JAKARTA — PTPN IV PalmCo mencatat pertumbuhan pada bisnis non-kelapa sawit setelah penggabungan sejumlah entitas perkebunan negara ke dalam perusahaan tersebut.
Hingga Mei 2026, produksi kopi PalmCo mencapai 135.570 kilogram atau meningkat 225 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain kopi, perusahaan juga mencatat peningkatan kualitas produksi karet serta melanjutkan efisiensi biaya pada pengelolaan perkebunan teh.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan penguatan bisnis non-sawit menjadi bagian dari strategi diversifikasi perusahaan setelah proses integrasi.
PalmCo merupakan entitas hasil penggabungan bisnis perkebunan dari PTPN III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VI, dan PTPN XIII.
“Pasca-merger, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola aset agrikultur yang lebih luas dan beragam,” ujar Jatmiko dalam keterangannya, 8 Juli 2026.
“Publik memang lebih mengenal PTPN IV PalmCo melalui kelapa sawit, namun kami memiliki fokus yang sama besarnya untuk mengembangkan komoditas karet, teh, dan kopi,” lanjutnya.
Menurut Jatmiko, pengelolaan komoditas non-sawit diarahkan agar setiap lini usaha dapat beroperasi lebih efisien dan memberi kontribusi terhadap kinerja perusahaan.
Komoditas kopi mencatat pertumbuhan produksi paling tinggi di antara lini non-sawit PalmCo.
Hingga Mei 2026, produksi kopi kering tercatat sebanyak 135.570 kilogram.
Jumlah tersebut tumbuh 225 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kinerja produksi itu turut menghasilkan laba bersih sebesar Rp3,07 miliar selama lima bulan pertama 2026.
Pada tahun buku 2025, salah satu unit pengelolaan kopi PalmCo, Java Coffee Estate, tercatat membukukan laba sebesar Rp42,70 miliar.
Direktur Operasional PTPN IV PalmCo Rediman Silalahi mengatakan peningkatan produksi diperoleh melalui standardisasi kultur teknis di area perkebunan.
“Pertumbuhan pada komoditas kopi adalah wujud dari perbaikan kultur teknis yang kini lebih terstandardisasi,” kata Rediman.
PalmCo melakukan penyisipan tanaman dan pengaturan pohon penaung untuk menjaga kondisi mikroklimat di area kebun.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan pola pemeliharaan dengan perubahan intensitas hujan dan cahaya matahari.
“Kami mengawal program penyisipan tanaman dan pengaturan penaung secara ketat untuk menjaga mikroklimat perkebunan,” ujarnya.
Rediman mengatakan perusahaan juga memperkuat kegiatan pemangkasan dan pembuangan tunas yang tidak produktif atau wiwil.
“Di tengah fluktuasi cuaca yang memengaruhi intensitas hujan dan cahaya, disiplin pangkas dan wiwil menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas cabang-cabang produktif agar tetap berbuah optimal,” katanya.
Pada komoditas karet, PalmCo memfokuskan perbaikan pada kualitas hasil produksi.
Pada kuartal pertama 2026, mutu produk Ribbed Smoked Sheet atau RSS tercatat mencapai 99,63 persen.
Capaian tersebut berada di atas standar mutu perusahaan sebesar 98 persen.
PalmCo menilai konsistensi mutu menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing produk karet di pasar domestik dan internasional.
Namun perusahaan masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan tenaga kerja penyadap di sejumlah wilayah perkebunan.
Rediman mengatakan perusahaan melakukan penataan tenaga penyadap untuk mengurangi areal tanaman yang tidak tersadap.
“Untuk menjaga stabilitas produktivitas, kami menerapkan penataan tenaga deres secara komprehensif di seluruh regional guna menekan area yang tidak tersadap atau hanca lowong,” ujarnya.
Perusahaan juga menerapkan pola eksploitasi tanaman secara terukur untuk menjaga keseimbangan antara volume produksi dan kondisi tanaman.
“Melalui pendekatan maximum exploitation yang terukur, kami berupaya memastikan volume harian dan kualitas mutu karet PTPN IV PalmCo tetap terjaga dengan baik,” kata Rediman.
Pada bisnis teh, PalmCo lebih banyak menitikberatkan strategi pada efisiensi biaya operasional.
Sepanjang 2025, perusahaan mencatat efisiensi beban produksi teh sebesar Rp46,47 miliar.
Program efisiensi tersebut dilanjutkan hingga Mei 2026 melalui mekanisasi mesin pemetik dan perbaikan sistem operasional di perkebunan teh.
Jatmiko mengatakan efisiensi produksi tetap harus diikuti dengan pengendalian mutu dan penyesuaian terhadap permintaan pasar.
“Pada komoditas teh, kami menyeimbangkan efisiensi operasional dengan pemenuhan permintaan pasar,” ujarnya.
PalmCo mengarahkan sebagian produksi pada teh kategori Grade 1, seperti Broken Orange Pekoe I atau BOP I, Broken Pekoe atau BP, serta Dust.
“Selain merasakan dampak penghematan dari mekanisasi, arah produksi saat ini difokuskan pada portofolio Grade 1 seperti BOP I, BP, dan Dust, yang memiliki profil permintaan lebih stabil di pasar global,” kata Jatmiko.
Kelapa sawit masih menjadi bisnis utama PTPN IV PalmCo.
Namun perusahaan menyatakan komoditas kopi, karet, dan teh tetap dikelola sebagai bagian dari penguatan portofolio agrikultur.
Jatmiko mengatakan optimalisasi seluruh aset hasil penggabungan menjadi salah satu tugas utama perusahaan setelah merger.
“Optimalisasi pada sektor non-core ini terus kami dorong agar seluruh lini bisnis dapat beroperasi secara efisien, mandiri, dan berkontribusi positif pada profitabilitas perusahaan,” ujarnya.
Kinerja hingga Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan produksi paling besar terjadi pada kopi.
Sementara pada karet, perusahaan memfokuskan perbaikan pada mutu dan produktivitas tenaga penyadap.
Adapun pada komoditas teh, strategi utama diarahkan pada mekanisasi, penghematan biaya, dan penguatan produk dengan permintaan pasar yang dinilai lebih stabil.