MUARO JAMBI — Kunjungan tim Monitoring dan Evaluasi atau Monev MUI Provinsi Jambi ke MUI Kabupaten Muaro Jambi menjadi ruang dialog terbuka.
Bukan hanya soal pemeriksaan administrasi organisasi.
Tetapi juga soal pembinaan.
Soal program umat.
Soal keterbatasan dana.
Dan soal harapan agar MUI kabupaten mendapat pendampingan lebih kuat dari MUI Provinsi Jambi.
Dalam pertemuan itu, Tuan Guru Abdullah Syargawi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kunjungan pengurus MUI Provinsi Jambi.
Ia menyebut kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi MUI Muaro Jambi.
“Alhamdulillah, kami berbangga hati dapat dikunjungi oleh pengurus MUI Provinsi Jambi,” ujar Tuan Guru Abdullah Syargawi.
Ia mengakui MUI Muaro Jambi masih memiliki banyak kekurangan.
Karena itu, pihaknya berharap kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda formal, tetapi juga menjadi pintu pembinaan berkelanjutan.
“Kami banyak kekurangan terkait dengan banyak hal. Oleh karena itu, kami mohon tuntunan dan petunjuk. Karena kami baru ini dikunjungi dan diayomi di Muaro Jambi ini,” katanya.
Tuan Guru Abdullah Syargawi berharap MUI Provinsi Jambi terus memberi arahan kepada MUI Muaro Jambi.
Menurutnya, keberadaan MUI di daerah membutuhkan penguatan, baik dari sisi organisasi, program, maupun dukungan operasional.
“Mohon perbaikan, mohon mengayomi, mohon bimbingan kami MUI ini. Karena kami ini banyak kekurangannya, terutama masalah dana,” ujarnya.
Ia kemudian memaparkan kondisi pendanaan MUI Muaro Jambi.
Pada tahun 2025, MUI Muaro Jambi mendapat bantuan dari Baznas sebesar Rp100 juta.
Selain itu, ada bantuan dari Kementerian Agama sebesar Rp15 juta.
Dana tersebut digunakan untuk sejumlah kegiatan organisasi.
Di antaranya pelantikan MUI kecamatan, kegiatan pada bulan suci Ramadan, serta kegiatan lainnya.
“Untuk tahun 2026 ini, kami baru masukkan proposal dan sampai kini belum ada bantuan satu sen pun,” kata Tuan Guru Abdullah Syargawi.
Pernyataan itu disampaikan sebagai gambaran kondisi kelembagaan MUI di tingkat kabupaten.
Bukan sebagai keluhan semata.
Tetapi sebagai permintaan agar pembinaan, pendampingan, dan dukungan terhadap MUI daerah dapat terus diperkuat.
Meski memiliki keterbatasan, MUI Muaro Jambi tetap menjalankan sejumlah program.
Sekretaris Umum MUI Kabupaten Muaro Jambi menjelaskan, salah satu program yang sudah dilakukan adalah pelatihan pegawai syarak di empat kecamatan.
Program itu menggunakan sebagian dari dana Rp100 juta yang diterima pada tahun 2025.
“Program kerja yang telah dilakukan antara lain pelatihan pegawai syarak di empat kecamatan, dari dana Rp100 juta tadi,” ujar Sekretaris Umum MUI Kabupaten Muaro Jambi.
Selain itu, MUI Muaro Jambi juga menjalankan kegiatan melalui Komisi Perempuan.
Salah satu kegiatan dilakukan di Kecamatan Sungai Gelam.
Kegiatannya berkaitan dengan eko enzim dan penguatan UMKM.
Program tersebut menunjukkan MUI Muaro Jambi tidak hanya bergerak pada bidang keagamaan formal.
Tetapi juga mulai menyentuh isu pemberdayaan keluarga, lingkungan, dan ekonomi umat.
Untuk tahun 2026, MUI Muaro Jambi telah menyiapkan sejumlah rencana kerja.
Di antaranya pelaksanaan rapat kerja daerah atau rakerda.
Selain itu, MUI Muaro Jambi juga merencanakan pelatihan imam, khatib, dan penyelenggaraan jenazah.
Namun, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi kendala pendanaan.
“Tahun 2026 ini kami merencanakan rakerda, pelatihan imam dan khatib, serta penyelenggaraan jenazah. Tetapi dananya belum ada,” ujar Sekretaris Umum MUI Kabupaten Muaro Jambi.
Pelatihan imam, khatib, dan penyelenggaraan jenazah dinilai penting.
Sebab kebutuhan layanan keagamaan di tengah masyarakat terus berjalan.
Masjid membutuhkan imam.
Jumat membutuhkan khatib.
Masyarakat juga membutuhkan petugas yang memahami tata cara penyelenggaraan jenazah sesuai tuntunan agama.
Karena itu, program seperti ini langsung bersentuhan dengan kebutuhan umat.
Kegiatan Monev MUI Provinsi Jambi ke Muaro Jambi menjadi bagian dari upaya memotret kondisi MUI kabupaten/kota secara lebih menyeluruh.
Instrumen monev MUI Provinsi Jambi tidak hanya melihat satu sisi.
Ada aspek identitas kelembagaan.
Ada organisasi pengurus dan karyawan.
Ada aspek keuangan.
Ada aset dan inventaris.
Ada pelaksanaan program tahunan per komisi dan lembaga.
Ada kualitas pelayanan umat.
Ada kemitraan strategis.
Ada kemitraan dengan Baznas.
Ada pula informasi terdokumentasi.
Dengan instrumen itu, MUI Provinsi Jambi dapat melihat kondisi riil MUI kabupaten/kota.
Mana yang sudah berjalan.
Mana yang belum kuat.
Mana yang membutuhkan pendampingan.
Dan mana yang perlu dibantu melalui sinergi program.
Berdasarkan surat tugas, MUI Provinsi Jambi menugaskan sejumlah pengurus untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Muaro Jambi.
Nama-nama yang ditugaskan antara lain Prof. Dr. H. Amri Amir, M.Si., Prof. Dr. Maisah, M.Pd.I., Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Sc.Agr., Drs. H. Rahmidi, M.HI., Dr. Fahmi Rasyid, S.E., M.AP., Dr. Ari Dian Amri Amir, S.E., M.E., M.AP., serta Ratna Dewi, M.Pd.
Kehadiran tim ini menjadi bagian dari pembinaan organisasi MUI di daerah.
Tim monev tidak hanya membawa daftar pertanyaan.
Tetapi juga mendengar langsung kondisi pengurus di lapangan.
Dalam forum seperti ini, suara MUI kabupaten dapat tersampaikan lebih utuh.
Terutama terkait keterbatasan operasional, kebutuhan program, dan tantangan pelayanan umat.
Monev kerap dipahami sebagai urusan dokumen.
Mengisi instrumen.
Memeriksa data.
Mencatat program.
Mengevaluasi laporan.
Namun dalam konteks MUI Muaro Jambi, monev juga menjadi ruang silaturahmi dan pembinaan.
Pengurus daerah menyampaikan apa adanya.
Ada rasa bangga karena dikunjungi.
Ada harapan untuk dibimbing.
Ada pengakuan atas keterbatasan.
Ada pula program yang tetap dijalankan meski dana terbatas.
Inilah nilai penting monev.
Ia bukan sekadar menilai.
Tetapi juga menguatkan.
Bukan hanya mencatat kekurangan.
Tetapi mencari jalan agar kekurangan itu dapat diperbaiki bersama.
MUI Muaro Jambi berharap perhatian terhadap MUI daerah dapat terus diperkuat.
Terutama dalam dukungan pembinaan kelembagaan dan pendanaan program.
Sebab MUI berada di tengah masyarakat.
Pengurus MUI ikut menangani banyak urusan umat.
Mulai dari dakwah, pembinaan masjid, pendidikan keagamaan, fatwa, ukhuwah, perempuan dan keluarga, hingga pelayanan sosial keagamaan.
Tanpa dukungan yang cukup, banyak program hanya berhenti sebagai rencana.
Padahal kebutuhan masyarakat terus bergerak.
Karena itu, kunjungan MUI Provinsi Jambi diharapkan menjadi awal penguatan yang lebih konkret.
Keterbatasan dana tidak harus membuat program berhenti.
MUI Muaro Jambi masih dapat membangun sinergi dengan berbagai pihak.
Pemerintah daerah.
Kementerian Agama.
Baznas.
Ormas Islam.
Masjid.
Lembaga pendidikan.
Komunitas perempuan.
Dan pelaku UMKM.
Namun sinergi itu membutuhkan koordinasi.
Membutuhkan pendampingan.
Membutuhkan kelembagaan yang tertata.
Di sinilah peran MUI Provinsi Jambi menjadi penting.
Membina.
Mengayomi.
Memberi arahan.
Dan membantu MUI kabupaten/kota agar dapat bergerak lebih kuat.
Kunjungan MUI Provinsi Jambi ke MUI Muaro Jambi memberi pesan bahwa organisasi keulamaan di daerah tidak bisa berjalan sendiri.
MUI kabupaten membutuhkan dukungan.
Membutuhkan tuntunan.
Membutuhkan jejaring.
Dan membutuhkan ruang untuk menyampaikan kendala.
Tuan Guru Abdullah Syargawi sudah menyampaikannya secara terbuka.
MUI Muaro Jambi berterima kasih karena dikunjungi.
MUI Muaro Jambi mengakui masih banyak kekurangan.
Dan MUI Muaro Jambi berharap terus dibimbing.
Kini, harapannya, hasil monev tidak berhenti pada lembar instrumen.
Tetapi menjadi dasar pembinaan yang lebih nyata.
Agar program keumatan di Muaro Jambi dapat berjalan lebih kuat, lebih tertata, dan lebih memberi manfaat bagi masyarakat.(*)