Penyelenggaraan pesta pernikahan modern di perkotaan sering kali terjebak dalam modifikasi visual yang mengaburkan esensi nilai-nilai luhur tradisi daerah. Edukasi berkala kepada para pelaku industri kreatif pernikahan (wedding organizer) menjadi urgensi krusial agar pakem luhur adat istiadat tetap terjaga kemurniannya dan tidak sekadar menjadi pelengkap dekorasi.
Langkah preventif untuk menjaga keaslian budaya tersebut diwujudkan secara konkret di tingkat daerah. Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Jambi bersama Seiyo Sekato Organizer menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Prosesi Perkawinan Adat Melayu Tanah Pilih Pusako Batuah, Kota Jambi pada Sabtu (25/7).
Agenda strategis yang dipusatkan untuk membedah tata cara adat perkawinan ini diikuti oleh puluhan peserta yang didominasi oleh generasi muda dan pemuda-pemudi sadar budaya di Kota Jambi. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua LAM Kota Jambi, Datuk Aswan Hidayat. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Founder Seiyo Sekato Organizer Ahadiat Sauki, Owner Seiyo Sekato Organizer Ayu Wahyuni, Sekretaris LAM Kota Jambi, serta para pemateri dan tamu undangan lintas sektoral.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua LAM Kota Jambi, Datuk Aswan Hidayat, melayangkan apresiasi tinggi atas keseriusan dan inisiatif yang ditunjukkan oleh jajaran manajemen Seiyo Sekato Organizer dalam memfasilitasi kegiatan edukatif ini. Pihaknya mencatat bahwa langkah ini merupakan terobosan baru di industri kreatif lokal.
"Ini merupakan kegiatan perdana di mana ada pihak wedding organizer (WO) yang secara sukarela dan resmi mau belajar secara mendalam mengenai prosesi perkawinan secara adat Melayu Jambi yang sah," ungkap Datuk Aswan.
Tidak sekadar menggelar forum diskusi dan pemaparan materi, momentum pertemuan ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) resmi antara LAM Kota Jambi dan Seiyo Sekato Organizer. Pasca-penandatanganan kesepakatan tersebut, Datuk Aswan menegaskan agar poin-poin kerja sama tidak berhenti di atas kertas, melainkan harus segera dieksekusi secara nyata di lapangan.
Output atau luaran utama dari pelaksanaan bimtek ini dirancang agar seluruh rangkaian prosesi perkawinan secara adat Melayu di wilayah administratif Kota Jambi dapat terus dilestarikan serta dijalankan secara konsisten sesuai dengan ketentuan dan hukum adat yang berlaku. Datuk Aswan berharap langkah pionir yang diambil oleh Seiyo Sekato Organizer ini dapat segera ditiru dan diikuti oleh event organizer (EO) maupun WO lain yang beroperasi di wilayah Kota Jambi.
Sementara itu, Founder Seiyo Sekato Organizer, Ahadiat Sauki, menjelaskan bahwa latar belakang pelaksanaan bimtek ini didasari oleh keinginan pelaku industri untuk menyamakan persepsi. Menurutnya, pemahaman yang keliru terhadap tata cara adat kerap memicu miskonsepsi saat pelaksanaan resepsi perkawinan di lapangan.
“Kegiatan ini kami gelar secara khusus untuk menghindari terjadinya mispersepsi atau kesalahan tata cara ketika prosesi perkawinan adat berlangsung. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutan hangat dan keterbukaan dari pihak LAM Kota Jambi. Ini adalah bentuk upaya bersama kita untuk melestarikan keagungan budaya Melayu dalam setiap sendi pernikahan,” urai Ahadiat Sauki.
Dengan adanya pembekalan berkala dari para pemangku adat ini, industri wedding di Kota Jambi diharapkan mampu menghadirkan layanan yang tidak hanya megah secara estetika modern, tetapi juga memiliki kedalaman nilai filosofis luhur. Langkah sinergis ini diharapkan menjadi benteng kokoh dalam memayungi tradisi Tanah Pilih Pusako Batuah dari gerusan zaman. (*)