Dampak Meroketnya Mata Uang Dolar AS dan Kiat-Kiat Mengatasinya di Sektor Pariwisata Jambi

WIB
ist

Oleh:

Thamrin B. Bachri (Tenaga Ahli Gubernur Jambi)

Apa Penyebab Penguatan Mata Uang Asing (US Dollar) dan Melemahnya Rupiah?

Para ekonom klasik yang sangat terkait dengan teori yang menjelaskan pergerakan atau pelemahan mata uang asing adalah David Hume (1711–1779), ekonom asal Skotlandia yang terkenal dengan teori mekanisme Price-Specie-Flow. Ia menjelaskan bahwa ketidakseimbangan neraca pembayaran antarnegara akan secara otomatis disesuaikan oleh aliran emas—mata uang saat itu—yang kemudian memicu inflasi atau deflasi, dan pada akhirnya memengaruhi nilai komparatif mata uang negara tersebut.

Selain David Hume, ada pula David Ricardo (1772–1823), ekonom Inggris yang mengembangkan teori kuantitas uang dan teori keunggulan komparatif. Sementara itu, John Stuart Mill (1806–1870), ekonom klasik Inggris, turut merumuskan teori-teori moneter klasik. Ia memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan bagaimana demand and supply dari uang domestik secara langsung berdampak pada nilai tukar mata uang dengan negara lain.

Konsep-konsep mereka tersebut menjadi fondasi awal untuk memahami bagaimana nilai mata uang dan nilai tukar saling memengaruhi dalam ekonomi internasional.

Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tentu saja tidak selalu mencerminkan kegagalan satu institusi atau salah satu faktor saja. Pelemahan tersebut merupakan gabungan dari berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga tinggi di negara maju seperti Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik global, serta berbagai faktor domestik lainnya.

Kondisi Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah, dan Dampaknya terhadap Sektor Pariwisata

Rupiah saat ini sedang mengalami tekanan berat hingga menembus kisaran psikologis Rp18.000 per dolar AS. Gejala melemahnya nilai tukar rupiah ini didorong oleh dominannya penguatan dolar AS di pasar global serta beberapa faktor tekanan dari dalam negeri, seperti tingginya demand terhadap dolar untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, neraca pembayaran, serta ketegangan politik dan militer di Timur Tengah yang secara langsung berdampak dan mengganggu rantai pasok global.

Semakin menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat sangat berdampak pada kondisi pariwisata nasional, khususnya pada tahun 2026, dengan melonjaknya harga avtur dalam negeri. Menyimak data dari Pertamina, harga avtur telah mencapai sekitar Rp27.357 hingga Rp29.149 per liter. Bahkan, diberitakan di wilayah timur Indonesia, harga avtur mencapai Rp29.427 per liter.

Karena biaya operasional maskapai penerbangan mencapai 30 sampai 40 persen dari total biaya operasional, pergerakan kurs ini memaksa perusahaan penerbangan mempertahankan harga tiket dalam negeri di batas mahal. Hal ini sebagaimana dilaporkan DataSatu.com pada Mei 2026.

Kenaikan dolar AS tersebut mengakibatkan adanya tekanan ganda bagi industri pariwisata lokal. Tekanan itu terjadi karena turunnya propensity to travel sebagai akibat masyarakat yang menunda atau bahkan menahan diri untuk melakukan penerbangan dalam negeri jarak jauh. Mereka cenderung memilih transportasi darat atau melakukan perjalanan wisata jarak pendek di sekitar provinsinya untuk menghemat anggaran di tengah ancaman kenaikan atau inflasi barang-barang kebutuhan pokok.

Di saat bersamaan, pemerintah menerbitkan KM Nomor 1041 Tahun 2026 yang mengizinkan maskapai penerbangan membebankan biaya tambahan atau surcharge sebesar 10 persen hingga 100 persen dari tarif batas atas akibat kenaikan avtur atau Aviation Turbine Fuel. Kebijakan ini dimaksudkan agar dapat meringankan beban operasional maskapai penerbangan.

Di sudut lain, wisatawan mancanegara menjadi dewa penyelamat devisa karena kunjungannya tetap bertengger menembus angka 1,09 juta pada Maret 2026, dengan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang nasional berada pada angka 42,78 persen. Bagi wisatawan mancanegara, berwisata di Indonesia menjadi semakin murah. Nilai tukar yang kuat membuat uang asing bernilai jauh lebih tinggi, sehingga para wisatawan mancanegara memiliki anggaran lebih untuk memperpanjang lama tinggal atau length of stay dan meningkatkan rata-rata pengeluaran mereka.

Hal tersebut tentu menimbulkan tantangan bagi pelaku usaha pariwisata dan wisatawan domestik. Tantangan itu antara lain meningkatnya harga bahan baku dan energi hotel serta restoran. Tekanan juga dirasakan bisnis transportasi, seperti bus pariwisata, yang terpaksa membatasi operasional sebagai akibat melonjaknya biaya operasional.

Penurunan wisatawan juga akan terjadi karena tingginya biaya transportasi dan akomodasi akibat inflasi. Kondisi ini membuat sebagian wisatawan nusantara mengurangi jadwal liburannya atau memilih tempat-tempat wisata yang berjarak dekat.

Kiat-Kiat yang Sebaiknya Dilakukan Disparda dan Pelaku Usaha Pariwisata Jambi

Pada kondisi seperti ini, sudah barang tentu diperlukan langkah strategis dari Disparda dan pelaku usaha pariwisata untuk menyikapinya. Pelaku usaha biasanya mengalihkan arah promosinya agar lebih gencar menyasar wisatawan asing yang memiliki daya beli tinggi atau wisatawan premium.

Di sisi lain, bersama Disparda, PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, ASITA atau Association of Indonesia Travel Agent, ASTINDO atau Asosiasi Travel Agent Indonesia, HPI atau Himpunan Pemandu Wisata Indonesia, IHSA atau Indonesia Homestay Association, dan organisasi lainnya, perlu pula gencar mengajak masyarakat untuk melakukan staycation atau berwisata di destinasi domestik dan lokal agar roda perekonomian lokal tetap berputar.

Secara singkat, kiat-kiat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

Pertama, titik tekan promosi dan pemasaran pariwisata hendaknya diarahkan kepada wisatawan mancanegara. Kenaikan dolar Amerika membuat biaya liburan di Indonesia menjadi jauh lebih murah atau value for money bagi mereka.

Kendati data Statistik BPS 2025–2026 masih menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara ke Jambi masih sangat kecil—dari 1.000 orang wisatawan yang datang ke Jambi diperkirakan hanya 9 orang wisatawan asing—mereka umumnya adalah wisatawan minat khusus atau special interest tourist.

Karena itu, promosi destinasi unggulan Jambi perlu diperbanyak. Destinasi itu antara lain Candi Muaro Jambi, UNESCO Global Geopark Merangin, destinasi Jangkat, Kerinci, Kayu Aro, serta taman-taman nasional seperti Kerinci Seblat dan Berbak di Tanjung Jabung Timur. Target pasar geografisnya dapat diarahkan ke ASEAN, terutama negara-negara yang memegang mata uang lebih kuat seperti Malaysia dan Singapura. Sasaran ini tidak hanya membidik wisatawan minat khusus, tetapi juga wisatawan pada umumnya.

Sayang, Jambi masih belum menjadi anggota ATF atau ASEAN Tourism Forum. Kalau sudah menjadi anggota, pasar pariwisata Jambi tentu akan lebih terbuka lebar. Jika memungkinkan, sebaiknya Disparda bersama industri pariwisata juga mengikuti pasar wisata MATTA Fair (Malaysian Association of Tour and Travel Agents) di Malaysia yang merupakan salah satu target pasar potensial.

Kekuatan wisata sejarah Jambi perlu ditonjolkan. Misalnya, Komplek Candi Muaro Jambi sebagai “Warisan Dunia”. Begitu pula kekuatan wisata alam seperti Gunung Kerinci dan Perkebunan Teh Kayu Aro dengan udara yang segar. Jambi juga memiliki banyak pilihan untuk wisatawan minat khusus, seperti susur Sungai Batanghari, susur gua baik di Merangin maupun Sarolangun, serta forest walk di taman-taman nasional seperti TNKS di Kerinci maupun Berbak di Tanjung Jabung Timur.

Untuk memangkas biaya promosi, Disparda harus memperbanyak dan mendorong kampanye digital berbasis komunitas atau community to community (C2C). Pemasaran murah lewat komunitas perlu dilakukan dengan mendorong digitalisasi pelayanan melalui media sosial dan pemanfaatan content creator lokal.

Beberapa di antaranya seperti Saudara Riel Gontai and the gang bersama TVRI Jambi, Saudara Abdul Haviz di Candi Muaro Jambi, dan Saudara Mhd. Zacky Zaid di Lempur, Kerinci. Selain mereka, masih banyak lagi figur lokal yang sudah aktif melaksanakan kampanye digital berbasis komunitas atau C2C. Mereka sebagai local hero sudah sangat layak untuk diberi penghargaan oleh pemerintah daerah.

Selanjutnya, para pemandu wisata di Candi Muaro Jambi, pemandu pendakian Gunung Kerinci, pemandu susur geopark, serta pemandu susur gua di Merangin atau Sarolangun perlu dilatih agar aktif mempromosikan destinasi mereka secara langsung antarkomunitas pecinta sejarah, budaya, dan alam di internet melalui community to community marketing.

Kedua, naiknya dolar AS menyebabkan masyarakat lokal di Jambi cenderung menahan pengeluaran mereka untuk berwisata jarak jauh. Karena itu, peluang perputaran uang di dalam daerah melalui wisatawan domestik harus ditangkap.

Caranya antara lain dengan memaksimalkan ikon baru Kota Jambi melalui pemanfaatan Wisata Kuliner Kota Tua Jambi dan Jembatan Gentala Arasy sebagai pusat ekonomi kreatif malam hari yang terjangkau bagi masyarakat lokal. Sedangkan untuk wisatawan dari provinsi tetangga seperti Palembang, Padang, dan Riau, dapat ditawarkan paket walking tour di Kota Tua, Tugu Keris, maupun Gentala Arasy.

Untuk mendorong pergerakan lokal, perlu disiapkan paket bersama akhir pekan. Misalnya, PHRI dapat berkolaborasi membuat paket menginap murah atau staycation yang digabungkan dengan tur kuliner lokal untuk menaikkan tingkat hunian kamar hotel.

Promosi hendaknya diarahkan pada kabupaten-kabupaten yang pendapatan per kapitanya cukup besar, serta provinsi tetangga seperti Padang, Palembang, dan Riau.

Berikutnya, perlu dilakukan substitusi produk impor dengan produk lokal agar dapat menekan biaya operasional hotel dan restoran yang biasanya membengkak akibat ketergantungan pada bahan baku impor yang nilainya terikat dolar AS. Caranya dengan memprioritaskan pasokan lokal, misalnya membeli bahan makanan dan cinderamata dari UMKM di sekitarnya.

Selanjutnya, lakukan audit energi di fasilitas pariwisata untuk menekan pengeluaran operasional.

Sebagai catatan akhir, perlu dilakukan optimalisasi kolaborasi dan pelayanan. Misalnya, dengan membuat paket wisata yang terintegrasi melalui pembentukan klaster pariwisata yang menggabungkan destinasi wisata, transportasi lokal, desa wisata, dan pusat cinderamata dalam satu paket terpadu.

Digitalisasi pelayanan juga perlu diperkuat dengan menggunakan pembayaran digital seperti QRIS dan pemasaran melalui aplikasi perjalanan lokal atau online travel agents. Langkah ini penting untuk memangkas biaya pemasaran pihak ketiga yang tinggi.

Demikianlah sekadar pendapat berupa kiat taktis spesifik untuk mengatasi dampak sekaligus memaksimalkan peluang pariwisata di Jambi dalam menghadapi meroketnya dolar AS.

Tentu saja, peran Disparda selaku “dirigen” yang bertugas memberikan aba-aba, mengatur dinamika, dan menyatukan harmoni sangat dinantikan oleh pelaku usaha dan industri pariwisata. Sebab, untuk itulah pemerintah hadir.

Semoga.

AUTHORITY IS ON TAP, NOT ON TOP

BeritaSatu Network