Akademisi UIN STS Jambi Victor Diwantara Puji Gerakan Sosial Karang Taruna di Bawah Rocky Candra

WIB
Ist

JAMBI — Ketika kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat, sebagian orang memilih bertahan di ruang aman. Namun, di tengah kondisi itu, sekelompok anak muda justru memilih keluar dari ruang nyaman dan turun langsung menemui masyarakat.

Karang Taruna Provinsi Jambi menjadi salah satu organisasi yang mengambil langkah tersebut.

Di bawah kepemimpinan Rocky Candra, gerakan sosial Karang Taruna tidak berhenti pada rapat dan agenda seremonial. Organisasi kepemudaan itu mulai membangun gerakan di lapangan, merespons persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Jambi.

Mulai dari mendirikan posko, menggerakkan Satgas GEBRAK Karhutla, hingga membagikan masker dan vitamin kepada masyarakat terdampak kabut asap.

Posko Satgas Karhutla Karang Taruna berdiri di depan Universitas Muhammadiyah Jambi dan menjadi titik koordinasi relawan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla.

Ada tenda yang berdiri. Ada relawan yang berkumpul. Ada masker yang disiapkan. Ada vitamin yang dibagikan. Lalu dari posko itu, anak-anak muda bergerak menuju jalan dan menemui masyarakat.

Gerakan tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Victor Diwantara, S.E., M.M., memberikan apresiasi terhadap gerakan sosial yang dilakukan Karang Taruna Provinsi Jambi di bawah kepemimpinan Rocky Candra.

Penilaian Victor menjadi menarik karena dirinya bukan sosok yang asing dengan gerakan kepemudaan. Victor merupakan salah satu perintis Ikatan Pemuda Kerinci Sungai Penuh Jambi (IPKS-Jambi) dan pernah dipercaya sebagai Ketua IPKS-Jambi sebelum akhirnya menyelesaikan masa kepemimpinannya.

Pengalaman panjang dalam organisasi kepemudaan tersebut membuat Victor melihat gerakan sosial Karang Taruna bukan sekadar dari sisi akademik, tetapi juga dari pengalaman membangun organisasi dan menggerakkan anak muda di tengah masyarakat.

Menurut Victor, organisasi kepemudaan memiliki kekuatan besar ketika mampu mengubah energi anak muda menjadi kerja nyata yang langsung dirasakan masyarakat.

“Organisasi kepemudaan itu jangan hanya hidup di ruang rapat atau muncul ketika ada momentum tertentu. Ukurannya adalah ketika masyarakat menghadapi persoalan, apakah organisasi tersebut mampu hadir dan melakukan sesuatu,” ujar Victor.

Ia menilai langkah Karang Taruna Provinsi Jambi di bawah Rocky Candra yang turun langsung membantu masyarakat terdampak kabut asap merupakan bentuk gerakan sosial yang patut diapresiasi.

Bagi Victor, pembagian masker dan vitamin memang terlihat sederhana. Namun, di balik kegiatan tersebut terdapat pesan yang jauh lebih besar, yakni tentang kepedulian, solidaritas dan keberanian pemuda untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

“Masker dan vitamin mungkin bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan karhutla. Tetapi ketika ada masyarakat yang membutuhkan perlindungan, kemudian anak-anak muda turun memberikan apa yang mereka mampu, itu adalah bentuk kepedulian yang nyata,” katanya.

Victor juga melihat pola gerakan tersebut memiliki kesamaan dengan semangat yang sejak lama dibangun dalam organisasi kepemudaan, yakni membangun kedekatan dengan masyarakat dan memastikan organisasi tidak kehilangan fungsi sosialnya.

“Pemuda harus menjadi bagian dari solusi. Kritik boleh, menyampaikan aspirasi penting, tetapi jangan berhenti di sana. Kalau ada persoalan di masyarakat, turun dan lakukan sesuatu yang bisa dilakukan,” tegasnya.

Ia berharap gerakan sosial Karang Taruna Provinsi Jambi tidak berhenti setelah persoalan kabut asap mereda. Menurutnya, energi kepemudaan yang sudah terbentuk harus terus dijaga dan diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat lainnya.

Bagi Victor, organisasi kepemudaan yang kuat bukan hanya yang memiliki struktur lengkap, tetapi yang kehadirannya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dari pengalaman sebagai salah satu perintis dan mantan Ketua IPKS-Jambi, Victor memahami bahwa membangun organisasi pemuda membutuhkan lebih dari sekadar kepengurusan. Dibutuhkan keberanian untuk turun, kemampuan membaca persoalan dan kemauan untuk bekerja bersama masyarakat.

Karena itu, ia menilai gerakan Karang Taruna Jambi saat ini merupakan langkah yang harus terus diperkuat.

“Kalau gerakan seperti ini bisa dipertahankan, kemudian diperluas ke berbagai bidang seperti pemberdayaan ekonomi, lingkungan, pendidikan dan sosial, saya kira Karang Taruna bisa menjadi kekuatan besar bagi masyarakat Jambi,” pungkas Victor.

Namun, kritik akan menjadi lebih kuat ketika dibarengi dengan kontribusi.

Di tengah kabut asap, Karang Taruna memilih memberikan perlindungan sederhana kepada masyarakat melalui pembagian masker dan vitamin. Sebelumnya, relawan juga diarahkan untuk menyasar pengendara, pedagang, pekerja lapangan hingga masyarakat yang banyak beraktivitas di ruang terbuka.

“Pemuda harus punya keberanian untuk turun langsung. Tidak semua persoalan harus ditunggu selesai oleh pemerintah. Ada ruang yang bisa diisi masyarakat dan organisasi kepemudaan,” tutur Victor.

Menurutnya, aksi tersebut juga memperlihatkan bahwa gerakan sosial tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk dimulai.

Terkadang, sebuah gerakan dimulai dari tenda sederhana.

Dari kardus masker.

Dari beberapa orang relawan.

Kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas karena memiliki kepemimpinan dan jaringan.

Rocky Dorong Karang Taruna Tak Jadi Organisasi Seremonial

Langkah tersebut sejalan dengan arah kepemimpinan Rocky Candra sejak terpilih sebagai Ketua Karang Taruna Provinsi Jambi periode 2026-2031.

Saat terpilih secara aklamasi pada Februari 2026, Rocky menegaskan bahwa Karang Taruna ke depan harus menjadi organisasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan tidak hanya dikenal karena kegiatan seremonial.

Kini, arah tersebut mulai terlihat di lapangan.

Kabut asap menjadi salah satu ujian awal.

Karang Taruna membentuk Satgas GEBRAK sebagai bagian dari respons sosial terhadap dampak karhutla. Gerakan itu kemudian diwujudkan melalui posko, distribusi masker, vitamin, edukasi serta bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Bahkan, gerakan tidak berhenti di Kota Jambi. Jaringan Karang Taruna mulai digunakan untuk memperluas distribusi bantuan hingga wilayah lain, termasuk Kabupaten Batanghari.

Victor menilai pola seperti ini patut dipertahankan.

“Kalau organisasi kepemudaan mampu bergerak seperti ini secara konsisten, maka keberadaannya akan semakin dirasakan masyarakat. Jangan hanya aktif ketika ada momentum. Justru ukuran organisasi itu terlihat ketika ada persoalan dan mereka mampu hadir memberikan solusi,” ujarnya.

Bukan Sekadar Masker dan Vitamin

Menurut Victor, pembagian masker dan vitamin memang tidak akan menyelesaikan persoalan karhutla.

Namun, ia melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Ada masyarakat yang tetap harus bekerja di jalan.

Ada pedagang yang tidak mungkin menutup dagangan.

Ada pengemudi yang harus mencari nafkah.

Ada pekerja lapangan yang tetap harus berada di ruang terbuka.

Kelompok-kelompok inilah yang merasakan dampak langsung ketika kabut asap datang.

Karena itu, kehadiran organisasi sosial di tengah masyarakat menjadi penting.

“Bantuan seperti masker dan vitamin memang sifatnya jangka pendek. Tetapi pesan sosialnya panjang. Bahwa masyarakat tidak sendirian. Ada organisasi yang peduli, ada anak-anak muda yang mau turun tangan,” jelas Victor.

Ia juga berharap gerakan Karang Taruna tidak berhenti setelah kabut asap mereda.

Menurutnya, energi kepemudaan yang sudah terbentuk harus dilanjutkan untuk menjawab persoalan lain di masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi, lingkungan, pendidikan dan kegiatan sosial.

Sebab, kalau energi pemuda hanya muncul ketika ada masalah, gerakannya akan berhenti ketika masalah selesai. Tetapi jika energi itu dijadikan budaya pengabdian, Karang Taruna bisa menjadi kekuatan sosial yang terus bekerja.

Dari Posko, Pemuda Bergerak

Beberapa hari terakhir, posko Karang Taruna menjadi titik awal gerakan.

Masker disiapkan.

Vitamin dikemas.

Relawan diberikan arahan.

Kemudian mereka keluar.

Ada yang menuju persimpangan jalan.

Ada yang menyapa pengendara.

Ada yang mendatangi masyarakat.

Ada pula yang bergerak ke wilayah lain.

Tidak ada panggung besar.

Tidak ada seremoni panjang.

Yang terlihat justru aktivitas sederhana: anak-anak muda bekerja untuk masyarakat.

Bagi Victor Diwantara, inilah wajah organisasi kepemudaan yang seharusnya.

“Pemuda jangan hanya menjadi penonton dari persoalan yang terjadi di daerahnya sendiri. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi. Dan apa yang dilakukan Karang Taruna Jambi hari ini menunjukkan arah ke sana,” pungkasnya.

Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya pergi, gerakan sosial itu terus berjalan.

Masker berpindah tangan.

Vitamin dibagikan.

Relawan bergerak dari satu titik ke titik lainnya.

Dan dari sana, satu pesan sederhana kembali muncul:

Karang Taruna tidak cukup hanya hadir di atas kertas. Organisasi itu harus hidup di tengah masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Rocky Candra, gerakan tersebut kini mulai diuji bukan di ruang rapat, tetapi di jalanan dan di tengah persoalan nyata masyarakat Jambi.

BeritaSatu Network