BANGKO — Bupati Merangin M. Syukur resmi melantik dan mengambil sumpah jabatan 237 kepala sekolah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Merangin.
Pelantikan berlangsung khidmat di Aula Rumah Dinas Bupati Merangin, Sabtu (6/6/2026).
Ratusan kepala sekolah yang dilantik itu terdiri atas 7 Kepala Taman Kanak-Kanak (TK), 186 Kepala Sekolah Dasar (SD), dan 44 Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Jumlahnya besar. Tanggung jawabnya lebih besar lagi.
Dalam sambutannya, Bupati M. Syukur menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukan hadiah. Bukan pula sekadar fasilitas dari pemerintah.
Menurutnya, jabatan itu adalah kepercayaan, kehormatan, sekaligus amanah besar untuk menentukan arah masa depan pendidikan di Kabupaten Merangin.
“Mulai hari ini, wajah pendidikan di sekolah yang Anda pimpin berada di tangan Bapak dan Ibu semua. Peningkatan kualitas pendidikan adalah harga mati bagi kemajuan Kabupaten Merangin,” tegas M. Syukur.
M. Syukur mengatakan kepala sekolah adalah ujung tombak dan motor penggerak peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, kepala sekolah tidak boleh hanya sibuk dengan rutinitas administrasi.
Ia meminta para kepala sekolah meninggalkan cara-cara lama yang tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.
Sekolah, kata dia, harus bergerak. Guru harus didorong. Siswa harus dibimbing. Lingkungan sekolah harus dibuat hidup. Dan teknologi tidak boleh lagi menjadi barang asing.
Pada kesempatan itu, M. Syukur menyampaikan empat instruksi strategis kepada seluruh kepala sekolah yang baru dilantik.
Pertama, kepala sekolah diminta menjadi pemimpin, bukan sekadar manajer.
Menurut M. Syukur, kepala sekolah harus menjadi teladan bagi guru, staf, dan siswa. Kepala sekolah harus mampu menginspirasi, membangun disiplin, dan menumbuhkan semangat kerja di lingkungan sekolah.
Kedua, kepala sekolah diminta memacu inovasi dan adaptasi teknologi.
Di era digital, M. Syukur menegaskan tidak boleh ada lagi sekolah di Merangin yang gagap teknologi atau menutup diri dari inovasi pembelajaran.
Fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ketiga, kepala sekolah wajib membenahi manajemen dan transparansi sekolah.
M. Syukur secara khusus menekankan pengelolaan anggaran sekolah, termasuk dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS. Ia meminta anggaran dikelola secara transparan, akuntabel, dan bebas dari penyelewengan.
Menurutnya, anggaran sekolah harus diprioritaskan untuk program yang berdampak langsung terhadap peningkatan mutu siswa dan kapasitas guru.
Keempat, kepala sekolah diminta merangkul lingkungan dan orang tua murid.
M. Syukur mengingatkan sekolah tidak boleh menjadi “menara gading” yang terisolasi dari masyarakat sekitar.
Kepala sekolah wajib membangun komunikasi dengan orang tua murid, komite sekolah, dan tokoh masyarakat. Sebab keberhasilan pendidikan tidak bisa dicapai oleh sekolah sendirian. Pendidikan adalah kerja gotong royong.
M. Syukur menyadari tugas para kepala sekolah tidak mudah. Apalagi bagi kepala sekolah yang ditempatkan di wilayah pelosok dengan fasilitas terbatas dan akses yang menantang.
Namun menurutnya, justru di wilayah seperti itulah makna pengabdian seorang pendidik diuji.
“Ketekunan Anda di pelosok-pelosok Merangin adalah lentera bagi anak-anak kita untuk melihat masa depan mereka,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, M. Syukur menegaskan komitmen Pemkab Merangin bersama Dinas Pendidikan untuk terus mendukung peningkatan kesejahteraan, perbaikan sarana dan prasarana, serta perlindungan bagi para pendidik.
Namun dukungan itu harus dibalas dengan komitmen total dari para kepala sekolah.
Pemkab Merangin menuntut kerja keras, integritas, dan keberanian melakukan perubahan di sekolah masing-masing.
Pelantikan 237 kepala sekolah ini bukan sekadar rotasi jabatan. Ia menjadi momentum penting untuk memperbaiki wajah pendidikan Merangin.
Sebab di tangan kepala sekolah, ruang kelas bisa berubah.
Dari tempat yang biasa-biasa saja menjadi ruang tumbuh. Dari rutinitas menjadi gerakan. Dari administrasi menjadi perubahan.
Dan dari sekolah-sekolah di pelosok Merangin, masa depan anak-anak itu sedang dipertaruhkan.(*)