Oleh : Hj. Ernawati.S.Ag.M.Pd
Ketua Umum ISMI Perwakilan Provinsi Jambi
HARI RAYA Idul Adha selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Takbir berkumandang sejak malam, masjid dan lapangan dipenuhi jamaah, sementara aroma kebersamaan terasa lebih kuat dari hari-hari biasa. Di balik syariat penyembelihan hewan kurban, sesungguhnya Idul Adha menyimpan pesan sosial yang sangat dalam: tentang kepedulian, keikhlasan, dan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.
Qurban bukan hanya ibadah individual antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ia juga merupakan ibadah sosial yang menghubungkan hati manusia satu sama lain. Ketika seseorang menyerahkan hewan kurban, lalu dagingnya dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya distribusi pangan, tetapi juga distribusi kasih sayang, perhatian, dan persaudaraan.
Di sinilah qurban bertemu dengan silaturahmi. Dan ketika keduanya berjalan bersama, lahirlah kekuatan sosial yang mampu menguatkan kehidupan umat.
Dalam kehidupan masyarakat modern yang makin sibuk dan individualistis, momentum Idul Adha menjadi sangat penting untuk menghidupkan kembali budaya saling peduli. Banyak orang mungkin jarang bertemu tetangganya dalam keseharian, namun saat qurban tiba, mereka kembali duduk bersama, bergotong royong, menyembelih hewan, membungkus daging, lalu membagikannya kepada masyarakat. Aktivitas sederhana itu ternyata memiliki makna sosial yang luar biasa besar.
Islam sejak awal memang membangun masyarakat di atas fondasi ukhuwah atau persaudaraan. Karena itu, ibadah dalam Islam hampir selalu memiliki dimensi sosial. Zakat membersihkan harta sekaligus membantu kaum dhuafa. Puasa melatih kesabaran sekaligus menghadirkan empati kepada orang lapar. Demikian pula qurban: ia mendidik keikhlasan pribadi sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial.
*Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapai-Nya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa esensi qurban bukan semata pada hewan yang disembelih, melainkan pada nilai ketakwaan dan kemanusiaan yang lahir dari ibadah tersebut. Ketakwaan itu kemudian tercermin dalam kepedulian kepada sesama, terutama mereka yang jarang menikmati makanan bergizi dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, distribusi hewan dan daging qurban perlu dipahami bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai bagian dari gerakan sosial umat. Ketika daging qurban sampai kepada masyarakat kecil, kepada anak-anak yatim, kaum dhuafa, guru ngaji, santri, dan masyarakat pelosok, maka qurban telah menjalankan fungsi sosialnya secara utuh.
Dalam konteks ini, penyaluran qurban ke pesantren, masjid, dan lembaga pendidikan Islam memiliki makna yang sangat strategis. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter umat. Di sanalah ribuan santri belajar Al-Quran, ilmu fikih, akhlak, dan nilai-nilai kebangsaan. Banyak pesantren hidup dengan keterbatasan, namun tetap istiqamah menjaga tradisi ilmu dan dakwah.
Ketika hewan qurban disalurkan ke pesantren, sesungguhnya masyarakat sedang ikut menopang keberlangsungan pendidikan Islam. Para santri mendapatkan asupan gizi yang baik, para ustadz merasa diperhatikan, dan lingkungan pesantren merasakan kebahagiaan bersama. Nilai sosial qurban menjadi semakin luas karena dampaknya tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi juga mendukung keberlanjutan lembaga pendidikan umat.
Hal yang sama berlaku bagi masjid dan majelis taklim. Masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat peradaban umat. Dari masjid lahir dakwah, pendidikan, musyawarah, hingga kegiatan sosial masyarakat. Ketika qurban disalurkan melalui masjid, maka semangat kebersamaan akan tumbuh lebih kuat. Jamaah saling mengenal, saling membantu, dan saling menjaga hubungan baik.
Silaturahmi yang terbangun dalam momentum qurban sebenarnya memiliki dampak sosial yang sangat besar. Banyak persoalan masyarakat dapat diselesaikan ketika hubungan antarsesama berjalan baik. Konflik kecil dapat mereda, kesenjangan sosial dapat diperkecil, dan rasa saling percaya dapat diperkuat.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga membawa keberkahan sosial dalam kehidupan manusia. Dan Idul Adha adalah salah satu momentum terbaik untuk memperkuat hubungan tersebut.
Namun demikian, pelaksanaan qurban juga perlu memperhatikan aspek tata kelola yang baik. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Agama dan Kementerian Pertanian terus mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan hewan kurban dan kebersihan lingkungan penyembelihan. Ini menjadi penting karena ibadah qurban tidak hanya harus sah secara syariat, tetapi juga aman secara kesehatan masyarakat.
Hewan qurban harus dipastikan sehat, cukup umur, dan bebas dari penyakit menular seperti PMK, LSD, maupun antraks. Pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dan petugas berwenang menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ibadah qurban. Demikian pula proses penyembelihan harus memperhatikan kebersihan alat, lokasi, dan penanganan daging agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Kesadaran ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kemaslahatan. Syariat tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan seiring dengan nilai kesehatan, kebersihan, dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, transparansi dalam pengelolaan qurban juga menjadi hal yang penting di era sekarang. Masyarakat semakin kritis dan ingin memastikan bahwa hewan qurban benar-benar disalurkan kepada yang berhak. Karena itu, panitia qurban perlu membangun sistem distribusi yang adil, terbuka, dan tepat sasaran.
Kepercayaan publik adalah modal sosial yang harus dijaga. Ketika masyarakat melihat bahwa qurban dikelola dengan amanah, maka partisipasi umat akan meningkat. Sebaliknya, jika distribusi tidak transparan atau hanya bersifat seremonial, maka nilai sosial qurban akan melemah.
Oleh sebab itu, qurban harus dipandang sebagai gerakan bersama yang menggabungkan nilai ibadah, kemanusiaan, dan penguatan sosial. Jangan sampai qurban hanya berhenti pada dokumentasi atau formalitas tahunan, sementara semangat kepedulian dan kebersamaan justru hilang.
Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk kembali merawat hubungan sosial yang mungkin mulai renggang. Mengunjungi tetangga, berbagi kepada yang membutuhkan, membantu panitia qurban, atau sekadar menyapa masyarakat sekitar adalah bagian dari ibadah sosial yang sangat mulia.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi atau teknologi, tetapi juga oleh kuatnya rasa persaudaraan di antara warganya. Dan Islam telah mengajarkan itu melalui qurban.
Berqurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, keserakahan, dan rasa acuh terhadap sesama. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir ketika kita mampu berbagi dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Maka, ketika Idul Adha tiba, mari jadikan qurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi gerakan sosial yang memperkuat silaturahmi, memperkokoh ukhuwah, dan menghidupkan kembali nilai gotong royong di tengah masyarakat.
Sebab daging qurban mungkin hanya dinikmati beberapa hari, tetapi persaudaraan yang lahir darinya bisa bertahan jauh lebih lama.