PTPN IV PalmCo Gandeng Kemendag, Ekspor Sawit Dibidik Naik 2,5 Kali Lipat pada 2027

WIB
Ist

Jakarta – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mulai memasang target lebih agresif di pasar global.

Porsi ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) perusahaan yang pada 2024 baru sekitar 1 persen, telah melonjak menjadi 10 persen hingga September 2026.

Tahun depan, PalmCo membidik angka yang jauh lebih besar.

Targetnya 25 persen atau sekitar 759.000 ton.

Untuk mengejar angka tersebut, PalmCo menggandeng Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer.

Perjanjian Kerja Sama ditandatangani di Jakarta, Rabu (21/10/2026), sebagai langkah memperluas akses pasar ekspor sawit Indonesia.

EUDR Jadi Salah Satu Tantangan

Kerja sama dilakukan ketika industri sawit menghadapi tuntutan pasar global yang semakin ketat.

Salah satunya European Union Deforestation Regulation atau EUDR.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas akses ke pasar internasional.

“Langkah ini menjadi manuver krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses pasar internasional di tengah bayang-bayang ketatnya regulasi EUDR,” ujar Jatmiko sebagaimana dikutip ANTARA.

Secara resmi, Komisi Eropa menetapkan penerapan EUDR untuk operator besar dan menengah mulai 30 Desember 2026. Untuk sebagian besar operator mikro dan kecil, penerapannya dimulai 30 Juni 2027.

Aturan ini mengharuskan komoditas yang masuk pasar Uni Eropa memenuhi persyaratan terkait bebas deforestasi dan sistem uji tuntas.

Kelapa sawit termasuk salah satu komoditas yang masuk cakupan regulasi tersebut.

Dari 1 Persen ke 10 Persen

Transformasi ekspor PalmCo mulai terlihat dalam dua tahun terakhir.

Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV Rury C. Baskoro mengatakan porsi ekspor CPO meningkat dari sekitar satu persen pada 2024 menjadi sepuluh persen hingga September 2026.

“Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25 persen, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton,” ujar Rury dalam gelar wicara Indonesian Sustainable Palm Oil: Global Competitiveness and Expanding International Market di ICE BSD.

Jika target tersebut tercapai, porsi ekspor PalmCo akan naik sekitar 2,5 kali dibandingkan posisi September 2026.

Namun PalmCo tetap menyatakan pasokan domestik menjadi prioritas.

Mau Jadi Direct Exporter

PalmCo tidak ingin sekadar menjadi pemasok komoditas di pasar dalam negeri.

Perusahaan mulai bergerak membangun hubungan langsung dengan pembeli global.

Mulai dari refiners.

Traders.

Hingga end-user.

Strategi tersebut diarahkan untuk mendorong PalmCo menjadi direct exporter dengan jaringan internasional yang lebih kuat.

Artinya, perusahaan berusaha memperpendek rantai bisnis dan membangun akses pasar secara langsung.

ESG Jadi Senjata

Jatmiko mengatakan prinsip Environmental, Social and Governance atau ESG menjadi salah satu instrumen utama untuk menghadapi persaingan global.

Menurutnya, ESG tidak lagi cukup dipandang sebagai kewajiban kepatuhan.

Standar keberlanjutan juga menentukan apakah produk bisa masuk dan bertahan di suatu pasar.

“Dalam hal ini, kinerja ESG tidak hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga menjamin akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi industri perkebunan nasional,” katanya.

PalmCo juga mengandalkan sertifikasi seperti ISPO dan RSPO untuk memperkuat posisi produknya.

PalmCo Klaim Punya Modal Historis

Rury menyebut kebun yang dikelola perusahaan mempunyai keunggulan historis dalam menghadapi tuntutan bebas deforestasi.

“Kebun kami adalah peninggalan Belanda. Jadi bisa dipastikan tidak ada aktivitas deforestasi baru, tidak ada okupasi lahan dari masyarakat, dan tidak ada pengambilan lahan dari hutan,” ujar Rury dalam keterangan perusahaan yang diberitakan ANTARA.

Klaim tersebut menjadi salah satu modal yang dibawa PalmCo dalam mempersiapkan sistem kepatuhan terhadap pasar internasional.

Namun untuk memenuhi EUDR, perusahaan tetap harus mengikuti mekanisme uji tuntas dan pembuktian yang dipersyaratkan bagi produk yang masuk pasar Uni Eropa.

China hingga Filipina Dibidik

Kerja sama dengan Kemendag tidak hanya diarahkan ke Eropa.

Diversifikasi pasar menjadi bagian penting.

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid menyebut beberapa negara potensial.

Mulai dari China, India, Pakistan hingga Filipina.

Dengan pasar yang lebih beragam, ketergantungan pada satu wilayah dapat ditekan.

PalmCo juga memiliki ruang lebih luas untuk menjual komoditas maupun produk turunan.

Intelijen Pasar Jadi Kunci

Kemendag ingin kerja sama tersebut menghasilkan sesuatu yang konkret.

Bukan berhenti pada seremoni penandatanganan.

“Kerja sama ini diharapkan bukan sekadar penandatanganan dokumen di atas kertas, tetapi terwujud dalam intelijen pasar yang presisi, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, serta bertambahnya volume ekspor dan kemitraan global berkelanjutan bagi Indonesia,” kata Miftah.

Intelijen pasar menjadi penting karena kebutuhan setiap negara berbeda.

Standar.

Harga.

Produk.

Hingga pola permintaan tidak selalu sama.

Data itulah yang diperlukan perusahaan untuk menentukan pasar mana yang paling potensial.

Tak Hanya Sawit

Kerja sama juga diperluas ke program Desa Bisa Ekspor.

Salah satu pilot project diarahkan pada komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Dengan demikian, kolaborasi PalmCo dan Kemendag tidak hanya menyentuh ekspor sawit perusahaan.

Ada pula agenda mendorong produk dari basis produksi daerah masuk pasar internasional.

Tahun 2027 Jadi Ujian

PalmCo kini memiliki target yang jelas.

Porsi ekspor 25 persen.

Volume sekitar 759 ribu ton.

Pasar baru harus dibuka.

Pada saat yang sama, persyaratan keberlanjutan global makin ketat.

Karena itu, 2027 akan menjadi ujian apakah transformasi dari pemasok domestik menuju eksportir langsung benar-benar berjalan.

PalmCo sudah meningkatkan porsi ekspornya dari sekitar 1 persen menjadi 10 persen.

Sekarang tantangannya jauh lebih besar: membawa angka itu menjadi 25 persen, menjaga pasar lama, mencari pembeli baru, dan memastikan sawit Indonesia tetap diterima ketika standar global semakin ketat. (*)

BeritaSatu Network