Korban Ledakan Jamtos Jambi Meninggal, Sekuriti Peko Sempat Dirawat di Dua RS
Jambi — Kabar duka datang dari insiden ledakan gudang katering di kawasan Mal Jambi Town Square atau Jamtos. Peko Pradana (34), petugas keamanan yang menjadi salah satu korban, meninggal dunia pada Senin (5/10/2026) dini hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Kasat Reskrim Polresta Jambi Husni Abda membenarkan kabar tersebut. Peko sebelumnya mengalami luka bakar akibat ledakan yang terjadi pada Selasa (22/9/2026) malam.
“Iya pak benar 1 orang Meninggal Dunia di RS pagi dini hari,” kata Husni, Senin (5/10/2026).
Peko sempat dirawat di RS Kambang. Ia kemudian dirujuk ke RS Siloam untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sebelum akhirnya meninggal. Luka bakarnya mengenai wajah, kedua tangan, dan kaki.
Kabar kematian Peko muncul 13 hari setelah kejadian. Insiden yang semula dilaporkan menyebabkan enam orang luka bakar itu kini telah merenggut satu nyawa.
Hingga Senin siang, kabar terbaru yang dapat diverifikasi baru menyangkut meninggalnya Peko. Belum ditemukan keterangan medis terbaru mengenai kondisi lima korban lainnya, termasuk apakah mereka masih dirawat atau sudah diperbolehkan pulang.
Bermula dari Suara Ledakan dan Bau Gas
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.18 WIB, Selasa (22/9/2026), di gudang yang digunakan untuk kegiatan katering di kawasan Jamtos.
Kapolsek Kota Baru AKP Riko Saputra menjelaskan, rangkaian kejadian bermula ketika seorang sekuriti bernama Rio hendak menuju gudang penyimpanan barang. Di sekitar gudang katering, ia mendengar suara ledakan, disusul suara menyerupai kebocoran gas dan bau gas.
Rio kemudian menyampaikan temuannya kepada pihak keamanan. Teknisi mal dipanggil untuk melakukan pengecekan. Petugas keamanan bersama teknisi selanjutnya masuk ke gudang tersebut.
Namun, pemeriksaan itu disusul ledakan berikutnya. Menurut penjelasan Riko, jedanya sekitar lima menit setelah mereka masuk. Api menyembur keluar dari gudang.
Dengan demikian, kronologi awal kepolisian mencatat adanya suara ledakan pertama yang diikuti indikasi kebocoran gas, lalu ledakan susulan ketika pengecekan berlangsung.
Kapolresta Jambi Kombes Ananto Herlambang juga menjelaskan bahwa sekuriti dan teknisi melakukan pengecekan setelah menerima laporan saksi.
“Selang beberapa menit terjadi ledakan susulan yang menyemburkan api,” kata Ananto pada Rabu (23/9/2026).
Laporan Jambi One pada 23 September menyebut tiga orang masih berada di area dapur ketika ledakan terjadi. Secara keseluruhan, enam laki-laki mengalami luka bakar. Mereka terdiri dari empat karyawan dan dua warga setempat.
Media tersebut juga melaporkan informasi bahwa warga telah mencium bau gas selama beberapa hari sebelum kejadian. Informasi ini masih memerlukan pendalaman untuk memastikan kapan indikasi kebocoran pertama diketahui dan bagaimana tindak lanjutnya.
Dua Mobil Damkar Dikerahkan
Pihak mal menghubungi petugas pemadam setelah ledakan dan kebakaran terjadi. Dua unit mobil pemadam kebakaran Kota Jambi tiba sekitar 10 menit setelah kejadian dan melakukan pemadaman.
Ananto turun langsung ke lokasi bersama jajaran kepolisian untuk memastikan pengamanan tempat kejadian, evakuasi korban, dan penanganan kebakaran. Polisi kemudian memasang garis polisi, menghimpun keterangan saksi, serta mengecek korban di rumah sakit. Setelah api dipadamkan, situasi sekitar lokasi dilaporkan kondusif.
Enam Korban Dibawa ke Tiga Rumah Sakit
Berdasarkan keterangan awal yang diberitakan pada 23 September, para korban mendapatkan penanganan di RS Abdul Manap, RS Kambang, dan RS Raden Mattaher.
Boby Syefrinando (49) mengalami luka bakar pada kedua kaki. Ia dibawa ke RS Abdul Manap. Di rumah sakit yang sama, Afizal (38) mendapatkan penanganan akibat luka bakar pada perut dan kedua kaki.
Deni Erawansa (28), karyawan Jamtos bagian troli, mengalami luka bakar pada tangan dan wajah. Ia dirawat di RS Kambang bersama Rikardo Sinaga (25), yang mengalami luka bakar pada kedua tangan.
Peko juga awalnya dirawat di RS Kambang. Sementara itu, M. Andika Akbar (33), yang mengalami luka bakar pada wajah, kedua tangan, dan kedua kaki, mendapatkan penanganan di RS Raden Mattaher.
Data rumah sakit tersebut merupakan catatan penanganan awal setelah kejadian. Perkembangan terbaru Peko adalah dirujuk ke RS Siloam dan kemudian meninggal pada 5 Oktober. Adapun perkembangan medis lima korban lainnya belum dapat dipastikan dari hasil penelusuran ini.
Polisi Periksa Saksi, Dua Tabung Gas Diamankan
Dalam perkembangan penyelidikan yang diberitakan pada 24 September, polisi telah meminta keterangan tiga warga yang berada di sekitar lokasi. Saat itu, keenam korban belum dapat dimintai keterangan karena masih menjalani perawatan.
Penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Polresta Jambi. Tim INAFIS bersama Satreskrim memeriksa lokasi untuk menelusuri sumber ledakan dan rangkaian kejadian.
Polisi juga dilaporkan mengamankan dua tabung gas berkapasitas 50 kilogram. Dugaan awal mengarah pada kebocoran gas, tetapi penyebab pasti ledakan belum disimpulkan.
“Kita masih mendalami penyebabnya, termasuk bagaimana sampai terjadi kebocoran dan ledakan,” ujar Riko, pada 23 September.
Dugaan penumpukan gas di ruangan juga muncul dalam keterangan awal. Namun, sumber kebocoran dan pemicu penyalaan masih membutuhkan hasil pemeriksaan. Demikian pula kemungkinan kelalaian: belum ada kesimpulan resmi yang menetapkan pihak tertentu bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Kini, satu dari enam korban telah meninggal. Kabar duka itu menjadi perkembangan terbaru dari ledakan Jamtos, sementara kepastian kondisi lima korban lainnya dan hasil pengusutan penyebab kejadian masih menunggu keterangan lebih lanjut.(*)