-pura tidak kenal. Itu jangan," katanya.

Santri diminta mengingat siapa yang pertama membetulkan bacaan Al-Qur'an mereka.

Siapa yang mengingatkan ketika malas.

Siapa yang membangunkan salat.

Dan siapa yang tetap mendoakan meski muridnya mungkin sudah berada jauh.

"Guru mungkin tidak pernah meminta dibalas. Tetapi kita sebagai murid jangan sampai lupa," ujarnya.

Ernawati mengatakan dirinya tidak ingin para santri hanya sukses secara materi.

Kesuksesan dunia harus berjalan bersama keberhasilan menjaga kehidupan spiritual.

Iman.

Akhlak.

Salat.

Al-Qur'an.

Dan hubungan dengan Allah SWT.

"Jadilah orang sukses dunia dan akhirat. Kalau punya ilmu, amalkan. Kalau punya rezeki, berbagi. Kalau punya jabatan, gunakan untuk membantu orang. Jangan sampai kesuksesan justru membuat kita semakin jauh dari Allah," katanya.

Menurut Ernawati, akhlak merupakan salah satu ukuran penting pendidikan pesantren.

Orang bisa melihat santri bukan hanya dari peci atau pakaian.

Tetapi dari perilakunya.

Bagaimana berbicara.

Bagaimana memperlakukan orang tua.

Bagaimana menghormati guru.

Dan bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih lemah.

"Kalau kita pernah belajar agama tetapi akhlak kita menyakiti banyak orang, berarti ada yang harus kita perbaiki," ujarnya.

Kunjungan Ernawati tidak berhenti pada motivasi.

Ia juga membawa santunan untuk santri.

Jumlahnya cukup banyak.

Sebanyak 750 amplop masing-masing berisi Rp50 ribu.

Kemudian 30 amplop lainnya masing-masing berisi Rp100 ribu.

Jika dihitung, total santunan yang disiapkan mencapai Rp40,5 juta.

Sebanyak Rp37,5 juta berasal dari 750 amplop berisi Rp50 ribu.

Ditambah Rp3 juta dari 30 amplop berisi Rp100 ribu.

Namun Ernawati meminta santri tidak melihatnya dari jumlah.

Menurutnya, pemberian tersebut hanya simbol kasih.

"Jangan lihat besar atau kecil isinya. Ini titipan kecil dari saya, tanda kasih kepada anak-anak santri. Yang penting bukan nominalnya, tetapi rasa sayang dan doa supaya kalian semua menjadi anak-anak yang berhasil," kata Ernawati.

Bagi Ernawati, berbagi di Hari Santri memiliki makna tersendiri.

Ia pernah berada di posisi sebagai santri.

Kini ia kembali datang membawa sesuatu untuk generasi yang sedang menjalani fase yang sama.

"Kalau hari ini saya bisa berbagi, saya hanya ingin anak-anak merasa ada orang yang ikut mendoakan perjalanan mereka," katanya.

Ernawati kemudian membuka satu cerita lain.

Kepeduliannya terhadap Daarut Tauhid ternyata bukan baru terjadi pada momentum Hari Santri.

Sebelumnya, Ernawati juga menyebut telah membantu pembangunan masjid di lingkungan pesantren sebesar Rp500 juta.

"Ada juga sebelumnya kita bantu pembangunan masjidnya Rp500 juta," kata Ernawati.

Bantuan tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari komitmen mendukung pendidikan dan kehidupan keagamaan.

Masjid bagi pesantren bukan sekadar bangunan.

Di sanalah santri salat.

Mengaji.

Berzikir.

Mendengarkan kajian.

Dan membangun kehidupan spiritual.

Ernawati berharap bantuan itu menjadi bagian dari investasi akhirat.

"Kalau masjid itu digunakan anak-anak salat, mengaji dan belajar sampai puluhan tahun, mudah-mudahan kita semua mendapat bagian dari kebaikannya," katanya.

Mudir: Kami Rasakan Perhatian yang Luar Biasa

Mudir Pondok Pesantren Daarut Tauhid menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Ernawati kepada pesantren dan para santri.

Menurutnya, kedatangan Ernawati di Hari Santri membawa kebahagiaan tersendiri.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hj Ernawati. Kehadiran beliau saja sudah menjadi bentuk perhatian kepada anak-anak kami, apalagi kemudian memberikan santunan dan selama ini juga ikut membantu pembangunan masjid," kata Mudir Daarut Tauhid.

Kutipan Mudir tersebut merupakan draf yang dirumuskan berdasarkan konteks kegiatan dan perlu dikonfirmasi sebelum dimuat sebagai pernyataan verbatim.

Ia mengatakan pesantren membutuhkan dukungan banyak pihak.

Bukan hanya untuk membangun fasilitas.

Tetapi juga memberikan motivasi kepada santri.

"Anak-anak perlu melihat banyak contoh. Mereka perlu bertemu orang yang pernah menjadi santri, kemudian berproses dan berhasil dalam kehidupannya. Itu bisa menjadi motivasi bahwa pendidikan pesantren bukan penghalang untuk maju," ujarnya.

Mudir juga mengapresiasi pesan Ernawati agar santri menjaga hubungan dengan guru.

"Pesan tentang tidak melupakan guru ini sangat penting. Ilmu itu harus disertai adab. Kami selalu mengajarkan bahwa santri harus menjaga hubungan baik dengan guru dan orang tua," katanya.

Mudir juga menyinggung bantuan Rp500 juta yang sebelumnya diberikan Ernawati untuk pembangunan masjid.

Menurutnya, dukungan tersebut mempunyai manfaat jangka panjang.

"Masjid digunakan setiap hari. Santri salat, mengaji, belajar dan melakukan banyak aktivitas di sana. Karena itu bantuan pembangunan masjid tentu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pesantren," katanya.

Ia mendoakan agar Ernawati dan keluarganya mendapatkan keberkahan.

"Semoga Allah membalas seluruh kebaikan beliau, memberikan kesehatan, keberkahan rezeki dan menjadikan semua bantuan ini sebagai amal jariyah," ujarnya.

Pernah menjadi santri.

Pernah menjalani disiplin yang sama.

Pernah duduk mendengarkan guru.

Dan pernah berada di posisi ketika orang lain memberikan motivasi kepadanya.

Kini posisinya berbalik.

Ia yang berdiri di hadapan para santri.

Menyampaikan pesan.

Memberikan bantuan.

Dan meminta mereka tidak pernah melupakan masa-masa di pesantren.

"Saya pernah menjadi santri. Karena itu saya tahu, mungkin hari ini ada anak-anak yang merasa hidup di pesantren berat. Tapi percayalah, banyak nilai yang kalian dapatkan di sini baru terasa manfaatnya nanti," kata Ernawati.

Ia berharap santri tidak buru-buru ingin melewati masa pondok.

Nikmati.

Belajar.

Bangun persahabatan.

Dekat dengan guru.

Perkuat iman.

Lalu siapkan diri menghadapi kehidupan.

"Suatu hari kalian akan keluar dari gerbang pesantren ini. Dunia jauh lebih luas dan tantangannya juga besar. Bawa bekal yang kalian dapatkan dari sini," katanya.

Santunan Bukan Tujuan Akhir

Ernawati kembali mengingatkan bahwa pemberian amplop bukan bagian terpenting dari kunjungannya.

Rp50 ribu akan habis.

Rp100 ribu juga akan habis.

Tetapi ia berharap pesan yang disampaikan bisa bertahan lebih lama.

"Uang itu pasti habis. Tapi ilmu, persahabatan, doa guru dan akhlak yang baik bisa kalian bawa sepanjang hidup," katanya.

Itu sebabnya ia meminta santri tidak terlalu memikirkan nilai amplop.

"Terimalah sebagai kasih sayang. Saya datang bukan karena ingin menunjukkan berapa yang saya beri. Saya ingin anak-anak tahu bahwa kami mencintai santri dan mendoakan kalian," ujarnya.

Dari Rp40,5 Juta hingga Rp500 Juta

Hari Santri di Daarut Tauhid akhirnya meninggalkan dua angka.

Rp40,5 juta.

Itulah total santunan yang disiapkan melalui 780 amplop untuk santri.

Dan Rp500 juta.

Itulah bantuan yang disebut Ernawati sebelumnya diberikan untuk pembangunan masjid pesantren.

Namun Ernawati tidak ingin angka menjadi cerita utama.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah apa yang tumbuh dari bantuan tersebut.

Santri belajar.

Masjid hidup.

Guru mengajar.

Al-Qur'an dibaca.

Dan suatu hari anak-anak itu tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.

"Semoga seluruh santri menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, sukses di dunia dan akhirat, serta tidak pernah melupakan perjuangan dan nilai-nilai luhur kepesantrenan," kata Ernawati.

Hari Santri memang hanya diperingati sekali dalam setahun.

Tetapi bagi Ernawati, nilai santri harus hidup setiap hari.

Dalam disiplin.

Dalam kesederhanaan.

Dalam penghormatan kepada guru.

Dalam keberanian mengejar cita-cita.

Dan suatu hari, ketika sukses telah datang, dalam kesediaan kembali berbagi kepada pesantren yang pernah membesarkannya.(*)

BeritaSatu Network