Harga Sembako di Pasar Sengeti Naik, Telur Tembus Rp47 Ribu per Papan
MUARO JAMBI – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi, mulai merangkak naik.
Kenaikan terjadi dalam sepekan terakhir.
Komoditas yang mengalami kenaikan antara lain telur ayam, beras, tepung, hingga sagu.
Para pedagang menyebut kenaikan harga dipicu membengkaknya biaya distribusi dan transportasi dari distributor ke pasar.
Stok barang masih aman.
Namun harga sudah bergerak naik.
Pantauan di Pasar Sengeti, harga telur ayam kini dijual Rp47 ribu per papan isi 30 butir.
Sebelumnya, telur ayam masih berada di harga Rp44 ribu per papan.
Artinya, dalam sepekan, telur naik Rp3 ribu per papan.
Kenaikan juga terjadi pada beras premium.
Beras premium kemasan 20 kilogram yang sebelumnya berada di kisaran Rp295 ribu hingga Rp298 ribu per karung, kini naik menjadi Rp302 ribu.
Harga itu masih bergantung pada merek.
Sementara itu, sagu menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling terasa.
Sebelumnya, harga sagu Rp11 ribu per kilogram.
Kini naik menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Naiknya mencapai Rp4 ribu per kilogram.
Tepung juga disebut mengalami penyesuaian harga dibandingkan pekan sebelumnya.
Daftar Kenaikan Harga di Pasar Sengeti
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Sekarang |
|---|---|---|
| Telur ayam | Rp44 ribu/papan | Rp47 ribu/papan |
| Beras premium 20 kg | Rp295 ribu-Rp298 ribu/karung | Rp302 ribu/karung |
| Sagu | Rp11 ribu/kg | Rp15 ribu/kg |
| Tepung | Naik | Menyesuaikan harga terbaru |
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Sengeti, Harpika, mengatakan kenaikan harga terjadi pada beberapa komoditas utama.
Menurutnya, barang masih tersedia.
Tidak ada kekurangan stok.
Namun harga dari distributor sudah naik, sehingga pedagang ikut menyesuaikan harga jual.
“Dalam minggu ini yang naik itu beras, telur, tepung, dan sagu. Untuk stok masih aman, tidak ada kekurangan barang,” kata Harpika.
Ia menyebut penyebab utama kenaikan harga bukan karena barang langka.
Melainkan karena ongkos distribusi dan transportasi yang meningkat.
“Kenaikan ini lebih karena biaya distribusi dan transportasi yang semakin tinggi, sehingga harga dari distributor juga ikut naik,” ujarnya.
Menurut Harpika, kondisi itu turut dipengaruhi sulitnya memperoleh bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi.
Di sisi lain, harga BBM non-subsidi masih relatif tinggi.
Akibatnya, biaya angkut barang ikut membengkak.
Dari distributor ke pasar, ongkos pengiriman naik.
Ketika biaya angkut naik, harga barang di tingkat pedagang ikut terdorong.
Dampaknya sampai ke pembeli.
Masyarakat harus membayar lebih mahal untuk kebutuhan sehari-hari.
Telur naik.
Beras naik.
Sagu naik.
Tepung ikut menyesuaikan.
Bagi rumah tangga, kenaikan kecil pada beberapa komoditas bisa terasa besar jika terjadi bersamaan.
Apalagi kebutuhan tersebut dipakai hampir setiap hari.
Beras menjadi kebutuhan utama.
Telur menjadi sumber protein yang banyak dibeli masyarakat.
Tepung dipakai untuk usaha kecil maupun kebutuhan dapur.
Sagu juga menjadi bahan pangan yang digunakan sebagian warga.
Karena itu, kenaikan harga sembako selalu cepat terasa di pasar.
Pedagang berada di posisi sulit.
Jika harga dari distributor naik, mereka tidak bisa menahan terlalu lama.
Jika harga jual dinaikkan, pembeli mengeluh.
Jika tidak dinaikkan, pedagang menanggung selisih.
Di sisi lain, daya beli masyarakat juga menjadi perhatian.
Harga yang terus naik bisa membuat warga mengurangi jumlah belanja.
Ada yang biasanya membeli satu papan telur, bisa beralih membeli setengah papan.
Ada yang biasanya membeli beras merek tertentu, bisa mencari merek lain yang lebih murah.
Ada pula pelaku usaha kecil yang harus menghitung ulang biaya produksi.
Harpika berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi ini.
Terutama terkait kelancaran distribusi dan stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Ia berharap harga kembali stabil agar masyarakat tidak semakin terbebani.
“Dengan begitu, daya beli masyarakat tetap terjaga dan beban ekonomi warga tidak semakin berat,” tandasnya.
Kenaikan harga di Pasar Sengeti menjadi sinyal yang perlu dipantau.
Sebab pasar tradisional adalah titik akhir yang paling dekat dengan masyarakat.
Jika biaya transportasi naik, pasar langsung merasakan.
Jika pasokan terganggu, pasar paling cepat membaca.
Jika harga distributor berubah, pedagang kecil ikut terdampak.
Karena itu, stabilitas harga tidak cukup hanya dilihat dari stok.
Stok memang aman.
Tetapi jika ongkos angkut terus naik, harga tetap bisa bergerak.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memantau jalur distribusi, memastikan pasokan lancar, serta memperkuat koordinasi dengan distributor dan pedagang.
Terutama untuk komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.
Bagi warga Muaro Jambi, harapannya sederhana.
Harga jangan terus naik.
Stok tetap tersedia.
Distribusi lancar.
Dan kebutuhan dapur tetap bisa dijangkau.
Sebab ketika harga sembako mulai merangkak, yang paling cepat merasakan adalah masyarakat kecil.
Dari Pasar Sengeti, sinyal itu sudah terlihat.
Telur naik.
Beras naik.
Sagu melonjak.
Dan pedagang mulai meminta pemerintah turun tangan sebelum beban warga semakin berat. (*)