Hj Ernawati mendampingi jemaah LAM Jambi bersama Nailah Hairat menjelajah Taif. Dari mikrofon bus, jamuan sebelum restoran buka, hingga penyulingan parfum dan ziarah.
MIKROFON itu berada di tangan Hj Ernawati. Di dalam bus yang membawa rombongan jemaah umrah Lembaga Adat Melayu Jambi menuju Taif, pemilik Bintang Global tersebut memberikan arahan kepada para penumpang. Pagi itu, ia ikut mengambil peran sebagai pemandu perjalanan.
Bus berangkat dari Hotel Al Safwah, Makkah, pukul 09.00 waktu setempat, Senin, 21 September 2026. Satu bus mengangkut rombongan yang perjalanan umrahnya difasilitasi Nailah Hairat Wisata. Setelah menjalani ibadah di Masjidil Haram, mereka mendapat kesempatan mengunjungi Taif.
Kehadiran Ernawati membuat perjalanan ini terasa lebih personal. Pengusaha asal Jambi dengan usaha puluhan hotel dan katering di Makkah itu ikut berada di tengah rombongan. Para jemaah menyaksikan sisi lain perempuan yang biasa mereka kenal sebagai pemilik usaha, seorang tuan rumah yang menemani tamunya bepergian.
Mikrofon di tangannya membuat keterlibatan itu terasa langsung. Arahan perjalanan disampaikannya sendiri. Bagi rombongan dari Jambi, ada orang sekampung yang mengenal lingkungan setempat dan ikut menemani sepanjang rute.
“Saya ingin jemaah merasa nyaman. Selama di sini, kita bisa beribadah, melihat tempat-tempat baru, dan menikmati kebersamaan. Apalagi ini rombongan dari Jambi, rasanya seperti menemani keluarga sendiri,” ujarnya.

Sekitar dua jam kemudian, rombongan tiba di Taif. Persinggahan pertama membawa mereka ke peternakan unta.
Di tempat ini, jemaah berpose bersama unta. Sebagian membeli buah-buahan, sebagian lainnya mencicipi susu unta. Kegiatan rombongan kini tersebar pada hal-hal kecil, yakni memilih buah, mencoba minuman, dan mengabadikan kunjungan bersama hewan yang menjadi daya tarik peternakan.
Ada yang pulang dari persinggahan itu dengan foto, ada yang membawa buah. Susu unta menambah pengalaman mencicipi sesuatu yang tak biasa ditemukan dalam keseharian mereka di Jambi. Peternakan menjadi pembuka perjalanan sebelum rombongan melanjutkan kunjungan ke Boulevard Garden.
Di tempat berikutnya, ada cerita tentang jam buka yang dilonggarkan.
Tempat itu masih tutup. Belum ada pelayan. Pagar masih terkunci rapat. Biasanya mulai melayani pengunjung setelah asar hingga malam.
Jemaah Nailah Hairat datang lebih awal. Namun, ini bukan problem. Karena yang datang adalah rombongan Hj Ernawati.
Pihak restoran rupanya bersedia menyiapkan hidangan untuk rombongan yang didampingi Ernawati, atau Madam Hur, sapaan khasnya di Makkah.
Restoran itu, menurut informasi dalam kunjungan, masih tergolong baru. Pemiliknya seorang pengusaha setempat yang dikenal Ernawati. Ketika menjelaskan hubungannya dengan pemilik restoran, ia menyampaikan kalimat pendek.
“Dia teman saya,” kata Hj Ernawati.

Pertemanan itu terasa manfaatnya bagi rombongan. Mereka dapat menikmati jamuan sebelum waktu pelayanan yang biasa. Di sela perjalanan jauh dari Jambi, sambutan semacam ini memberi kehangatan tersendiri, tiba di tempat baru, lalu dipersilakan makan.
Hidangannya nasi briyani kambing. Nasi berbumbu dan daging kambing menjadi menu makan bersama setelah kunjungan ke peternakan. Para jemaah menyantapnya dengan lahap.
Meja makan memberi jeda dari kegiatan berpindah tempat. Rombongan duduk menikmati hidangan yang disiapkan khusus untuk kedatangan mereka. Ernawati ikut makan bersama. Hubungan antara pemilik usaha perjalanan dan jemaahnya menjadi akrab dalam jamuan tersebut.
Kunjungan di Boulevard Garden berlanjut selepas makan. Manajer restoran mengajak Ernawati dan para jemaah menengok kebun binatang. Di sana dipelihara sejumlah satwa, antara lain monyet, angsa, dan rusa.
Pemandangan itu menghadirkan keakraban bagi pengunjung dari Indonesia. Nama-nama satwanya mudah dikenali. Setelah berfoto dengan unta dan menikmati nasi biryani, mereka menjumpai hewan-hewan yang juga dikenal di tanah air.
Ajakan manajer restoran membuat kunjungan makan siang itu berlanjut lebih jauh. Rombongan sempat melihat bagian lain dari Boulevard Garden sebelum kembali meneruskan perjalanan.
Dari Boulevard Garden, perjalanan beralih ke tempat penyulingan parfum.

Persinggahan ini membawa rombongan pada salah satu tradisi yang erat dengan Taif, yakni pengolahan mawar menjadi air mawar dan minyak aromatik. Di balik wewangian terdapat pekerjaan menanam, memetik, dan menyuling bunga. UNESCO mencatat kegiatan tersebut sebagai bagian dari kehidupan sosial dan sumber penghasilan masyarakat Taif. Pada musim panen, bunga dipetik pagi hari, lalu dibawa untuk dijual atau disuling.
Menurut dokumentasi UNESCO, air mawar dan minyaknya digunakan dalam berbagai produk, termasuk perawatan tubuh, makanan, dan minuman. Mawar serta air mawar juga diberikan sebagai hadiah. Dengan demikian, hasil pengolahan bunga berhubungan dengan kebiasaan sehari-hari dan cara masyarakat saling memberi.
Sesudah peternakan dan jamuan makan, tempat penyulingan memperkenalkan sisi lain kehidupan di Taif. Wewangian menghubungkan hasil kebun dengan keterampilan pengolahnya, lalu sampai kepada orang-orang yang menggunakannya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam Abdullah bin Abbas, sahabat Rasulullah yang termasyhur.

Nama Ibnu Abbas membawa rombongan pada sejarah keilmuan Islam. Dalam hadis riwayat al-Bukhari, ia menuturkan bahwa Nabi Muhammad pernah mendekapnya dan berdoa agar Allah mengajarinya hikmah. Riwayat tersebut menjadi pengingat akan kedekatannya dengan Rasulullah dan pentingnya ilmu dalam kehidupannya.
Ziarah itu menempatkan kunjungan ke Taif dalam rangkaian perjalanan ibadah jemaah LAM Jambi. Setelah mengenal beberapa tempat dan kegiatan masyarakat, mereka mendatangi lokasi yang berkaitan dengan seorang tokoh penting dalam sejarah Islam.
Rombongan LAM Jambi itu dipimpin Syahrasaddin. Bersama para jemaah Nailah Hairat, ia mengikuti kunjungan yang mempertemukan kegiatan wisata, makan bersama, dan ziarah dalam satu perjalanan.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Ernawati dan Nailah Hairat. Beliau ikut mendampingi langsung, bahkan memberi arahan di dalam bus. Bagi kami, perhatian seperti ini membuat perjalanan terasa akrab. Ada kebersamaan yang mudah-mudahan terus terjaga setelah kembali ke Jambi,” jelasnya.