Dolar Semakin Seksi Saat Perang, Rupiah Kembali Menanggung Luka

WIB
IST

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Universitas Jambi, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi

Perang seharusnya menghadirkan ketakutan. Ledakan rudal semestinya membuat investor menjauh. Logika ekonomi sederhana mengajarkan bahwa negara yang terlibat konflik akan menghadapi risiko yang lebih tinggi sehingga aset-asetnya kehilangan daya tarik. Kenyataan yang terjadi justru berbeda. Ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan Timur Tengah memasuki fase yang semakin tidak pasti, pasar keuangan global memperlihatkan paradoks yang telah berulang kali terjadi sepanjang sejarah modern. Bukan meninggalkan mata uang Amerika Serikat, investor justru berebut memilikinya. Ketika dunia ketakutan, dolar berpesta.

Sebelum konflik memanas, pergerakan rupiah relatif terkendali. Pelaku usaha masih dapat memperkirakan biaya impor, Situasi berubah cepat ketika risiko geopolitik meningkat dan ancaman gangguan pasokan energi mulai menghantui pasar. Dana investasi meninggalkan banyak negara berkembang dan bergerak menuju instrumen yang dianggap paling aman. Arus tersebut mengalir ke pasar keuangan Amerika Serikat. Dampaknya segera terasa. Dolar menguat, sementara berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.

Data pasar menunjukkan arah yang cukup jelas. Indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, bergerak dari kisaran 98 pada awal tahun 2026 menuju kisaran 99 hingga 100 setelah ketegangan Timur Tengah meningkat. Reuters mencatat penguatan dolar sekitar 2 persen sejak konflik berlangsung dan sekitar 5 persen dibanding titik terendah pada Januari 2026. Pada saat yang sama, harga minyak Brent melonjak lebih dari 35 persen karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Angka-angka tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi pasar keuangan internasional, perubahan itu cukup untuk menggerakkan triliunan dolar modal lintas negara.

Bagi Indonesia, gejolak tersebut bukan sekadar angka di layar pasar keuangan. Pada awal tahun 2026, nilai tukar rupiah masih bergerak di kisaran Rp16.800–Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Ketika ketegangan Timur Tengah meningkat dan arus modal global beralih menuju aset-aset yang dianggap aman, tekanan terhadap rupiah semakin besar. Pada 5 Juni 2026, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia bahkan telah mencapai Rp18.039 per dolar Amerika Serikat, level terlemah sepanjang sejarah rupiah. Selisih lebih dari seribu rupiah dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar statistik pasar valuta asing. Biaya impor bahan baku meningkat, pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal, dan tekanan inflasi semakin besar. Dampaknya tidak berhenti pada pelaku usaha atau pemerintah. Masyarakat desa mungkin tidak pernah membeli dolar, tidak memiliki rekening valas, bahkan tidak pernah mengikuti pergerakan kurs setiap hari. Namun mereka tetap harus menanggung akibatnya melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi yang lebih mahal, pupuk yang semakin sulit dijangkau, serta meningkatnya biaya produksi pertanian. Dolar boleh beredar di pasar keuangan global, tetapi dampaknya pada akhirnya sampai ke dapur rumah tangga rakyat kecil.

Amerika tidak selalu memenangkan perang, tetapi dolar hampir selalu memenangkan krisis. Kalimat tersebut mungkin terdengar berlebihan, tetapi fakta selama beberapa dekade menunjukkan pola yang relatif sama. Krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, hingga konflik terbaru di Timur Tengah menunjukkan bahwa setiap gelombang ketidakpastian justru meningkatkan daya tarik dolar sebagai aset aman.

Dolar adalah satu-satunya komoditas yang permintaannya sering meningkat ketika dunia sedang ketakutan.
Persoalan ini tidak dapat dijelaskan hanya melalui teori nilai tukar. Akar persoalannya terletak pada struktur ekonomi internasional yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dolar bukan lagi sekadar alat pembayaran. Mata uang tersebut telah berubah menjadi pusat gravitasi sistem keuangan global. Dana Moneter Internasional mencatat bahwa sekitar 58 persen cadangan devisa dunia masih disimpan dalam denominasi dolar.

Sebagian besar perdagangan internasional dan transaksi energi juga menggunakan mata uang yang sama. Struktur inilah yang menyebabkan setiap gejolak global pada akhirnya kembali memperkuat posisi dolar.
Ketegangan di Timur Tengah memperjelas kenyataan tersebut karena kawasan itu merupakan jantung energi dunia. Ancaman terhadap jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz segera memicu kenaikan harga minyak. Negara-negara pengimpor energi harus menyediakan lebih banyak devisa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Permintaan terhadap dolar bertambah. Tekanan terhadap mata uang domestik ikut meningkat.

Lingkaran tersebut berulang hampir setiap kali krisis energi muncul. Rudal mungkin diluncurkan dari Timur Tengah, tetapi tagihan ekonominya sering dikirim kepada negara-negara berkembang.
Indonesia menjadi salah satu pihak yang harus menghadapi konsekuensi dari keadaan tersebut. Pelemahan rupiah bukan semata-mata persoalan pasar valuta asing. Persoalan yang lebih besar terletak pada kerentanan struktural ekonomi nasional. Ketergantungan terhadap impor energi, impor bahan baku industri, serta pembiayaan eksternal membuat setiap guncangan global mudah merambat ke dalam negeri. Rupiah sesungguhnya tidak sedang berhadapan dengan dolar semata. Rupiah sedang berhadapan dengan sebuah sistem global yang menempatkan dolar sebagai hakim, pemain, sekaligus penentu aturan permainan.

Perdebatan mengenai rupiah sering kali terjebak pada langkah-langkah jangka pendek. Intervensi pasar dilakukan. Cadangan devisa digunakan. Instrumen moneter diperketat. Kebijakan tersebut memang penting untuk menjaga stabilitas. Akan tetapi, tindakan semacam itu lebih menyerupai pemberian obat penurun panas daripada penyembuhan penyakit. Ketahanan nilai tukar pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan produksi nasional, kedalaman industri, kemandirian energi, penguatan hilirisasi, diversifikasi ekspor, serta kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kuat atau lemahnya rupiah dalam satu hari perdagangan. Persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa nasib mata uang nasional masih begitu mudah ditentukan oleh peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Kedaulatan ekonomi tidak lahir dari cadangan devisa yang besar semata. Kedaulatan ekonomi lahir ketika industri nasional mampu menghasilkan nilai tambah, ketika energi tidak terlalu bergantung pada impor, ketika ekspor tidak lagi didominasi bahan mentah, dan ketika pertumbuhan tidak sepenuhnya ditopang modal asing.

Selama fondasi tersebut belum terbangun, setiap dentuman konflik global akan terus menggema ke pasar keuangan Indonesia. Dolar akan kembali berpesta. Rupiah akan kembali diuji. Negara-negara berkembang akan terus menanggung sebagian biaya dari ketakutan dunia. Perang mungkin terjadi di Timur Tengah, tetapi dampaknya menjangkau hingga ke dapur rumah tangga Indonesia. Masyarakat desa tidak membutuhkan dolar untuk berbelanja di pasar, tetapi mereka harus membayar harga yang lebih mahal ketika dolar menguat. Itulah ironi ekonomi global hari ini. Ketika dunia ketakutan, dolar berpesta. Ketika dolar berpesta, rakyat kecil di banyak negara berkembang ikut membayar tagihannya.(*)

BeritaSatu Network